Tampilkan postingan dengan label Buku Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Biografi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juni 2025

Untuk Rakyat Tak Ada Kata Bosan - Seri Caleg

Judul

:

Untuk Rakyat Tak Ada Kata Bosan - Seri Caleg

Penulis

:

Benny K. Harman

Penerbit

:

Kompas

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

162

ISBN

:

9786231600745

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Kosong



Bagi Dr. Benny Kabur Harman, S.H., Kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Senayan, sudah seperti rumahnya. Sudah dua puluh tahun Benny melakukan kerja-kerja politik di Senayan. Jiwa aktivisme melekat dalam jati diri politisi kelahiran Manggarai, Nusa Tenggara Timur, 19 September 1962.

Penerbit Buku Kompas (PBK) bekerja sama dengan para caleg menyampaikan profil, perjalanan karier, rekam jejak, dan komitmen mereka kepada pemilih, serta pemikiran mereka dari berbagai bidang.Semoga saja buku pendek ini bisa menjadi bekal bagi caleg untuk menyampaikan rencana aksinya sebagai calon anggota DPR dan tentunya juga bisa menjadi panduan bagi pemilih untuk lebih mengenal sosok-sosok yang akan mewakili pemilih. Teliti sebelum memilih. Empat menit waktu Anda akan sangat menentukan nasib depan bangsa dan nasib Anda sendiri.


Jumat, 31 Januari 2025

Perempuan Tangguh

Judul

:

Perempuan Tangguh

Penulis

:

Santisima Gama

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2015

Halaman

:

170

ISBN

:

978-602-1161-05-0

Harga

:

Rp.

Status

:

Kosong

 

Melalui perjuangan politik yang rumit dan berbelit-belit, Frans Lebu Raya kemudian menempati posisi terhormat sebagai Gubernur NTT selama 10 tahun (2008-2018). Lucia Adinda Lebu Raya adalah sosok inspiratif dibalik kegemilangan seorang suami. Ia tampil sebagai perempuan yang cerdas, kreatif, enerjik, pekerja keras, mampu mengayomi banyak pihak dan kelompok masyarakat NTT, dari kelas elit hingga orang-orang yang terlupakan dan terpinggirkan. Ia melanglang dari pulau ke pulau, dari kabupaten ke kabupaten, hampir semua kecamatan di NTT telah disinggahinya. Ia mendaki bukit dan turun ke lembah untuk mendekati dan berbicara dengan semua masyarakat dari semua lapisan.

Buku kecil ini merupakan buah karya seorang penulis wanita muda yang tajam menukik menemukan inti sari ketangguhan kaum hawa yang terlukis indah pada sosok Lucia Adinda Nu’a Nurak. Buku yang pantas dibaca oleh banyak orang dari segala kalangan bukan hanya karena bahasanya yang lugas dan tajam tetapi juga karena Santisima mampu melukiskan dengan jelas tentang keteladanan Ibu Lucia yang dapat dijadikan inspirasi dan motivasi bagi kaum muda untuk bangkit berdiri – menatap dan menata masa depan dengan semangat perjuangan yang tak kenal lelah. Buku ini ingin membuktikan bahwa wanita yang berhasil adalah wanita yang tidak hanya sukses mendampingi suami dalam karier dan membangun keluarga sejahtera yang diimpikan semua orang tetapi juga wanita yang telah membatktikan seluruh hidupnya bagi seluruh rakyat Flobamora.


Menjelang Senja di Santiago: Otobiografi Seorang Diplomat

Judul

:

Menjelang Senja di Santiago: Otobiografi Seorang Diplomat

Penulis

:

Dr. Aloysius Lele Madja

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

150

ISBN

:

978-623-6724-21-7

Harga

:

Rp.

Status

:

Kosong

 

Buku ini merupakan sebuah karya yang merefleksikan kembali perjalanan karir dari seorang anak yang dilahirkan dari keluarga sederhana di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga puncak karirnya sebagai Duta Besar di Chile, sebuah negara di Amerika Latin.

