Tampilkan postingan dengan label Buku Sikka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Sikka. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juni 2026

Mengenal Budaya dan Bahasa Masyarakat Suku Krowe Sika di Kabupaten Sikka Propinsi NTT

Judul

:

Mengenal Budaya dan Bahasa Masyarakat Suku Krowe Sika di Kabupaten Sikka Propinsi NTT

Penulis

:

Paulina Nona

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

152

ISBN

:

978-623-6724-43-9

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong

 

Buku ini merupakan warisan budaya yang sangat berharga dari generasi pendahulu kepada generasi penerus. Sejak dahulu, budaya, bahasa, dan nilai-nilai kearifan lokal diwariskan secara lisan melalui kehidupan keluarga—dari orang tua dan kakek nenek kepada anak cucu dalam percakapan sehari-hari. Melalui cara inilah identitas budaya suatu masyarakat tetap hidup dan bertahan dari waktu ke waktu.

Namun, perkembangan teknologi modern telah membawa perubahan besar dalam pola kehidupan masyarakat. Kehadiran ponsel dan dunia digital membuat komunikasi antaranggota keluarga semakin berkurang. Banyak orang lebih sibuk dengan perangkat masing-masing dibanding membangun percakapan dalam keluarga. Bahkan dalam aktivitas sederhana seperti memasak, bermain, atau makan bersama, perhatian sering teralihkan kepada ponsel. Akibatnya, ruang pewarisan budaya dan bahasa daerah semakin menyempit.

Dampak yang paling nyata terlihat pada generasi muda di Kabupaten Sikka. Banyak anak muda mulai tidak mengenal sistem nilai kearifan lokal leluhurnya dan kurang mampu menggunakan bahasa ibu, khususnya bahasa Krowe Sika, dengan baik. Bahasa daerah dan nilai budaya yang dahulu menjadi identitas masyarakat kini semakin jarang digunakan dan perlahan terancam punah.

Selain minimnya komunikasi antar generasi, berkurangnya penutur bahasa lokal juga dipengaruhi oleh belum tersedianya dokumentasi tertulis yang memadai mengenai budaya dan bahasa masyarakat asli Kabupaten Sikka, seperti suku Krowe Sika, Lio, Krowe Muhan, dan Palue. Ketiadaan kamus, ensiklopedi budaya, maupun naskah resmi lainnya menyebabkan banyak pengetahuan tradisional tidak terdokumentasikan dengan baik dan berisiko hilang bersama para penuturnya.

Karena itu, kehadiran buku ini menjadi kontribusi yang sangat penting dalam upaya pelestarian budaya dan bahasa warisan leluhur. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi juga bentuk kepedulian para orang tua dan para lanjut usia terhadap keberlanjutan identitas budaya masyarakat Sikka. Sebuah masyarakat yang melupakan budayanya sendiri akan kehilangan akar identitasnya, bagaikan pohon yang tumbuh tanpa akar yang kuat dan mudah terombang-ambing oleh arus budaya luar serta pola hidup instan.

Karya ini patut diapresiasi karena lahir dari dedikasi dan kerja keras para lanjut usia di Nian Sikka, khususnya Ibu Paulina Nona beserta rekan-rekannya, yang telah menghimpun, menyusun, mengetik, dan mengedit isi buku ini secara mandiri. Upaya tersebut merupakan teladan nyata tentang pentingnya menjaga ingatan kolektif dan menghormati warisan leluhur.

Lebih jauh, buku ini diharapkan menjadi awal dari gerakan pelestarian budaya yang lebih luas. Mengingat Kabupaten Sikka memiliki empat suku asli dengan kekayaan budaya yang beragam, masih diperlukan perhatian dan keterlibatan bersama untuk mendokumentasikan budaya dan bahasa suku Lio, Krowe Muhan, dan Palue. Tanpa keterlibatan generasi pendahulu dalam mewariskan nilai-nilai budaya, maka budaya tersebut lambat laun akan memudar dan akhirnya hilang dari kehidupan masyarakatnya sendiri. 


