Tampilkan postingan dengan label Buku Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Tokoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2026

Senjata Kami adalah Upacara Adat: Ungkapan Pelambang dan Mantra Nausus, Perempuan Pembela HAM-Lingkungan

Judul

:

Senjata Kami adalah Upacara Adat: Ungkapan Pelambang dan Mantra Nausus, Perempuan Pembela HAM-Lingkungan

Penulis

:

Aleta Baun, dkk

Penerbit

:

Insist Press

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

126

ISBN

:

978-623-6179-31-4

Harga

:

Rp. 73.000

Status

:

Kosong

 

Senjata Kami adalah Upacara Adat merupakan suara lima Nausus—perempuan pejuang tanah airnya yang berdiri di garda depan melawan perusakan alam dan perampasan ruang hidup rakyat. Dari gunung batu Mollo yang dilindungi Mama Aleta, kebun sorgum yang dirintis Maria Loretha di Adonara, pulau Sangihe yang dibela Jull Takaliuang, hutan Gunung Kerasik yang dijaga Mardiana, sampai alam pegunungan Kendeng yang dipanggil ikut berjuang bersama Gunarti dengan doa dan pelambang tubuh-alam.


Buku ini lahir dari proses panen pengetahuan, menggali kebijaksanaan yang tertanam dalam ingatan, tubuh, dan laku, oleh mereka sendiri, dan tampil dalam bentuk ungkapan kata-kata. Di sini, ungkapan pelambang dan mantra menjadi senjata budaya perempuan dalam merawat kehidupan, menyemai harapan, dan meneruskan perlawanan.


Kisah dari NTT yaitu dari Pulau Adonara, Maria Loretha memilih memulihkan martabat sorgum, pangan lokal yang hampir terlupakan sejak politik beras dominan pada masa Orde Baru. Ia membuktikan bahwa menanam yang lokal adalah jalan untuk bertahan dari ancaman kelaparan. “Mintakan kepada alam, maka akan diberikan tempat surga,” seruan yang sangat kuat. Dan Aleta Baun dari Timor, menjadi ikon gerakan perempuan adat. Dari sebutan Perempuan Nausun ‒ perempuan menyusui, kita melihat metafora yang sama antara tubuh perempuan dan alam. Keduanya melahirkan, merawat, dan menjaga keberlangsungan. Di titik itulah ekofeminisme hadir secara alami, ketika tubuh perempuan dan tubuh alam sama-sama disakiti, maka kehancuran akan dirasakan bersama. 


Kamis, 18 Juni 2026

Harumnya Apel Soe “Kembali Lagi” Jhys Baok

Judul

:

Harumnya Apel Soe “Kembali Lagi” Jhys Baok

Penulis

:

Margarita D.I. Ottu S.Pd., M.Pd.K

Penerbit

:

Adab

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

72

ISBN

:

978-623-6233-41-2

Harga

:

Rp. -     

Status

:

Kosong


Buku Buku ini menggambarkan kisah hidup Jhys Baok, seorang tokoh yang lahir dan berkembang di SoE (Timor Tengah Selatan), yang dikenal sebagai kawasan penghasil apel terkenal di Indonesia. Buku ini tidak hanya mengisahkan perjalanan hidup Jhys dari masa kecil hingga pendidikan menengah, tetapi juga menyajikan sejarah dan keindahan tanaman apel di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dalam buku ini, pembaca akan diajak untuk mengenang masa kecil yang penuh kenangan, keakraban dengan keluarga, dan semangat belajar yang menjadi fondasi kehidupan Jhys. Selain itu, buku ini juga memberikan informasi ilmiah tentang sistematika dan morfologi tanaman apel, yang menjadikannya buku yang menggabungkan nilai edukasi dan inspirasi. Dengan narasi yang penuh makna, buku ini menjadi sumber motivasi bagi pembaca untuk menghargai keindahan alam, kehidupan masa kecil, dan perjuangan dalam mengejar pendidikan. 


