Tampilkan postingan dengan label Buku Rote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Rote. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 November 2025

Anthology of Asean Literatures: Oral Literature of Indonesia (Indonesian Edition)

Judul

:

Anthology of Asean Literatures: Oral Literature of Indonesia (Indonesian Edition)

Penyunting

:

Subagio Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono & A. Kasim Achmad

Penerbit

:

The ASEAN Committee on Culture and Information

Tahun Cetak

:

1983

Halaman

:

499

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 125.000

Status

:

Ada

 

Sastra lisan merupakan langkah pertama ke arah bentuk pengucapan sastra yang lebih arif. Menurut sejarahnya, sastra lisan itu adalah jenis sastra yang harus kita ketengahkan sebelum kita memasuki daerah khas sastra, yakni daerah sastra tertulis, Indonesia mempunyai tradisi sastra tertulis yang lama, tetapi untuk memperoleh pengetahuan yang lengkap tentang kesusestraan pada umumnya sastra lisan harus diperlakukan sebagai salah satu bagiannya yang penting. Jilid pertama antologi ASEAN mengenai kesustraan Indonesia mengajukan sastra lisan yang berasal dari berbagai daerah di kepulauan Indonesia.

Dilihat dari sudut kebudayaan, sastra lisan adalah pengucapan yang langsung dan serta merta dari jiwa rakyat biasa yang merupakan lapisan bawah masyarakat. Karena itu persamaan dalam tema dan gaya dapat ditemukan di antara sastra lisan yang berasal dari daerah yang berlainan. Dapat di duga bahwa kesamaan-kesamaan itu mungkin ada, tidak saja di dalam wilayah Indoensia, tetapi juga di dalam lingkungan ASEAN. Perbandingan antara cerita rakyat, jenis-jenis puisi, teka-teki dan peribahasa yang ada dalam sastra lisan di negara-negara ASEAN tentu akan menghasilkan keterangan yang menarik mengenai kaitan budaya dan sastra bangsa-bangsa kita.

Kumpulan sastra lisan ini meliputi wilayah yang seluas-luasnya: dari sebelah barat, Sumatra (Aceh, Batak, Minangkabau, Riua), Jawa, Banjar, Bugis sampai ke bagian Indonesia yang paling timur, Irian Jaya (Maluku, Irian); dari selatan Roti (Rote), sampai daerah paling utara, Sulawesi (Gorontalo). 


Etos Kerja dan Kohesi Sosial: Masyarakat Sumba, Rote, Sabu dan Timor Propinsi Nusa Tenggara Timur

Judul

:

Etos Kerja dan Kohesi Sosial: Masyarakat Sumba, Rote, Sabu dan Timor Propinsi Nusa Tenggara Timur

Penulis

:

Mubyarto dkk.

Penerbit

:

Aditya Media & P3PK - UGM

Tahun Cetak

:

1991

Halaman

:

195

ISBN

:

979-539-013-9

Harga

:

Rp. 100.000

Status

:

Ada

 

Indonesia Bagian Timur adalah masa depan Indonesia. Di sana tersimpan banyak potensi dan adalah tanggung jawab nasional untuk membangunkan potensi “tidur” itu.

Buku ini adalah terbitan kedua, seri tentang Indonesia Bagian Timur, diangkat dari penelitian P3PK UGM. Buku pertama Desa-Desa Perbatasan di Kalimantan Timur, ternyata mendapatkan banyak perhatian masyarakat, ini menunjukkan bahwa informasi tetang Indonesia Bagian Timur memang benar-benar telah menjadi kebutuhan, bukan hanya bagi kalangan khusus perancang pembangunan – atau sekelompok kecil akademisi yang tengah mengkajinya -  tetapi juga bagi kalangan luas: birokrat, investor maupun calon investor, top manager atau middle manager - BUMN maupun perusahaan swasta besar – pekerja atau calon pekerja terdidik – termasuk mahasiswa – dan pemerhati lainnya.

