Tampilkan postingan dengan label Buku Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2026

Satu Abad Paroki Roh Kudus Nelle, Tetap Tegar di Tengah Badai (1921-2021)

Judul

:

Satu Abad Paroki Roh Kudus Nelle, Tetap Tegar di Tengah Badai (1921-2021)

Editor

:

Dr. Antonio Camnahas, Dra. Praxedis Sadipun dan Elisabet Luju, S.H., M.M.

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

282

ISBN

:

978-623-6724-21-7

Harga

:

Rp. 65.000

Status

:

Ada

 

Seabad sudah berlalu, namun paroki ini masih tetap eksis, setelah melewati sekian banyak badai sepanjang perjalanannya. Di usianya yang sudah tidak muda lagi ini, Gereja ini coba menarik nafas dan berhenti sejenak untuk memaknai badai-badai historisnya, bersyukur, belajar dan menimba kekuatan baru. Badai selain menakutkan tetapi juga membuat mereka yang keluar darinya menjadi semakin tegar, percaya diri dan menjadi lebih dewasa. Pasti ada badai-badai lainnya yang sudah menanti di depan, namun bersama Roh Kudus dalam persatuan erat dengan Allah Bapak dan Allah Putera, Gereja Nelle yakin akan tetap tegar juga di masa depan. Keyakinan ini dibangun bukan mengandalkan kekuatannya sendiri melainkan kekuatan ilahi yang turut bekerja aktif di dalamnya.

RP. Stef. Buyung Florianus, O.Carm lewat artikelnya berusaha membantu kita untuk menyadari kembali asal-usul kekristenan di wilayah ini. Dia mulai dengan kisah tentang benih awal iman kekristenan disemai di wilayah Nusa Tenggara diakhiri dengan situasi perkembangan itu di masa sekarang. Dr. Antonio Camnahas lewat artikelnya telah menunjukkan berkat Tuhan bagi bumi Nusa Tenggara lewat kerja keras para pendahulu, juga lewat tangan-tangan tak terlihat lainnya oleh mata, yang telah membantu perkembangan iman Kristen di wilayah ini, khususnya pada masa awal karya para misionaris SVD. Vitalis Badar, S.H., telah berusaha untuk menghadirkan kembali kisah awal tentang Paroki Roh Kudus Nelle, para pastor yang telah berkarya di sini, juga "tapak-tapak kaki" dan karya-karya mereka yang tetap dikenang umat sampai sekarang. Penulis yang sama juga, karena latar belakang studinya di bidang hukum, telah menurunkan satu artikel lain berkaitan dengan status hukum tanah-tanah yang menjadi hak milik paroki ini sejak awal. Selanjutnya, kisah tentang peristiwa kebakaran gedung gereja dan pastoran Nelle di tahun 1940 kami parafrasekan ulang dari tulisan di buletin Ende Post edisi Maret 1941. Terima kasih untuk bantuan Sr. Edfreda Theot, SSpS yang telah rela menerjemahkan tulisan ini dari Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Indonesia. 


Senin, 12 Oktober 2026

Orang-Orang Katolik di Indonesia Era Kemerdekaan 1945-2010 Jilid 3

Judul

:

Orang-Orang Katolik di Indonesia Era Kemerdekaan 1945-2010 Jilid 3

Penulis

:

Karel Steenbrink

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2018

Halaman

:

894

ISBN

:

978-602-1161-55-5

Harga

:

Rp. 275.000

Status

:

Ada

 

Orang-orang Katolik di Indonesia Era Kemerdekaan 1945-2010 menuntaskan buku profil sejarah berjilid tiga yang ditulis Profesor Steenbrink tentang agama Katolik di Indonesia, lengkap dengan laporan yang sangat terperinci tentang kelangsungan hidup dan pertumbuhan agama minoritas ini di negeri mayoritas Muslim Indonesia sejak kemerdekaan Republik itu tahun 1945.

Kekatolikan kolonial bertahan hidup di Republik Indonesia yang merdeka sepanjang rezim nasionalis Soekarno (1945-1965), dan mendapatkan kembali dinamika baru dalam kurun kebangkitan agama seumumnya yang merupakan bagian dari Orde Baru Soeharto setelah tahun 1965. Dari sebuah lembaga yang sangat bercorak Belanda, agama Katolik di Indonesia berkembang menjadi sebuah komunitas yang sepenuhnya dinahkodai orang-orang Indonesia, namun tetap mempertahankan coraknya yang modern lagi internasional.