Rabu, 14 Januari 2026

Kearifan Lokal dalam Keragaman Etnik di Kabupaten Sikka

Judul

:

Kearifan Lokal dalam Keragaman Etnik di Kabupaten Sikka

Penulis

:

Suswandari & Sri Astuti

Penerbit

:

Pustaka Pelajar

Tahun Cetak

:

2020

Halaman

:

333

ISBN

:

978-623-236-063-1

Harga

:

Rp. 76.500

Status

:

Ada

 

Kearifan lokal, berbagai kelompok etnik yang dimaksud merupakan nilai-nilai pengetahuan yang mereka peroleh sebagai jawaban atas tantangan alam yang dihadapi, secara geografis, hampir sebagian besar wilayah di Kabupaten Sikka bukanlah wilayah subur. Wilayah Kabupaten Sikka terdiri dari pegunungan, gunung dengan bebatuan besar dan jarangnya curah hujan di kawasan ini. oleh karenanya agar bisa survive dan eksis dalam kehidupan, munculnya berbagai model kecerdasan lokal dalam menghadapi tantangan alam ini. Buki ini terdiri dari XI BAB, BAB I Pendahuluan, yang berisi deskripsi wilayah Kabupaten Sikka dan Analisis potensi wisata Kabupaten Sikka. Bab II Mapping Etnik dan Kebudayaan, yang akan mengungkapkan ragam bahasa, ragam tarian adat, dan unsur kebudayaan lain etnik di Kabupaten Sikka. BAB III Wujud kearifan lokal dalam kehidupan religi, BAB ini menguraikan religiustik etinik sikka krowe, Lio, Tana AI, Palue, Tidung, BAB IV membahas pantun, ungkapan adat dan dongeng sebagai wujud kearifan lokal dalam pola kekerabatan. Bab V membahas tentang wujud kearifan lokal dalam pola kekerabatan, BAB VI membahas nilai-nilai demokrasi dalam kearifan lokal etnik Kabupaten Sikka, BAB VII membahas nilai kearifan lokal dalam pelestarian lingkungan hidup, BAB VIII membahas nilai kearifan lokal dalam penyelesaian konflik, BAB IX membahas eksistensi nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Kabupaten Sikka di tengah arus budaya global, BAB X membahas strategi adaptasi dalam pengelolaan keragaman etnis dan budaya di Kabupaten Sikka, dan BAB XI Penutup


Jumat, 12 September 2025

Jelajah Kampung-Kampung Vernakular di Flores

Judul

:

Jelajah Kampung-Kampung Vernakular di Flores

Penulis

:

Martinus Bambang Susetyarto

Penerbit

:

Deepublish

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

125

ISBN

:

978-623-02-7587-6

Harga

:

Rp. 150.000

Status

:

Kosong


Jelajah panjang arsitektur vernakular di masyarakat suku/klan ini merupakan upaya kebhinekaan dalam mempelajari fenomena budaya di lingkungan binaan kampung vernakular. Lokasi penjelajahan arsitektur vernakular pada umumnya di kampung-kampung adat di daerah dataran tinggi yang masih alami, atau di perkampungan rakyat nelayan, atau warga pendatang yang tinggal di dataran rendah di tepian pantai pulau Flores. Fenomena arsitektur tersebut terekspresi lebih khas, unik, spesifik sebagai suatu sistem arsitektur dan kampung vernakular di wilayah budaya Ngadha di Flores. Lingkup fenomena arsitektur vernakular yang dimaksud adalah rumah-rumah adat dan bangunan-bangunan adat, yang berfungsi untuk mendukung kegiatan ritual adat dan kegiatan sehari-hari masyarakat kampung adat Ngadha.

Kehidupan penduduk Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia sangat heterogen. Kekayaan karakteristik budaya, bahasa, dan sejarah di tengah bermacam sukumasyarakat lokal Flores. Daratan Pulau Flores dikenal luas sebagai ratusan kampung adat yang sarat akan nilai budaya yang tinggi. Buku ini mencoba mengeksplorasi kampung-kampung adat di Flores dengan menguraikan secara rinci mengenai pola masyarakat, ritual adat, aktivitas sehari-hari, hingga pola tata letak bangunan dan lingkungan setiap kampung yang sangat beragam dan berlandaskan ajaran leluhur.

Buku ini terdiri dari beberapa pembahasan Prolog: Mengenal Flores, Pola Kampung Vernakuler di Flores, Wilayah Budaya Flores Timur, Wilayah Budaya Sikka, Wilayah Budaya Ende, Wilayah Budaya Nagekeo, Wilayah Budaya Manggarai, Wilayah Budaya Ngada dan Epilog: Hasil Jelajah Kampung Adat di Flores. 


