Selasa, 30 Desember 2025

Nusa Rupa Bianglala Seni Rupa Nusa Tenggara Timur


Judul

:

Nusa Rupa Bianglala Seni Rupa Nusa Tenggara Timur

Penulis

:

Kuss Indarto

Penerbit

:

Nyala

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

76

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 80.000

Status

:

Kosong

 

Buku ini merupakan sarana yang tepat dan memiliki manfaat yang besar guna meningkatkan semangat literasi serta menumbuhkembangkan wawasan berkebudayaan bagi para  pelajar, mahasiswa, seniman maupun masyarakat luas.

Bunga Rampai Seni Rupa Nusa Tenggara Timur, akan menjadi sebuah catatan penting yang perlu diketahui tentang proses para perupa Nusa Tengara Timur dalam mengawali perjalanan karirnya dalm menggeluti dunia seni rupa yang tanpa banyak diketahui banayk orang  bahwa karya-karya mereka telah memberi kontribusi dalam pemajuan kebudayaan di Nusa Tenggara Timur. 


Antologi Forum Budaya dan Seni Masyarakat NTT

Judul

:

Antologi Forum Budaya dan Seni Masyarakat NTT

Penulis

:

Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M., dkk

Penerbit

:

Nyala

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

215

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 150.000

Status

:

Kosong

Buku Antologi Forum Budaya dan Seni Masyarakat NTT ini merupakan kumpulan pemikiran dari para seniman yang berisi persolan-persoalan dalam mengembangkan kesenian daerah. Persoalan internal maupun eksternal yang dihadapi juga terkait dengan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah sebagai motivator, fasilitator diharapkan dapat menjadi titik temu dalam kebersamaan membangun iklim berkesenian yang dinamis, apresiatif dan berdampak dalam mencerdaskan masyarakat Nusa Tenggara Timur.


Suri Ikun dan Dua Elang (Cerita Rakyat Dari Kabupaten Belu)

Judul

:

Suri Ikun dan Dua Elang (Cerita Rakyat Dari Kabupaten Belu)

Penulis

:

Robertus Fahik

Penerbit

:

Nyala

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

18

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Kosong

Sebagai bentuk dukungan terhadap program nasional tersebut, dan sebagai bagian dari upaya menghidupkan serta melestarikan nilai-nilai budaya NTT, UPTD Taman Budaya Gerson Poyk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur melakukan sebuah terobosan positif lewat program Pembuatan Komik Cerita Rakyat NTT. Implementasi program ini antara lain dimulai dengan hadirnya komik cerita rakyat NTT berjudul Suri Ikun dan Dua Elang (Cerita Rakyat Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur).


Rabu, 24 Desember 2025

Kampung Katong: Membangun dari Kampung

Judul

:

Kampung Katong: Membangun dari Kampung

Penulis

:

Ardy Milik

Penyunting

:

Siti Marfu’ah & Dominggus Elcid Li

Penerbit

:

Yayasan Rimbawan Muda Indonesia Bogor & RMI – The Indonesian Institute for Forest and Environment

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

110

ISBN

:

978-623-10-9868-9

Sumber

:

https://rmibogor.id/

Download

:

Di Sini

 

Buku Kampung Katong – Membangun Dari Kampung menuliskan kiprah orang muda yang “pulang”—bersolidaritas untuk “membangun dari kampung”. Buku ini bercerita tentang segelintir orang muda NTT yang memutuskan “Pulang” untuk merespons keresahan atas apa yang terjadi di kampung. Pulang yang tidak disimplifikasi dengan kehadiran fisik belaka, namun dikerahkannya juga pikiran dan aksi swadaya orang muda untuk mengatasi persoalan di kampungnya dengan pengorganisasian warga aktif sebagai basis gerakan.

RMI-Indonesia Institute for Forest and Environment, selaku organisasi yang berfokus pada isu pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang inklusif dan berkelanjutan, melihat bahwa komunitas seperti Lakoat.Kujawas di Mollo, SimpaSio Institute di Larantuka, dan Kolektif Videoge di Labuan Bajo, berada pada benang merah perjuangan yang sama. Perjuangan tersebut adalah mengupayakan dekolonialisasi melalui reproduksi pengetahuan lokal secara swadaya dan menanggapi permasalahan lokal di wilayah masing-masing.