Penulis, mengkisahkan dengan runut perjalanan hidupnya. Ia menyadari bahwa pencapaiannya hingga saat ini bukanlah proses linear, karena banyak tantangan dan keterbatasan dalam hidupnya yang justru menarik untuk kita maknai sebagai sebuah pelajaran. Buku ini tidak sedang berpretensi menjadi tulisan ilmiah dalam ilmu hubungan internasional dan diplomasi, tetapi justru penuturan yang penuh cerita akan menjadi hal yang menarik bagi mahasiswa untuk meniti jejaknya jika ingin menjadi seorang diplomat. Membaca buku ini seakan kita dihadapkan dengan seorang pribadi yang patut menjadi panutan bagi para mahasiswa dan generasi mendatang, karena beliau bukan hanya seorang professional yang penuh integritas hingga mencapai puncak karir sebagai duta besar, tetapi juga merupakan pembelajar yang gigih dengan menamatkan doktoralnya di Jerman. Kesuksesan karir dan akademisnya juga diimbangi dengan bekal moral dan spiritual yang mengakar kuat, apalagi beliau adalah lulusan sekolah seminari saat muda. Beliau tetaplah sosok yang sederhana, selalu berusaha untuk mendefinisikan capaian dan pengabdian tertinggi dalam hidup pada sisi kemanusiaan dan kemanfaatan yang nyata bagi masyarakat.

Dengan judul buku yang dipilihnya, penulis tidak sekedar mengajak beromantisme tentang masa lalu, tetapi berusaha menapaki kisah yang akan menginspirasi generasi yang akan datang. Kisah-kisah dalam buku ini membukakan jendela dunia, dan lebih dari itu, deskripsi dan pilihan katanya mampu menghidupkan indra kita untuk masuk ke dalam perjalanan yang nyata. Sebagai sebuah otobiografi, kisanya begitu kaya. Mengenalkan pembaca pada budaya dan kehidupan masyarakat di tempat kelahirannya, hingga menyelami kehidupan profesionalnya sebagai diplomat di berbagai negara.

Membaca tulisan dalam buku ini pembaca benar-benar masuk ke dalam diri penulisnya, merasakan setiap langkah yang pernah dilaluinya. Buku ini tak lain adalah sebuah otobiografi yang menjalankan tugasnya dengan baik. Memberikan perspektif yang lengkap dan mendalam tanpa perlu melebih-lebihkan. Sebuah karya yang hanya datang dari ketulusan hati, dan kejernihan berfikir.


Kamis, 30 Januari 2025

Putra Nusa Bangsa & Wastra NTT Mengenang Sosok Frans Seda

Judul

:

Putra Nusa Bangsa & Wastra NTT Mengenang Sosok Frans Seda

Editor

:

Diana Damayanti

Penerbit

:

Penerbit Buku Kompas

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

345

ISBN

:

978-623-346-493-2

Harga

:

Rp. 120.000

Status

:

Ada


Berbeda dengan banyak buku Frans Seda, baik yang ditulisnya sendiri atau ditulis oleh orang lain, yang banyak membahas tentang berbagai pemikiran hebatnya dalam bidang politik, ekonomi, dan pendidikan. Buku Putra Nusa Bunga & Wastra NTT: Mengenang Sosok Frans Seda ini lebih menyoroti beliau sebagai sosok/tokoh yang berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Buku ini bercerita tentang perjalanan hidup Frans Seda mulai dari kelahirannya di Lekebai, desa asalnya di Flores, sampai beliau berkiprah di kancah nasional dan internasional. Tak banyak orang yang bisa menyamai prestasi yang telah diraih salah satu putra terbaik Indonesia ini di sepanjang hidupnya. Frans Seda merupakan tokoh dengan banyak peran; antara lain sebagai penasihat lima presiden Republik Indonesia, ahli keuangan, politikus, tokoh agama Katolik, pendiri UNIKA Atma Jaya, pendiri harian Kompas, dan pengusaha.

