Tampilkan postingan dengan label Majalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Majalah. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Desember 2024

Tidak Mudah Menyeret Soeharto

Majalah

:

TEMPO

Judul

:

Tidak Mudah Menyeret Soeharto

No.

:

Edisi 1

Tanggal Terbit

:

7 Desember 1998

ISSN

:

0126-4273

Halaman

:

92

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Ada


Obituari untuk Semanggi (Ignas Kleden), Demonstrasi mahasiswa Indonesia pada November 1998 sudah lebih dari sekedar gerakan moral. Peningkatan dan kesinambungan aksi unjuk rasa itu agaknya lebih tepat disebut sebagai getaran moral. ia menjadi sasmita bahwa kesalahan dan kejahatan bisa selalu dimaafkan, tetapi tidak selalu disembunyikan dengan terus-menerus mendiamkannya. kebajikan mungkin menjadi besar kalau disembunyikan di balik pitu terkunci, tetapi kesalahan dan penyelewengan pastilah menjadi kecil kalau diakui di depan khalayak.


Senin, 14 Oktober 2024

Pengakuan Algojo 1965

Majalah

:

TEMPO

Judul

:

Pengakuan Algojo 1965

No.

:

Liputan Khusus

Tanggal Terbit

:

7 Oktober 2012

ISSN

:

0126-4273

Halaman

:

162

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Kosong

 

Sejarah kelam pembantaian orang-orang Partai Komunis Indonesia hidup kembali melalui film The Act of Killing (Jagal) karya sutradara Amerika Serikat, Joshua Oppenheimer, yang diputar di Festival Film Toronto, Agustus lalu. Film ini memuat pengakuan algojo Anwar Congo. Tempo mencoba melihat peristiwa tragis itu dari prespektif para pembantai. Liputan khusus kali ini juga dilengkapi penelusuran ulang terhadap kamp-kamp kosentrasi yang didirikan militer di Pulau Buru, Plantungan, dan Moncongloe. Pelacakan juga kami lakukan terhadap ladang-ladang pembantaian PKI.

Dalam majalah ini terdapat dua bagian yang mengisahkan pembantaian di Nusa Tenggara Timur yaitu 1) Komando Operasi, Tuhan Allah di Maumere, jika ada satu tahanan lolos, dua algojo yang dianggap lalai menjadi korban pengganti, dan 2) Bapa Tengkorak Keluarga pun harus dibunuh.

 

Kamis, 20 Juni 2024

Malapetaka Nasional di Maumere

Majalah

:

TEMPO

Judul

:

Malapetaka Nasional di Maumere

No.

:

43 Tahun XXII

Tanggal Terbit

:

26 Desember 1992

ISSN

:

0226-4273

Halaman

:

108

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Ada

 

Setelah gempa dahsyat disusul badai tsunami menerjang pulau itu Flores, barangkali lebih tepat disebut pulau yang sedang menderita. Empat kabupaten di sana, Sikka, Ngada, Ende dan Flores Timur, seakan berhenti berdetak.

Menurut catatan posko penanggulangan bencana di daerah itu, sampai akhir pekan lalu. Korban yang tewas sudah lebih dari 2.400 orang. Gempa dan gelombang tsunami itu mengakibatkan sekitar 18 ribu rumah hancur, 113 sekolah porak-poranda, 211 kantor rusak berat, 120 tempat ibadah -sebagian besar diantaranya gereja- tak lagi bisa dipakai, dan lima jalan utama lumpuh. Ini bukan lagi kepalang tanggung. Menurut taksiran sementara kerugian mencapai Rp. 200 milyar. Karena itu, ada yang bilang, kondisi kabupaten ini sekarang mundur ke Pelita pertama. Inilah gempa bumi dengan korban terbesar sepanjang serah republik ini. 


Jumat, 02 Februari 2024

Philipus Mengaku “Saya yang bersalah hukumlah saya. Jangan ganggu warga Flores.”

