Senin, 12 Oktober 2026

Orang-Orang Katolik di Indonesia Era Kemerdekaan 1945-2010 Jilid 3

Judul

:

Orang-Orang Katolik di Indonesia Era Kemerdekaan 1945-2010 Jilid 3

Penulis

:

Karel Steenbrink

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2018

Halaman

:

894

ISBN

:

978-602-1161-55-5

Harga

:

Rp. 275.000

Status

:

Ada

 

Orang-orang Katolik di Indonesia Era Kemerdekaan 1945-2010 menuntaskan buku profil sejarah berjilid tiga yang ditulis Profesor Steenbrink tentang agama Katolik di Indonesia, lengkap dengan laporan yang sangat terperinci tentang kelangsungan hidup dan pertumbuhan agama minoritas ini di negeri mayoritas Muslim Indonesia sejak kemerdekaan Republik itu tahun 1945.

Kekatolikan kolonial bertahan hidup di Republik Indonesia yang merdeka sepanjang rezim nasionalis Soekarno (1945-1965), dan mendapatkan kembali dinamika baru dalam kurun kebangkitan agama seumumnya yang merupakan bagian dari Orde Baru Soeharto setelah tahun 1965. Dari sebuah lembaga yang sangat bercorak Belanda, agama Katolik di Indonesia berkembang menjadi sebuah komunitas yang sepenuhnya dinahkodai orang-orang Indonesia, namun tetap mempertahankan coraknya yang modern lagi internasional.

Buku ini terpilah ke dalam dua bagian besar. Bagian pertama mengkaji masalah-masalah nasional, yang mencakup agama dalam politik Indonesia, struktur internal komunitas Katolik, para klerus religius, imam diosesan, para suster dan bruder laikal, basis sekuler agama Katolik dalam ranah pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan karya pembangunan, keterlibatan sosial dan spiritualitas kaum awam serta para pemikir, penulis, seniman kreatif, aneka proposal dan debat teologi. Bagian kedua menelisik berbagai tinjauan kewilayahan di negara yang sangat luas ini, mulai dari perjuangan Gereja Katolik di Flores, Timor dan Sumba, masyarakat Papua yang mencari identitas antara dominasi Belanda dan Indonesia, Maluku yang dipepaki beban berat fragmentasi agama dan isolasi geografıs, kaum minoritas Katolik di Minahasa dan Toraja di Sulawesi, Kalimantan, hingga diaspora Katolik di Sumatera, Jawa dan Bali. Buku ini juga dilengkapi oleh tidak kurang 29 dokumen yang ditulis berbagai tokoh dan organisasi sejak tahun 1942 hingga tahun 2007, foto-foto historis bahari dan modern serta puluhan tabel yang meringkas aneka struktur, lembaga, personel, tempat ziarah, statistik, kelompok etnis serta umat seumumnya.

Karel Steenbrink, yang tahun 1974 meraih gelar Ph.D. dalam Studi-Studi Agama, adalah Guru Besar Emeritus dalam bidang Teologi Antarbudaya pada Departemen Studi Agama di Universitas Utrecht. Ia telah menerbitkan banyak buku tentang agama-agama di Indonesia, baik Islam maupun Kristen. Dimulai tahun 1970 dengan kerja lapangan di lembaga pendidikan Islam, ia kini meneliti aneka pandangan dari masa kolonial tentang Islam serta posisi kaum minoritas Katolik di tengah masyarakat mayoritas Muslim di Indonesia. Dua jilid pertama dari profil sejarah ini (Jilid 1: Suatu Pemulihan Bersahaja 1808-1903 dan Jilid 2: Pertumbuhan yang Spektakuler dari Minoritas yang Percaya Diri) juga diterbitkan Penerbit Ledalero, Maumere-Flores (2006).

 

Minggu, 04 Oktober 2026

Babarapa Panton Bagi Anakh, Terkarang dalam Bahasa Wolanda dan Tersalin Kepada Bahasa Malajuw

Judul

:

Babarapa Panton Bagi Anakh, Terkarang dalam Bahasa Wolanda dan Tersalin Kepada Bahasa Malajuw

Penulis & Penerjemah

:

Hieronomus Van Alphen & G. Hejmering

Penerbit

:

Tertara di Timor Kupang

Tahun Cetak

:

1838

Halaman

:

71

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 50.000

Status

:

Ada

 

Adalah salah satu karya sastra klasik era kolonial yang merupakan adaptasi atau penerjemahan puisi-puisi pendek (lazimnya berupa sajak anak-anak atau kindergedichten dari bahasa Belanda) ke dalam bentuk pantun atau syair berbahasa Melayu Klasik. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, para orientalis Belanda dan sastrawan lokal banyak melakukan penyalinan silang ini untuk digunakan sebagai sarana pendidikan moral, hiburan, serta pengajaran bahasa bagi anak-anak di sekolah-sekolah Hindia Belanda.

Buku yang dicetak di Timor Kupang pada tahun 1838. Buku ini merupakan salah satu rekam jejak bersejarah mengenai kegiatan percetakan, penerbitan, dan literasi anak di Kupang pada paruh awal abad ke-19. Harga Belinya saat Tertera seharga Satengah Ropija (Setengah Rupiah).


Sabtu, 03 Oktober 2026

Di Antara Ata Wa Wae dan Ata Eta Golo, Akulturasi dan Praktik Perkawinan Adat Manggarai di Flores Barat

Judul

:

Di Antara Ata Wa Wae dan Ata Eta Golo, Akulturasi dan Praktik Perkawinan Adat Manggarai di Flores Barat

Penulis

:

Dr. Hendrikus Maku, S.Fil., M. Th., Lic.

