Tampilkan postingan dengan label Buku PDF Free Download. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku PDF Free Download. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Agustus 2026

Demokrasi Elektoral Lokal

Judul

:

Demokrasi Elektoral Lokal

Penulis

:

Jemris Fointuna, dkk

Penerbit

:

Komisi Pemilihan Umum Provinsi NTT

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

242

ISBN

:

978-623-6183-93-9

Sumber

:

https://ntt.kpu.go.id/

Download

:

Di Sini


Pemilihan Serentak Tahun 2024 di Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia di tingkat lokal. Dalam konteks wilayah, pemilihan bukan sekadar agenda prosedural, melainkan ruang tempat nilai-nilai demokrasi dipraktikkan dan diuji. Buku ini merekam perjalanan panjang penyelenggaraan pemilihan, mulai dari perencanaan, pemutakhiran data pemilih, pembentukan badan adhoc, hingga proses pemungutan dan penghitungan suara.

Buku ini menghadirkan pembacaan mendalam atas dinamika sosial-politik yang menyertai proses elektoral di Nusa Tenggara Timur. Tantangan geografis di wilayah kepulauan, kompleksitas koordinasi lintas kelembagaan, dinamika partisipasi pemilih, serta strategi pengawasan dan sosialisasi yang adaptif menjadi bagian penting dari analisis ini. Di antara tantangan tersebut, ketersediaan dan kapasitas sumber daya manusia di berbagai wilayah juga memiliki peran krusial, sebab tidak meratanya kompetensi penyelenggara di lapangan kerap memengaruhi kelancaran proses pemilihan. Dengan demikian, setiap bab dalam buku ini tidak hanya menyajikan fakta-fakta empirik, tetapi juga mengurai konteks struktural, institusional, dan kultural yang membentuk praktik penyelenggaraan pemilihan di daerah.

Pendekatan naratif dan reflektif memberi ruang bagi pembaca dapat melihat pemilihan bukan hanya sebagai peristiwa politik, tetapi sebagai proses yang hidup dan terus bergerak. Pemanfaatan teknologi, inovasi sosialisasi, serta penguatan jejaring kelembagaan menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola pemilu yang lebih terbuka, inklusif, dan akuntabel. Buku ini bukan hanya bentuk pertanggungjawaban birokratis, tetapi juga cermin dari bagaimana penyelenggara pemilu bekerja menghadapi kenyataan di lapangan, di mana prinsip-prinsip demokrasi bersinggungan dengan realitas yang ditandai kompleksitas struktural, keragaman geografis, dan dinamika sosial yang diurai.

Senin, 03 Agustus 2026

Seri Pengenalan Nusantara: Kis'ah Rai Hawu di Nusa Tenggara Timur

Judul

:

Seri Pengenalan Nusantara: Kis'ah Rai Hawu di Nusa Tenggara Timur

Penerbit

:

Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata, Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya, Direktorat Tradisi dan Kepercayaan

Tahun Cetak

:

2003

Halaman

:

47

ISBN

:

-

Sumber

:

https://repositori.kemendikdasmen.go.id/

Download

:

Di Sini

 

Proyek Pelestarian dan Pengembangan Tradisi dan Kepercayaan pada tahun anggaran 2003 melaksanakan penerbitan Seri Pengenalan Budaya Nusantara berjudul Kisah Rai Hawu Di Nusa Tenggara Timur. Sumber utama pengemasan buku tersebut adalah dari naskah-naskah hasil penelitian yang telah diinventarisasi oleh Direktorat Tradisi dan Kepercayaan. Selain itu juga dengan memanfaatkan beberapa sumber tertulis yang terkait.

Tujuan penerbitan Seri Pengenalan Budaya Nusantara ini, di samping memberikan lebih banyak altematif bacaan, juga untuk dapat lebih membuka cakrawala masyarakat Indonesia tentang keanekaragaman budaya yang ada. Secara khusus buku bacaan ini ditujukan untuk menambah wawasan anak-anak Indonesia yang majemuk.

