Judul |
: |
Kebudayaan Atoni Meto di Wilayah Kuluan Maubes – Salu Miomaffo |
Penulis |
: |
Yohanes Sanak dan Wilfridus Oe Silab |
Penerbit |
: |
Bina Damai Utama |
Tahun Cetak |
: |
2024 |
Halaman |
: |
188 |
ISBN |
: |
978-623-10-0803-9 |
Harga |
: |
Rp. 120.000 |
Status |
: |
Ada |
Gambaran tentang
budaya Atoni Meto menjelaskan betapa unik dan kayanya suku terbesar di Pulau
Timor ini. Tidak hanya itu, leluhur Atoni Meto pun memiliki kecerdasan dan
kearifan yang tak kalah hebat dalam merangkai dan mencetuskan suatu ide brilian
yang kemudian mengkristal menjadi unsur-unsur kebudayaan. Akan tetapi,
keunikan-keunikan budaya lokal tersebut secara perlahan memudar, bahkan
ditinggalkan terutama di wilayah Kuluan Maubes - Salu Miomaffo. Ada 2 (dua) hal
paling mendasar yang mengancam kelestarian budaya Atoni Meto jika tidak segera diperhatikan
yaitu bahasa dan tanah. Penggunaan bahasa Meto dalam keseharian masyarakat
terus mengalami pelemahan atau penurunan kuantitas dan kualitas di ruang-ruang
perjumpaan, seperti di sekolah, pesta, pergaulan sehari-hari bahkan di rumah sekalipun.
Kehidupan sosial dan
kultural suku Atoni Meto tidak dapat dipisahkan dari tanah dan lingkungan
ekologisnya. Setiap Fam (marga) memiliki beberapa tanah ulayat yang
kepemilikannya bersifat komunal, yaitu Faotkana, Oekana, Naesleu, Unit (uinte),
dll. Kondisi saat ini, banyak tanah adat yang telah berpindah kepemilikan.
Selain bahasa dan kepemilikan tanah, unsur lainnya pun ikut mengalami
guncangan. Degradasi ini seyogyanya dipandang sebagai ancaman serius yang patut
diperhatikan secara serius pula terutama oleh pemerintah dan stakeholder lainnya.