Buku ini terpilah ke dalam dua bagian besar. Bagian pertama mengkaji masalah-masalah nasional, yang mencakup agama dalam politik Indonesia, struktur internal komunitas Katolik, para klerus religius, imam diosesan, para suster dan bruder laikal, basis sekuler agama Katolik dalam ranah pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan karya pembangunan, keterlibatan sosial dan spiritualitas kaum awam serta para pemikir, penulis, seniman kreatif, aneka proposal dan debat teologi. Bagian kedua menelisik berbagai tinjauan kewilayahan di negara yang sangat luas ini, mulai dari perjuangan Gereja Katolik di Flores, Timor dan Sumba, masyarakat Papua yang mencari identitas antara dominasi Belanda dan Indonesia, Maluku yang dipepaki beban berat fragmentasi agama dan isolasi geografıs, kaum minoritas Katolik di Minahasa dan Toraja di Sulawesi, Kalimantan, hingga diaspora Katolik di Sumatera, Jawa dan Bali. Buku ini juga dilengkapi oleh tidak kurang 29 dokumen yang ditulis berbagai tokoh dan organisasi sejak tahun 1942 hingga tahun 2007, foto-foto historis bahari dan modern serta puluhan tabel yang meringkas aneka struktur, lembaga, personel, tempat ziarah, statistik, kelompok etnis serta umat seumumnya.

Karel Steenbrink, yang tahun 1974 meraih gelar Ph.D. dalam Studi-Studi Agama, adalah Guru Besar Emeritus dalam bidang Teologi Antarbudaya pada Departemen Studi Agama di Universitas Utrecht. Ia telah menerbitkan banyak buku tentang agama-agama di Indonesia, baik Islam maupun Kristen. Dimulai tahun 1970 dengan kerja lapangan di lembaga pendidikan Islam, ia kini meneliti aneka pandangan dari masa kolonial tentang Islam serta posisi kaum minoritas Katolik di tengah masyarakat mayoritas Muslim di Indonesia. Dua jilid pertama dari profil sejarah ini (Jilid 1: Suatu Pemulihan Bersahaja 1808-1903 dan Jilid 2: Pertumbuhan yang Spektakuler dari Minoritas yang Percaya Diri) juga diterbitkan Penerbit Ledalero, Maumere-Flores (2006).

 

Minggu, 20 September 2026

Nankai no Shikeishū Dokubō (Sel Terpidana Mati di Kawasan Laut Selatan)

Judul

:

Nankai no Shikeishū Dokubō (Sel Terpidana Mati di Kawasan Laut Selatan)

Penulis

:

Yamaguchi Watari

Bahasa

:

Jepang

Penerbit

:

Kokusho Kankōkai

Tahun Cetak

:

1982

Halaman

:

190

ISBN

:

978-4-336-02351-3

Harga

:

Rp.-

Status

:

Kosong

 

Buku berjudul Jepang Nankai no Shikeishū Dokubō, menyimpan kisah kelam tentang para tentara Jepang yang setelah berakhirnya Perang Dunia II harus menghadapi pengadilan, penjara, dan ancaman hukuman mati. Buku ini diterbitkan kembali oleh Kokusho Kankōkai pada 1982 sebagai bagian dari seri Senpan Sōsho atau kumpulan tulisan mengenai para terdakwa dan terpidana kejahatan perang. Yang membuatnya istimewa, buku tersebut bukan sekadar catatan sejarah yang ditulis dari kejauhan. Yamaguchi sendiri pernah mengalami kehidupan sebagai seorang terpidana mati. Karena itu, halaman-halamannya membawa perspektif seseorang yang mengetahui secara langsung bagaimana rasanya hidup di balik jeruji, menghadapi ketidakpastian, pengadilan, dan kemungkinan kematian.

Kisah dalam buku ini membawa pembaca ke masa ketika Perang Dunia II baru saja berakhir. Jepang telah menyerah pada 1945, tetapi bagi sebagian tentara Jepang, perang belum benar-benar selesai. Mereka ditangkap, diperiksa, dan dibawa ke berbagai pengadilan militer Sekutu untuk mempertanggungjawabkan dugaan kejahatan yang dilakukan selama perang. Sebagian dijatuhi hukuman penjara, sementara sebagian lainnya menerima vonis paling berat: hukuman mati. Di titik inilah kehidupan para terpidana memasuki babak yang jauh berbeda—bukan lagi medan pertempuran, melainkan sebuah ruang sempit tempat setiap hari dapat menjadi hari terakhir dalam hidup mereka.

