Jumat, 23 Oktober 2026

Menanam Keunggulan, Menulai Kemandirian: Kenangan 50 th 1968-2018 SPMA/SPP/SMK-PP ST. Isidorus Boawae

Judul

:

Menanam Keunggulan, Menulai Kemandirian: Kenangan 50 th 1968-2018 SPMA/SPP/SMK-PP ST. Isidorus Boawae

Editor

:

Gabriel Manek, dkk

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2017

Halaman

:

178

ISBN

:

978-602-1161-51-7

Harga

:

Rp. 50.000

Status

:

Ada

 

Menanam Keunggulan, Menuai Kemandirian adalah Tema Pokok yang menginspirasi keseluruhan isi buku ini. Buku Kenangan 50 (Lima Puluh) Tahun Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMK-PP) St. Isidorus Boawae, terdiri dari 5 (lima) bagian yaitu sejarah pendirian sekolah, artikel-artikel, mempertahankan keunggulan dan kemandirian, apa kata mereka serta galeri St. Isidorus.

Sejarah pendirian sekolah memberi konfirmasi kepada pembaca tentang perjuangan para misionaris Gereja Katolik dan kaum awam untuk meningkatkan ekonomi umat melalui pendidikan ketrampilan pertanian. Misi mulia para misionaris Gereja Katolik yang disponsori oleh Serikat Sabda Allah dan dibantu oleh kaum awam yang cerdas dan briliant tersebut dibingkaikan dengan baik melalui artikel-artikel yang dipaparkan dalam buku ini.

Pada bagian ketiga dan keempat, para pembaca disuguhi perjuangan dan komitmen para kepala sekolah dari periode ke periode untuk mempertahankan keunggulan da kemandirian sekolah. Keunggulan dan kemandirian yang terpatri dan termeterai dalam diri para alumni,dipercakapkan dengan antusias oleh para alumninya sendiri dan oleh mereka yang bukan alumni tetapi mengagumi kehadiran sekolah ini. Akhirnya pada bagian kelima tentang galeri Santu Isidorus, ditampilkan nama para alumni dari angkatan ke angkatan sebanyak 5.555 orang, yang diperkuat dengan foto para pembina dan foto para alumni dalam ragam kegiatan mulai dari tahun 1970 - 2017. Membaca buku kenangan ini secara lengkap, kita akan menemukan gambaran yang utuh Campur Tangan Tuhan dalam siarah pendidikan dan Doa Santu Isidorus agar SMK – SPP St. Isidorus tegak maju. (Gabriel Manek, SP) 


Kamis, 22 Oktober 2026

Politik Lokal dan Konflik Keagamaan: Pilkada dan Struktur Kesempatan Politik dalam Konflik Keagamaan di Sampang, Bekasi, dan Kupang

Judul

:

Politik Lokal dan Konflik Keagamaan: Pilkada dan Struktur Kesempatan Politik dalam Konflik Keagamaan di Sampang, Bekasi, dan Kupang

Penulis

:

Mohammad Iqbal Ahnaf, dkk

Penerbit

:

CRCS - UGM

Tahun Cetak

:

2015

Halaman

:

76

ISBN

:

978-602-17781-9-7

Sumber

:

https://repository.uinsa.ac.id

Download

:

Di Sini

 

Laporan Kehidupan Beragama di Indonesia ini mengkaji peran pilkada sebagai struktur kesempatan politik bagi menguatnya konflik atau kekerasan keagamaan. Tanpa bermaksud mendelegitimasi Pilkada langsung, Laporan ini mengulas tiga kasus kekerasan terkait hubungan antar dan intraagama yang berkaitan dengan Pilkada baik secara langsung atau tidak langsung. Ketiga kasus ini dihadirkan untuk memberi ilustrasi pentingnya mengantisipasi efek samping dari Pilkada terhadap situasi keragaman agama di Indonesia. Ketiga kasus tersebut adalah kekerasan terhadap Masjid Ahmadiyah dan beberapa gereja di Bekasi (Jawa Barat), kekerasan terhadap penganut Syiah di Sampang (Jawa Timur), dan sengketa pembangunan Masjid Nur Musafir di Kelurahan Batuplat, Kota Kupang (Nusa Tenggara Timur). Ketiga kasus ini dipilih untuk memberi ilustrasi tentang pentingnya memperhatikan Pilkada sebagai masa kritis yang bisa menentukan pola hubungan antaragama.

  

Rabu, 21 Oktober 2026

Naketi

Judul

:

Naketi

Penulis

:

Talita Tlonaen, S.Ag., M.Pd

Penerbit

:

Underline

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

80

ISBN

:

978-634-7250-29-2

Sumber

:

Fb Talita Tlonaen

Download

:

Di Sini


Apa artinya sebuah hubungan tanpa pemulihan yang utuh? Tentunya akan menjadi sia-sia karena pada dasarnya hubungan yang baik sudah pasti dibaluti oleh sikap menerima, memaafkan dan memulihkan. Hubungan yang dimaksud dalam buku ini berkaitan dengan hubungan dengan diri sendiri, sesama maupun Tuhan sebagai penolong yang setia. Kahadiran ritus naketi uab menjadi penolong untuk menyadarkan masyarakat di Amanuban Timur tentang arti memaafkan dan memulihkan yang sesungguhnya. Naketi Uab adalah salah satu budaya dalam bentuk ritus yang sering dilakukan oleh masyarakat Dawan Timor. Naketi Uab merupakan ritus yang dilakukan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya suatu masalah dengan melibatkan pihak-pihak tertentu. Tujuan lain dari ritus naketi Uab atoin meto adalah untuk menata kembali tatanan hidup masyarakat atoin meto yang telah rusak. Ritus naketi Uab juga merupakan ritus yang dilangsungkan melalui tutur adat Dawan Timor (Uab meto) yang memiliki makna tertentu dengan tujuan adanya keterbukaan, pemberian nasihat, sebagai sarana komunikasi dan juga untuk pemulihan relasi dengan diri sendiri, dengan sesama maupun dengan Tuhan sebagai pemilik kehidupan. Oleh karena itu, dalam buku ini, penulis menggunakan teori antropologi teologi untuk mengkaji dan menganalisis secara kritis kehidupan spiritus manusia, eksistensi dan karyanya dalam budaya naketi Uab atoin meto bagi pemulihan relasi komunikasi. 


