Tampilkan postingan dengan label Buku Timor Timur / Timor Leste. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Timor Timur / Timor Leste. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2026

Liurai, Peran Pemimpin Tradisional dalam Sejarah dan Pembangunan Timor-Leste, Kajian Historis, Kultural, dan Strategis Menuju Negara Berdaulat Berbasis Budaya

Judul

:

Liurai, Peran Pemimpin Tradisional dalam Sejarah dan Pembangunan Timor-Leste, Kajian Historis, Kultural, dan Strategis Menuju Negara Berdaulat Berbasis Budaya

Penulis

:

Salustiano Filipe Ximenes

Penerbit

:

Powered by OpenAI

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

218

ISBN

:

-

Sumber

:

Facebook     

Download

:

Di Sini

 

Dalam pusaran sejarah Timor-Leste yang panjang dan penuh gejolak, para liurai pemimpin tradisional—telah menjadi penopang utama tatanan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat. Namun, peran historis dan strategis mereka kerap terpinggirkan dalam narasi resmi negara.

Buku ini hadir sebagai upaya ilmiah dan kultural untuk merekonstruksi secara sistematis dan objektif kontribusi para liurai sejak masa prasejarah, penjajahan Portugis, pendudukan Indonesia, hingga era kemerdekaan. Disusun dalam lima bagian dan enam belas bab, buku ini memadukan pendekatan historis, teori internasional, serta kebijaksanaan lokal yang masih hidup dalam komunitas adat. Lebih dari sekadar telaah akademik, LIURAI adalah manifesto budaya dan politik—sebuah seruan bahwa masa depan Timor-Leste yang berdaulat dan berkeadilan harus dibangun di atas fondasi identitas dan nilai adatnya sendiri.

Sebuah bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin memahami Timor-Leste secara utuh bagi akademisi, pembuat kebijakan, pelajar, dan seluruh rakyat yang mencintai tanah leluhurnya. 


Sabtu, 18 Juli 2026

Kejahatan Sempurna Konspirasi Internasional (Buku 1. Aspek Politik dan Hukum Proses Jajak Pendapat Timor-Timur; Buku 2. Aspek Hak Azasi Manusia dalam Masalah Timor-Timur; Buku 3. Penyelesaian Sejati The Timoris Solution)

Judul

:

Kejahatan Sempurna Konspirasi Internasional (Buku 1. Aspek Politik dan Hukum Proses Jajak Pendapat Timor-Timur; Buku 2. Aspek Hak Azasi Manusia dalam Masalah Timor-Timur; Buku 3. Penyelesaian Sejati The Timoris Solution)

Penulis

:

Dominggus M. Dores Soares

Penerbit

:

Yayasan Futuro

Tahun Cetak

:

2000

Halaman

:

119

ISBN

:

978-96078-0-9

Harga

:

Rp. 100.000     

Status

:

Ada

 

Kami tersiksa nurani menyaksikan kedatangan "malaikat penyelamat" yang keliru diyakini oleh para pemimpin separatis, pecurang nurani timoris, sebagai kekuatan dasyat yang akan menyelesaikan segala permasalahan dan permusuhan di Timor Timur, yakni Pasukan Multinasional PBB. Setelah kedatangan tersebut, justeru rakyat Timor Timur mulai memulung sampah sisa makanan pasukan tersebut untuk dapat tetap bertahan hidup, suatu hal yang tak pernah terjadi.

Para pemimpin pecurang nurani Timoris tersebut, yang sejak semula menjanjikan seribu satu macam kehebatan dan keuntungan bila berpisah, tidak berdaya untuk paling tidak menyelamatkan kelaparan yang diderita oleh rakyatnya dengan sedikit bantuan bahan makanan.

Sadar akan keterlanjuran janji-janji kosong terdahulu, mereka selanjutnya berulah dengan mencari alasan-alasan pembenar yang biasanya ditumpahkan kepada Indonesia dan "milisi". Akhirnya mereka berusaha menyelamatkan diri dengan janji-janji baru lagi yang kini secara langsung bersandar pada PBB dan LSM.

Kasihan rakyatnya. Itu semua adalah akibat kekejaman kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan yang disuburkan berabad-abad oleh penjajah yang sampai sekarang tak henti mencari akal untuk kembali berjaya di Timor Timur.

Malu akan keterlanjuran ini, para pemimpin pecurang itu kini berupaya agar kenyataan sebenarnya di Timor Timur tidak sampai diketahui secara terbuka. Kenyataannya, segala keperluan dipenuhi dengan belanja besar-besaran di Propinsi NTT, namun bila ditanya bagaimana keadaannya di Timor Timur pasti jawabannya adalah "baik". Memang kalau baik mengapa harus belanja jauh-jauh ke sini ... Mereka memang ketat menerapkan 'janji setia untuk merdeka', yakni tetap harus merdeka sekalipun harus makan batu. Ya, yang salah bukan "milisi" tapi penjajah ...

