Tampilkan postingan dengan label Buku Misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Misteri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 September 2025

Nusa Nipa, Nama Pribumi Nusa Flores (Warisan Purba)

Judul

:

Nusa Nipa, Nama Pribumi Nusa Flores (Warisan Purba)

Penulis

:

P. Sareng Orinbao

Penyunting

:

Pater Piet Petu svd

Penerbit

:

Pertjetakan Arnoldus / Penerbitan Nusa Indah Ende – Flores

Tahun Cetak

:

1969

Halaman

:

262

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong

 

Tidak kurang tjelaan terhadap nama jang tidak pribumi Nusa Flores. Ditandaskan separoh pengarang, ketika pendjadjah Portugis mengundjungi Nusa ini, tidak ditemukan mereka nama jang pribumi, sehingga nama Tandjung Bunga sebelaj timur nusa “Cabo de Flores” dijadikan nama umum. Lambat laun nama “Flores” dilazimkan mendjadi sebutan untuk seluruh nusa. Ada pengarang jang tidak segan-segan menempel nama Flores sebagai nama jang irasionil dan tidak masuk akal. Nama “Flores itu megah namun hampa karena tidak mentjerminkan realita jakni kemewahan flora jang disimpulkan olehnja. Sejogianja tandasan ini tidak dibenarkan karena ditindjau dari segi flora dalam arti lurus, dari djurusan timur dan djurusan barat, nusa ini tidak dirahmati oleh kedjuitaan kembang-kembang. Ada pula pengarang jang menandaskan Flores adalah nama warisan pendjajahan Portugis. Tandasan ini tidak dapat dibantahi. Memang fakta sedjarah, nama Flores dipetik dari rumpun bahasa Romawi bahasa Latin atau bahasa Portugis. Walaupun tertandas sebagai irasionil nama Nusa Flores tetap didjundjung tinggi malah ditimang-timang sebagai Bunga Bidadari.


Kamis, 27 Maret 2025

The Mutiny on Board H.M.S. Bounty 1789

Judul

:

The Mutiny on Board H.M.S. Bounty 1789

Penulis

:

William Bligh

Penerbit

:

Pageminster Press in association with Argot Press (Melbourne) & Mitchell Beazley

Tahun Cetak

:

1981

Halaman

:

190

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong


I left the governor, Mr. Van Este, at the point of death. To this gentleman our most grateful thanks are due, for the humane and friendly treatment that we have received from him. His ill state of health only prevented him from showing us more particular marks of attention. Unhappily, it is to his memory only that I now pay this tribute. It was a fortunate circumstance for us, that Mr. Wanjon, the next in place to the governor, was equally humane and ready to relieve us. His attention was unremitting, and, when there was a doubt about supplying me with money, on government account, to enable me to purchase a vessel, he cheerfully took it upon himself; without which, it was evident, I should have been too late at Batavia to have sailed for Europe with the October fleet. I can only return such services by ever retaining a grateful remembrance of them.


Selasa, 04 Maret 2025

The Mutiny on Board HMS Bounty

Judul

:

Great Illustrated Classics: The Mutiny on Board HMS Bounty

Editor

:

Malvina G. Vogel

Penerbit

:

Baronet Books, New York

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

2008

Halaman

:

240

ISBN

:

0-86611-970-1

Harga

:

Rp. 90. 000

Status

:

Ada

 

Captain Wiliam Bligh recorded the most famous mutiny in sea history when a group of his men, led by Fletcher Christian, forced him from his ship onto a small launch and cast him adrift into the sea. Was Bligh a harsh sea captain whose vicious cruelty forced his men to mutiny? Or was Fletcher Christian greedy for power and unjustified in taking command? Sail with Captain Bligh, on the Bounty and then follow his incredible quest for survival when cast adrift. It’s a timeless tale of man’s heroic struggle to survive againts all odds!


