%20Savana,%20Tentang%20Stigma%20dan%20Cinta%20Ndaina.jpg)
Judul
|
:
|
Dara(h) Savana
tentang Stigma dan Cinta Ndaina
|
Penulis
|
:
|
Dony Kleden
|
Penerbit
|
:
|
Lintang
Pustaka Utama
|
Tahun
Cetak
|
:
|
2026
|
Halaman
|
:
|
252
|
ISBN
|
:
|
978-623-7514-89-3
|
Harga
|
:
|
Rp. 80.000
|
Status
|
:
|
Ada
|
Ndaina, dalam bahasa Sumba Barat Daya,
berarti suwanggi. la bukan sekadar kata. la adalah bayang-bayang. la adalah
tuduhan tanpa pengadilan, vonis tanpa pembelaan. Dalam imajinasi masyarakat,
suwanggi dipercaya sebagai penyebab sakit, kematian, kegagalan panen, dan
musibah yang tak terjelaskan. Ketika ilmu dan empati berhenti bekerja, maka
mitos sering kali dipanggil untuk menjawab ketakutan. Dan dari situlah, stigma dilahirkan.
Judul Dara(h) Savana sengaja ditulis dengan
tanda kurung yang memisahkan sekaligus menyatukan makna. Dara merujuk pada
gadis savana, gadis Sumba, perempuan yang lahir, tumbuh, dan ditempa oleh alam
savana yang keras namun indah. la adalah simbol kehidupan, keteguhan, dan
keberanian untuk bertahan di tanah yang menuntut kekuatan sekaligus kesabaran.
Dalam sosok gadis savana, terhimpun harapan akan generasi yang berani melampaui
warisan ketakutan.
Sementara itu, (h) menghadirkan makna lain:
darah. Darah adalah sumber kehidupan, pengikat keluarga, dan tanda
keberlanjutan manusia. Namun dalam kisah ini, darah juga mengalami pergeseran
makna, dari sesuatu yang menghidupi menjadi sesuatu yang dicurigai. Darah keluarga
Nono dianggap kotor, panas, dan berbahaya karena cap suwanggi yang dilekatkan
kepada mereka. Darah yang seharusnya menyatukan justru dijadikan alasan untuk memisahkan, mengucilkan, bahkan
memusnahkan.
Dengan demikian, Dara(h) Savana berbicara
tentang tubuh dan stigma, tentang perempuan dan darah, tentang kehidupan yang
tumbuh di tanah savana namun terus dibayangi ketakutan kolektif. la adalah
kisah tentang bagaimana identitas manusia direduksi menjadi mitos, dan
bagaimana cinta, yang lahir dari seorang gadis savana, berusaha memulihkan kembali makna darah
sebagai kehidupan, bukan kutukan.