Sabtu, 22 Juni 2019

Boso Mu’a Mba Busa: Pantangan Memakan Daging Anjing dalam Marga Nggebu di Rote Ndao NTT

Judul
:
Boso Mu’a Mba Busa: Pantangan Memakan Daging Anjing dalam Marga Nggebu di Rote Ndao NTT
Penulis
:
Welsly Mawuntu Fangidae & David Samiyono
Penerbit
:
Fakultas Teologi Press – Salatiga
Tahun Cetak
:
2009
Halaman
:
120
ISBN
:
979-927-842-2
Harga
:
Rp.
Status
:
Kosong


Kebudayaan selalu memberi arti tersendiri dari masyarakat pemeluknya,  sehingga budaya mampu dipertahankan turun temurun dari generasi ke generasi. Kebudayaan bukan secara otomatis terjadi, akan tetapi berdasarkan sebuah proses, sama halnya dengan tradisi boso mua mba busa pada marga Nggebu di kabupaten Rote Ndao . Tradisi boso mua mba busa merupakan sebuah tradisi dalam bahasa Rote yang berarti pantangan memakan daging anjing. Tradisi ini berawal dari sebuah kisah.  Dimana nenek moyang marga Nggebu yang bernama Benderina Doro Kona, terkena penyakit borok dan sulit di sembuhkan. Kejadian ini di tahun 1928, dan karena sulit di sembuhkan maka,  datanglah seekor anjing dan menjilat seluruh tubuh dari Benderina, hingga ia sembuh. Ketika sadar bahwa ia telah di sembuhkan oleh seekor anjing, maka Benderina bersumpah bahwa turunannya sampai kapanpun dan dimanapun tidak boleh memakan daging anjing, dan melanggar darah dari anjing yang disembelih. Jika ada keturunannya yang melanggarnya maka akan terkena sanksi yaitu penyakit borok, gila, buta, lumpuh dan tuli.

Marga Nggebu merupakan salah satu keturunan dari Benderina,  dan hingga saat ini marga Nggebu masih mentaati tradisi tersebut selama kurang lebih sudah 13 turunan.  Ketaatan dari marga Nggebu terhadap tradisi boso mua mba busa terus di lakukan, sekalipun mereka telah Kristen,  akan tetapi bagi marga Nggebu, antara budaya dan agama tidak menjadi masalah, sebab mereka tetap melaksanakan keduanya secara bersamaan tanpa mengabaikan unsur-unsur utamanya. 

Sikap marga Nggebu, terhadap boso mua mba busa yaitu dengan tetap mempertahankan tradisi tersebut, secara ilmiah di golongkan dalam dua tipe yaitu Totemisme, yang menurut Levi-strauss tradisi boso mua mba busa bias di golongkan dalam Totemisme individual. Dan Pritchard Totemisme merupakan, agama Primitif dengan sifat objektifitas, yaitu mewarisi dari generasi ke generasi, dan Taboo (u) yang menurut Fraser, bahwa tabu perbuatan adalah perbuatan untuk tidak memakan jenis makanan tertentu, dan tradisi boso mu’a mba busa merupakan bagian dari objek tabu tidak langsung, yaitu dengan konsekuensi melindungi diri dari bahaya yang muncul akibat memakan makanan tertentu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...