Tampilkan postingan dengan label Buku Misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Misteri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2026

Kotō no Tsuchi to Naru Tomo: BC-kyū Senpan Saiban (Meski Harus Menjadi Tanah di Pulau Terpencil: Pengadilan Kejahatan Perang Kelas B dan C)

Judul

:

Kotō no Tsuchi to Naru Tomo: BC-kyū Senpan Saiban (Meski Harus Menjadi Tanah di Pulau Terpencil: Pengadilan Kejahatan Perang Kelas B dan C)

Penulis

:

Takashi Irakawa

Bahasa

:

Jepang

Penerbit

:

Kodansha

Tahun Cetak

:

1995

Halaman

:

830

ISBN

:

-

Harga

:

Rp.-

Status

:

Kosong

 

Dalam tumpukan arsip sejarah Perang Dunia II di Asia-Pasifik, nama Pulau Timor dan Kota Kupang kerap muncul bukan sekadar sebagai titik geografis pertempuran, melainkan sebagai panggung penutup dari sebuah drama kemanusiaan yang serba kelam. Dalam karya monumentalnya yang megah, Kotō no Tsuchi to Naru Tomo: BC-kyū Senpan Saiban (“Meski Harus Menjadi Tanah di Pulau Terpencil: Pengadilan Kejahatan Perang Kelas B dan C”), jurnalis dan penulis senior Jepang, Takashi Irakawa, merajut kembali kisah-kisah terperosok yang puluhan tahun terkubur dalam "kegelapan sejarah." Melalui riset intensif dan penelusuran dokumen rahasia selama seperempat abad, Irakawa merekam bagaimana tanah-tanah terisolasi di Kepulauan Nusantara—termasuk Kupang—menjadi saksi bisu penghakiman akhir para prajurit yang kalah perang.

Bagi Kupang, narasi yang diusung Irakawa terasa begitu dekat dan personal. Pasca-kapitulasi Jepang pada tahun 1945, Pasukan Sekutu—khususnya Pengadilan Militer Australia—menggelar persidangan kejahatan perang kelas B dan C langsung di tanah Kupang. Di tempat inilah para perwira dan prajurit Angkatan Darat ke-48 serta Angkatan Laut Jepang diadili atas berbagai tindak kekerasan, eksekusi tawanan perang, dan penindasan terhadap warga lokal maupun pasukan Sekutu seperti Sparrow Force. Melalui pendekatan naratif yang kuat, Irakawa memotret Kupang bukan sekadar sebagai benteng pertahanan selatan (Nampo) tentara Kekaisaran, melainkan sebagai tempat di mana vonis mati dan hukuman penjara memisahkan para prajurit dari tanah air mereka selamanya—menjadikan mereka benar-benar "menjadi tanah" di pulau terpencil yang jauh dari rumah.

Namun, hal yang membuat karya penerima Kodansha Non-Fiction Award ini begitu menggugah adalah keberanian Irakawa menembus sudut pandang tunggal sejarah pemenang. Ia tidak hanya mencatat kekejaman perang, tetapi juga mengupas sisi lain pengadilan di Kupang dan wilayah Pasifik lainnya sebagai victors' justice—pengadilan pihak yang menang yang sarat dengan tarik-menarik kepentingan kolonialisme Barat di Asia Pasifik. Dalam 1.600 lembar manuskrip yang dipadatkan menjadi buku setebal 800 halaman lebih ini, Irakawa memperlihatkan bagaimana kekacauan pascaperang melahirkan salah tangkap, salah identifikasi, hingga vonis terhadap mereka yang tak bersalah. Membaca lembaran karya Irakawa hari ini memberikan kita kacamata yang lebih jernih dan berimbang: bahwa di balik megahnya narasi kemenangan perang, tanah Kupang menyimpan jejak-jejak refleksi mendalam tentang keadilan, nasib individu yang tergilas roda sejarah, dan kompleksitas kemanusiaan di masa lalu.

 

Kamis, 25 September 2025

Nusa Nipa, Nama Pribumi Nusa Flores (Warisan Purba)

Judul

:

Nusa Nipa, Nama Pribumi Nusa Flores (Warisan Purba)

Penulis

:

P. Sareng Orinbao

Penyunting

:

Pater Piet Petu svd

Penerbit

:

Pertjetakan Arnoldus / Penerbitan Nusa Indah Ende – Flores

Tahun Cetak

:

1969

Halaman

:

262

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong

 