Senin, 17 April 2023

Berpastoral di Tengah Badai: Potret Gereja Maumere 1956-1969

Judul

:

Berpastoral di Tengah Badai: Potret Gereja Maumere 1956-1969

Penulis

:

Ignas da Cunha, Viator Parera, Hendrik Djawa & John Prior

Penerbit

:

Lembaga Pembentukan Berlamjut Arnold Janssen (LPBAJ) dan Penerbit Celesty Hieronika-Jakarta

Tahun Cetak

:

1999

Halaman

:

247

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 110.000

Status

:

Ada

 

Para editor membatasi diri pada karya pastoral di bawah pimpinan pastor dan Deken Hendrik Djawa pada tahun lima puluhan (1956-63) dan dalam kemelut sejarah tahun enam puluhan (1966-69). Pada masa itu tokoh muda seperti Viator Parera dan Ignas dan Vcunha yang turut menulis buku ini, mulai bekerja sama dengan beliau. Bukan “pengikut P. Hendrik”, kata mereka, melainkan “penerus karya P. Hendrik”. Ini sungguh menarik. Pastor muda bekerja sama dan menghasilkan banyak dalam waktu yang singkat bersama dengan sekelompok anak muda.

Para pengisah kenangan ini mengungkapkan pengalaman hidup mereka. Kenang-kenangan ini ditulis antara 30 dan 40 tahun sesudah kejadian-kejadian itu dialami. Kejadian itu merupakan bagian dari riwayat hidup orang Maumere. Kisah-kisah ini merupakan gambaran diri sejumlah umat awam dan pastor, gambaran diri yang hendak mereka sampaikan kepada sidang pembaca. Kisah-kisah ini bukan sembarangan ingatan, melainkan bagian dari kenanagan yang teratur, dibentuk dan dibentuk ulang sesuai gambaran diri si pengisah. 

Jumat, 28 Oktober 2022

Don Thomas: Peletak Dasar Sikka Membangun

Judul

:

Don Thomas: Peletak Dasar Sikka Membangun

Penulis

:

E.P. Da Gomez & Oscar P. Mandalangi

Penerbit

:

Yayasan Pendidikan Thomas (YAPENTHOM)

Tahun Cetak

:

2003

Halaman

:

247

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 150.000

Status

:

Ada


“Kita menghormati Don Thomas, bukan hanya karena beliau seorang raja, tapi lebih terutama karena beliau berhasil membangun wilayah Sikka ini dalam masa pemerintahannya, yang dampaknya luas dan berlanjut untuk jangka panjang.” (Drs. Frans Seda)

“Don Thomas merupakan personifikasi simbol nilai dari pimpinan Kabupaten Sikka yang berkualitas, karena mendapat kepercayaan penuh dari raja-raja di daratan Flores untuk mewakili mereka dalam memimpin Daerah Otonomi Flores sebagai Kepala Daerah Flores yang pertama.” (Drs. Paulus Moa)

“Menghormati Don Thomas adalah menghargakan suatu karya masa lalu yang punya nilai lebih untuk masa sekarang. Makannya kita tidak boleh meninggalkan kenyataan sejarah” (Drs. Daniel Woda Pale)

“KANILIMA hanya ingin mengadakan koreksi dan berusaha merombak total sistem pemerintahan yang birokratisnepotisme itu. KANILIMA ingin mendorong proses demokratisasi dan bukan untuk merongrong kewibawaan Raja Sikka, atau anti terhadap oknum maupun kelompok suku tertentu” (F.M. Hekopung)

“Saya memberikan penghargaan yang tulus terhadap jasa beliau yang telah diciptakan melalui tugas kewajiban kepamongprajaan”. (P.S. Da Cunha

“Don Thomas adalah sosok pemimpin yang patut diteladani dan dijadikan sebagai identitas kepemimpinan Kabupaten Sikka yang berhasil.” (Drs. Alexander Longginus)

Jumat, 08 November 2019

Menuju Indonesia Layak Anak: Praktik Cerdas dalam Pemenuhan Hak Anak

Judul
:
Menuju Indonesia Layak Anak: Praktik Cerdas dalam Pemenuhan Hak Anak
Editor
:
Alex Japalatu
Penerbit
:
Yayasan Wahana Visi Indonesia
Tahun Cetak
:
2018
Halaman
:
146
ISBN
:
-
Harga
:
NFS
Status
:
Kosong


