Tampilkan postingan dengan label Buku Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Bahasa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Oktober 2026

Babarapa Panton Bagi Anakh, Terkarang dalam Bahasa Wolanda dan Tersalin Kepada Bahasa Malajuw

Judul

:

Babarapa Panton Bagi Anakh, Terkarang dalam Bahasa Wolanda dan Tersalin Kepada Bahasa Malajuw

Penulis & Penerjemah

:

Hieronomus Van Alphen & G. Hejmering

Penerbit

:

Tertara di Timor Kupang

Tahun Cetak

:

1838

Halaman

:

71

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 50.000

Status

:

Ada

 

Adalah salah satu karya sastra klasik era kolonial yang merupakan adaptasi atau penerjemahan puisi-puisi pendek (lazimnya berupa sajak anak-anak atau kindergedichten dari bahasa Belanda) ke dalam bentuk pantun atau syair berbahasa Melayu Klasik. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, para orientalis Belanda dan sastrawan lokal banyak melakukan penyalinan silang ini untuk digunakan sebagai sarana pendidikan moral, hiburan, serta pengajaran bahasa bagi anak-anak di sekolah-sekolah Hindia Belanda.

Buku yang dicetak di Timor Kupang pada tahun 1838. Buku ini merupakan salah satu rekam jejak bersejarah mengenai kegiatan percetakan, penerbitan, dan literasi anak di Kupang pada paruh awal abad ke-19. Harga Belinya saat Tertera seharga Satengah Ropija (Setengah Rupiah).


Sabtu, 12 September 2026

Na Pangiarangu, Cerita Impian, Bahasa Kambera-Bahasa Indonesia

Judul

:

Na Pangiarangu, Cerita Impian, Bahasa Kambera-Bahasa Indonesia

Penulis

:

Yunitha May Atanumba

Ilustraror

:

Kartika Sari Dewi

Penerbit

:

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

22

ISBN

:

-

Harga

:

NFS

Status

:

Kosong

 

Buku cerita ini dipersembahkan untuk kalian. Kalian dapat menyimak atau membaca cerita-cerita yang menarik tentang Provinsi Nusa Tenggara Timur di dalamnya. Buku-buku ini mengajak kalian untuk mengenal, mengingat dan memahami Nusa Tenggara Timur. Ilustrasi yang bagus juga akan membantu kalian memahami jalan cerita. Semoga kalian menyukai buku-buku ini dan makin gemar membaca. (Elis Setiati, S.Pd, M.Hum – Kepala Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur)

Bahasa Kambera (sering juga disebut Bahasa Sumba Timur) adalah salah satu bahasa daerah yang dituturkan oleh suku Sumba di wilayah timur Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Karena pusat pemerintahan dan ekonomi Sumba Timur berada di Waingapu, dialek Kambera ini berkembang menjadi bahasa penghubung (lingua franca) utama di wilayah tersebut.


Mamulai E Nama Gala Moling, Bermain atau Membantu?, Bahasa Retta-Bahasa Indonesia

Judul

:

Mamulai E Nama Gala Moling, Bermain atau Membantu?, Bahasa Retta-Bahasa Indonesia

Penulis

:

Imanuel Yoel Sulumasi

Ilustraror

:

Karlina

Penerbit

:

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

21

ISBN

:

-

Harga

:

NFS

Status

:

Kosong

 

Buku cerita ini dipersembahkan untuk kalian. Kalian dapat menyimak atau membaca cerita-cerita yang menarik tentang Provinsi Nusa Tenggara Timur di dalamnya. Buku-buku ini mengajak kalian untuk mengenal, mengingat dan memahami Nusa Tenggara Timur. Ilustrasi yang bagus juga akan membantu kalian memahami jalan cerita. Semoga kalian menyukai buku-buku ini dan makin gemar membaca. (Elis Setiati, S.Pd, M.Hum – Kepala Kantor Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Timur)

Bahasa Retta (atau sering ditulis Reta) adalah salah satu bahasa daerah yang dituturkan oleh masyarakat di wilayah Kepulauan Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). 


Rabu, 24 Juni 2026

Mengenal Budaya dan Bahasa Masyarakat Suku Krowe Sika di Kabupaten Sikka Propinsi NTT

Judul

:

Mengenal Budaya dan Bahasa Masyarakat Suku Krowe Sika di Kabupaten Sikka Propinsi NTT

Penulis

:

Paulina Nona

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

152

ISBN

:

978-623-6724-43-9

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong

 

Buku ini merupakan warisan budaya yang sangat berharga dari generasi pendahulu kepada generasi penerus. Sejak dahulu, budaya, bahasa, dan nilai-nilai kearifan lokal diwariskan secara lisan melalui kehidupan keluarga—dari orang tua dan kakek nenek kepada anak cucu dalam percakapan sehari-hari. Melalui cara inilah identitas budaya suatu masyarakat tetap hidup dan bertahan dari waktu ke waktu.