Dekolonisasi yang diartikan sebagai proses melepaskan diri dari berbagai pengaruh kolonialisme, berupaya memposisikan realita lokal sebagai acuan utama dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi komunitas sehari-hari. Dengan dekolonisasi, pengetahuan dan identitas lokal menjadi kompas dari penyelesaian berbagai permasalahan sosial-lingkungan, budaya, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, hingga keberlanjutan ruang hidup dan penghidupan.

  

Kuliner Tradisional Tapa Kolo di Manggarai Timur

Judul

:

Kuliner Tradisional Tapa Kolo di Manggarai Timur

Penulis

:

Hartono dan Dewa Gede Pariasa

Penerbit

:

IRGSC & Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI NTT.

Tahun Cetak

:

2024

Halaman

:

76

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong

 

Buku ini merupakan muara dari hasil kajian tentang salah satu kuliner tradisional yang bernama Tapa Kolo yang ada di Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) oleh para para pamong budaya yang bertugas di Balai Pelestarian Kebudayan Wilayah XVI NTT.

Kuliner tradisional Tapa Kolo adalah makanan yang terbuat dari beras yang dimasukan ke bambu yang dimasak bukan menggunakan periuk tetapi menggunakan bambu. Studi kuliner tradisional Tapa Kolo ini juga bertujuan untuk usaha pelindungan karya budaya agar tidak hilang atau musnah ditelan zaman. Selain itu, juga bertujuan untuk dapat kiranya karya budaya ini diusulkan atau sebagai bahan usulan warisan budaya tak benda Indonesia atau Nasional. 


Minggu, 14 Desember 2025

Mozaik Sejarah Pulau Timor dan Kota Kupang

Judul

:

Mozaik Sejarah Pulau Timor dan Kota Kupang

Penulis

:

Pina Ope Nope

Penerbit

:

Diandra Kreatif

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

146

ISBN

:

978-623-128-315-3

Harga

:

Rp. 85.000

Status

:

Ada

 

Semangat sang penulis untuk memperkenalkan sejarah kecil, sejarah dari pinggiran, sangat jelas ditampilkan dalam tulisan-tulisan di buku ini. Dengan demikian, penulis buku ini berusaha untuk memberikan sudut pandang yang berbeda terhadap anggaran umum maupun narasi besar sejarah yang ada selama ini. Semangat mengusung sejarah kecil seperti ini baik dalam upaya memperkenalkan peristiwa-peristiwa yang mungkin terlewatkan dari catatan sejarah formal yang selama ini kita baca, bahkan yang kita pelajari secara formal di bangku-bangku sekolah. Dalam konteks Nusa Tenggara Timur, partisipasi semacam ini penting dalam menggalakkan kecintaan para pembaca tehadap sejarah lokal mereka sendiri, agar tidak tercerabut dari akar budayanya. (Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt. - Gubernur Nusa Tenggara Timur)

Tidak semua buku sejarah disusun dengan semangat keterbukaan dan kejujuran sebagaimana buku ini yang hadir untuk memberi cara pandang baru dalam sejarah kita. Salah satu kelebihan lainnya adalah penulis menghadirkan sejarah yang hidup dan tidak membosankan serta menyentuh sisi kemanusiaan pembaca. Buku ini hadir sebagai penantang terhadap narasi tunggal yang telah lama mendominasi cara kita memandang masa lalu. Penulis mencoba membuka tabir sejarah yang terlupakan, tersembunyi, atau bahkan sengaja diabaikan.