Yang membuat buku ini semakin menarik bagi pembaca Indonesia adalah keterkaitannya dengan Kupang dan Timor. Nama Yamaguchi tercatat dalam sumber-sumber mengenai pengadilan perang di Kupang. Dengan demikian, buku ini membuka jendela lain untuk melihat sejarah Nusa Tenggara Timur pada masa yang jarang dibicarakan: masa setelah Jepang menyerah, ketika sejumlah personel Jepang yang pernah berada di kawasan Timor harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan pengadilan militer.

Kupang pada masa itu bukan hanya sebuah kota yang pernah mengalami pendudukan Jepang. Kota ini juga menjadi salah satu tempat berlangsungnya proses hukum terhadap personel Jepang setelah perang. Di balik catatan resmi mengenai vonis dan hukuman, terdapat manusia-manusia yang menunggu keputusan mengenai hidup mereka. Mereka menulis surat, mengingat keluarga, berbicara dengan sesama tahanan, merenungkan kesalahan, dan mencoba memahami nasib yang akan mereka jalani. Perspektif manusiawi semacam inilah yang menjadi salah satu daya tarik utama buku ini.

Ada ironi yang kuat pada sampul buku tersebut. Laut biru, awan putih, dan cakrawala yang luas seolah menggambarkan kebebasan. Tetapi bagi orang-orang yang diceritakan di dalamnya, laut justru menjadi bagian dari perjalanan menuju penahanan dan pengadilan. Laut Selatan yang luas menjadi latar bagi kisah manusia yang justru kehilangan kebebasannya. Di satu sisi terdapat hamparan samudra tanpa batas; di sisi lain terdapat sebuah sel sempit yang membatasi setiap gerak mereka.

Buku ini juga penting karena memperlihatkan sejarah dari sudut pandang pihak yang kalah. Sejarah Perang Dunia II sering kali ditulis melalui dokumen pemerintah, laporan militer, keputusan pengadilan, atau kesaksian korban. Memberikan lapisan lain: bagaimana seorang terdakwa atau terpidana Jepang memandang pengalaman tersebut. Perspektif ini tentu tidak boleh diterima begitu saja sebagai gambaran yang sepenuhnya objektif. Kesaksian seorang terpidana dapat dipengaruhi oleh ingatan, kepentingan, rasa bersalah, pembelaan diri, maupun kondisi psikologis. Namun justru karena sifatnya yang subjektif, ia berharga untuk memahami bagaimana para terpidana melihat diri mereka sendiri dan peristiwa yang mereka alami.

Lebih jauh lagi, buku ini dapat menjadi pintu masuk untuk menelusuri sejarah Kupang dan Timor pada periode 1942–1948. Sejarah pendudukan Jepang biasanya berhenti pada cerita mengenai kedatangan Jepang, kehidupan masyarakat di bawah pendudukan, penderitaan rakyat, dan berakhirnya perang. Padahal, ada babak sesudahnya yang tidak kalah penting: penangkapan tentara Jepang, pengadilan kejahatan perang, hukuman mati, pemindahan tahanan, serta kepulangan atau pembebasan mereka. Babak inilah yang membuat buku Yamaguchi memiliki arti khusus bagi sejarah lokal NTT.

Pada akhirnya, bukan semata-mata buku tentang enam orang atau sejumlah terpidana mati. Ia adalah cerita tentang perang yang belum benar-benar berakhir ketika senjata telah berhenti berbunyi. Bagi para korban, luka perang terus hidup dalam ingatan. Bagi para terdakwa, perang berubah menjadi pertanggungjawaban hukum. Dan bagi sejarawan, kesaksian seperti yang ditinggalkan Yamaguchi menjadi serpihan penting untuk memahami masa lalu secara lebih utuh.

Dari sebuah buku tua bersampul biru itu, kita seakan diajak memandang kembali laut di sekitar Timor. Ombaknya mungkin telah berganti ribuan kali sejak 1940-an, tetapi sejarah yang pernah terjadi di pesisir dan kota-kota di kawasan itu tidak ikut hilang. Di balik ketenangan laut, ada cerita tentang perang, pengadilan, kematian, penyesalan, dan manusia yang menunggu nasibnya di balik pintu sel. 