Selasa, 02 Juni 2026

Alor Mutiara Dari Timur

Judul

:

Alor Mutiara Dari Timur

Penulis

:

Hasan Asy’ari Oramahi

Penerbit

:

Yayasan Adharta

Tahun Cetak

:

2020

Halaman

:

132

ISBN

:

978-623-93279-0-3

Harga

:

Rp. 150.000         

Status

:

Kosong

 

"Alor Mutiara Dari Timur" ini dimulai dengan mengangkat sejarah yang hanya bersumber dari kisah tuturan dari generasi ke generasi, yang dihimpun penulisnya. Pentas imajinasi pembacanya seolah-olah dibuka penulis untuk kembali ke kondisi Alor di masa silam puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, laksana gulungan seluloid film yang berhasil mencitrakan kembali suasana Alor tempo dulu. Bagi para pelancong yang membaca buku ini, penulis ingin buktikan bahwa memang "Alor Mutiara Dari Timur"

Pria kelahiran 14 April 1941 di desa Alor Kecil, pulau Alor ini punya rentang karier puluhan tahun di RRI, TVRI dan BB London serta sebagai praktisi PR yang menangani klien nasional dan multi nasional semisal maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia, dan The Singapore Airlines, konsorsium Eropa peluncur satelit komersial Arianespace yang meluncurkan satelit komunikasi milik PT Telkom, Palapa C-2 dan satelit digital Cakrawarta ke posisi geostasioner di angkasa luar. Buku "Alor Mutiara Dari Timur" ini adalah cenderamatanya buat masyarakarat Alor tanah kelahirannya yang selalu indah berseri laksana kilauan Mutiara Dari Timur.

"Jauh berjalan banyak berbagi, lama hidup banyak berbuah", adalah ungkapan yang tepat buat penulis. Dalam kembara hidup di rantau, yang sejak masa muda hingga usia lanjut tetap berpikir, berbuat dan berbagi untuk  kampung halaman. Buah karya ini, menegaskan respon penulis terhadap pesan leluhur dari Alor : kuli mati mati haki tifang levo , yang bermakna "bekerja keras mencapai hidup sukses di rantau, tetapi tidak melupakan halaman". (Ir. Ansgerius Takalapeta)


Human Rights? Wiranto and The Independence of East Timor

Judul

:

Human Rights? Wiranto and The Independence of East Timor

Penulis

:

Bilveer Singh

Penerbit

:

Book House, Book and Writers Network Sydney

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

2004

Halaman

:

349

ISBN

:

978-174-0183-147

Harga

:

Rp. 100.000         

Status

:

Ada

 

Even though the United Nations' interest in East Timor can be traced from the debate on its status as a non self-governing territory, Portugal, the colonial power, was largely unmoved as it was not a United Nations' member until 1955. The status quo only altered following a change in regime in Portugal as a result of the 'Flower Revolution' in 1974. Rather, irresponsibly, Portuguese leftist officers in-charge of East Timor abandoned the colonial territory when a furious civil war was taking place amidst great loss of lives. Indonesia's intervention, with the support of the United States, can be directly traced to this Portuguese failure, culminating in territory's integration into Indonesia.

Indonesia's actions were however not fully endorsed by the international community and the territory continued to be regarded as a non self-governing territory. Due to the Cold War, the situation was somewhat tolerated with Australia even recognizing Indonesia's sovereignty over East Timor. At the same time, the territory was plagued by warfare with the pro-independence insurgents fighting the Indonesian military and the pro-integration forces. This situation continued until May 1998. After Suharto's resignation, President Habibie decided to give the East Timorese the right to decide their future with Indonesia. Following the United Nations' sponsored ballot, unfortunately marred by fraud and injustice, the East Timorese opted for independence.

Due largely to the manner the ballot was conducted, the behavior of UNAMET officials prior and after the ballot, and the animosity of the pro and anti-integration forces toward each other, violence broke in East Timor even though many in the West blamed Indonesia, and in particular, the Indonesian military (TNI) and its then commander, General Wiranto.

The study traces the evolution of East Timor's independence and examines the factors behind the many human rights abuses in the territory. Can the TNI and Wiranto be blamed for the violence that transpired in East Timor? Why is the West, especially Australia, so keen on blaming the TNI and Wiranto on what transpired in East Timor? Was the West in any way responsible for the actual violence that broke out in East Timor? Does Australia's East Timor policy since independence explain why it was keen on exaggerating what happened in the territory and allaying blame on the TNI? What was Australia's role in the violence that broke out in East Timor? In hindsight, with so much evidence coming out of East Timor pertaining to the UNAMET and Australia's role, what verdict can be made on Wiranto's culpability as far as human rights violations are concerned? It is hoped that this study will contribute in shedding new light on this matter, especially as far as Wiranto and the independence of East Timor is concerned. 