Bagi para akademisi, buku ini memberikan banyak bahan kajian, data primer, dan analisa yang mendalam. Saya berharap lembaga-lembaga pendidikan, perpustakaan dan komunitas-komunitas literasi dapat menjadikannya sebagai bahan diskusi dan kajian rutin. (Musa S. Benu, SH – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan TTS) 


Het Amanoebangsche Rijk op Timor 1849

Judul

:

Het Amanoebangsche Rijk op Timor 1849

Penulis

:

D.J. Van Den Dungen Gronovius

Penyunting

:

Pina Ope Nope

Penerbit

:

-

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

12

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 45.000

Status

:

Ada


“Penduduk di sini memiliki sedikit sekali kebutuhannya. Akibatnya hampir tidak terdapat usaha untuk berkembang dan maju. Untuk urusan makan minum dan kebutuhan sehari-hari penduduk sendiri mengaturnya, yakni membuka kebun di sekitar tempat tinggal, di mana tanah dikerjakan selama 8 tahun. Setelah itu mereka berganti tanah secara beramai-ramai dan membuka lagi kebun yang baru. Di kebun mereka menanam pisang, tebu, ubi, pampung (labu), jagung, kapas secara berselang-seling namun ditanam pada waktu yang sama. Pekerjaan merawat kebun menjadi urusan perempuan. Kesibukan sehari-harinya adalah pergi melihat kebunnya dan kembali ke rumah dengan membawa hasil kebun. Semua tanaman tumbuh dengan baik. Berulang kai saya terheran-heran melihat jagung yang tumbuh subur dan hitungan yang saya buat jumlah tanaman jagung dalam satu bilah bisa mencapai 680-704 butir.” 


Eksotisme Manik-Manik Menembus Zaman

 

Judul

:

Eksotisme Manik-Manik Menembus Zaman

Penulis

:

Nasruddin

Penyunting

:

Agustijanto lndradjaja & Bambang Sulistyanto

Penerbit

:

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Tahun Cetak

:

2017

Halaman

:

108

ISBN

:

978-979-8041-60-0

Sumber

:

https://repositori.kemendikdasmen.go.id

Download

:

Di Sini

 

Manik-manik terbuat dari berbagai macam bahan seperti di kaca, logam, batu, karang, batu mulia, intan, kerang, tulang, ada pula yang dari kayu. Benda manik-manik tidak hanya dikenal sekarang, tetapi telah dibuat dan dipakai sejak masa plestosen pada ribuan tahun yang lampau.

Penelitian arkeologi menyebutkan bahwa temuan manik-manik tertua ditemukan di situs gua sepertf Sulawesi, Mangkulirang, Kutai Timur, Kalimantan, Jawa Timur dan Sumatera. Temuan artefak manikmanik terus bermunculan di situs penguburan sebagai benda bekal kubur. Kuat dugaan berdasarkan hasil penelitian bahwa bendabenda tersebut khususnya manik-manik kaca didistribusikan oleh kelompok penutur budaya Austronesia yang bermigrasi ke Nusantara pada masa neolitik akhir, hingga makin meluas memasuki abad sejarah sebagai komoditi dalam perdagangan di Nusantara.

Dari studi etnoarkeologi pada beberapa suku bangsa di Indonesia terlihat masih menggunakan manik-manik dalam kehidupan keseharian mereka. Penggunaah manik - manik tetap dilestarikan karena dalam konteks kebudayaan mereka manik-manik masih dianggap memiliki nilai dan fungsi tertentu. Pemaknaan tersebut lebih mengarah kepada sisi inner value yang terdapat di dalam manik-manik itu sendiri Bentuknya memang kecil, tapi memiliki .daya pikat, pesona dan misteri yang memerlukan perhatian, terutama aspek sosial dan keagamaan dari manik-manik tersebut, sehingga diharapkan dapat memicu penelitian dan telaah yang lebih serius dan mendalam mengenai peranan dan fungsi manik-manik dalam masyarakat dan kebudayaan'di Indonesia.

Orang Sumba memakai manik-manik bukan sekedar perhiasan yang dilingkarkan di leher maupun pergelangan tangan dan kaki namun memiliki banyak fungsi dan makna dalam kehidupan kesehariannya. Sebutan manik-manik bagi orang Sumba maupun secara luas di beberapa suku di daratan Timar menyebutnya dengan nama mutisalah/ mutisalak, digunakan sebagai mas kawin (belis) yang diberikan oleh pihak pengantin laki-laki kepada pihak pengantin perempuan. Penggunaan belis mutisalah ini berlaku umum di semua strata sosial Orang Sumba, pada kenyataannya terdapat perbedaan manik-manik mutisalah yang digunakan sebagai mas kawin untuk setiap strata sosial.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...