Majalah

:

GATRA

Judul

:

Philipus Mengaku “Saya yang bersalah hukumlah saya. Jangan ganggu warga Flores.”

No.

:

49 Tahun I

Tanggal Terbit

:

21 Oktober 1995

ISSN

:

0853-1706

Halaman

:

112

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Ada

 

Pembantaian keluarga Rohadi di Bambu Apus, Jakarta Timur, melibatkan bocah ingusan. Polisi terperangah. Tiga bocah itu, sebut saja namanya Albo, Clay dan Lambo. Berusia antara 13 dan 15 tahun, mereka resmi dinyatakan oleh polisi jadi tersangka pembunuhan keluarga Rohadi. Otak pelakunya adalah Philipus Kia Ledjab alias Om Kia, tidak lain ayah Albo sekaligus paman Clay dan Lambo.

Philipus lahir di Watuwawar, Kecamatan Atadei, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. 46 tahun silam. Pada usia 15 tahun, Philipus yang mengenyam pendidikan kelas III SD ini merantau dan menetap di Tanjungpriok, Jakarta Utara. Ia menyunting Suparmi, gadis Jawa, yang memberinya empat anak. 


Selasa, 07 Februari 2023

Heboh Nobel Belo & Horta

Majalah

:

GATRA

Judul

:

Heboh Nobel Belo & Horta

No.

:

49 Tahun II

Tanggal Terbit

:

19 Oktober 1996

ISSN

:

9770853170601

Halaman

:

112

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Ada


Tak terlihat ada perasaan yang meluap pada diri Uskup Dili Carlos Filipe Ximenes Belo, 48 tahun. Ketika menghadapi serombongan wartawan yang bertamu ke kediamannya di Bidau Lecidere, Dili, Jumat malam, wajah Uskup Belo datar saja, hanya ada senyum tipisnya yang khas. Padahal, rohaniawan Tinor Timur itu baru saja dinyatakan sebagai salah seorang peraih Hadiah Nobel Perdamaian 1996, suatu hal yang tak semua orang bisa memimpikannya. 


Teroris Tim-Tim dari Demak

Majalah

:

GATRA

Judul

:

Teroris Tim-Tim dari Demak

No.

:

49 Tahun III

Tanggal Terbit

:

25 Oktober 1997

ISSN

:

9770853170601

Halaman

:

118

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Ada

 

Terorisme membayangi Indonesia. Sebuah “rahasia militer” baru saja diungkapkan Komendan Komando Resor Militer (Danrem) Wira Dharma, Timor Timur, Kolonel Slamat Sidabutar. Di markas Korem Wira Dharma, Sabtu dua pekan lalu, Slamat mengungkap tertangkapnya dua pemuda Timor Timur yang berusaha menyelundupkan 20 bom ke provinsi termuda di Indonesia itu.

Dari mulut dua pemuda yang tertangkap itu, petugas keamanan mengetahui bahwa di negeri ini telah lahir bentuk gerakan baru kelompok antiintegrasi di Timor Timur. Atas bimbingan seorang bule warga negara Australia, mereka merakit bom di Demak, Jawa Tengah. 


Siapa Pemicu Sara, “Masyarakat Timor Timur tak mau banyak orang dari luar di sini.”

Majalah

:

GATRA

Judul

:

Siapa Pemicu Sara, “Masyarakat Timor Timur tak mau banyak orang dari luar di sini.”

No.

:

45 Tahun I

Tanggal Terbit

:

23 September 1995

ISSN

:

9770853170601

Halaman

:

112

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Ada


Los-los di Pasar Comoro, Dili, sampai akhir pekan lalu, masih kosong melompong. Yang tersisa hanya puing bangunan yang hangus, gosong, porak-poranda. Perannya sebagai pusat  perdagangan di Dili Selatan sementara ini tamat. Maka Ana Vinceti, 47 tahun, dan segelintir pedagang lainnya harus menggelar sayur mayur di pinggir jalan di depan pasar. Wajah mereka lesu. Pemasok banyak yang menghilang dan pembeli pun enggan datang. “Tolong sampaikan kepada Gubernur agar pasar ini dibangun lagi,” ujur Ana.

