Minggu, 28 Mei 2017

Berpolitik Tanpa Primodialisme, Mengawal Pilkada di Bumi Biinmaffo

Judul
:
Berpolitik Tanpa Primodialisme, Mengawal Pilkada di Bumi Biinmaffo
Penulis
:
Eman Tulasi
Penerbit
:
San Ratili & Dioma
Tahun Cetak
:
2006
Halaman
:
92
ISBN
:
979-26-1318-8
Harga
:
Rp. 40.000
Status
:
Kosong

……….. dalam kondisi pasar politik yang kian bebas, apakah rakyat Timor Tengah Utara yang mendiami wilayah Biboki, Insana dan Miomaffo (Biinmaffo) yang adalah bagian integral dari Negara Kesatuan RI, telah siap? Ini merupakan suatu pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur agar aktivitas politik yang dijalankan dapat membuahkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat di Bumi Biinmaffo.

Sebagai bahan permenungan bersama, dalam bagian pertama buku ini, penulis mengemukakan fenomena politik di Bumi Biinmaffo yang cenderung mengedepankan primodialisme tatkala ada pesta demokrasi khususnya pada saat Pemilihan Kepala Daerah yakni, di sana-sini ada klaim, di mana-mana ada sekat-sekat primodial yang mengkristal dan cenderung irrasional. Diantaranya, orang lebih cenderung mengelompokan diri secara eksklusif sebagai kelompok orang Biboki, kelompok orang Insana atau kelompok orang Miomaffo. Dalam sekat-sekat primodial yang demikian masing-masing kelompok “berjuang” agar “Orangnya” yang menjadi Bupati atau wakil Bupati tanpa peduli apakah figure yang diperjuangkan itu berkualitas atau tidak. Prinsipnya, “masi nalalahe, ilamu hai ana” (bahasa dawan) yang artinya biar “kotor, tidak berkualitas”, yang penting anak kami yang menjadi Bupati atau Wakil Bupati.

Sikap semacam ini tentu tidak begitu buruk, namun tidak akan membawa keuntungan maksimal bagi kesejahteraan seluruh masyarakat TTU yang tersebar di kawasan Biboki, Insana dan Miomaffo, bahkan dalam tataran tertentu akan membawa rakyat TTU pada ambang kehancuran. Mengapa? Karena kualitas sumber daya manusia akan menentukan tingkat produktivitas termasuk kualitas kebijakan yang dibuat untuk menyejahterakan rakyat banyak.
Sikap primodial yang demikian juga akan cenderung mengotak-ngotakan masyarakat TTu dalam kelompok Biboki, Insana atau Miomaffo atau orang luar yang pada gilirannnya akan merusak tatanan hidup bersama sebagai sesama yang saling mengada dalam bingkai “Salu Miomaffo Kuluan Maubes”.

Dalam bagian kedua, penulis mengemukakan bagaimana seharusnya berpolitik sehingga aktus politik yang dilakukan dapat membuahkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat dan rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi tetap eksis. Salah satu aspek yang disoroti adalah munculnya berbagai ketimpangan dalam pembangunan sebagai akibat masyarakat buta dalam memilih pimpinannya. Sementara dalam bagian ketiga buku ini, penulis menampilkan sketsa wajah pemimpin yang pantas untuk memimpin TTU, yakni pemimpin yang tidak korup, tidak bermental usif (raja) dan tidak primodial. Sebagai penutup bagian ini, penulis menampilkan “Bupati Timor Tengah Utara dari periode ke periode” lengkap dengan berbagai terobosan atau program yang dibuat masing-masing untuk menyejahterakan seluruh masyarakat di daerah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...