Jadilah Timor Timur itu sekarang suatu kamp konsentrasi di mana rakyat Timor Timur hanya dipaksa kembali dan tidak boleh keluar. Targetnya ialah merekayasa jumlah rakyat yang cukup untuk membenarkan hasil jajak pendapat yang curang itu.

Masih banyak hal lagi yang akan terjadi di TimorTimur ini ... Sekarang saja menyolok sekali bahwa yang lebih bernafsu untuk merdeka justeru kaum  konspirator dan antek-anteknya ... Rakyatnya jadi penonton yang semakin asing di daerahnya sendiri. Kasihan untuk jadi tukang batu saja harus lulus test ... Tapi proyek testingnya diurus oleh administrator atas nama rakyat Timor Timur ... Akhirnya tukang batu juga didatangkan dari luar ... sudahlah ... terlalu sedih. Semoga Tuhan sudi memperhatikan nasib rakyat yang kian menderita ini.

Buku kecil ini datang demi kebenaran. Semoga dapat diketahui oleh semua orang. Semoga Timor Timur tidak dijadikan titik perebutan strategi global ... Dan tidak menjadi pangkalan yang hanya menghasilkan anak haram dan AIDS, di mana insan Timoris menjadi titik perbudakan yang semakin asing di daerahnya sendiri.

Terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu sehingga buku kecil ini dapat terwujud. Terima kasih.


Minggu, 12 Juli 2026

Sejarah Timor Timur 1975-1999

Judul

:

Sejarah Timor Timur 1975-1999

Penulis

:

Letkol Caj. Drs. Khafidzin Widodo, M.A. dkk

Penerbit

:

Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat Bandung

Tahun Cetak

:

2018

Halaman

:

438

ISBN

:

978-602-7846-37-1

Harga

:

NFS     

Status

:

Ada


Timor Portugis (Timor Timur) merupakan daerah yang berbatasan dengan Timor Barat Indonesia, dalam perjalanan sejarahnya tidak pernah sepi dari kekisruhan, diawali pada masa kolonial Portugal, penduduk di daerah ini telah melakukan pemberontakan ratusan kali untuk melepaskan diri dari kolonial Portugal namun tidak pernah berhasil.

Begitu juga halnya ketika proses dekolonisasi bergulir pada 1975, masing-masing partai politik seperti: UDT, Apodeti, Fretilin, Kota, dan Trabalista berebut hegemoni memperjuangkan garis partainya, sehingga terjadi perang saudara. Politik mencari kawan antar partai untuk melawan partai lain mengalami dinamika bongkar pasang kawan dan lawan, terakhir berujung dengan koalisi Apodeti, UDT, dan Trabalista melawan Fretilin yang berhaluan komunis.

Momentum sejarah berikutnya terjadi pada 7 Desember 1975, ketika partai koalisi (Apodeti, UDT, Kota, dan Trabalista) dibantu para sukarelawan Indonesia berhasil mengalahkan Fretilin yang saat itu menguasai kota Dili ibu kota Timor Timur, selanjutnya dilakukan pengejaran terhadap Fretilin di beberapa daerah lainnya. Akhirnya Fretilin masuk hutan untuk melakukan perjuangan melalui sayap militer (perang gerilya), dan sayap politik mencari dukungan internasional.

Di saat Fretilin tertekan, partai koalisi (Apodeti, UDT, Kota, dan Trabalista) kemudian membentuk Pemerintahan Sementara Timor Timur (PSTT), selanjutnya pada 31 Mei 1976 menyampaikan petisi untuk berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah melalui pertimbangan politik dalam negeri dan politik global, akhirnya Timor Timur pada 17 Juli 1976 ditetapkan menjadi bagian dari NKRI, yakni Daerah TK. I Propinsi Timor Timur.

Permasalahan kekisruhan tidak berakhir di situ, karena di pihak Fretilin terus melakukan perlawanan terhadap pemerintah RI di Timor Timur, di pihak lain Portugal dan negara-negara bekas koloninya seperti Mozambique mengajukan resolusi Timor Timur ke PBB. Agenda Timor Timur dalam sidang tahunan PBB tidak pernah terselesaikan sampai lengserkebrabonnya Presiden Suharto pada 21 Mei 1998, dan digantikan Presiden BJ. Habibie. Pada 1999 Presiden BJ. Habibie memberikan opsi kepada warga Timor Timur: Merdeka atau bergabung dengan NKRI, dan pada jajak pendapat dimenangkan pilihan merdeka.