Pasar Comoro ludes di mangsa api. Sabtu subuh 9 September lalu. Sebagai buntut kerusuhan yang marak sehari sebelumnya. Lokasi perdagangan ini menjadi sasaran amuk sejumlah pemuda Dili karena dianggap lambang “supremasi” kaum pendatang. Sebagian besar pemilik dari sekitar 200 kios dan toko di pasar itu memang pendatang. Sebagian besar itu pendatang. Kerusuhan yang melanda Dili itu dibangkitkan sentimen suku dan agama. Menurut terminologi Pemerintah, ia digolongkan kerusuhan SARA (suku, agama, ras dan antar golongan).


Jumat, 03 Februari 2023

Timor Timur “Thank You Good Bye”

Majalah

:

FORUM

Judul

:

Timor Timur “Thank You Good Bye”

No.

:

22 Tahun VII

Tanggal Terbit

:

8 Februari 1999

ISSN

:

0215-8280

Halaman

:

94

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Ada


Setelah 22 tahun bersitegang, pemerintah akhirnya menyerah dan menawarkan alternatif kemerdekaan penuh bagi Timor Timur. Tapi, tawaran itu malah dianggap menimbulkan masalah baru bagi rakyat di sana.

Jumat pagi pekan silam, puluhan pemuda prointegrasi yang tergabung dalam kelompok Mahidi (Mati Hidup dengan Integrasi), FPTT (Forum Persatuan Timor Timur) dan FPDK (Forum Persatuan, Demokrasi dan Keadilan) berkumpul di Hotel Mahkota, Dili. Kelompok pemuda yang menghendaki otonomi itu sedang berdialog dengan Kolonel Suratman, Komandan Korem 164/Wira Dharma, tentang persatuan, demokrasi dan keadilan bagi rakyat Timor Timur. 


Frans Seda di Belakang Megawati

Majalah

:

FORUM

Judul

:

Frans Seda di Belakang Megawati

No.

:

23

Tanggal Terbit

:

9 September 2001

ISSN

:

9770215828003

Halaman

:

90

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Ada

 

Secara formal Presiden Megawati tak punya “tim penasihat” kepresidenan. Tapi, kabarnya, ia punya penasihat utama yang bermain di belakang layar. Orang itu adalah Franciscus Xaverius Seda, seorang politisi tua yang punya pengalaman dalam masa pemerintahan Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Frans Seda – begitu namanya biasa disebut – kini sudah berusia 75 tahun. Tapi penampilannya masih sangat gesit dan gaya bicaranya blak-blakan. Namun, benarkah ia kini menjadi think tank Presiden Magawati? Benarkah ia yang memberikan nasihat sewaktu Megawati membentuk Kabinet Gotong Royong? Kamis, 30 Agustus lalu, wartawan FORUM Syatrya Utama, Lutfi Yusniar, Yadi Hendriana, dan Andrianto Soekarnen mewawancarai Frans Seda di ruangan kerjanya di Wisma Penta, Jakarta. 


Fabianus Tibo “Jagal Poso” di Tangkap

Majalah

:

FORUM

Judul

:

Fabianus Tibo “Jagal Poso” di Tangkap

No.

:

18 Tahun IX

Tanggal Terbit

:

6 Agustus 2000

ISSN

:

02158280

Halaman

:

90

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Ada

 

Fabianus Tibo, tokoh yang disebut-sebut sebagai otak pembantaian ratusan muslim di Poso, dibekuk. Akankah kerusuhan di Poso mereda?

