Rabu, 22 April 2020

Bulan Peredam Prahara: Antologi Puisi Pesan Perdamaian dari Bumi Flobamora, Seri 1

Judul
:
Bulan Peredam Prahara: Antologi Puisi Pesan Perdamaian dari Bumi Flobamora, Seri 1
Editor
:
Alfred B. Jogo Ena
Penerbit
:
Komunitas Rumah Sastra Kita (RSK) NTT Kerja Sama dengan Penerbit Kosa Kata Kita (KKK) Jakarta
Tahun Cetak
:
2018
Halaman
:
328
ISBN
:
Harga
:
Rp.
Status

Kosong


Buku antologi puisi ini diterbitkan sebagai upaya Komunitas Rumah Sastra Kita (RSK) NTT dalam rangka menumbuh dan mengembangkan potensi anak tanah NTT dalam bidang sastra dan budaya. Komunitas RSK adalah komunitas sastra orang-orang NTT yang berganung dalam grup WA. Didirikan pada Januari 2018 dengan koordinator Dr. Yoseph Yapi Taum.

Mengambil anak judul: Antologi Puisi Pesan Perdamaian dari Bumi Flobamora, Seri 1, bermaksud agar para penyair NTT dapat meniupkan "seruling perdamaian" dari NTT (Flobamora) untuk Indonesia (Nusantara) pada tahun politik 2018 dan 2019 yang penuh dengan persaingan tidak sehat, menghalalkan segala untuk memenangkan pertarungan, dan menyebarkan berita bohong. Itulah sebabnya buku antologi puisi ini didominasi oleh puisi-puisi seruan perdamaian. Inilah sumbangan dari NTT yang ditiupkan para penyair NTT.

Dalam buku Bulan Peredam Prahara ini terhimpun 217 judul puisi karya 74 penyair, sebagian besar penyair NTT. Ada nama penyair yang sudah malang melintang dalam panggung puisi, baik tingkat nasional maupun tingkat regional NTT. Ada pula penyair yang baru muncul. Sejunlah nama penyair dalam buku ini dapat disebutkan, antara lain: Aster Bili Bora, Agust G. Thuru, Ian CK, Ignas Kaha, Jhony Lae, Mario D. E. Kali, Milla Lolong, Nikolaus Loy, Paulus Heri Hala, Usman D. Ganggang, Veran Making, Walter Arryanto, Yandris Tolan, Yoseph Y. Motong Wuwur, dan lain-lain.

Di bagian akhir Prolog, Yoseph Yapi Taum, pengamat dan ilmuwan sastra dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, menulis: "Diksi-diksi puitik dalam antologi ini menekankan satu pesan penting bagi bangsa Indonesia: bahwa perdamaian, rasa damai, hidup penuh kedamaian di dalam perbedaan merupakan keutamaan yang harus diperjuangkan dan dipertahankan dari rongrongan para pemburu kekuasaan. Hanya perdamaianlah yang memampukan perahu Indonesia mencapai pulau kebahagiaan (halaman 25). * (Yohanes Sehandi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...