Kesimpulan dari buku ini tidak sekedar membenarkan tesis Weber dalam Protestant Ethic and Spirit of Capitalism bahwa etos kerja suatu etnik atau bangsa sangat dipengaruhi oleh kepercayaan yang mereka anut, tetapi lebih dari itu bahwa etos kerja juga merupakan fenomena sosialogi yang sangat dipengaruhi oleh fungsi-fungsi ekonomis. 


Minggu, 19 Oktober 2025

Mengenal Gerson Mengenang Umbu: Esai-esai tentang Gerson Poyk dan Umbu Landu Paranggi

Judul

:

Mengenal Gerson Mengenang Umbu: Esai-esai tentang Gerson Poyk dan Umbu Landu Paranggi

Penulis

:

Robertus Fahik

Penerbit

:

Jejak Pustaka

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

82

ISBN

:

978-623-524-213-2

Harga

:

Rp. 55.000

Status

:

Kosong

 

Buku ini tidak sekadar membaringkan kekaguman Robby Fahik atas karya-karya kedua sastrawan ini, tapi merupakan bentuk testimoni ilmiah setelah bercumbu dengan karya dua sastrawan ini. Buku ini memungkinkan kita bercanda lagi dengan Umbu dan Gerson, meski mereka telah tiada. Sebab, buku kata Foucault, merupakan bentuk lain dari arkeologi pengetahuan yang merawat pemikiran, pengetahuan, dan peradaban.

Bagi saya, buku ini semacam “tugu” yang mengabadikan dua tokoh besar. Tentu, tidak berhala kepada karya-karya mereka, tetapi, karya-karya Umbu Landu Paranggi dan Gerson Poyk setidaknya menjadi kemenyan yang mengingatkan kita tentang kesungguhan berkarya dan bagaimana menerima hidup secara indah dan wafat meninggalkan keindahan. Singkat, kita kenang karena kita senang. (Dr. Marselus Robot, M.Si., Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana)

Buku ini berisi 10 esai yang secara khusus membicarakan dua sosok sastrawan Indonesia kelahiran Nusa Tenggara Timur, Gerson Poyk (1931-2017) & Umbu Landu Paranggi (1943-2021). Keduanya merupakan nama penting dalam barisan sastrawan Indonesia, dan karya-karya mereka telah memberi warna dalam perjalanan sastra di Indonesia. Untuk itu, penting kiranya bagi generasi muda untuk mengenal & mengenang dua tokoh sastrawan tersebut, setidaknya demikian pulalah harapan penulis buku ini, @robertus_fahik 


Sabtu, 11 Oktober 2025

Nusantara Bernyanyi 7ꓽ Lagu-Lagu Daerah NTT Selain Flores

Judul

:

Nusantara Bernyanyi 7 Lagu-Lagu Daerah NTT Selain Flores

Penyusun

:

Karl-Edmund Prier

Penerbit

:

Pusat Musik Liturgi

Tahun Cetak

:

2006

Halaman

:

122

ISBN

:

979-8133-32-3

Harga

:

Rp. 90.000

Status

:

Ada


Jilid 7 dari Seri Nusantara Bernyanyi memuat 88 lagu dari NTT selain Flores (lihat jilid 6), yakni dari Sumba (10 lagu), Sawu (7 lagu), Rote (8 lagu), Timor (49 lagu), Alor (14 lagu).

Seperti halnya dalam jilid-jilid sebelumnya, begitu pula kali ini kebanyakan lagu ini dikumpulkan oleh team Pusat Musik Liturgi waktu berlokakarya komposisi: 1986 di Betun – TTU, 1989 dan 1997 di Atambua – TTU, 1989 di Katikuloku – Sumba, 2001 di Weetabula – Sumba, 2002 di Kalabahi – Alor, 2003 di Rote dan bersambung di Mataloko, 2006 di Camplong – TTS. Sedangkan lagu ‘O Nawanni Tana’, ‘Mana Lolo Banda’ dan ‘O Bete’ kami peroleh dari buku “Flobamor” susunan Bp Apoli Bala; lagu ‘Moen Naijufe’, ‘Kaisa ‘Mbeke’, ‘Asa Moruk’ dan “Ensiklopedi Budaya NTT” terbitan Dinas P&K NTT. Terima kasih atas izin untuk memuat lagu tsb. Dalam buku Nusantara Bernyanyi jilid 7 ini.