Kotō no Tsuchi to Naru Tomo: BC-kyū Senpan Saiban (Meski Harus Menjadi Tanah di Pulau Terpencil: Pengadilan Kejahatan Perang Kelas B dan C)

Judul

:

Kotō no Tsuchi to Naru Tomo: BC-kyū Senpan Saiban (Meski Harus Menjadi Tanah di Pulau Terpencil: Pengadilan Kejahatan Perang Kelas B dan C)

Penulis

:

Takashi Irakawa

Bahasa

:

Jepang

Penerbit

:

Kodansha

Tahun Cetak

:

1995

Halaman

:

830

ISBN

:

-

Harga

:

Rp.-

Status

:

Kosong

 

Dalam tumpukan arsip sejarah Perang Dunia II di Asia-Pasifik, nama Pulau Timor dan Kota Kupang kerap muncul bukan sekadar sebagai titik geografis pertempuran, melainkan sebagai panggung penutup dari sebuah drama kemanusiaan yang serba kelam. Dalam karya monumentalnya yang megah, Kotō no Tsuchi to Naru Tomo: BC-kyū Senpan Saiban (“Meski Harus Menjadi Tanah di Pulau Terpencil: Pengadilan Kejahatan Perang Kelas B dan C”), jurnalis dan penulis senior Jepang, Takashi Irakawa, merajut kembali kisah-kisah terperosok yang puluhan tahun terkubur dalam "kegelapan sejarah." Melalui riset intensif dan penelusuran dokumen rahasia selama seperempat abad, Irakawa merekam bagaimana tanah-tanah terisolasi di Kepulauan Nusantara—termasuk Kupang—menjadi saksi bisu penghakiman akhir para prajurit yang kalah perang.

Bagi Kupang, narasi yang diusung Irakawa terasa begitu dekat dan personal. Pasca-kapitulasi Jepang pada tahun 1945, Pasukan Sekutu—khususnya Pengadilan Militer Australia—menggelar persidangan kejahatan perang kelas B dan C langsung di tanah Kupang. Di tempat inilah para perwira dan prajurit Angkatan Darat ke-48 serta Angkatan Laut Jepang diadili atas berbagai tindak kekerasan, eksekusi tawanan perang, dan penindasan terhadap warga lokal maupun pasukan Sekutu seperti Sparrow Force. Melalui pendekatan naratif yang kuat, Irakawa memotret Kupang bukan sekadar sebagai benteng pertahanan selatan (Nampo) tentara Kekaisaran, melainkan sebagai tempat di mana vonis mati dan hukuman penjara memisahkan para prajurit dari tanah air mereka selamanya—menjadikan mereka benar-benar "menjadi tanah" di pulau terpencil yang jauh dari rumah.

Namun, hal yang membuat karya penerima Kodansha Non-Fiction Award ini begitu menggugah adalah keberanian Irakawa menembus sudut pandang tunggal sejarah pemenang. Ia tidak hanya mencatat kekejaman perang, tetapi juga mengupas sisi lain pengadilan di Kupang dan wilayah Pasifik lainnya sebagai victors' justice—pengadilan pihak yang menang yang sarat dengan tarik-menarik kepentingan kolonialisme Barat di Asia Pasifik. Dalam 1.600 lembar manuskrip yang dipadatkan menjadi buku setebal 800 halaman lebih ini, Irakawa memperlihatkan bagaimana kekacauan pascaperang melahirkan salah tangkap, salah identifikasi, hingga vonis terhadap mereka yang tak bersalah. Membaca lembaran karya Irakawa hari ini memberikan kita kacamata yang lebih jernih dan berimbang: bahwa di balik megahnya narasi kemenangan perang, tanah Kupang menyimpan jejak-jejak refleksi mendalam tentang keadilan, nasib individu yang tergilas roda sejarah, dan kompleksitas kemanusiaan di masa lalu.

 

Senin, 03 Agustus 2026

Orang Topas: Identitas dan Kemelut Politik di kawasan Laut Sawu Abad 17-19

Judul

:

Orang Topas: Identitas dan Kemelut Politik di kawasan Laut Sawu Abad 17-19

Penulis

:

Muhammad ‘Afwan Mufti, Daya Negri Wijaya, & Hariyono

Penerbit

:

Indis

Tahun Cetak

:

2026

Halaman

:

146

ISBN

:

978-634-7365-25-5

Harga

:

Rp. 85.000

Status

:

Kosong

 