Dengan diterbitkannya buku ini, diharapkan pengetahuan anak-anak tentang keanekaragaman budaya Indonesia semakin bertambah. Dengan demikian, kesenjangan budaya dapat makin dipersempit dan jiwa persatuan dan kesatuan dapat diperkokoh.

Isi buku ini terdiri dari kisah-kisah: 1) Pulau Bukit Kapur dan Pohon Lontar di Nusa Tenggara Timur; 2) Dongeng dari Negeri Sawu; 3) Mengenal Udu dan Hubi; 4) Rumah Orang Sawu: 5) Melihat Pulodo Wadu dan Deo Rai: 6) Dari Namata sampai Horafi. 


Selasa, 21 Juli 2026

Liurai, Peran Pemimpin Tradisional dalam Sejarah dan Pembangunan Timor-Leste, Kajian Historis, Kultural, dan Strategis Menuju Negara Berdaulat Berbasis Budaya

Judul

:

Liurai, Peran Pemimpin Tradisional dalam Sejarah dan Pembangunan Timor-Leste, Kajian Historis, Kultural, dan Strategis Menuju Negara Berdaulat Berbasis Budaya

Penulis

:

Salustiano Filipe Ximenes

Penerbit

:

Powered by OpenAI

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

218

ISBN

:

-

Sumber

:

Facebook     

Download

:

Di Sini

 

Dalam pusaran sejarah Timor-Leste yang panjang dan penuh gejolak, para liurai pemimpin tradisional—telah menjadi penopang utama tatanan sosial, budaya, dan spiritual masyarakat. Namun, peran historis dan strategis mereka kerap terpinggirkan dalam narasi resmi negara.

Buku ini hadir sebagai upaya ilmiah dan kultural untuk merekonstruksi secara sistematis dan objektif kontribusi para liurai sejak masa prasejarah, penjajahan Portugis, pendudukan Indonesia, hingga era kemerdekaan. Disusun dalam lima bagian dan enam belas bab, buku ini memadukan pendekatan historis, teori internasional, serta kebijaksanaan lokal yang masih hidup dalam komunitas adat. Lebih dari sekadar telaah akademik, LIURAI adalah manifesto budaya dan politik—sebuah seruan bahwa masa depan Timor-Leste yang berdaulat dan berkeadilan harus dibangun di atas fondasi identitas dan nilai adatnya sendiri.

Sebuah bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin memahami Timor-Leste secara utuh bagi akademisi, pembuat kebijakan, pelajar, dan seluruh rakyat yang mencintai tanah leluhurnya. 


Jumat, 02 Januari 2026

Atlas Sejarah Indonesia: Gubernur Pertama di Indonesia

Judul

:

Atlas Sejarah Indonesia: Gubernur Pertama di Indonesia

Penulis

:

Hendi Johari & Martin Sitompul

Penerbit

:

Direktorat Sejarah – Direktorat Jenderal Kebudayaan - Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI

Tahun Cetak

:

2019

Halaman

:

142

ISBN

:

978-623-7092-09-4

Sumber

:

https://repositori.kemendikdasmen.go.id

Download

:

Di Sini

 

Atlas Sejarah Indonesia: Gubernur Pertama di Indonesia disusun untuk memperkenalkan tokoh yang berjuang di daerah dan menyebarkan semangat kemerdekaan Indonesia serta menata sebuah birokrasi di tengah kondisi politik nasional dan lokal yang belum stabil. Delapan tokoh yang terpilih menjadi gubernur adalah putra-putra terbaik dari daerahnya yang memiliki pengalaman memimpin daerahnya. Para tokoh tersebut adalah Teuku Mohammad Hasan (Sumatra). Soetardjo Kartohadikoesoemo (Jawa Barat). R. Pandji Soeroso (Jawa Tengah), R. M. Soerjo (Jawa Timur), lr. Pangeran M. Noor (Kalimantan), I Gusti Ketut Pudja (Sunda Kecil), G.S.S.J. Ratulangi (Sulawesi), dan Johannes Latuharhary (Maluku). Kisah perjuangan para gubernur pertama dalam menegakkan pemerintahan Indonesia diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kebangsaaan. rela berkorban. dan cinta tanah air pada generasi penerus bangsa.

