
Judul
|
:
|
Senjata Kami adalah Upacara Adat: Ungkapan Pelambang dan
Mantra Nausus, Perempuan Pembela HAM-Lingkungan
|
Penulis
|
:
|
Aleta Baun, dkk
|
Penerbit
|
:
|
Insist Press
|
Tahun Cetak
|
:
|
2025
|
Halaman
|
:
|
126
|
ISBN
|
:
|
978-623-6179-31-4
|
Harga
|
:
|
Rp. 73.000
|
Status
|
:
|
Kosong
|
Senjata Kami adalah Upacara Adat
merupakan suara lima Nausus—perempuan pejuang tanah airnya yang berdiri di
garda depan melawan perusakan alam dan perampasan ruang hidup rakyat. Dari
gunung batu Mollo yang dilindungi Mama Aleta, kebun sorgum yang dirintis Maria
Loretha di Adonara, pulau Sangihe yang dibela Jull Takaliuang, hutan Gunung
Kerasik yang dijaga Mardiana, sampai alam pegunungan Kendeng yang dipanggil
ikut berjuang bersama Gunarti dengan doa dan pelambang tubuh-alam.
Buku ini lahir dari proses panen
pengetahuan, menggali kebijaksanaan yang tertanam dalam ingatan, tubuh, dan
laku, oleh mereka sendiri, dan tampil dalam bentuk ungkapan kata-kata. Di sini,
ungkapan pelambang dan mantra menjadi senjata budaya perempuan dalam merawat
kehidupan, menyemai harapan, dan meneruskan perlawanan.
Kisah dari NTT yaitu dari Pulau
Adonara, Maria Loretha memilih memulihkan martabat sorgum, pangan lokal yang
hampir terlupakan sejak politik beras dominan pada masa Orde Baru. Ia
membuktikan bahwa menanam yang lokal adalah jalan untuk bertahan dari ancaman
kelaparan. “Mintakan kepada alam, maka akan diberikan tempat surga,” seruan
yang sangat kuat. Dan Aleta Baun dari Timor, menjadi ikon gerakan perempuan
adat. Dari sebutan Perempuan Nausun ‒ perempuan menyusui, kita melihat metafora
yang sama antara tubuh perempuan dan alam. Keduanya melahirkan, merawat, dan
menjaga keberlangsungan. Di titik itulah ekofeminisme hadir secara alami,
ketika tubuh perempuan dan tubuh alam sama-sama disakiti, maka kehancuran akan
dirasakan bersama.