Rabu, 08 Januari 2025

Mutiny on The Bounty

Judul

:

Mutiny on The Bounty

Penulis

:

Sir John Barrow

Penerbit

:

Peter Haddock Ltd.

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

2000

Halaman

:

200

ISBN

:

978-071-051-0167

Harga

:

Rp. 90.000

Status

:

Ada

 

Mutiniy on the Bounty is the classic account by Sir John Barrow of what is propably the world’s most famous mutiny. It not only tells the true story of how a number of the crew of the Bounty, under the leadership of the ship’s mate, Fletcher Christian, rebelled and cast Lieutenant Bligh and a number of men loyal to him adrift in an open boat, but also contains an account of Bligh’s journey to safety, the court martial that ultimately took place in London, and the fate of the mutineers in the South Pacific.


Senin, 11 November 2024

Mutiny on the Bounty

Judul

:

Mutiny on the Bounty

Penulis

:

Charles Nordhoff and James Norman Hall

Penerbit

:

Little, Brown & Company

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

1956

Halaman

:

373

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 100.000

Status

:

Ada

 

On the fourteenth of June, forty-seven days after the mutiny, they reached the Dutch settlement at Coupang Bay, on the island of Timor, a distance of more than twelve hundred leagues from Tofoa. After recuperating for two months among the kindly inhabitants of Coupang, a small schooner was purchased and fitted out for the voyage to Batavia, where they arrived on October I, 1789. Here three more of the party died: Elphinstone, Lenkletter, the remaining quartermaster, and Thomas Hall, a seaman. Ledward, the acting surgeon, was left behind at Batavia, and the rest of the party embarked in ships of the Dutch East India Company for the voyage home. Robert Lamb, the butcher, died on the passage, leaving but twelve of the nineteen men who had set out from the Bounty's side. (hal. 216)

About twelve o'clock on the night of September 15, the pinnace came to a grapnel off the float by the fort in Coupang Bay. It was a calm night with the sky ablaze with stars. The settlement was asleep. A ship was anchored not far from where we lay, and two or three smaller craft, but in the darkness we were unable to see whether any of the other boats of the Pandora had arrived. The night was profoundly still. On the high rampart of the fort a dog stood, barking mournfully. That was our welcome to Coupang. Worn out with our long journey, we remained where we were until daylight, sleeping huddled in our places, and never, I imagine, have men slept more soundly. (hal. 264)

"Do you remember Coupang, Tinkler?"

"Coupang! That heaven on earth! Let me tell you how we came in. It was about three in the morning...but wait a minute! How about filling my glass? As a host, Byam, you leave something to be desired."

And so it went the night through. (hal. 355) 


Rabu, 03 Juli 2024

Tradisi Memberi Makanan (Persembahan) Kepada Roh Leluhur (Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata) di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Judul

:

Tradisi Memberi Makanan (Persembahan) Kepada Roh Leluhur (Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata) di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Penulis

:

Drs. I Wayan Rupa, M.Si ; I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos, M.Si & Yufiza, SS

Penerbit

:

Kepel Press & Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, Direktorat jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tahun Cetak

:

2015

Halaman

:

94

ISBN

:

978-602-356-042-4

Sumber

:

https://repositori.kemdikbud.go.id

Download

:

Di Sini

Ritual “Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata” merupakan salah satu ritual yang ada pada masyarakat Ende-Lio. Pati K sebagai suatu ritual persembahan kepada para arwah yang telah meninggal. Pada masyarakat Ende-Lio percaya bahwa arwah nenek moyang atau leluhur berada di puncak Kelimutu dan sebagian di sekitar rumah, selalu melindungi keturunannya tatkala dalam bahaya, dan sebaliknya bila para arwah ini diabaikan dan tidak pernah melakukan ritual terhadap roh-roh leluhur akan berakibat buruk terhadap keturunannya yang tinggal dan hidup di dunia. Mitologi masyarakat Ende-Lio menyebutkan bahwa para arwah akan pergi dan tinggal di danau kawah yang terdapat di puncak gunung Kelimutu, tinggal di antara  tiga danau kawah yang terdapat di kawasan Kelimutu. Ketiga danau kawah itu memiliki karakter dan warna yang sering berubah-ubah pada saat-saat tertentu. Masyarakat percaya bahwa perubahan warna terkait dengan peristiwa alam maupun sesuatu yang akan terjadi dalam kehidupan manusia.