Penulisan dan penerbitan atlas ini selain sebagai media informasi bagi masyarakat, juga diharapkan dapat menjadi media pembelajaran interaktif bagi siswa di sekolah dan tenaga pendidik, khususnya di bidang kesejarahan. 


Gubernur Pertama di Indonesia

Judul

:

Gubernur Pertama di Indonesia

Penulis

:

Andi Lili Evita, dkk

Penerbit

:

Direktorat Sejarah – Direktorat Jenderal Kebudayaan - Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI

Tahun Cetak

:

2017

Halaman

:

331

ISBN

:

978-602-1289-72-3

Sumber

:

https://repositori.kemendikdasmen.go.id

Download

:

Di Sini

 

Kisah pahlawan nasional secara umum telah banyak ditulis. Namun penulisan kisah pahlawan nasional kali ini akan menekankan peranan tokoh gubernur pertama Republik Indonesia yang menjabat pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia. Para tokoh tersebut adalah Teuku Mohammad Hasan (Sumatra), Soetardjo Kartohadikoesoemo (Jawa Barat), R. Pandji Soeroso (Jawa Tengah), R. M. Soerjo (Jawa Timur), Ir. Pangeran M. Noor (Kalimantan), I Gusti Ketut Pudja (Sunda Kecil), G.S.S.J. Ratulangi (Sulawesi) dan Johannes Latuharhary (Maluku). 

Sebagai gubernur pertama pascaproklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, mereka dihadapkan pada tantangan dan berbagai persoalan besar, baik lokal maupun nasional. Bayangan kembalinya kolonialisme, kondisi politik nasional dan lokal yang belum stabil, sistem hukum dan ketatanegaraan yang belum kuat, menjadi tantangan besar bagi mereka dalam memerintah negara yang baru terbentuk. Oleh karena itu, menarik untuk diungkap bagaimana para tokoh merespon tantangan, menjawab berbagai persoalan dan menghadapi krisis tersebut. Selain peranan mereka dalam kancah politik lokal dan nasional, buku ini menjelaskan sisi humanis tokoh yang penting sebagai inspirasi. 


Marfo-Sintaksis Bahasa Blagar

Judul

:

Marfo-Sintaksis Bahasa Blagar

Penulis

:

Wakidi, dkk

Penerbit

:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI

Tahun Cetak

:

1989

Halaman

:

142

ISBN

:

979-459-043-6

Sumber

:

https://repositori.kemendikdasmen.go.id

Download

:

Di Sini

 

Bahasa Blagar adalah salah satu bahasa daerah di antara tiga belas bahasa daerah yang terdapat di Kepulauan Alor. Propinsi Nusa Tenggara Timur. Ketiga belas bahasa daerah itu adalah (1) bahasa Alor, (2) bahasa Lemma, (3) bahasa Tewa, (4) bahasa Blagar, (5) bahasa Nedebang, (6) bahasa Kelan, (7) bahasa Kabola, (8) bahasa Kui atau Kiraman, (9) bahasa Kafoa, (10) bahasa Abui, (11) bahasa Woisika, (12) bahasa Kolana, dan (13) bahasa Tanglapui (Stokhof, 1982:64).

Wilayah persebaran bahasa Blagar ini tidak begitu luas, yaitu di sebagian besar dari beberapa desa di kecarnatan Pantar dan sebagian kecil di kecamatan Alor Barat Laut. Desa-desa yang merupakan wilayah persebaran bahasa Blagar di kecamatan Pantar adalah desa Batu yang meliputi tiga kampung. yaitu Tuabang, Bikolang, dan Kolijahe. Desa Nule yang meliputi dua kampung, yaitu Nuhawala dan Treweng. Wilayah persebaran bahasa Blagar di kecamatan Alor Barat Laut di desa Reta dan Pura.