Walaupun sudah meninggalkan Flores sejak usia belasan tahun, cinta Frans Seda kepada Flores tidak pernah hilang. Karena, dari sinilah, di dalam sebuah keluarga keturunan bangsawan, keluarga Katolik yang berpendidikan; beliau mendapatkan bekal hidup utamanya, yaitu berdisiplin, bekerja keras, peduli kepada sesama, jujur dan selalu berjalan bersama Tuhan.

Pada bab terakhir buku, pembaca diajak untuk menikmati keindahan wastra (kain tradisional Indonesia) dari NTT (Nusa Tenggara Timur) yang merupakan koleksi unggulan milik Ibu Johanna Maria Pattinaja Seda dan merupakan wujud cintanya kepada tanah tempat belahan jiwanya, Frans Seda, dilahirkan.


Jumat, 01 November 2024

Dominee Markus Michael Ngefak, Garis Waktu Kekristenan di Timor

Judul

:

Dominee Markus Michael Ngefak, Garis Waktu Kekristenan di Timor

Penulis

:

Samuel Henk van Ngefak, S.Kom.

Penerbit

:

Diandra Creative

Tahun Cetak

:

2024

Halaman

:

380

ISBN

:

978-623-240-820-3

Harga

:

Rp. 145.000

Status

:

Kosong

 

Ds. Markus Michael Ngefak seorang pribumi Rote yang lahir dalam tradisi Dinitiu di Oeboka pada tanggal 12 Maret 1884 dari ayah seorang Panglima Perang (Palani) Nusa Bilba. Kehidupannya berubah setelah Palani menerima kekeristenan dan seluruh keluarga ikut dibaptis. Ds. M. M. Ngefak dapat mengenyam pendidikan formal dan menjadi lulusan pertama dari STOVIL Ba'a 1902, kemudian bertugas pada beberapa tempat di wilayah Residen Timor sebagai Inlandsch Leraar mulai dari Babau, Kupang, Alor, Rote dan kembali ke Kupang. Kisah di Alor adalah salah satu kisah yang paling menginspirasi dalam sejarah Gereja Timor dalam hal penginjilan serta berkali-kali selamat dari maut.

Ds. M. M. Ngefak memiliki rekam jejak panjang dalam perjuangan politik dan pergerakan nasional di Timor, Ia mendirikan organisasi Kristen pertama di Timor dengan nama Thalita Koemi, kemudian ia mendirikan lagi sebuah organisasi perjuangan yakni Timor Damba salah satu yang terbesar di Timor pada medio 1930-an. Selain memimpin organisasi politik dengan pangkatnya sebagai de Eerste Inlandsch Lelaar ia juga mengajar di STOVIL Kupang.

Atas karya pelayanannya ia mendapatkan anugerah Satya Lencana de Kleine Zilveren Ster dari pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 1932, menjadikannya satu-satunya guru agama di Residen Timor yang pernah mendapat penghargaan ini.

Setelah melayani 10 tahun ia mendapatkan kewenangan memimpin sakramen dan ditempatkan sebagai Guru Jemaat pada Jemaat Otonom Kota Kupang; pada 1936 ia diangkat untuk memimpin jemaat Gemeente Kupang bersamaan dengan dimulainya upaya kemandirian Gereja Timor. Selama memimpin Jemaat Otonom Kota Kupang inilah namanya tercatat dalam berita koran-koran Nasional terkait acara-acara penting yang terjadi di Kota Kupang.

Banyak tantangan di jemaat, keluarga, masyarakat maupun dinamika politik yang terjadi; khususnya saat pendudukan Jepang yang memaksanya untuk evakuasi ke Rote, tak ada lagi catatan tertulis tentang Ds. M. M. Ngefak di Rote kecuali cerita dan dokumen keluarga. Di masa sulit inilah anak-anak dari Ds. M. M. Ngefak mulai mengambil bagian dalam kisah yang lebih besar pada perkembangan Gereja Timor.

