Tampilkan postingan dengan label Buku Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Oktober 2026

Di Antara Ata Wa Wae dan Ata Eta Golo, Akulturasi dan Praktik Perkawinan Adat Manggarai di Flores Barat

Judul

:

Di Antara Ata Wa Wae dan Ata Eta Golo, Akulturasi dan Praktik Perkawinan Adat Manggarai di Flores Barat

Penulis

:

Dr. Hendrikus Maku, S.Fil., M. Th., Lic.

Penerbit

:

Perkumpulan Fata Institute – Fins

Tahun Cetak

:

2026

Halaman

:

455

ISBN

:

978-634-96324-4-7

Harga

:

Rp. 180.000

Status

:

Kosong

 

Buku Di Antara Ata Wa Wae dan Ata Eta Golo: Akulturasi dan Praktik Perkawinan Adat Manggarai di Flores Barat karya Hendrikus Maku menggambarkan perjumpaan antara agama Islam dan budaya lokal Manggarai yang tercermin dalam praktik perkawinan adat masyarakat setempat. Buku ini menyoroti relasi antara dua kelompok yang secara historis hidup berdampingan, yaitu Ata Wa Wae-sebutan bagi komunitas Muslim yang banyak berdiam di wilayah pesisir-dan Ata Eta Golo -masyarakat pegunungan yang umumnya bertradisi Nasrani. Melalui gambaran kehidupan sosial dan budaya masyarakat Manggarai, penulis memperlihatkan bagaimana interaksi antara kedua kelompok tersebut berlangsung dalam suasana kebersamaan dan saling menghormati, terutama ketika berlangsungnya proses perkawinan adat yang mempertemukan dua keluarga dan dua tradisi yang berbeda.

Selain menggambarkan hubungan sosial antar komunitas, buku ini juga memaparkan tahapan-tahapan dalam perkawinan adat Manggarai, mulai dari proses lamaran, perundingan mahar atau paca/belis, pengukuhan adat, hingga pengantaran mempelai. Setiap tahapan dijelaskan sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun dan masih dijalankan dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang. Pembahasan ini juga disertai gambaran umum mengenai wilayah Manggarai di Flores Barat, termasuk sejarah masuknya Islam ke daerah tersebut melalui jalur perdagangan dari Kesultanan Bima dan Makassar sejak abad ke-17. Secara keseluruhan, buku ini menghadirkan potret kehidupan masyarakat Manggarai yang menunjukkan bagaimana tradisi adat dan kehidupan beragama dapat berjalan berdampingan dalam suasana damai serta memperkuat hubungan sosial di tengah keberagaman.

“Saya menyambut baik kehadiran buku ini sebagai sebuah karya yang tidak hanya penting bagi kajian akademik, tetapi juga relevan bagi kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang majemuk. Buku ini menunjukkan bahwa filsafat tidak selalu harus hadir dalam bentuk teori abstrak, tetapi dapat hidup dalam praktik sosial sehari-hari masyarakat”. -Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A.- 


Muslim dan Katolik Manggarai, Flores Barat: Dari Intersubjektif Menuju Indiferen dan Dari Interdominasi Menuju Interakomodasi

Judul

:

Muslim dan Katolik Manggarai, Flores Barat: Dari Intersubjektif Menuju Indiferen dan Dari Interdominasi Menuju Interakomodasi

Penulis

:

Dr. Hironimus Bandur

Penerbit

:

Pohon Cahaya

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

314

ISBN

:

978-602-4914-23-3

Harga

:

Rp. 110.000

Status

:

Kosong

 

Kondisi pluralitas bangsa menuntut semua pihak untuk saling belajar dan terus berjuang untuk saling memahami perbedaan. Sulit dan sakit rasanya, tetapi di ujung rasa sakit karena perbedaan terdapat seni, sebagaimana alunan musik terkesan indah, bukan karena nada dan not yang sama tetapi karena nada dan not yang berbeda-beda. Perbedaan itu membentuk harmoni dan keindahan. Mari kita terus saling belajar, dan menjadi lebih dekat dengan sesama yang berbeda agama karena saling belajar dan perjumpaan terus menerus. Wassalam.