Kajian sejarah Indonesia sejauh ini hanya memberikan perhatian terbatas pada hibriditas etnis. Padahal, perkawinan campur dan perpaduan budaya telah memainkan peran penting dalam sejarah kolonialisme. Oleh karena itu, para penulis dalam buku ini mengangkat isu penting yang menunjukkan bagaimana kelompok hibrida tidak hanya memposisikan diri sebagai agen ekonomi, tetapi juga menentang klaim hegemoni Eropa. - Prof. Hans Hägerdal (Linnaeus University)

Sulit dibayangkan tanpa kehadiran dan peran orang Topas dalam proses terbentuknya jaringan maritim di Indonesia Timur, khususnya di kawasan Laut Sawu, abad ke-17 sampai ke-19. Di sinilah penting dan menariknya buku ini sebagai literasi untuk memahami sejarah Indonesia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. - Prof. Dr. Susanto Zuhdi (Guru Besar Purnabakti FIB-UI) 

Narasi sejarah harus terus dicerita dan dibingkaikan secara ilmiah. Sejarah Orang Topas bukan saja membawa kita kepada lembaran masa penjajahan dan perdagangan maritim yang makmur, tetapi juga pertembungan budaya, bahasa dan agama, sehingga menjadikan wilayah Nusantara kita beragam dan rencam. Buku ini adalah sumbangan berguna untuk kita mendalami sejarah komunitas yang mana kesaksian sejarah mereka mewarna dan memaknakan cakrawala sejarah bangsa kita. - Dr. Azhar Ibrahim Alwee (National University of Singapore)

Buku ini adalah satu analisis penting yang secara komprehensif telah menstrukturkan semula perananan Orang Topas sebagai pemain penting dalam dinamik geopolitik Laut Sawu abad ke-17 hingga ke-19. Secara jelas, ianya melawan naratif berbaur Eurosentrik, yang mana penulis telah menyelusuri pembentukan identiti hibrid dan agensi politik masyarakat peranakan ini dalam menavigasi persaingan antara VOC dan Portugis. Karya ini memberikan sumbangan penting terhadap historiografi Nusantara Timur, khususnya mengenai keterlibatan strategik mereka dalam kawalan ekonomi perdagangan serantau dan birokrasi tempatan yang rumit. - Dr. Ahmad Jelani Halimi (Pengerusi Persatuan Sejarah Malaysia Cawangan Perak (PSMCPk), Ipoh, Perak) 

Karya ini merupakan kontribusi penting dalam historiografi Indonesia Timur dengan menempatkan Orang Topas sebagai pelaku sejarah yang dinamis. Melalui analisis yang tajam dan berbasis sumber yang kuat, buku ini berhasil mengungkap kompleksitas jaringan perdagangan, identitas hibrida, serta strategi adaptif dalam menghadapi perubahan geopolitik kawasan Laut Sawu abad ke-17 hingga 19. - Prof. Cahyo Pamungkas, Ph.D (Profesor Riset BRIN) 


Minggu, 02 Agustus 2026

Tapak Wanita Katolik NTT

Judul

:

Tapak Wanita Katolik NTT

Penulis

:

Tim WKRI NTT

Penerbit

:

Detak Pustaka

Tahun Cetak

:

2026

Halaman

:

121

DPSBN

:

200-2026-00032-1

Harga

:

Rp. 57.000

Status

:

Kosong


Buku Tapak Wanita Katolik NTT mengajak kita melihat kembali perjalanan 75 tahun Wanita Katolik RI DPD NTT dengan hati yang penuh syukur. Buku ini bukan hanya tentang sejarah, tetapi tentang kisah-kisah nyata para perempuan yang dengan setia hadir, melayani, dan berbagi kasih di tengah masyarakat.

Di dalamnya, kita akan menemukan cerita-cerita sederhana namun bermakna-tentang kepedulian terhadap sesama, tentang keberanian menghadapi tantangan, serta tentang harapan yang terus dijaga. Dari pendampingan keluarga, perhatian pada anak dan perempuan, hingga keterlibatan dalam berbagai persoalan sosial, semuanya menjadi bagian dari jejak pelayanan yang tulus.

Seperti tenun khas NTT yang dirajut dengan sabar, perjalanan ini pun dibangun dari langkah-langkah kecil yang penuh cinta. Kebersamaan, kepedulian, dan iman menjadi kekuatan yang terus menghidupkan semangat untuk melayani.

Buku ini mengajak kita bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga untuk melanjutkan. Agar kasih yang telah ditabur tetap hidup dan jejak yang telah diukir terus memberi makna bagi banyak orang. 