Bahasa Blagar ini mempunyai tiga macam dialek yaitu dialek Kolijahe, Pura, dan Reta. Perbedaan dialek mi hanya teijadi dalam kosa kata atau Ieksikolek saja, dan itu pun hanya terbatas pada beberapa kata saja. 


Suluh dalam Akulturasi Masjid Tua Indonesia Timur: Masjid Warisan Budaya di Indonesia Timur


Judul

:

Suluh dalam Akulturasi Masjid Tua Indonesia Timur: Masjid Warisan Budaya di Indonesia Timur

Penulis

:

Isman Pratama Nasution & Pratono

Penerbit

:

Direktorat Pelindungan Kebudayaan - Direktorat Jenderal Kebudayaan - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

186

ISBN

:

978-979-8250-86-6

Sumber

:

https://repositori.kemendikdasmen.go.id

Download

:

Di Sini

 

Buku Suluh dalam Akulturasi Masjid Tua Indonesia Timur: Masjid Warisan Budaya di Indonesia Timur ini memvisualisasikan keelokan dan keunikan serta menarasikan masjid warisan budaya di wilayah Indonesia timur, antara lain Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Ornamen, ukiran di beberapa sudut, bentuk kubah, dan peninggalan masa lalu memiliki cerita tersendiri dari tiap-tiap masjid. Meskipun saat ini beberapa struktur dan arsitektur bangunan masjid telah banyak berubah, kisah panjang pada masa lalu yang terkandung di dalamnya merupakan sumber sejarah yang tak lekang oleh zaman.

Tidak saja difungsikan sebagai tempat beribadah, masjid juga merupakan jembatan yang memediasi masyarakat untuk berkumpul, bermusyawarah, dan melakukan acara adat. Pemanfaatan masjid sebagai sarana menyatukan umat menyiratkan bahwa adat istiadat dan keyakinan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat setempat.

 


Rabu, 24 Desember 2025

Kampung Katong: Membangun dari Kampung

Judul

:

Kampung Katong: Membangun dari Kampung

Penulis

:

Ardy Milik

Penyunting

:

Siti Marfu’ah & Dominggus Elcid Li

Penerbit

:

Yayasan Rimbawan Muda Indonesia Bogor & RMI – The Indonesian Institute for Forest and Environment

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

110

ISBN

:

978-623-10-9868-9

Sumber

:

https://rmibogor.id/

Download

:

Di Sini

 

Buku Kampung Katong – Membangun Dari Kampung menuliskan kiprah orang muda yang “pulang”—bersolidaritas untuk “membangun dari kampung”. Buku ini bercerita tentang segelintir orang muda NTT yang memutuskan “Pulang” untuk merespons keresahan atas apa yang terjadi di kampung. Pulang yang tidak disimplifikasi dengan kehadiran fisik belaka, namun dikerahkannya juga pikiran dan aksi swadaya orang muda untuk mengatasi persoalan di kampungnya dengan pengorganisasian warga aktif sebagai basis gerakan.

RMI-Indonesia Institute for Forest and Environment, selaku organisasi yang berfokus pada isu pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang inklusif dan berkelanjutan, melihat bahwa komunitas seperti Lakoat.Kujawas di Mollo, SimpaSio Institute di Larantuka, dan Kolektif Videoge di Labuan Bajo, berada pada benang merah perjuangan yang sama. Perjuangan tersebut adalah mengupayakan dekolonialisasi melalui reproduksi pengetahuan lokal secara swadaya dan menanggapi permasalahan lokal di wilayah masing-masing.

Dekolonisasi yang diartikan sebagai proses melepaskan diri dari berbagai pengaruh kolonialisme, berupaya memposisikan realita lokal sebagai acuan utama dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi komunitas sehari-hari. Dengan dekolonisasi, pengetahuan dan identitas lokal menjadi kompas dari penyelesaian berbagai permasalahan sosial-lingkungan, budaya, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, hingga keberlanjutan ruang hidup dan penghidupan.

  

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...