Tahun 1947 Ds. M. M. Ngefak kembali memimpin Jemaat Otonom Kota Kupang untuk yang terakhir kalinya dan turut serta dalam pendirian GMIT untuk disahkan oleh Kerkbestuur pada tahun 1948, selepas tugas ini ia pun Emiritus pada Agustus 1948. Tahun 1948 adalah satu-satunya tahun yang tercatat dalam Gereja Kota Kupang perihal pelayanan Ds. M. M. Ngefak di jemaat tersebut, tidak ada sejarah yang tersisa dari pelayanan Ds. M. M. Ngefak dari masa sebelumnya. Selepas emiritus Ds. M. M. Ngefak kembali ke kampung halaman di Oeboka dan menghabiskan masa tua bersama isteri tercinta Paulina Elisabeth Manafe hingga ia menutup usia di tahun 1955.


Kamis, 18 Juli 2024

Memori Jenderal Yoga

Judul

:

Memori Jenderal Yoga

Penyunting

:

B. Wiwoho & Banjar Chaeruddin

Penerbit

:

PT. Bina Rena Pariwara

Tahun Cetak

:

1990

Halaman

:

524

ISBN

:

979-8175-00-X

Harga

:

Rp. 100.000

Status

:

Ada

 

Ali Moertopo: “Begitu G30S meletus, orang yang langsung memberikan reaksi dan menyatakan bahwa itu perbuatan PKI adalah Pak Yoga”.

Mayjen TNI Soedibyo: “Pertemuan-pertemuan berikutnya, bertahun-tahun kemudian dalam organisasi-organisasi ABRI, kemudian saya tahu bahwa memang betul Pak Yoga adalah orang yang brilian. Ini bukan kecap. Beliau bisa dan biasa memberikan briefing tanpa teks mengenai berbagai masalah dengan ruang lingkup yang luas dan analisa yang orang lain belum membuat”.

Lendy R. Tumbelaka: “Melalui pendekatan diplomasi yang gemilang. Bapak Yogi Sugomo bersama dengan Bapak Hasnan Habib akhirnya berhasil meyakinkan Pemerintah Thailand untuk menyetujui diadakan tindakan militer terhadap para pembajak Woyla”.

Rujito: “Beliau tidak pernah absen dalam segala peristiwa perjuangan nasional. Kedua, beliau sampai mantannya, tidak cacat di dalam kedinasannya”.

Memori Jenderal Yoga, memuat kilas balik berbagai peristiwa nasional seperti Malari, Kasus Sawito, Integrasi Timor Timur (Bab 14), Operasi Woyla, hubungan Soeharto-Yoga-Ali Moertopo serta pandangan Yoga mengenai Tantangan Masa Depan. 


Selasa, 21 Mei 2024

Prof. dr. W.Z. Johannes

Judul

:

Prof. dr. W.Z. Johannes

Penulis

:

Drs. R. Nalenan

Penerbit

:

PT. Bhratara Karya Aksara – Jakarta

Tahun Cetak

:

1984

Halaman

:

45

ISBN

:

-

Harga

:

Rp.45.000

Status

:

Kosong

 

Prof. Johannes mulai mengabdikan diri di bidang kesehatan sebagai seorang dokter pada tahun 1920. Selama 32 tahun ia bekerja di bidang ini. Ia masuk pendidikan STOVIA pada tahun 1912. Lama pendidikan di STOVIA 10 tahun. Tingkat persiapan selama tiga tahun, dan tingkat akhir untuk mencapai gelar dokter selama 7 tahun . STOVIA merupakan peningkatan dari Sekolah Dokter Jawa yang berdiri pada tahun 1851. Meskipun disebut Sekolah Dokter Jawa, namun sekolah ini menerima juga mahasiswa-mahasiswa dari luar Jawa.