Sabtu, 17 Oktober 2026

Bangkit dalam Harapan Baru: Curahan Hati Sesama Kita yang Hidup dengan HIV

Judul

:

Bangkit dalam Harapan Baru: Curahan Hati Sesama Kita yang Hidup dengan HIV

Penulis

:

Rasdiana Rovigis & Servinus Haryanto Nahak

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2017

Halaman

:

156

ISBN

:

978-602-1161-44-9

Harga

:

Rp. 65.000

Status

:

Ada

 

Di tengah bayang-bayang vonis medis yang kerap dianggap sebagai akhir dari segalanya, buku ini hadir sebagai sebuah kesaksian hidup yang menyentuh hati. Bangkit dalam Harapan Baru merupakan kumpulan kisah nyata dan curahan hati dari orang-orang yang hidup dengan HIV (ODHA). Mereka membagikan pergulatan batin terdalam saat pertama kali menerima diagnosis, menghadapi penolakan, hingga berjuang melawan stigma negatif yang masih kental di masyarakat.

Buku ini tidak sekadar meratapi nasib atau menggalang simpati. Sebaliknya, setiap lembarnya mengisahkan proses transformasi emosional dan spiritual yang luar biasa. Pembaca akan dibawa menyaksikan bagaimana para penyintas perlahan-lahan mengikis rasa takut, berdamai dengan kenyataan, dan menemukan kembali martabat serta arti hidup mereka. Dukungan dari sesama komunitas dan pendampingan yang tulus menjadi pilar penting yang membantu mereka berdiri tegak.

Disunting secara apik dan diterbitkan oleh Penerbit Ledalero, antologi ini menjadi refleksi kemanusiaan yang mendalam. Buku ini memberikan pesan kuat bahwa virus boleh menyerang fisik, tetapi tidak akan pernah bisa mematikan harapan. Sebuah bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin memahami HIV dari sudut pandang humanis, sekaligus pemantik empati agar masyarakat berhenti menghakimi dan mulai merangkul sesama. 


Exodus, Menolak Lupa: Catatan Kenangan Para Saksi Korban Banjir Bandang, Lamanele, 4 April 2021

Judul

:

Exodus, Menolak Lupa: Catatan Kenangan Para Saksi Korban Banjir Bandang, Lamanele, 4 April 2021

Penulis

:

Ansel B. Molan

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2024

Halaman

:

246

ISBN

:

978-623-6724-38-5

Harga

:

Rp. 55.000

Status

:

Ada

 

Mengapa "menulis" kenangan? Kunci kepada pembebasan dari kenangan yang melukai adalah dengan Mengingat. Artinya, rekonsiliasi dan penyembuhan hanya bisa terjadi bagi mereka yang Mengingat. Dalam hal ini, Mengingat adalah kesanggupan untuk menerima seluruh kenangan secara utuh sebagai bagian dari hidup. Sebuah upaya untuk berdamai dengan kenangan. Sementara Melupakan adalah kecenderungan untuk menolak atau menyingkirkan kenangan yang kemudian justru akan memenjarakan pemilik kenangan ke dalam kekelaman nan traumatis. Dia akan menjadi seperti bom waktu yang menunggu saat yang paling tepat untuk meledak.

Buku EXODUS, Menolak Lupa ini, dihadirkan dengan maksud untuk "menulis" kenangan itu. Titik fokus kenangan itu adalah peristiwa di seputar bencana banjir bandang akibat badai Siklon Tropis Seroja di desa Nelelamadike, kecamatan lle Boleng - Adonara, kabupaten Flores Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa yang terjadi pada tanggal 4 April 2021 silam itu meriwayatkan banyak cerita yang melukai. Mereka yang sama sekali luput dari terjangan banjir sampai mereka yang tidak bisa luput, yang kehilangan segalanya, terutama kehilangan orang-orang yang dikasihi.

Latar peristiwa ini, membuat saya memilih kata Exodus, yang merujuk pada kisa keluarnya umat Israel dari bayangan penindasan bangsa Mesir sebagai judul buku ini. Dengannya, Exodus dalam buku ini mengisahkan catatan pelarian (keluarnya) para korban agar selamat dari bahaya banjir bandang yang menerjang. Lebih dari itu, Exodus dalam buku ini sebenarnya juga mengungkapkan sebuah gerakan keluar dari kecenderungan untuk Melupakan kenangan akan peristiwa itu. Sebuah strategi untuk tetap Mengingat.

Untuk tujuan itu, kenangan demi kenangan dari para saksi korban yang dikisahkan ulang dalam buku ini diharapkan dapat menolong kita terutama para korban untuk terus-menerus Mengingat. Dengan itu, jalan kepada pembebasan dan penyembuhan bagi mereka dari penderitaan akibat kenangan-kenangan yang melukai kedalaman itu bisa terbuka di hadapan mereka. Kita dibebaskan, kita disembuhkan, tetapi tidak boleh Melupakan.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...