Namun, perkembangan teknologi modern telah membawa perubahan besar dalam pola kehidupan masyarakat. Kehadiran ponsel dan dunia digital membuat komunikasi antaranggota keluarga semakin berkurang. Banyak orang lebih sibuk dengan perangkat masing-masing dibanding membangun percakapan dalam keluarga. Bahkan dalam aktivitas sederhana seperti memasak, bermain, atau makan bersama, perhatian sering teralihkan kepada ponsel. Akibatnya, ruang pewarisan budaya dan bahasa daerah semakin menyempit.

Dampak yang paling nyata terlihat pada generasi muda di Kabupaten Sikka. Banyak anak muda mulai tidak mengenal sistem nilai kearifan lokal leluhurnya dan kurang mampu menggunakan bahasa ibu, khususnya bahasa Krowe Sika, dengan baik. Bahasa daerah dan nilai budaya yang dahulu menjadi identitas masyarakat kini semakin jarang digunakan dan perlahan terancam punah.

Selain minimnya komunikasi antar generasi, berkurangnya penutur bahasa lokal juga dipengaruhi oleh belum tersedianya dokumentasi tertulis yang memadai mengenai budaya dan bahasa masyarakat asli Kabupaten Sikka, seperti suku Krowe Sika, Lio, Krowe Muhan, dan Palue. Ketiadaan kamus, ensiklopedi budaya, maupun naskah resmi lainnya menyebabkan banyak pengetahuan tradisional tidak terdokumentasikan dengan baik dan berisiko hilang bersama para penuturnya.

Karena itu, kehadiran buku ini menjadi kontribusi yang sangat penting dalam upaya pelestarian budaya dan bahasa warisan leluhur. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi juga bentuk kepedulian para orang tua dan para lanjut usia terhadap keberlanjutan identitas budaya masyarakat Sikka. Sebuah masyarakat yang melupakan budayanya sendiri akan kehilangan akar identitasnya, bagaikan pohon yang tumbuh tanpa akar yang kuat dan mudah terombang-ambing oleh arus budaya luar serta pola hidup instan.

Karya ini patut diapresiasi karena lahir dari dedikasi dan kerja keras para lanjut usia di Nian Sikka, khususnya Ibu Paulina Nona beserta rekan-rekannya, yang telah menghimpun, menyusun, mengetik, dan mengedit isi buku ini secara mandiri. Upaya tersebut merupakan teladan nyata tentang pentingnya menjaga ingatan kolektif dan menghormati warisan leluhur.

Lebih jauh, buku ini diharapkan menjadi awal dari gerakan pelestarian budaya yang lebih luas. Mengingat Kabupaten Sikka memiliki empat suku asli dengan kekayaan budaya yang beragam, masih diperlukan perhatian dan keterlibatan bersama untuk mendokumentasikan budaya dan bahasa suku Lio, Krowe Muhan, dan Palue. Tanpa keterlibatan generasi pendahulu dalam mewariskan nilai-nilai budaya, maka budaya tersebut lambat laun akan memudar dan akhirnya hilang dari kehidupan masyarakatnya sendiri. 


Jumat, 02 Januari 2026

Marfo-Sintaksis Bahasa Blagar

Judul

:

Marfo-Sintaksis Bahasa Blagar

Penulis

:

Wakidi, dkk

Penerbit

:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI

Tahun Cetak

:

1989

Halaman

:

142

ISBN

:

979-459-043-6

Sumber

:

https://repositori.kemendikdasmen.go.id

Download

:

Di Sini

 

Bahasa Blagar adalah salah satu bahasa daerah di antara tiga belas bahasa daerah yang terdapat di Kepulauan Alor. Propinsi Nusa Tenggara Timur. Ketiga belas bahasa daerah itu adalah (1) bahasa Alor, (2) bahasa Lemma, (3) bahasa Tewa, (4) bahasa Blagar, (5) bahasa Nedebang, (6) bahasa Kelan, (7) bahasa Kabola, (8) bahasa Kui atau Kiraman, (9) bahasa Kafoa, (10) bahasa Abui, (11) bahasa Woisika, (12) bahasa Kolana, dan (13) bahasa Tanglapui (Stokhof, 1982:64).

Wilayah persebaran bahasa Blagar ini tidak begitu luas, yaitu di sebagian besar dari beberapa desa di kecarnatan Pantar dan sebagian kecil di kecamatan Alor Barat Laut. Desa-desa yang merupakan wilayah persebaran bahasa Blagar di kecamatan Pantar adalah desa Batu yang meliputi tiga kampung. yaitu Tuabang, Bikolang, dan Kolijahe. Desa Nule yang meliputi dua kampung, yaitu Nuhawala dan Treweng. Wilayah persebaran bahasa Blagar di kecamatan Alor Barat Laut di desa Reta dan Pura.