Selasa, 23 Juni 2026

Selamat Tinggal Timor Timur

Judul

:

Selamat Tinggal Timor Timur

Editor

:

Yohanes Sukandar, Sigit Wijayanto & Martinus Manggo

Penerbit

:

Insist Press

Tahun Cetak

:

2000

Halaman

:

226

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 90.000   

Status

:

Ada

 

Harus diakui, kemerdekaan bukanlah sesuatu yang gratis. Timor-Timur telah memberikan bukti bahwa negara tegak diatas pengorbanan yang amat besar. Antara lain, konflik yang berkepanjangan dan hingga kini memakan ribuan korban. Begitulah, buku ini, memberikan serangkaian kisah para pejuang kemanusiaan yang mengabdikan diri untuk kegiatan pelayanan dan pertolongan pada rakyat. Akan tampak disana bahwa pilihan otonomi dan kemerdekaan, bukan semata-mata pilihan sikap, tapi buat Timor Timur itu adalah pilihan yang membawa banyak konsekuensi. Dengan buku ini kita kemudian jadi tahu bahwa para pelayan kemanusiaan, terkadang lebih utama perananya, ketimbang kaum politisi.

Melalui buku ini, kita sebagai bangsa, dapat berkaca tentang nilai-nilai kemanusiaan yang dipertahankan da diperjuangkan oleh segelintir orang. Perjuangan yang sudah pasti tak mendapat aplaus apalagi sorotan media. Layak buku ini dibaca oleh siapa saja, yang ingin belajar dan tahu lebih banyak, mengenai para pekerja kemanusiaan. 


Rabu, 17 Juni 2026

Jalan Transisi Timor Timur, Sejarah Integrasi Hingga Merdeka

Judul

:

Jalan Transisi Timor Timur, Sejarah Integrasi Hingga Merdeka

Penulis

:

Agil Kurniadi

Penerbit

:

Terekam Jejak Publisher

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

178

ISBN

:

978-623-496-255-0

Harga

:

Rp. 100.000         

Status

:

Ada


Berdirinya Timor Leste menyimpan sejarah yang tak terlupakan. Wilayah yang pernah dikenal sebagai Timor Timur ini kaya akan beragam memori yang tetap terekam hingga kini. Buku ini mengulas perjalanan Timor Timur, mulai dari gagasan penyatuan, integrasi dengan Indonesia, referendum kemerdekaan, hingga masa transisi menuju kedaulatan sebagai negara Timor Leste. 


Selasa, 02 Juni 2026

Human Rights? Wiranto and The Independence of East Timor

Judul

:

Human Rights? Wiranto and The Independence of East Timor

Penulis

:

Bilveer Singh

Penerbit

:

Book House, Book and Writers Network Sydney

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

2004

Halaman

:

349

ISBN

:

978-174-0183-147

Harga

:

Rp. 100.000         

Status

:

Ada

 

Even though the United Nations' interest in East Timor can be traced from the debate on its status as a non self-governing territory, Portugal, the colonial power, was largely unmoved as it was not a United Nations' member until 1955. The status quo only altered following a change in regime in Portugal as a result of the 'Flower Revolution' in 1974. Rather, irresponsibly, Portuguese leftist officers in-charge of East Timor abandoned the colonial territory when a furious civil war was taking place amidst great loss of lives. Indonesia's intervention, with the support of the United States, can be directly traced to this Portuguese failure, culminating in territory's integration into Indonesia.

Indonesia's actions were however not fully endorsed by the international community and the territory continued to be regarded as a non self-governing territory. Due to the Cold War, the situation was somewhat tolerated with Australia even recognizing Indonesia's sovereignty over East Timor. At the same time, the territory was plagued by warfare with the pro-independence insurgents fighting the Indonesian military and the pro-integration forces. This situation continued until May 1998. After Suharto's resignation, President Habibie decided to give the East Timorese the right to decide their future with Indonesia. Following the United Nations' sponsored ballot, unfortunately marred by fraud and injustice, the East Timorese opted for independence.

Due largely to the manner the ballot was conducted, the behavior of UNAMET officials prior and after the ballot, and the animosity of the pro and anti-integration forces toward each other, violence broke in East Timor even though many in the West blamed Indonesia, and in particular, the Indonesian military (TNI) and its then commander, General Wiranto.