 

Kamis, 01 Oktober 2026

Ekoteologi Orang Manggarai

Judul

:

Ekoteologi Orang Manggarai

Penulis

:

Sefrianus Juhani

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

169

ISBN

:

978-623-6724-53-8

Harga

:

Rp. 100.000

Status

:

Ada

 

Ekoteologi Orang Manggarai lahir dari pergulatan iman dan budaya di tengah krisis ekologis global. Berakar pada tradisi berladang, tanah dihayati bukan sekadar lahan produksi, melainkan ruang suci tempat manusia, alam, dan Sang Pencipta saling terhubung. Dalam kosmologi Manggarai, lingko, kebun ulayat berbentuk jaring laba-laba, menjadi simbol keterikatan itu: pusatnya adalah lodok sebagai tanda asal-usul bersama, sementara garis-garisnya mengingatkan manusia akan relasi yang adil dengan sesama, tanah, dan Tuhan. Buku ini menantang paradigma pertanian modern yang sering menuhankan teknologi dan menjadikan bumi sekadar alat. Manusia diingatkan pada hakikatnya sebagai adamah: lahir dari tanah, bergantung pada tanah, dan kembali menjadi tanah. Di sini, kesombongan antropologis dipatahkan, dan kesadaran baru ditawarkan, bahwa manusia bukan penguasa, melainkan bagian rapuh dari ciptaan yang kudus. Dengan gaya reflektif dan kritis, buku ini mengajak pembaca menempuh jalan baru: dari dominasi menuju keselarasan, dari eksploitasi menuju penghormatan, dari keserakahan menuju cinta yang sederhana dan penuh iman terhadap bumi sebagai rumah bersama.

 

Sabtu, 12 September 2026

Kebudayaan Atoni Meto di Wilayah Kuluan Maubes – Salu Miomaffo

Judul

:

Kebudayaan Atoni Meto di Wilayah Kuluan Maubes – Salu Miomaffo

Penulis

:

Yohanes Sanak dan Wilfridus Oe Silab

Penerbit

:

Bina Damai Utama

Tahun Cetak

:

2024

Halaman

:

188

ISBN

:

978-623-10-0803-9

Harga

:

Rp. 120.000

Status

:

Ada

 

Gambaran tentang budaya Atoni Meto menjelaskan betapa unik dan kayanya suku terbesar di Pulau Timor ini. Tidak hanya itu, leluhur Atoni Meto pun memiliki kecerdasan dan kearifan yang tak kalah hebat dalam merangkai dan mencetuskan suatu ide brilian yang kemudian mengkristal menjadi unsur-unsur kebudayaan. Akan tetapi, keunikan-keunikan budaya lokal tersebut secara perlahan memudar, bahkan ditinggalkan terutama di wilayah Kuluan Maubes - Salu Miomaffo. Ada 2 (dua) hal paling mendasar yang mengancam kelestarian budaya Atoni Meto jika tidak segera diperhatikan yaitu bahasa dan tanah. Penggunaan bahasa Meto dalam keseharian masyarakat terus mengalami pelemahan atau penurunan kuantitas dan kualitas di ruang-ruang perjumpaan, seperti di sekolah, pesta, pergaulan sehari-hari bahkan di rumah sekalipun.

Kehidupan sosial dan kultural suku Atoni Meto tidak dapat dipisahkan dari tanah dan lingkungan ekologisnya. Setiap Fam (marga) memiliki beberapa tanah ulayat yang kepemilikannya bersifat komunal, yaitu Faotkana, Oekana, Naesleu, Unit (uinte), dll. Kondisi saat ini, banyak tanah adat yang telah berpindah kepemilikan. Selain bahasa dan kepemilikan tanah, unsur lainnya pun ikut mengalami guncangan. Degradasi ini seyogyanya dipandang sebagai ancaman serius yang patut diperhatikan secara serius pula terutama oleh pemerintah dan stakeholder lainnya.