Buku ini menyajikan lagu daerah dengan satu suara saja. Untuk sejumlah lagu tersedia pula aransemen paduan suara. Tujuan buku ini tak lain kecuali untuk melestarikan lagu-lagu daerah asli, khususnya lagu yang sudah hampir dilupakan/dipojokkan oleh lagu pop daerah. Kami yakin lagu-lagu ini penting untuk mencari identitas/ciri khas dari suku masing-masing yang ada dalam bahaya menjadi samar-samar. Padahal justru ciri khas dari masing-masing daerah akan membentuk musik Indonesia menjadi “bhinneka tunggal ika”, menjadi bunga rampai yang berwarna-warni. Semoga. 


Minggu, 28 September 2025

Cendana Mewangi di Nusakdale

Judul

:

Cendana Mewangi di Nusakdale

Penulis

:

C.Z. Doepe

Penerbit

:

PT. Penebar Swadaya

Tahun Cetak

:

1996

Halaman

:

88

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 35.000

Status

:

Ada

 

Setelah bersalaman hangat dengan Pakde dan Oom John, Pak Camat berbalik dan berucap, “Dan ini tentu Ari, ya,” lalu maju merangkul anak itu, “kau persis kakakku yang menghilang itu!”

Dengan Lisa dan Fance – putri dan putra paman – Ari berkenalan dan berjabatan tangan dengan malu-malu.

Beberapa saat sesudah itu, mobil jip telah meluncur menuju rumah paman di Nusakdale. Bibi menyambutnya dengan hangat penuh kasih sayang. Ketika duduk santai di ruang tamu, hidung Ari mengembang-mengempis. Dia sedang memba-baui harumnya cendana di ruang yang sejuk itu.

“Dari mana bau seharum ini?” tanyanya pada kedua saudaranya. 

Senin, 04 Agustus 2025

A Bibliography of Timor: Including East (formerly Portuguese) Timor West (formerly Dutch) Timor and the Island of Roti

Judul

:

A Bibliography of Timor: Including East (formerly Portuguese) Timor West (formerly Dutch) Timor and the Island of Roti

Penulis

:

Kevin Sherlock

Penerbit

:

The Australian National University

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

1980

Halaman

:

292

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 300. 000

Status

:

Kosong

 

This excellent bibliography by Kevin Sherlock will undoubtedly provide a major stimulus to the further study of the island of Timor. Compiled to cover all aspect of the island from its geology to the poetry of its people, this volume offers an invaluable starting point for potential research as well as a secure and authoritative source on the history of past schokarship. In preparing this work, Kevin Sherlock joins the diverse ranks of those who, fascinated by Timor, have contributed to our knowledge of the island. His bibliography is itself a record of this increasing comprehension.

Early Chinese references to Timor which began during the Yuan dynasty of the 12th and 13th century desribed Timor as a distant source of precious sandalwood. Somewhat later, Timor was named as a region of the realm of Majapahit in the old Javanese panegyric known as the Negara Kartagama. By the early 15th century, Timor was noted as one of the islands linked by trade with Malacca. More substansial information came from the first voyage around the world: Pigafetta, who sailed on the Vikctoria, the only ship of Magellan’s fleet to complete the circum navigation of the globe, and who actually landed on the north coast of Timor in 1522, included a brief description of Timor in the record of his journey. Within less than fifty years, however, reguler Portuguese accounts of Timor began appear and to become more informative.

This bibliography admirably document the continuity of the Portuguesse presence and the development of an important tradition of scholarship dealing with the island. Yet on of the remarkable features of the study of Timoris the number of other distinguished contributions, in various languages, that have market Timor as an area of special interest. A few of these contributions are worth mentioing.