Sabtu, 14 Februari 2026

Berani Melangkah - Dari Karyawan Menjadi Wirausaha

Judul

:

Berani Melangkah - Dari Karyawan Menjadi Wirausaha 

Penulis

:

Fransiscus Go

Penerbit

:

Bo' Kampong Publishing

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

 

ISBN

:

978-623-896-548-9

Harga

:

Rp. 35.000

Status

:

Kosong

 

PHK bukan akhir segalanya. Bisa jadi, itu awal dari sesuatu yang lebih bermakna.

Ribuan orang kehilangan pekerjaan setiap tahun. Banyak dari mereka yang merasa hidup berhenti begitu saja. Namun, selalu ada peluang di balik krisis. Buku ini hadir sebagai panduan praktis dan reflektif untuk siapa saja yang ingin bertransformasi dari karyawan menjadi wirausaha yang berani mengambil kendali hidupnya.

Berani Melangkah: dari Karyawan menjadi Wirausaha bukan hanya berisi motivasi, tapi juga langkah nyata memulai bisnis dari nol. Lengkap dengan kisah inspiratif, tip praktis, dan strategi membangun usaha pada Era Digital. Buku ini dirancang agar pembaca tak hanya bermimpi, tapi juga berani bertindak.

Buku ini adalah titik awal bagi Anda yang merasa kehilangan arah atau diam-diam ingin mandiri secara finansial. Karena, perubahan besar selalu dimulai dari satu keputusan kecil: berani melangkah. Setiap orang layak mendapat kesempatan kedua. Buku ini hadir untuk menemani Anda mengambil langkah pertama menuju hidup mandiri dan lebih bermakna sebagai wirausaha.

 

Minggu, 19 Oktober 2025

Mengenal Gerson Mengenang Umbu: Esai-esai tentang Gerson Poyk dan Umbu Landu Paranggi

Judul

:

Mengenal Gerson Mengenang Umbu: Esai-esai tentang Gerson Poyk dan Umbu Landu Paranggi

Penulis

:

Robertus Fahik

Penerbit

:

Jejak Pustaka

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

82

ISBN

:

978-623-524-213-2

Harga

:

Rp. 55.000

Status

:

Kosong

 

Buku ini tidak sekadar membaringkan kekaguman Robby Fahik atas karya-karya kedua sastrawan ini, tapi merupakan bentuk testimoni ilmiah setelah bercumbu dengan karya dua sastrawan ini. Buku ini memungkinkan kita bercanda lagi dengan Umbu dan Gerson, meski mereka telah tiada. Sebab, buku kata Foucault, merupakan bentuk lain dari arkeologi pengetahuan yang merawat pemikiran, pengetahuan, dan peradaban.

Bagi saya, buku ini semacam “tugu” yang mengabadikan dua tokoh besar. Tentu, tidak berhala kepada karya-karya mereka, tetapi, karya-karya Umbu Landu Paranggi dan Gerson Poyk setidaknya menjadi kemenyan yang mengingatkan kita tentang kesungguhan berkarya dan bagaimana menerima hidup secara indah dan wafat meninggalkan keindahan. Singkat, kita kenang karena kita senang. (Dr. Marselus Robot, M.Si., Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana)

Buku ini berisi 10 esai yang secara khusus membicarakan dua sosok sastrawan Indonesia kelahiran Nusa Tenggara Timur, Gerson Poyk (1931-2017) & Umbu Landu Paranggi (1943-2021). Keduanya merupakan nama penting dalam barisan sastrawan Indonesia, dan karya-karya mereka telah memberi warna dalam perjalanan sastra di Indonesia. Untuk itu, penting kiranya bagi generasi muda untuk mengenal & mengenang dua tokoh sastrawan tersebut, setidaknya demikian pulalah harapan penulis buku ini, @robertus_fahik 


Senin, 25 Agustus 2025

Kako Lami Angalai?ꓽ Riwu Ga, 14 Tahun Mengawal Bung Karno

Judul

:

Kako Lami Angalai? Riwu Ga, 14 Tahun Mengawal Bung Karno

Penulis

:

Peter A. Rohi

Penerbit

:

PT. Koran Indonesia Utama

Tahun Cetak

:

2004

Halaman

:

137

ISBN

:

-

Harga

:

-

Status

:

Kosong

 

Nun jauh di tengah hutan gewang. lelaki tua itu mengayunkan paculnya, membenamkan dalam-dalam ke kulit bumi. Sejengkal demi sejengkal tanah terbelah dan ketika panas matahari makin menyengat, ia merebahkan tubuhnya di bayang- bayang pohon. Sambil bersandar di pohon itu ia memandang ke atas, melihat daun-daun gewang yang tertiup angin dan menimbulkan suara alam yang begitu merdu, sementara aneka burung beterbangan di atas kepalanya. Indah, indah sekali. Itu pula ucapan pertama yang keluar dari mulutnya, ketika penulis menemuinya di ladang itu. Tak seorang pun tahu, lelaki tua itu sesungguhnya menyimpan banyak sejarah republik ini. Bahkan dalam hal-hal yang paling misterius sekali pun, berkaitan dengan keselamatan Bung Kamo dan Proklamasi Kemerdekaan.