Senin, 03 Agustus 2026

Seri Pengenalan Nusantara: Kis'ah Rai Hawu di Nusa Tenggara Timur

Judul

:

Seri Pengenalan Nusantara: Kis'ah Rai Hawu di Nusa Tenggara Timur

Penerbit

:

Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata, Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya, Direktorat Tradisi dan Kepercayaan

Tahun Cetak

:

2003

Halaman

:

47

ISBN

:

-

Sumber

:

https://repositori.kemendikdasmen.go.id/

Download

:

Di Sini

 

Proyek Pelestarian dan Pengembangan Tradisi dan Kepercayaan pada tahun anggaran 2003 melaksanakan penerbitan Seri Pengenalan Budaya Nusantara berjudul Kisah Rai Hawu Di Nusa Tenggara Timur. Sumber utama pengemasan buku tersebut adalah dari naskah-naskah hasil penelitian yang telah diinventarisasi oleh Direktorat Tradisi dan Kepercayaan. Selain itu juga dengan memanfaatkan beberapa sumber tertulis yang terkait.

Tujuan penerbitan Seri Pengenalan Budaya Nusantara ini, di samping memberikan lebih banyak altematif bacaan, juga untuk dapat lebih membuka cakrawala masyarakat Indonesia tentang keanekaragaman budaya yang ada. Secara khusus buku bacaan ini ditujukan untuk menambah wawasan anak-anak Indonesia yang majemuk.

Dengan diterbitkannya buku ini, diharapkan pengetahuan anak-anak tentang keanekaragaman budaya Indonesia semakin bertambah. Dengan demikian, kesenjangan budaya dapat makin dipersempit dan jiwa persatuan dan kesatuan dapat diperkokoh.

Isi buku ini terdiri dari kisah-kisah: 1) Pulau Bukit Kapur dan Pohon Lontar di Nusa Tenggara Timur; 2) Dongeng dari Negeri Sawu; 3) Mengenal Udu dan Hubi; 4) Rumah Orang Sawu: 5) Melihat Pulodo Wadu dan Deo Rai: 6) Dari Namata sampai Horafi. 


Echoes of the East: A Collection of Narrative Folktales from NTT

Judul

:

Echoes of the East: A Collection of Narrative Folktales from NTT

Penulis

:

Herlin B dkk.

Penerbit

:

Arta Media Nusantara

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

2026

Halaman

:

107

ISBN

:

978-634-7227-29-8

Harga

:

Rp. 85.000

Status

:

Kosong



Discover the heart of East Nusa Tenggara through stories that have been passed down for generations. This illustrated storybook retells traditional folktales in clear and simple English, helping senior high school students learn narrative text in a fun and meaningful way. Each story carries lessons of kindness, courage, and wisdom reminding readers that learning English can also mean learning about who we are. 


Tanah Langit NTT

Judul

:

Tanah Langit NTT

Penulis

:

Yose S Beal, Mezra E Pellondou dan Masyarakat NTT

Penerbit

:

Garudhawaca

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

250

ISBN

:

978-623-652-163-2

Harga

:

Rp. 125.000

Status

:

Kosong



Buku ini adalah salah satu produk dari Festival Literasi NTT 2021. Program ini digawangi oleh Yose S Beal dan Mezra E. Pellondou melalui program panggilan terbuka “Mari Menulis untuk NTT” yang diikuti ratusan karya dari para penulis dan pecinta lokal NTT. Tentu sangat banyak tulisan yang masuk sehingga kurator program terpaksa menyortir tulisan-tulisan yang dibukukan. “Tanah Langit NTT” memuat beragam jenis mulai dari cerpen, puisi, hingga esai yang menumpahkan aneka perasaan cinta dan harapan akan negeri tercinta, Nusa Tenggara Timur. 