Sebagai cara memberikan penghormatan dan memohon perlindungan kepada para arwah leluhur maka dilaksanakan ritual pati ka yakni ritual persembahan makanan, di mulai dari pati ka di kuburan sekitar perkampungan. Selanjutnya pati ka yang lebih besar dilaksanakan di puncak kawasan Kelimutu, yang dihadiri oleh seluruh komunitas di sepanjang penyangga Taman Nasional kelimutu (TNK). Ritual pati ka yang diselenggarkan secara bersama-sama oleh seluruh komunitas budaya yang ada di sepanjang penyangga TNK inilah yang sering dinamakan sebagai ritual “Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata” atau ritual persembahan memberi makanan terhadap leluhur.


Minggu, 09 Juni 2024

Sejarah Kereta Api di Manggarai, Batavia 1913-1942

Judul

:

Sejarah Kereta Api di Manggarai, Batavia 1913-1942

Penulis

:

Anang Ramadhan

Penerbit

:

Pustaka Indis

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

120

ISBN

:

978-623-5618-02-9

Harga

:

Rp.58.000

Status

:

Kosong

 

Kawasan stasiun kereta api di Manggarai dibangun oleh Staatsspoorwegen pada tahun 1913 menggantikan stasiun Boekit Doeri. Selain membangun stasiun, Staatsspoorwegen juga membangun bengkel kereta api di belakang stasiun Manggarai yaitu Hoofd Werksplaaten te Manggarai dan sekarang bernama Balai Yasa Manggarai. Stasiun Manggarai dibangun dengan tujuan meluaskan akses kereta api untuk masyarakat Batavia dan sekitarnya. Sebagai salah satu statsiun besar di Batavia, Stasiun Manggarai melayani perjalanan lokal dan perjalanan jauh ke wilayah Jawa seperti Bandung, Semarang, Jogjakarta, dan Surabaya, selain itu juga Stasiun Manggarai juga menjadi salah satu stasiun yang memiliki aktivitas pengiriman barang yang cukup besar. Jalur di lintas Stasiun Manggarai baru di elektrifikasi pada tahun 1928, sejak saat itu juga jumlah perjalanan kereta di wilayah Batavia juga bertambah. Terjadinya depresi ekonomi tahun 1930 aktivitas di Stasiun Manggarai juga berdampak, seperti pengurangan gaji, sampai pemecatan beberapa pekerja.

Aktifitas di Stasiun Manggarai baru mulai membaik pada tahun 1938, hal itu juga membuat keuangan Staatsspoorwegen juga mulai membaik. Kedatangan Jepang di Indonesia pada tahun 1942 membawa perubahan bagi semua sektor, Stasiun Manggarai menjadi salah satu stasiun utama yang dijadikan sebagai pangkalan kedatangan tentara Jepang dari pelabuhan, selain itu juga Hoofd Werksplaaten Te Manggarai diubah namanya menjadi seperti sekarang yaitu Balai Yasa Manggarai. 