Rupanya, Fabianus Tibo benar-benar kelelahan. Selasa, 25 juli lalu, tidurnya lelap setelah sejak sore hari hingga sekitar pukul 04.00 mengadakan pertemuan dengan sejumlah anak buahnya. Karena itulah ia tak menyadari ketika sekitar 17 anggota tentara Satuan Tugas Cinta Damai pimpinan Kapten Inf. Agus Firman Yuswono mengendap-endap mendekati tempat persembunyiannya, di rumah Kepala Desa Jamur Jaya, Kecamatan Lembo (Beteleme), Kabupaten Marowali, Poso, Sulawesi Tengah.

Perkiraan Agus, pastilah Tibo kelelahan setelah begadang semalam suntuk. Tanpa melawan, Tibo akhirnya menyerah. “TNI datang dan mengetuk pintu. Kepala Desa membangunkan saya. Saya turun ke bawah, langsung berpegang tangan dengan aparat,” kata Tibo.

 

Jumat, 27 Januari 2023

Siapa di Balik Tragedi Kupang

Majalah

:

FORUM

Judul

:

Siapa di Balik Tragedi Kupang

No.

:

19 Tahun VII

Tanggal Terbit

:

28 Desember 1998

ISSN

:

0215-8280

Halaman

:

94

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Kosong


Badai tropis wajar terjadi di Nusantara. Bahkan ia menjadi pertamda musim berganti. Namun, badai amuk massa berbau SARA yang melanda di tengah pergantian musim reformasi Republik ini, tak pelak lagi, terasa mencemaskan. Sebab, dalam kurun waktu kurang dari sebulan, serentetan kerusuhan yang terjadi telah mengakibatkan paras Ibu Pertiwi kusut masai.

Badai pertama menghantam Jakarta, 22 November 1998. Awalnya hanya sepele: warga Jalan Ketapang dipukuli preman yang menjaga tempat perjudian C&C. dalam tauran yang menyusul kemudian, sebuah mesjid di Jalan Pembangunan I terkena lemparan batu. Celakanya, kabar yang kemudian bertiup mesjid dibakar. Kemarahan umat Islam pun tersulut. Ribuan orang berdatangan dari berbagai penjuru kota. Kerusuhan pun meletus tanpa bisa dicegah. Akibatnya sedikitnya 10 gereja, dua sekolah, puluhan toko dan mobil dirusak serta dibakar massa.

Senin, 30 November 1998, Kupang porak-poranda akibat huru-hara yang berbau sentimen agama. Perristiwa itu bermula dari acara perkabungan yang berkaitan dengan kerusuhan di Ketapang, Jakarta.


Heboh Kaset Theo Syafei

Majalah

:

GATRA

Judul

:

Heboh Kaset Theo Syafei

No.

:

9 Tahun V

Tanggal Terbit

:

16 Januari 1999

ISSN

:

9770853170601

Halaman

:

98

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Kosong

 

Ceramah Theo Syafei yang mengatakan bahwa  sejumlah ormas Islam berniat membangun negara Islam mendapat reaksi keras. Jalur hukum sedang ditempuh. Namun, kemungkinan perdamaian juga terbuka.

Yang menjadi pangkal persoalan ialah beredarnya kaset rekaman ceramah Theo. Dalam pita rekaman itu tak ada keterangan tempat. Konon, di Anyer, Jaea Barat. Tapi waktunya agak jelas, sekitar awal September lalu. Dalam ceramahnya tersebut. Theo membuat analisis tentang peran umat Islam dalam kancah politik Indonesia. Setelah mencoba mengurai sejarah Indonesia, ia sampai pada kesimpulan bahwa organisasi-organisasi Islam berkehendak mendirikan negara Islam.

Kaset itu juga disebut-sebut memberikan inspirasi kepada sekelompok umat Kristen di Kupang, yang 30 November 1998 silam merusak dan membakar madrasah, mesjid dan asrama haji. Ribuan warga muslim yang selama ini hidup damai harus mengungsi. Lalu Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Nusa Tenggara Timur menemukan kaset rekaman itu telah beredar luas di Kupang sebelum terjadi kerusuhan.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...