Buku ini merupakan kumpulan praktik cerdas dari kisah inspiratif dan praktik cerdas yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan swasta di tingkat nasional dan daerah dampingan Wahana Visi Indonesia (WVI) dalam mewujudkan Indonesia Layak Anak (IDOLA) 2030. Hal ini lahir dari pembelajaran di tengah tantangan dan ketertinggalan pembangunan di sebagian besar wilayah pedalaman Indonesia, namun masyarakat telah berbuat banyak untuk kepentingan terbaik anak. Berasal dari kearifan local dan disesuaikan dengan konteks masing-masing daerah, berbagai bentuk praktik cerdas ini sangat memungkin untuk direplikasi.
Sebagai yayasan sosial kemanusiaan Kristen yang bekerja untuk membuat perubahan yang berkesinambungan untuk anak dan keluarga yang hidup dalam kemiskinan tanpa membedakan agama, ras etnis dan jenis kelamin. Wahana Visi Indonesia (WVI) melakukan sejumlah upaya dalam mewujudkan tumbuh kembang anak yang optimal dalam tataran kebijakan dan program pro-anak melalui Kota/Kabupaten Layak Anak bersama pemerintah dan masyarakat di wilayah dampingan. Upaya tersebut diantaranya di bidang pengembangan masyarakat, advokasi dan tanggap bencana di sector kesenatan, pendidikan, perlindungan anak dan ekonomi di 59 titik di 13 provinsi di Indonesia. (Dr. Doseba T. Sinay, MBA/CEO dan Direktur Nasional Yayasan Wahana Visi Indonesia).
Buku ini diantaranya memuat praktik cerdas dari Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur yaitu: Mior Dadin Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sikka & Perdes yang Pro Anak dan Perempuan. Demikian juga dengan praktik cerdas dari Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur yaitu: Skol Amnasit Ketika Orang TUa “Bersekolah” Demi Anak-Anak Mereka.

Kamis, 04 Juli 2019

Akta Kelahiran Hak Pertamaku, Kisah Sukses Pencatatan Kelahiran di Kabupaten Sikka

Judul
:
Akta Kelahiran Hak Pertamaku, Kisah Sukses Pencatatan Kelahiran di Kabupaten Sikka
Penulis
:
Fary Dj. Francis & Isidorus Lilijawa
Penerbit
:
Increase, Pemda Sikka & Plan Indonesia
Tahun Cetak
:
2008
Halaman
:
120
ISBN
:
-
Harga
:
NFS
Status
:
Kosong


Untuk memenuhi hak pertama seorang anak, berbagai negara di dunia sudah memberlakukan pencatatan kelahiran bagi setiap anak yang dianugerahkan Sang Hidup ke dunia ini. Pencatatan kelahiran dirasa begitu penting bagi setiap anak sehingga ada begitu banyak upaya advokasi oleh berbagai lembaga agar pemerintah memenuhi hak anak itu. Salah satu daerah yang telah memperhatikan dan berkomitmen untuk mencatat kelahiran anak adalah Kabupaten Sikka.

Yang menarik dari Sikka adalah adanya produk hokum yang memihak pemenuhan hak pertama anak dan prosedur-prosedur yang memudahkan pencatatan kelahiran. Ini memang membutuhkan kerjasama berbagai pihak baik pemerintah daerah, masyarakat maupun lembaga-lembaga swadaya masyarakat.

Senin, 25 Juni 2018

Drs. Frans Seda 80 Tahun Catatan Perjalanan Seorang Pejuang

Judul
:
Drs. Frans Seda 80 Tahun Catatan Perjalanan Seorang Pejuang
Penulis
:
E. P. da Gomez
Editor
:
Drs. Kanis Lawar & E. Vicky da Gomez
Penerbit
:
Yayasan Kasimo Cabang Sikka Maumere & Yayasan Dobo Nualolo – Maumere
Tahun Cetak
:
2006
Halaman
:
135
ISBN
:
979-25-9301-2
Harga
:
Rp. -
Status
:
Kosong


Frans Seda di mata mereka

Mgr. Francesco Canalini, mantan Duta Besar Vatikan untuk RI
Bidang-bidang keterlibatan Frans Seda (Gereja, universitas, politik dan bisnis) mengungkapkan kepribadiannya yang multidimensional menyatu secara harmonis dengan tanggung jawab pribadi terhadap keluarganya.