The study traces the evolution of East Timor's independence and examines the factors behind the many human rights abuses in the territory. Can the TNI and Wiranto be blamed for the violence that transpired in East Timor? Why is the West, especially Australia, so keen on blaming the TNI and Wiranto on what transpired in East Timor? Was the West in any way responsible for the actual violence that broke out in East Timor? Does Australia's East Timor policy since independence explain why it was keen on exaggerating what happened in the territory and allaying blame on the TNI? What was Australia's role in the violence that broke out in East Timor? In hindsight, with so much evidence coming out of East Timor pertaining to the UNAMET and Australia's role, what verdict can be made on Wiranto's culpability as far as human rights violations are concerned? It is hoped that this study will contribute in shedding new light on this matter, especially as far as Wiranto and the independence of East Timor is concerned. 


Minggu, 31 Mei 2026

Menggantang Asa di Temaram Lorosae

Judul

:

Menggantang Asa di Temaram Lorosae

Penulis

:

August Mercyon  Purba

Penerbit

:

Nasmedia

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

181

ISBN

:

978-623-155-180-1

Harga

:

Rp. 65.000         

Status

:

Ada

 

Deon sosok pemuda kota dengan penuh gairah dan cita-cita serta ambisi harus dihadapkan dalam garis hidup yang penuh liku. Terang-gelap maupun indah-kelamnya hidup ini harus dia lewati. Pertentangan batin antara logika dan perasaan terus beradu dalam pikirnya.

Garis hidup mengharuskan Deon pada suatu pilihan menjalani sebagian hidupnya dalam alunan riak-riak pergolakan politik dan  masa depan Timor Lorosae. Pun dalam romansa kehidupan dia jalani seperti mengikuti arus hati dan realita yang ada di depan mata.

Asa yang deon punya terasa dipermainkan oleh realita hidup, padahal hanya itu satu-satunya yang dia punya selain Tuhannya. Deon coba mengukur sisa asa yang dia punya. Ya…. Deon sedang Menggantang asa di Tamaram Lorosae…. 


Minggu, 10 Mei 2026

20 Tahun Timor Timur Membangun

Judul

:

20 Tahun Timor Timur Membangun

penyunting

:

Drs. Radjakarina Brahmana & Drs. Ulu Emanuel, M.Ed

Penerbit

:

Korps Pegawai Republik Indonesia Propinsi Timor Timur

Bahasa

:

Indonesia & Inggris

Tahun Cetak

:

1996

Halaman

:

506

ISBN

:

978-602-6260-63-5

Harga

:

Rp. 250.000         

Status

:

Ada

 

Memasuki 20 tahun Timor Timur bergabung dalam Negara Kesatuan republik Indonesia, kegiatan pembangunan telah banyak memberikan dampak bagi perbaikan dan peningkatan kehidupan masyarakat meskipun disadari masih adanya kekurangan yang perlu diperbaiki di masa mendatang. Buku ini kami nilai sangat penting untuk diterbitkan karena sebagai suatu rekaman hasil pembangunan yang dimulai dari tahap awal integrasi tahun 1976 sampai dengan tahap Repelita VI tahun ke-3.

Buku 20 TAHUN TIMOR TIMUR MEMBANGUN memiliki suatu khazanah guna membrikan gambaran komprehensif mengenai hasil-hasil yang telah dicapai dalam kurun waktu dua dasawarsa ini. Selama ini terasa ada kecendrungan bahwa dalam menilai pembangunan, kita lebih tertarik untuk membuat perbandingan dengan keadaan sekeliling, bukan dengan kondisi awal pada saat pembangunan dimulai. Akibatnya kita sering lupa bersyur terhadap berbagai kemajuan yang telah kita capai, sebaliknya lebih terpengaruh oleh tuntutan atau keluhan yang disebabkan oleh berbagai keinginan yang belum terwujud. Atas dasar pertimbangan tersebut, kami berharap buku ini setidaknya akan mampu membrikan gambaran tentang berbagai kemajuan yang telah dicapai. Baik secara kualitatif maupun kuantitatif.


Timor Attack

Judul

:

Timor Attack

Penulis

:

Arthur Steele

Penerbit

:

Digit Books

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

1964

Halaman

:

-

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. -        

Status

:

Kosong

 

Timor

March, 1942. The Japanese have succesfully involved the East Indies.. They are concentrating on Timor Island in preparation for the invasion of the mainland of Asustralia….

Attack

A special airbone force is detailed to make a guerilla attack and drive them out…

This book is the story of that operation.


Timor Target

Judul

:

Timor Target

Penulis

:

Graeme Cronin

Penerbit

:

Horwitz Publications

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

1962

Halaman

:

-

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. -        

Status

:

Kosong


The Australian commandos refused to surrender.

Organised into guerilla forces they harried the Japanese on Timor, repeatedly destroying valueable installations and quickly disappearing into the jungle.

Stung by the repeated assault and their inability to catch the Australians, the Japanese called for Miski Yohomaki. The Hong Kong Tiger, ruthless commander of the tough Imperial Marine Regiment, swore to wipe out the commandos. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...