Sementara semua desa dan kota sedang merias diri menyambut 50 Tahun Indonesia Merdeka, rumah ladang Riwu yang dinding dan atapnya terbuat dari daun gewang itu, sepi. "Merah Putih itu ada di hati ini," kata Riwu. Para pejabat di sana, camat, bupati dan gubernur NTT sama sekali tak mengenal Riwu dan peranannya. Tetapi Riwu tidak menyesalkannya.

Riwu kembali menerawang memandangi burung-burung beterbangan di atas kepalanya. Daun gewang yang diterpa angin menimbulkan irama merdu dan di kuping Riwu seakan-akan bunyi itu membawa senda gurau Bung Kamo, "angalai kako la mi" (Sahabat mau kemana). Saya telah memilih hidup di ladang jagung, di tengah hutan gewang, jauh dari kebisingan manusia menikmati kemerdekaan ini. 


Rabu, 06 Agustus 2025

Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih

Judul

:

Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih

Penyusun

:

Deni Rachman

Penerbit

:

Pro Public

Tahun Cetak

:

2020

Halaman

:

156

ISBN

:

978-623-9397-5-4

Harga

:

Rp. 80. 000

Status

:

Ada

 

Pada edisi revisi ini, kisah Ibu Inggit Garnasih dilengkapi dengan informasi kliping iklan bedak-jamu buatan Ibu Inggit, beberapa artikel dan foto-foto tambahan. Buku ini sebagian besar mengisahkan kehidupannya setelah Indonesia merdeka, wafat dan tinggalan sejarah hidupnya bagi kita saat ini.

Selain kisah-kisah dan cerita perjuangan yang amat menarik dari seorang Inggit, masih ada segi lain yang menjadi daya tarik ini, yaitu sifat mandiri, sabar, tulus dan tangguh. Ibu Inggit membagikan kisahnya itu kepada para jurnalis mulai dari resep bersih hati supaya hidup tetap awet muda, sering bertirakat dan mengobati orang yang sakit, kedekatannya dengan rakyat sehingga dujuluki ‘Ibu Rakyat’, dan yang sangat membahagiakannya adalah menikmati alam kemerdekaan. Salah satu pesan ibu Inggit dari kisah ini: “Bersihkanlah hati kita dari segala macam rasa iri, cemburu, dan dengki. Bila hati kita bersih, pasti wajah kita pun akan selalu bersih, bersinar dan segar.”


Selasa, 29 Juli 2025

Para Sahabat Mengenang Daniel Dhakidae

Judul

:

Para Sahabat Mengenang Daniel Dhakidae

Penulis

:

Cendekiawan Par Excellence

Penerbit

:

Penerbit Buku Kompas

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

352

ISBN

:

978-625-465-560

Harga

:

Rp. 65.000

Status

:

Kosong


Buku ini merupakan kenangan akan sosok Daniel Dhakidae yang akrab dipanggil Bung DD, ditulis oleh para sahabat, kolega, keluarga, dan orangorang terdekat lainnya. Daniel yang keras dalam prinsip, terutama dalam mengoreksi kekuasaan, tentu ada yang menyukai dan tak menyukainya. Namun, ia tak tergantikan. Ia menginspirasi bagi yang mencintainya, menghargainya, dan juga bagi yang tidak menyukainya. Pemikirannya abadi, dan akan terus bermakna, seperti apa yang dituliskan di dalam buku ini.

Ketelatenan Daniel, mengumpulkan, mengorganisasi dan menjahit catatan-catatan sejarah dengan pengamanatan terhadap dunia mewarnai analisanya di berbagai tulisan. Mungkin ketelatenan ini berhubungan dengan fakta bahwa Daniel adalah seorang poliglot, kemampuan berpikir dalam berbagai struktur gramatika, sintaks, dan semantik mempertajam cara Daniel membaca realita sosial. -Inaya Rakhmani 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...