Emil Salim, mantan Menteri Perhubungan dan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup
Devoted Chatolic itu sikap yang sangat menonjol pada diri Frans Seda; baginya agama bukan sekedar dianut tetapi dihayati dalam hidup sehari-hari.

Sumitro Djojohadikusumo, pakar ekonomi
Sebagai Menteri Keuangan pada masa yang paling sulit, Frans Seda member andil yang sangat besar kepada perekonomian negara.

Abdul Haris Nasution, Mantan Ketua MPRS, Jenderal TNI-AD
Ketika menjabat Menteri Keuangan dengan sangat baik Frans Seda melaksanakan tugas memperbaiki hubungan dengan dan mencari bantuan dari Eropa Barat sehingga lahirlah IGGI.

G. W. Baron de Vos van Steenwijk, mantan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk RI
Orang yang sungguh luar biasa dan terutama karena ia bukan orang Jawa, ia mempunyai sikap yang sangat langsung ke sasaran. Pokoknya “he doesn’t beat around the bush”
Marshall Green, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk RI
Saya mempunyai penghargaan besar terhadapnya sebagai seorang ekonom, negarawan dan sekaligus juga seorang pemuka agama.

Prof. Dr. Anton M. Moeliono, MA, mantan Direktur Pusat Penelitian Atma Jaya
Peranannya sebagai salah seorang arsitek ekonomi modern Indonesia dan selaku pengukir rautan wajah Gereja Katolik di Indonesia hanya dapat dinilai jika berdimensi sejarah.

Rm. Prof. Dr. A. M. Kadarman, SJ, Direktur Yayasan Bhumiksara
Tidak banyak orang sekaliber Frans Seda

Jumat, 25 Mei 2018

Sejarah Perkembangan Misi Flores Dioses Agung Ende

Judul
:
Sejarah Perkembangan Misi Flores Dioses Agung Ende
Penulis
:
L. Lame Uran
Penerbit
:
-
Tahun Cetak
:
-
Halaman
:
342
ISBN
:
-
Harga
:
Rp. 125.000
Status
:
Kosong


Pada bagian pertama buku ini mengisahkan awal mula perkembangan dan keruntuhan karya Misi pater-pater Dominikan di Kepulauan Solor, seperti dikenal waktu itu yakni terdiri dari Pulau Flores, Timor, Pulau Solor, Adonara, dan Lomblen. Selanjutnya kami memperkenalkan karya Misi pater-pater Yesuit, karya Misi pater-pater Serikat Sabda Allah, sampai terbentuknya Dioses Agung Ende.

Dioses Agung Ende mencakup tiga Kabupaten Sikka, Kabupaten Ende dan Kabupaten Ngada. Di Kabupaten Ngada sudah terdapat stasi-stasi Misi sejak abad XVI seperti Stasi Kewa, Lena, Laka, Mari, Tonggo dan Lambo, 15 km dari Tonggo. Oleh serangan Islam dan peperangan melawan Kompeni Belanda, desa-desa ini semua sudah menjadi Islam dan kembali menjadi kafir. Disebutkan dalam dokumen sejarah, bahwa desa-desa ini telah menjadi Katolik sejak tahun 1566. Pada tahun 1772 misionaris terakhir berangkat dari Numba di pantai selatan Flores meninggalkan umat.

Pada waktu itu di wilayah sekarang termasuk Kabupaten Ende terdapat tiga stasi Misi di Pulau Ende, yakni: Numba, Saraboro dan Curollales. Di pantai utara wilayah LIO terdapat Stasi Dondo, sebuah pelabuhan tempat kapal-kapal Portugis mengambil air minum dan membeli bahan makanan. Keempat stasi ini juga telah dikuasai Islam atau Belanda, sehingga smeuanya telah menjadi Islam atau kafir kembali. Hanya di Kabupaten Sikka stasi-stasi Katolik tetap mempertahankan imannya. Ketika pada tahun 1868 dikunjungi oleh Pater Omzigt SY terdapat pada waktu itu umat sekitar 6.000 orang. Mereka memang menamakan diri Katolik. Tetapi mereka hidup sama dengan orang kafir.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...