Rabu, 13 Maret 2024

Emilie Jawa 1904

Judul

:

Emilie Jawa 1904

Penulis

:

Catherine van Moppés

Penerbit

:

Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun Cetak

:

2010

Halaman

:

481

ISBN

:

978-979-91-0233-1

Harga

:

Rp. 65.000

Status

:

Ada

 

Emilie lahir di kota kecil Langon pada ujung abad ke-19. Dia dibesarkan ayahnya, seorang saudagar kaya, berhaluan politik Republikan-Radikal, yang memihak apa dipandangnya sebagai universalisme. Sang ayah adalah pengagum Emile Zola, yang memperjuangkan penghapusan diskriminasi anti Yahudi. Namun, mencerminkan semangat zamannya, dia meyakini bahwa, melalui kolonialisme, humanisme akan terwujud di belahan negeri manapun. Paradoks zaman itu menjadi sumber pertanyaan yang membayang-bayangi Emilie sepanjang pengalamannya di Hindia Belanda, ketika mendampingi suaminya, Lucien, yang ditugaskan sebagai asisten keamanan pada pemerintah kolonial di Batavia.

Ketika Emile mulai merasakan bahwa cara Lucien menyikapi tanah jajahan semakin jauh dari pemahaman dirinya, dia menjadikan seksualitas sarana pemberontakan politiknya. Perlahan tanah jajahan bukan lagi tanah janjian sebagaimana pada masa remajanya, melainkan tanah perjuangan bagi humanisme yang sesungguhnya, meski untuk itu ia harus rela mengorbankan cinta utuh yang ditemuinya di Batavia. Maka Anendo mewakili sisa impian masa mudanya tentang tanah janjian eksotis, dan sekaligus terbitnya kesadaran baru yang bersifat politik.

Terjepit antara kedua kecenderungan itu, Lucien memilih status-quo: apapun humanisme acuan masa mudanya, dia semakin berpihak pada sistem kolonial, hingga menjadi semakin reaksioner dan represif. Emilie mengalami evolusi yang sebaliknya. Selaras dengan kian meluas hubungannya dengan masyarakat umum, dia kian menyadari betapa hampa selubung humanis-universalis yang melekat pada ideologi kolonial. Semakin Emile sadar atas manipulasi ideologis itu, dan semakin dirinya menyadari Lucien buta terhadap keadaan sesungguhnya, semakin pula ia merasa tak salah mengkhianatinya. Oleh karena itu pengkhianatan seksual Emilie, dengan Anendo yang pribumi itu, sejatinya berarti tercapainya puncak kesadaran politiknya.

Emilie bertemu secara kebetulan dengan aktivis pelarian dari Tiongkok itu. Dia segera menyadari bahwa idealisme mereka sejatinya jauh lebih radikal daripada “humanisme” burjuis yang diyakininya. Keterpikatan dengan gagasan mereka memaksanya melanggar aneka tabu sosial: tabu yang melarangnya untuk bergaul secara leluasa dengan orang-orang di luar kalangan Eropa. Setiap pelanggaran Emilie disertai oleh rasa pembebasan baru dan sekaligus peningkatan kesadaran politiknya. Meskipun masih kerap dipandang “kulit putih”, Emilie semakin nekat hingga pada akhirnya melakukan pelanggaran yang terberat: alias pengkhianatan atas pernikahannya, yang dilakukannya dengan Anendo, seorang “Inlander” dari sebuah pulau nun jauh di Timur sana, pulau Solor. 


Senin, 12 Februari 2024

Indonesia Revival Focus on Timor

Judul

:

Indonesia Revival Focus on Timor

Penulis

:

George W. Peters

Penerbit

:

The Zondervan Corporation Grand Rapids, Michigan

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

1973

Halaman

:

120

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 110.000

Status

:

Kosong


An In-depth study of Revival in Indonesia. A real revival has been taking place in Timor, Indonesia! Here is the truth about what has happened-separating fact from fabrication, accuracy from exaggeration. Dr. George W. Peters, professor of World Missions at Dallas Theological Seminary and a recognized authority in his field, has completed one of the most exhaustive studies ever made of spiritual revival in a foreign setting. He has sought for facts – in the framework of the Bible, the Christian experiences and the prevailing culture. In his inquiry he incorporates the tools of history, religion, psychology, sociology and anthropology – which sheds light on the narrative, supernatural phenomena, and abiding fruit of God’s work among the people of Indonesia. Truly a remarkable account of Indonesia’s revival! 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...