Penerbit

:

Perkumpulan Fata Institute – Fins

Tahun Cetak

:

2026

Halaman

:

455

ISBN

:

978-634-96324-4-7

Harga

:

Rp. 180.000

Status

:

Kosong

 

Buku Di Antara Ata Wa Wae dan Ata Eta Golo: Akulturasi dan Praktik Perkawinan Adat Manggarai di Flores Barat karya Hendrikus Maku menggambarkan perjumpaan antara agama Islam dan budaya lokal Manggarai yang tercermin dalam praktik perkawinan adat masyarakat setempat. Buku ini menyoroti relasi antara dua kelompok yang secara historis hidup berdampingan, yaitu Ata Wa Wae-sebutan bagi komunitas Muslim yang banyak berdiam di wilayah pesisir-dan Ata Eta Golo -masyarakat pegunungan yang umumnya bertradisi Nasrani. Melalui gambaran kehidupan sosial dan budaya masyarakat Manggarai, penulis memperlihatkan bagaimana interaksi antara kedua kelompok tersebut berlangsung dalam suasana kebersamaan dan saling menghormati, terutama ketika berlangsungnya proses perkawinan adat yang mempertemukan dua keluarga dan dua tradisi yang berbeda.

Selain menggambarkan hubungan sosial antar komunitas, buku ini juga memaparkan tahapan-tahapan dalam perkawinan adat Manggarai, mulai dari proses lamaran, perundingan mahar atau paca/belis, pengukuhan adat, hingga pengantaran mempelai. Setiap tahapan dijelaskan sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun dan masih dijalankan dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang. Pembahasan ini juga disertai gambaran umum mengenai wilayah Manggarai di Flores Barat, termasuk sejarah masuknya Islam ke daerah tersebut melalui jalur perdagangan dari Kesultanan Bima dan Makassar sejak abad ke-17. Secara keseluruhan, buku ini menghadirkan potret kehidupan masyarakat Manggarai yang menunjukkan bagaimana tradisi adat dan kehidupan beragama dapat berjalan berdampingan dalam suasana damai serta memperkuat hubungan sosial di tengah keberagaman.

“Saya menyambut baik kehadiran buku ini sebagai sebuah karya yang tidak hanya penting bagi kajian akademik, tetapi juga relevan bagi kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang majemuk. Buku ini menunjukkan bahwa filsafat tidak selalu harus hadir dalam bentuk teori abstrak, tetapi dapat hidup dalam praktik sosial sehari-hari masyarakat”. -Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A.- 


Muslim dan Katolik Manggarai, Flores Barat: Dari Intersubjektif Menuju Indiferen dan Dari Interdominasi Menuju Interakomodasi

Judul

:

Muslim dan Katolik Manggarai, Flores Barat: Dari Intersubjektif Menuju Indiferen dan Dari Interdominasi Menuju Interakomodasi

Penulis

:

Dr. Hironimus Bandur

Penerbit

:

Pohon Cahaya

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

314

ISBN

:

978-602-4914-23-3

Harga

:

Rp. 110.000

Status

:

Kosong

 

Kondisi pluralitas bangsa menuntut semua pihak untuk saling belajar dan terus berjuang untuk saling memahami perbedaan. Sulit dan sakit rasanya, tetapi di ujung rasa sakit karena perbedaan terdapat seni, sebagaimana alunan musik terkesan indah, bukan karena nada dan not yang sama tetapi karena nada dan not yang berbeda-beda. Perbedaan itu membentuk harmoni dan keindahan. Mari kita terus saling belajar, dan menjadi lebih dekat dengan sesama yang berbeda agama karena saling belajar dan perjumpaan terus menerus. Wassalam.

 

Kamis, 01 Oktober 2026

Ekoteologi Orang Manggarai

Judul

:

Ekoteologi Orang Manggarai

Penulis

:

Sefrianus Juhani

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

169

ISBN

:

978-623-6724-53-8

Harga

:

Rp. 90.000

Status

:

Ada

 

Ekoteologi Orang Manggarai lahir dari pergulatan iman dan budaya di tengah krisis ekologis global. Berakar pada tradisi berladang, tanah dihayati bukan sekadar lahan produksi, melainkan ruang suci tempat manusia, alam, dan Sang Pencipta saling terhubung. Dalam kosmologi Manggarai, lingko, kebun ulayat berbentuk jaring laba-laba, menjadi simbol keterikatan itu: pusatnya adalah lodok sebagai tanda asal-usul bersama, sementara garis-garisnya mengingatkan manusia akan relasi yang adil dengan sesama, tanah, dan Tuhan. Buku ini menantang paradigma pertanian modern yang sering menuhankan teknologi dan menjadikan bumi sekadar alat. Manusia diingatkan pada hakikatnya sebagai adamah: lahir dari tanah, bergantung pada tanah, dan kembali menjadi tanah. Di sini, kesombongan antropologis dipatahkan, dan kesadaran baru ditawarkan, bahwa manusia bukan penguasa, melainkan bagian rapuh dari ciptaan yang kudus. Dengan gaya reflektif dan kritis, buku ini mengajak pembaca menempuh jalan baru: dari dominasi menuju keselarasan, dari eksploitasi menuju penghormatan, dari keserakahan menuju cinta yang sederhana dan penuh iman terhadap bumi sebagai rumah bersama.

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...