Selama menempuh pendidikan di STOVIA, pemuda Wilhelmus menampakkan kecerdasan yang tinggi. Pendidikan yang sebenarnya  harus ditempuh 10 tahun, ia selesaikan dalam wakttu 8 tahun. Sebelum masa penddikan selesai, ia sudah minta ikut ujian. Hak yang sama terjadi juga sewaktu di ELS. Di sini kita lihat bahwa di samping memiliki kecerdasan, pemuda Johannes memang berusaha keras untuk mempercepat pendidikannya. 


Rabu, 15 Mei 2024

Biografi Nyanyian Kehidupan Nafsiah Mboi

Judul

:

Biografi Nyanyian Kehidupan Nafsiah Mboi

Penulis

:

Maria Hartiningsih & Agung Adiprasetyo

Penerbit

:

PT. Kompas Media Nusantara

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

456

ISBN

:

978-623-346-507-6

Harga

:

Rp.80.000

Status

:

Ada


Setiap tokoh dilahirkan oleh suatu kurun masa. Namun zaman segera disapu oleh waktu dan setiap peristiwa dengan cepat dilupakan karena tertimbun peristiwa-peristiwa yang susul-menyusul memenuhi ruang publik dan merampas ingatan.

Meski demikian, suatu bangsa menjadi besar bila mau mengingat dan mengakui jasa para pahlawannya; termasuk di antaranya adalah para tokoh dan birokrat yang bekerja keras memajukan suatu wilayah dan masyarakat. Di antara mereka adalah dr. Andi Nafsiah Walinono-Mboi SpA, MPH, dikenal sebagai Nafsiah Mboi.

Untuk waktu yang cukup panjang, namanya selalu disandingkan dengan sang suami, dr. Ben Mboi. Pasangan ini telah membuat NTT mencuat di antara provinsi-provinsi lain di Indonesia karena lonjakan kemajuan kesejahteraan warganya. Prestasi keduanya di bidang pelayanan publik diakui secara internasional dengan penghargaan Ramon Magsaysay Award pada tahun 1986. 

Namun Nafsiah juga punya jejak tersendiri. Perjalanannya panjang dan berliku sebelum menjabat sebagai Menteri Kesehatan (2012-2014). Nafsiah adalah perempuan pertama dari suku Bugis, Makasar yang menjadi dokter dan dokter spesialis anak; dan untuk NTT, dokter spesialis anak pertama yang melayani rakyat di sana. Nafsiah adalah orang Asia pertama yang menjadi ketua Komite Hak Anak Perserikatan Bangsa-bangsa (CRC) dan perempuan Indonesia pertama yang menduduki posisi direktur pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sampai saat ini Nafsiah diakui ketokohannya dalam isu HIV/AIDS. Dia memperjuangkan pendekatan kemanusiaan dan HAM untuk ODHA dan memahami pentingnya pemberdayaan populasi kunci dalam penanggulangan HIV/AIDS.

Banyak hal tentang dirinya terserak di berbagai media. Namun buku ini me-nyingkapkan banyak sekali aspek yang belum pernah diungkap, beserta mazmur syukur yang senantiasa dia daraskan pada setiap langkahnya.

Seluruh pengalamannya dalam buku ini adalah undangan untuk belajar tentang ketekunan, totalitas, kehendak untuk terus belajar yang tidak pernah padam, kete-guhan dan keberanian mempertahankan prinsip-prinsip kebenaran, kesetaraan dan keadilan.

Nafsiah telah menjawab panggilan hidupnya dalam tugas-tugas yang tidak mudah, yang membuatnya kerap berada di persimpangan yang rumit. Namun, demi kebaikan bersama, dia tak ragu mengambil jalan yang penuh onak, curam, licin dan tak jarang, berbahaya.

Gelombang yang menghempasnya, ombak dan riak yang mengepungnya, sayup-sayup membentuk rangkaian nada yang dimainkan oleh orkestra alam, men-ciptakan nyanyian kehidupan. Kita bisa ikut mendengarkan seluruh lagu dalam berbagai nada dari masa lalu sampai sekarang, dan mencecap bisik halus yang menyodorkan harapan. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...