Sabtu, 18 Juli 2026

Kejahatan Sempurna Konspirasi Internasional (Buku 1. Aspek Politik dan Hukum Proses Jajak Pendapat Timor-Timur; Buku 2. Aspek Hak Azasi Manusia dalam Masalah Timor-Timur; Buku 3. Penyelesaian Sejati The Timoris Solution)

Judul

:

Kejahatan Sempurna Konspirasi Internasional (Buku 1. Aspek Politik dan Hukum Proses Jajak Pendapat Timor-Timur; Buku 2. Aspek Hak Azasi Manusia dalam Masalah Timor-Timur; Buku 3. Penyelesaian Sejati The Timoris Solution)

Penulis

:

Dominggus M. Dores Soares

Penerbit

:

Yayasan Futuro

Tahun Cetak

:

2000

Halaman

:

119

ISBN

:

978-96078-0-9

Harga

:

Rp. 100.000     

Status

:

Ada

 

Kami tersiksa nurani menyaksikan kedatangan "malaikat penyelamat" yang keliru diyakini oleh para pemimpin separatis, pecurang nurani timoris, sebagai kekuatan dasyat yang akan menyelesaikan segala permasalahan dan permusuhan di Timor Timur, yakni Pasukan Multinasional PBB. Setelah kedatangan tersebut, justeru rakyat Timor Timur mulai memulung sampah sisa makanan pasukan tersebut untuk dapat tetap bertahan hidup, suatu hal yang tak pernah terjadi.

Para pemimpin pecurang nurani Timoris tersebut, yang sejak semula menjanjikan seribu satu macam kehebatan dan keuntungan bila berpisah, tidak berdaya untuk paling tidak menyelamatkan kelaparan yang diderita oleh rakyatnya dengan sedikit bantuan bahan makanan.

Sadar akan keterlanjuran janji-janji kosong terdahulu, mereka selanjutnya berulah dengan mencari alasan-alasan pembenar yang biasanya ditumpahkan kepada Indonesia dan "milisi". Akhirnya mereka berusaha menyelamatkan diri dengan janji-janji baru lagi yang kini secara langsung bersandar pada PBB dan LSM.

Kasihan rakyatnya. Itu semua adalah akibat kekejaman kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan yang disuburkan berabad-abad oleh penjajah yang sampai sekarang tak henti mencari akal untuk kembali berjaya di Timor Timur.

Malu akan keterlanjuran ini, para pemimpin pecurang itu kini berupaya agar kenyataan sebenarnya di Timor Timur tidak sampai diketahui secara terbuka. Kenyataannya, segala keperluan dipenuhi dengan belanja besar-besaran di Propinsi NTT, namun bila ditanya bagaimana keadaannya di Timor Timur pasti jawabannya adalah "baik". Memang kalau baik mengapa harus belanja jauh-jauh ke sini ... Mereka memang ketat menerapkan 'janji setia untuk merdeka', yakni tetap harus merdeka sekalipun harus makan batu. Ya, yang salah bukan "milisi" tapi penjajah ...

Jadilah Timor Timur itu sekarang suatu kamp konsentrasi di mana rakyat Timor Timur hanya dipaksa kembali dan tidak boleh keluar. Targetnya ialah merekayasa jumlah rakyat yang cukup untuk membenarkan hasil jajak pendapat yang curang itu.

Masih banyak hal lagi yang akan terjadi di TimorTimur ini ... Sekarang saja menyolok sekali bahwa yang lebih bernafsu untuk merdeka justeru kaum  konspirator dan antek-anteknya ... Rakyatnya jadi penonton yang semakin asing di daerahnya sendiri. Kasihan untuk jadi tukang batu saja harus lulus test ... Tapi proyek testingnya diurus oleh administrator atas nama rakyat Timor Timur ... Akhirnya tukang batu juga didatangkan dari luar ... sudahlah ... terlalu sedih. Semoga Tuhan sudi memperhatikan nasib rakyat yang kian menderita ini.

Buku kecil ini datang demi kebenaran. Semoga dapat diketahui oleh semua orang. Semoga Timor Timur tidak dijadikan titik perebutan strategi global ... Dan tidak menjadi pangkalan yang hanya menghasilkan anak haram dan AIDS, di mana insan Timoris menjadi titik perbudakan yang semakin asing di daerahnya sendiri.

Terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu sehingga buku kecil ini dapat terwujud. Terima kasih.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...