Tidak kurang tjelaan terhadap nama jang tidak pribumi Nusa Flores. Ditandaskan separoh pengarang, ketika pendjadjah Portugis mengundjungi Nusa ini, tidak ditemukan mereka nama jang pribumi, sehingga nama Tandjung Bunga sebelaj timur nusa “Cabo de Flores” dijadikan nama umum. Lambat laun nama “Flores” dilazimkan mendjadi sebutan untuk seluruh nusa. Ada pengarang jang tidak segan-segan menempel nama Flores sebagai nama jang irasionil dan tidak masuk akal. Nama “Flores itu megah namun hampa karena tidak mentjerminkan realita jakni kemewahan flora jang disimpulkan olehnja. Sejogianja tandasan ini tidak dibenarkan karena ditindjau dari segi flora dalam arti lurus, dari djurusan timur dan djurusan barat, nusa ini tidak dirahmati oleh kedjuitaan kembang-kembang. Ada pula pengarang jang menandaskan Flores adalah nama warisan pendjajahan Portugis. Tandasan ini tidak dapat dibantahi. Memang fakta sedjarah, nama Flores dipetik dari rumpun bahasa Romawi bahasa Latin atau bahasa Portugis. Walaupun tertandas sebagai irasionil nama Nusa Flores tetap didjundjung tinggi malah ditimang-timang sebagai Bunga Bidadari.


Kamis, 27 Maret 2025

The Mutiny on Board H.M.S. Bounty 1789

Judul

:

The Mutiny on Board H.M.S. Bounty 1789

Penulis

:

William Bligh

Penerbit

:

Pageminster Press in association with Argot Press (Melbourne) & Mitchell Beazley

Tahun Cetak

:

1981

Halaman

:

190

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong


I left the governor, Mr. Van Este, at the point of death. To this gentleman our most grateful thanks are due, for the humane and friendly treatment that we have received from him. His ill state of health only prevented him from showing us more particular marks of attention. Unhappily, it is to his memory only that I now pay this tribute. It was a fortunate circumstance for us, that Mr. Wanjon, the next in place to the governor, was equally humane and ready to relieve us. His attention was unremitting, and, when there was a doubt about supplying me with money, on government account, to enable me to purchase a vessel, he cheerfully took it upon himself; without which, it was evident, I should have been too late at Batavia to have sailed for Europe with the October fleet. I can only return such services by ever retaining a grateful remembrance of them.


Selasa, 04 Maret 2025

The Mutiny on Board HMS Bounty

Judul

:

Great Illustrated Classics: The Mutiny on Board HMS Bounty

Editor

:

Malvina G. Vogel

Penerbit

:

Baronet Books, New York

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

2008

Halaman

:

240

ISBN

:

0-86611-970-1

Harga

:

Rp. 90. 000

Status

:

Ada

 

Captain Wiliam Bligh recorded the most famous mutiny in sea history when a group of his men, led by Fletcher Christian, forced him from his ship onto a small launch and cast him adrift into the sea. Was Bligh a harsh sea captain whose vicious cruelty forced his men to mutiny? Or was Fletcher Christian greedy for power and unjustified in taking command? Sail with Captain Bligh, on the Bounty and then follow his incredible quest for survival when cast adrift. It’s a timeless tale of man’s heroic struggle to survive againts all odds!


Rabu, 08 Januari 2025

Mutiny on The Bounty

Judul

:

Mutiny on The Bounty

Penulis

:

Sir John Barrow

Penerbit

:

Peter Haddock Ltd.

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

2000

Halaman

:

200

ISBN

:

978-071-051-0167

Harga

:

Rp. 90.000

Status

:

Ada

 

Mutiniy on the Bounty is the classic account by Sir John Barrow of what is propably the world’s most famous mutiny. It not only tells the true story of how a number of the crew of the Bounty, under the leadership of the ship’s mate, Fletcher Christian, rebelled and cast Lieutenant Bligh and a number of men loyal to him adrift in an open boat, but also contains an account of Bligh’s journey to safety, the court martial that ultimately took place in London, and the fate of the mutineers in the South Pacific.


Senin, 11 November 2024

Mutiny on the Bounty

Judul

:

Mutiny on the Bounty

Penulis

:

Charles Nordhoff and James Norman Hall

Penerbit

:

Little, Brown & Company

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

1956

Halaman

:

373

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 100.000

Status

:

Ada

 

On the fourteenth of June, forty-seven days after the mutiny, they reached the Dutch settlement at Coupang Bay, on the island of Timor, a distance of more than twelve hundred leagues from Tofoa. After recuperating for two months among the kindly inhabitants of Coupang, a small schooner was purchased and fitted out for the voyage to Batavia, where they arrived on October I, 1789. Here three more of the party died: Elphinstone, Lenkletter, the remaining quartermaster, and Thomas Hall, a seaman. Ledward, the acting surgeon, was left behind at Batavia, and the rest of the party embarked in ships of the Dutch East India Company for the voyage home. Robert Lamb, the butcher, died on the passage, leaving but twelve of the nineteen men who had set out from the Bounty's side. (hal. 216)

About twelve o'clock on the night of September 15, the pinnace came to a grapnel off the float by the fort in Coupang Bay. It was a calm night with the sky ablaze with stars. The settlement was asleep. A ship was anchored not far from where we lay, and two or three smaller craft, but in the darkness we were unable to see whether any of the other boats of the Pandora had arrived. The night was profoundly still. On the high rampart of the fort a dog stood, barking mournfully. That was our welcome to Coupang. Worn out with our long journey, we remained where we were until daylight, sleeping huddled in our places, and never, I imagine, have men slept more soundly. (hal. 264)

"Do you remember Coupang, Tinkler?"