Bahasa Blagar ini mempunyai tiga macam dialek yaitu dialek Kolijahe, Pura, dan Reta. Perbedaan dialek mi hanya teijadi dalam kosa kata atau Ieksikolek saja, dan itu pun hanya terbatas pada beberapa kata saja. 


Rabu, 26 November 2025

Anthology of Asean Literatures: Oral Literature of Indonesia (Indonesian Edition)

Judul

:

Anthology of Asean Literatures: Oral Literature of Indonesia (Indonesian Edition)

Penyunting

:

Subagio Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono & A. Kasim Achmad

Penerbit

:

The ASEAN Committee on Culture and Information

Tahun Cetak

:

1983

Halaman

:

499

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 125.000

Status

:

Ada

 

Sastra lisan merupakan langkah pertama ke arah bentuk pengucapan sastra yang lebih arif. Menurut sejarahnya, sastra lisan itu adalah jenis sastra yang harus kita ketengahkan sebelum kita memasuki daerah khas sastra, yakni daerah sastra tertulis, Indonesia mempunyai tradisi sastra tertulis yang lama, tetapi untuk memperoleh pengetahuan yang lengkap tentang kesusestraan pada umumnya sastra lisan harus diperlakukan sebagai salah satu bagiannya yang penting. Jilid pertama antologi ASEAN mengenai kesustraan Indonesia mengajukan sastra lisan yang berasal dari berbagai daerah di kepulauan Indonesia.

Dilihat dari sudut kebudayaan, sastra lisan adalah pengucapan yang langsung dan serta merta dari jiwa rakyat biasa yang merupakan lapisan bawah masyarakat. Karena itu persamaan dalam tema dan gaya dapat ditemukan di antara sastra lisan yang berasal dari daerah yang berlainan. Dapat di duga bahwa kesamaan-kesamaan itu mungkin ada, tidak saja di dalam wilayah Indoensia, tetapi juga di dalam lingkungan ASEAN. Perbandingan antara cerita rakyat, jenis-jenis puisi, teka-teki dan peribahasa yang ada dalam sastra lisan di negara-negara ASEAN tentu akan menghasilkan keterangan yang menarik mengenai kaitan budaya dan sastra bangsa-bangsa kita.

Kumpulan sastra lisan ini meliputi wilayah yang seluas-luasnya: dari sebelah barat, Sumatra (Aceh, Batak, Minangkabau, Riua), Jawa, Banjar, Bugis sampai ke bagian Indonesia yang paling timur, Irian Jaya (Maluku, Irian); dari selatan Roti (Rote), sampai daerah paling utara, Sulawesi (Gorontalo). 


Kamis, 25 September 2025

Nusa Nipa, Nama Pribumi Nusa Flores (Warisan Purba)

Judul

:

Nusa Nipa, Nama Pribumi Nusa Flores (Warisan Purba)

Penulis

:

P. Sareng Orinbao

Penyunting

:

Pater Piet Petu svd

Penerbit

:

Pertjetakan Arnoldus / Penerbitan Nusa Indah Ende – Flores

Tahun Cetak

:

1969

Halaman

:

262

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong

 

Tidak kurang tjelaan terhadap nama jang tidak pribumi Nusa Flores. Ditandaskan separoh pengarang, ketika pendjadjah Portugis mengundjungi Nusa ini, tidak ditemukan mereka nama jang pribumi, sehingga nama Tandjung Bunga sebelaj timur nusa “Cabo de Flores” dijadikan nama umum. Lambat laun nama “Flores” dilazimkan mendjadi sebutan untuk seluruh nusa. Ada pengarang jang tidak segan-segan menempel nama Flores sebagai nama jang irasionil dan tidak masuk akal. Nama “Flores itu megah namun hampa karena tidak mentjerminkan realita jakni kemewahan flora jang disimpulkan olehnja. Sejogianja tandasan ini tidak dibenarkan karena ditindjau dari segi flora dalam arti lurus, dari djurusan timur dan djurusan barat, nusa ini tidak dirahmati oleh kedjuitaan kembang-kembang. Ada pula pengarang jang menandaskan Flores adalah nama warisan pendjajahan Portugis. Tandasan ini tidak dapat dibantahi. Memang fakta sedjarah, nama Flores dipetik dari rumpun bahasa Romawi bahasa Latin atau bahasa Portugis. Walaupun tertandas sebagai irasionil nama Nusa Flores tetap didjundjung tinggi malah ditimang-timang sebagai Bunga Bidadari.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...