  

Jumat, 01 November 2024

Dominee Markus Michael Ngefak, Garis Waktu Kekristenan di Timor

Judul

:

Dominee Markus Michael Ngefak, Garis Waktu Kekristenan di Timor

Penulis

:

Samuel Henk van Ngefak, S.Kom.

Penerbit

:

Diandra Creative

Tahun Cetak

:

2024

Halaman

:

380

ISBN

:

978-623-240-820-3

Harga

:

Rp. 145.000

Status

:

Kosong

 

Ds. Markus Michael Ngefak seorang pribumi Rote yang lahir dalam tradisi Dinitiu di Oeboka pada tanggal 12 Maret 1884 dari ayah seorang Panglima Perang (Palani) Nusa Bilba. Kehidupannya berubah setelah Palani menerima kekeristenan dan seluruh keluarga ikut dibaptis. Ds. M. M. Ngefak dapat mengenyam pendidikan formal dan menjadi lulusan pertama dari STOVIL Ba'a 1902, kemudian bertugas pada beberapa tempat di wilayah Residen Timor sebagai Inlandsch Leraar mulai dari Babau, Kupang, Alor, Rote dan kembali ke Kupang. Kisah di Alor adalah salah satu kisah yang paling menginspirasi dalam sejarah Gereja Timor dalam hal penginjilan serta berkali-kali selamat dari maut.

Ds. M. M. Ngefak memiliki rekam jejak panjang dalam perjuangan politik dan pergerakan nasional di Timor, Ia mendirikan organisasi Kristen pertama di Timor dengan nama Thalita Koemi, kemudian ia mendirikan lagi sebuah organisasi perjuangan yakni Timor Damba salah satu yang terbesar di Timor pada medio 1930-an. Selain memimpin organisasi politik dengan pangkatnya sebagai de Eerste Inlandsch Lelaar ia juga mengajar di STOVIL Kupang.

Atas karya pelayanannya ia mendapatkan anugerah Satya Lencana de Kleine Zilveren Ster dari pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 1932, menjadikannya satu-satunya guru agama di Residen Timor yang pernah mendapat penghargaan ini.

Setelah melayani 10 tahun ia mendapatkan kewenangan memimpin sakramen dan ditempatkan sebagai Guru Jemaat pada Jemaat Otonom Kota Kupang; pada 1936 ia diangkat untuk memimpin jemaat Gemeente Kupang bersamaan dengan dimulainya upaya kemandirian Gereja Timor. Selama memimpin Jemaat Otonom Kota Kupang inilah namanya tercatat dalam berita koran-koran Nasional terkait acara-acara penting yang terjadi di Kota Kupang.

Banyak tantangan di jemaat, keluarga, masyarakat maupun dinamika politik yang terjadi; khususnya saat pendudukan Jepang yang memaksanya untuk evakuasi ke Rote, tak ada lagi catatan tertulis tentang Ds. M. M. Ngefak di Rote kecuali cerita dan dokumen keluarga. Di masa sulit inilah anak-anak dari Ds. M. M. Ngefak mulai mengambil bagian dalam kisah yang lebih besar pada perkembangan Gereja Timor.

Tahun 1947 Ds. M. M. Ngefak kembali memimpin Jemaat Otonom Kota Kupang untuk yang terakhir kalinya dan turut serta dalam pendirian GMIT untuk disahkan oleh Kerkbestuur pada tahun 1948, selepas tugas ini ia pun Emiritus pada Agustus 1948. Tahun 1948 adalah satu-satunya tahun yang tercatat dalam Gereja Kota Kupang perihal pelayanan Ds. M. M. Ngefak di jemaat tersebut, tidak ada sejarah yang tersisa dari pelayanan Ds. M. M. Ngefak dari masa sebelumnya. Selepas emiritus Ds. M. M. Ngefak kembali ke kampung halaman di Oeboka dan menghabiskan masa tua bersama isteri tercinta Paulina Elisabeth Manafe hingga ia menutup usia di tahun 1955.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...