"Coupang! That heaven on earth! Let me tell you how we came in. It was about three in the morning...but wait a minute! How about filling my glass? As a host, Byam, you leave something to be desired."

And so it went the night through. (hal. 355) 


Rabu, 03 Juli 2024

Tradisi Memberi Makanan (Persembahan) Kepada Roh Leluhur (Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata) di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Judul

:

Tradisi Memberi Makanan (Persembahan) Kepada Roh Leluhur (Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata) di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Penulis

:

Drs. I Wayan Rupa, M.Si ; I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos, M.Si & Yufiza, SS

Penerbit

:

Kepel Press & Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, Direktorat jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Tahun Cetak

:

2015

Halaman

:

94

ISBN

:

978-602-356-042-4

Sumber

:

https://repositori.kemdikbud.go.id

Download

:

Di Sini

Ritual “Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata” merupakan salah satu ritual yang ada pada masyarakat Ende-Lio. Pati K sebagai suatu ritual persembahan kepada para arwah yang telah meninggal. Pada masyarakat Ende-Lio percaya bahwa arwah nenek moyang atau leluhur berada di puncak Kelimutu dan sebagian di sekitar rumah, selalu melindungi keturunannya tatkala dalam bahaya, dan sebaliknya bila para arwah ini diabaikan dan tidak pernah melakukan ritual terhadap roh-roh leluhur akan berakibat buruk terhadap keturunannya yang tinggal dan hidup di dunia. Mitologi masyarakat Ende-Lio menyebutkan bahwa para arwah akan pergi dan tinggal di danau kawah yang terdapat di puncak gunung Kelimutu, tinggal di antara  tiga danau kawah yang terdapat di kawasan Kelimutu. Ketiga danau kawah itu memiliki karakter dan warna yang sering berubah-ubah pada saat-saat tertentu. Masyarakat percaya bahwa perubahan warna terkait dengan peristiwa alam maupun sesuatu yang akan terjadi dalam kehidupan manusia.

Sebagai cara memberikan penghormatan dan memohon perlindungan kepada para arwah leluhur maka dilaksanakan ritual pati ka yakni ritual persembahan makanan, di mulai dari pati ka di kuburan sekitar perkampungan. Selanjutnya pati ka yang lebih besar dilaksanakan di puncak kawasan Kelimutu, yang dihadiri oleh seluruh komunitas di sepanjang penyangga Taman Nasional kelimutu (TNK). Ritual pati ka yang diselenggarkan secara bersama-sama oleh seluruh komunitas budaya yang ada di sepanjang penyangga TNK inilah yang sering dinamakan sebagai ritual “Pati Ka Du’a Bapu Ata Mata” atau ritual persembahan memberi makanan terhadap leluhur.


Minggu, 09 Juni 2024

Sejarah Kereta Api di Manggarai, Batavia 1913-1942

Judul

:

Sejarah Kereta Api di Manggarai, Batavia 1913-1942

Penulis

:

Anang Ramadhan

Penerbit

:

Pustaka Indis

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

120

ISBN

:

978-623-5618-02-9

Harga

:

Rp.58.000

Status

:

Kosong

 

Kawasan stasiun kereta api di Manggarai dibangun oleh Staatsspoorwegen pada tahun 1913 menggantikan stasiun Boekit Doeri. Selain membangun stasiun, Staatsspoorwegen juga membangun bengkel kereta api di belakang stasiun Manggarai yaitu Hoofd Werksplaaten te Manggarai dan sekarang bernama Balai Yasa Manggarai. Stasiun Manggarai dibangun dengan tujuan meluaskan akses kereta api untuk masyarakat Batavia dan sekitarnya. Sebagai salah satu statsiun besar di Batavia, Stasiun Manggarai melayani perjalanan lokal dan perjalanan jauh ke wilayah Jawa seperti Bandung, Semarang, Jogjakarta, dan Surabaya, selain itu juga Stasiun Manggarai juga menjadi salah satu stasiun yang memiliki aktivitas pengiriman barang yang cukup besar. Jalur di lintas Stasiun Manggarai baru di elektrifikasi pada tahun 1928, sejak saat itu juga jumlah perjalanan kereta di wilayah Batavia juga bertambah. Terjadinya depresi ekonomi tahun 1930 aktivitas di Stasiun Manggarai juga berdampak, seperti pengurangan gaji, sampai pemecatan beberapa pekerja.

Aktifitas di Stasiun Manggarai baru mulai membaik pada tahun 1938, hal itu juga membuat keuangan Staatsspoorwegen juga mulai membaik. Kedatangan Jepang di Indonesia pada tahun 1942 membawa perubahan bagi semua sektor, Stasiun Manggarai menjadi salah satu stasiun utama yang dijadikan sebagai pangkalan kedatangan tentara Jepang dari pelabuhan, selain itu juga Hoofd Werksplaaten Te Manggarai diubah namanya menjadi seperti sekarang yaitu Balai Yasa Manggarai. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...