Judul |
: |
Nusa Tenggara Timur dalam Pusaran Politik Identitas |
Penulis |
: |
Piers Andreas Noak |
Penerbit |
: |
Pustaka Egaliter |
Tahun Cetak |
: |
2023 |
Halaman |
: |
424 |
ISBN |
: |
978-623-185-088-1 |
Harga |
: |
Rp. 150.000 |
Status |
: |
Kosong |
Perkembangan politik lokal yang menonjol di Kupang belakangan ini menunjukkan adanya persaingan antara elite politik dan elite birokrasi dengan menggunakan identitas etnik dan agama sebagai instrumen untuk mencapai kekuasaan.
Peran etnik dan agama sebagai instrumen penting dalam memengaruhi keputusan elite untuk masuk ke dalam lingkar kekuasaan birokrasi tidak terlepas dari dominasi kelompok elite tertentu. Kebijakan-kebijakan yang diwariskan dari sejarah kolonialisme memperkuat pengaruh kelompok elite tersebut dan menyebabkan kelompok-kelompok etnik dan agama tertentu merasa masih harus berperan besar dalam birokrasi kekuasaan.
Pertautan antara aspek-aspek primordialitas dan politik masih sangat kuat di Kupang, NTT. Terutama dalam konteks pemilihan kepemimpinan, hubungan antara aspirasi politik, birokrasi, agama, dan suku tetap bergantung pada komposisi sosial-agama yang berlaku di masing-masing wilayah.
Kontribusi penting dari buku ini adalah identitas etnik dan agama digunakan sebagai instrumen meraih kekuasaan politik dan birokrasi telah menjadikan sebagaian etnik berada dalam posisi dominan, oleh karena itu pergeseran dominasi telah membentuk loyalitas baru di kalangan masyarakat multi etnik dan agama di Kupang, bahwa persaingan serta semua upaya dukungan masyarakat telah menjadikan mereka menjatuhkan pilihan politik atas dasar kepentingan semua etnik dan agama serta pola kekeluargaan. Merujuk beberapa penelitian sebelumnya seperti Bahar (1997) telah menemukan hubungan elite dengan etnisitas, dimana elite tidak mampu memperoleh loyalitas dari etnik, Bahar berusaha menganalisa dan menginterprestasi faktor yang melatarbelakangi pemberontakan etnik Minangkabau di daerah Sumatera Barat pada 1958-1961 selama masa jabatan Soekarno, para elite mengalami kemunduran karena tidak didukung oleh loyalitas etnik. Liliweri (1995) telah meneliti prasangka sosial dan efektivitas komunikasi antar etnik di Kupang, pengelompokan dari berbagai suku-suku di Kupang, dan dikelompokkan dalam lima kelompok besar dari kurang lebih 13 suku di NTT, Yakni, Timor, Rote, Sabu, Flores dan Sumba. Komunikasi antar etnik menunjukkan suatu gejala tersumbatnya komunikasi antar etnik dan terbentuknya pengelompokan berdasarkan etnik pada birokrasi di Kupang menjadikan kinerja birokrasi terganggu, semuanya diukur dengan streotipe dan jarak sosial antar etnik.