Minggu, 02 Agustus 2026

Folk Narratives From East Nusa Tenggara (Cerita Rakyat Dari Nusa Tenggara Timur)

Judul

:

Folk Narratives From East Nusa Tenggara (Cerita Rakyat Dari Nusa Tenggara Timur)

Penulis

:

Thersia Magdalena Tamelan, dkk

Editor

:

Thersia Magdalena Tamelan & Merili Metsvahi

Penerbit

:

Depublish

Tahun Cetak

:

2026

Halaman

:

152

ISBN

:

978-634-01-2045-5

Harga

:

Rp. 175.000

Status

:

Kosong

 

Buku Cerita Rakyat yang berjudul Buku Folk Narratives From East Nusa Tenggara (Cerita Rakyat Dari Nusa Tenggara Timur) merupakan karya Thersia Magdalena Tamelan, dkk. Terdapat sembilan belas narasi dari pulau Rote, Semau, Timor, Sabu, Sumba dan Alor. Narasi terakhir dalam bahasa Sar yang dituturkan di Pulau Pantar oleh penutur terakhir bahasa Sar. Cerita rakyat disajikan dalam tiga bahasa (bahasa daerah, Indonesia, dan Inggris) dan mencakup berbagai genre. Nilai-nilai yang terdapat dalam cerita-cerita rakyat ini adalah rasa memiliki, kebaikan, kasih sayang, menghormati orang tua dan keinginan mereka, merawat orang tua, keberlanjutan, kejujuran, kerendahan hati, kecerdasan, dan keberanian. Berbagai jenis genre cerita rakyat – kisah binatang, narasi sejarah lisan, kenangan, dongeng, mitos, dan legenda – terwakili dalam buku ini.

Dalam kumpulan cerita rakyat yang diterbitkan, sering kali cerita-cerita disunting atau bahkan diceritakan kembali. Hal ini terjadi karena terdapat pemahaman bahwa dengan cara ini pembaca lebih mudah memahami cerita-cerita tersebut. Di balik konsep ini terdapat fakta bahwa wacana tertulis dan lisan memang berbeda sifatnya. Untuk menjaga suara pencerita, cerita rakyat dalam buku ini ditulis apa adanya sesuai cerita narator. Buku ini tidak hanya akan memberikan kontribusi bagi apresiasi terhadap keragaman bahasa dan budaya Nusa Tenggara Timur, tetapi juga akan mengingatkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang telah ada sejak lama. Tujuan utama penerbitan buku ini adalah untuk menunjang revitalisasi bahasa daerah di Nusa Tenggara Timur. Buku Folk Narratives From East Nusa Tenggara (Cerita Rakyat Dari Nusa Tenggara Timur) ditujukan bagi siapa pun yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai kekayaan budaya dan nilai-nilai universal dari Nusa Tenggara Timur.

Berikut Daftar Isi Buku Cerita Rakyat yang berjudul Buku Folk Narratives From East Nusa Tenggara (Cerita Rakyat Dari Nusa Tenggara Timur), diantaranya:

  • Folk Narratives in Dela, from Rote Island
    Cerita Rakyat dalam bahasa Dela, di Pulau Rote
  • Folk Narratives in Helong, from Semau Island
    Cerita Rakyat dalam bahasa Helong, Pulau Semau
  • Folk Narrative in Uab Meto, from South Amanatun
    Cerita Rakyat dalam Bahasa Uab Meto, Amanatun Selatan
  • Folk Narratives in Amarasi, Buraen
    Cerita Rakyat dalam Bahasa Amarasi, Buraen
  • Folk Narratives in Sabu, from Sabu Raijua
    Cerita Rakyat dalam Bahasa Sabu, dari Sabu Raijua
  • Folk Narratives in Kambera, from East Sumba
    Cerita Rakyat dalam Bahasa Kambera, di Sumba Timur
  • Folk Narrative from Wewewa, Southwest Sumba
    Cerita Rakyat dalam Bahasa Wewewa, Sumba Barat Daya
  • Folk Narrative from Wewewa, Southwest Sumba
    Cerita Rakyat dalam Bahasa Wewewa, Sumba Barat Daya
  • Folk narrative in Kamang, from Alor Cerita Rakyat dalam Bahasa Kamang, Alor
  • Folk narrative in Sar, from Pantar island
    Cerita Rakyat dalam Bahasa Sar, di Pulau Pantar

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...