Tampilkan postingan dengan label Buku Skripsi-Tesis-Disertasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Skripsi-Tesis-Disertasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2026

Nusa Tenggara Timur dalam Pusaran Politik Identitas

Judul

:

Nusa Tenggara Timur dalam Pusaran Politik Identitas

Penulis

:

Piers Andreas Noak

Penerbit

:

Pustaka Egaliter

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

424

ISBN

:

978-623-185-088-1

Harga

:

Rp. 150.000

Status

:

Kosong

 

Perkembangan politik lokal yang menonjol di Kupang belakangan ini menunjukkan adanya persaingan antara elite politik dan elite birokrasi dengan menggunakan identitas etnik dan agama sebagai instrumen untuk mencapai kekuasaan.

Peran etnik dan agama sebagai instrumen penting dalam memengaruhi keputusan elite untuk masuk ke dalam lingkar kekuasaan birokrasi tidak terlepas dari dominasi kelompok elite tertentu. Kebijakan-kebijakan yang diwariskan dari sejarah kolonialisme memperkuat pengaruh kelompok elite tersebut dan menyebabkan kelompok-kelompok etnik dan agama tertentu merasa masih harus berperan besar dalam birokrasi kekuasaan.

Pertautan antara aspek-aspek primordialitas dan politik masih sangat kuat di Kupang, NTT. Terutama dalam konteks pemilihan kepemimpinan, hubungan antara aspirasi politik, birokrasi, agama, dan suku tetap bergantung pada komposisi sosial-agama yang berlaku di masing-masing wilayah.

Kontribusi penting dari buku ini adalah identitas etnik dan agama digunakan sebagai instrumen meraih kekuasaan politik dan birokrasi telah menjadikan sebagaian etnik berada dalam posisi dominan, oleh karena itu pergeseran dominasi telah membentuk loyalitas baru di kalangan masyarakat multi etnik dan agama di Kupang,  bahwa persaingan serta semua upaya dukungan masyarakat telah menjadikan mereka menjatuhkan pilihan politik atas dasar kepentingan semua etnik dan agama serta pola kekeluargaan. Merujuk beberapa penelitian sebelumnya seperti  Bahar (1997) telah menemukan hubungan elite dengan etnisitas, dimana elite tidak mampu memperoleh loyalitas dari etnik,  Bahar berusaha menganalisa dan menginterprestasi  faktor yang melatarbelakangi pemberontakan etnik Minangkabau di daerah Sumatera Barat pada 1958-1961 selama masa jabatan Soekarno, para elite mengalami kemunduran karena tidak didukung oleh loyalitas etnik.  Liliweri (1995) telah meneliti prasangka  sosial dan efektivitas komunikasi antar etnik  di Kupang, pengelompokan dari berbagai suku-suku di Kupang, dan dikelompokkan dalam lima kelompok besar dari kurang lebih 13 suku di NTT, Yakni, Timor, Rote, Sabu, Flores dan Sumba. Komunikasi antar etnik menunjukkan  suatu gejala tersumbatnya komunikasi antar etnik dan terbentuknya pengelompokan berdasarkan etnik pada birokrasi di Kupang  menjadikan kinerja birokrasi terganggu, semuanya diukur dengan streotipe dan jarak sosial antar etnik.


Kamis, 09 Mei 2024

We Seek Our Roots: Oral Tradition in Biboki, West Timor

Judul

:

We Seek Our Roots: Oral Tradition in Biboki, West Timor

Penulis

:

Gregor Neonbasu, SVD

Penerbit

:

Academic Press Fribourg Switzerland

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

2011

Halaman

:

385

ISBN

:

978-3-7278-1700-7

Harga

:

Rp.-

Status

:

Kosong

 

This book describes the pattern of the daily life of the people of Biboki in West Timor -- Eastern Indonesia -- in terms of their efforts to affirm the "roots" of their daily lives. The core claim of this study is that oral traditions form the basis for which local people both trace their origins and at the same time endeavour to conceptualize their relationships with their fellow human beings and with the cosmos. It means that oral traditions are a fundamental tool for people in establishing their roots of life within a community and in assisting their efforts to establish authority within society. The chapters of the book present a range of genres of oral traditions, in conjunction with detailed exegesis and linguistic analysis in order to demonstrate the fundamental rote of these oral traditions within the life of the people.

According to Bibokinese, the root of life is considered to be the ancestors and the Supreme Being represented in the heirlooms kept in traditional houses. Life in society should be based on performing rituals at the traditional house as a vital way to create and preserve a flourishing community. At each performance at the traditional house -- and also at other traditional sites where people hold rituals -- oral traditions become a key factor in maintaining links with the past.

Gregor Neonbasu SVD was born in Timor, Indonesia in 1960. He completed his Phd in anthropology at The Australian National University of Canberra in 2005. He is the Chairman of St. Arnold Educational, which runs the Catholic University of Widya Mandira Kupang of West Timor, Director of Cultural Commission of the Research Region Council of East Nusa Tenggara Province. He teaches anthropology and sociol-University of Artha Wacana Kupang and the Pastoral Institute of the Archdiocese of Kupang. 


Senin, 01 Agustus 2022

Islam di Nusa Tenggara Timur: Pasang Surut Kesultanan Menanga Solor Abad XVI-XVIII

Judul

:

Islam di Nusa Tenggara Timur: Pasang Surut Kesultanan Menanga Solor Abad XVI-XVIII

Penulis

:

Ruslan Kasim, M.Hum

Penerbit

:

Simaharaja

Tahun Cetak

:

2018

Halaman

:

156

ISBN

:

978-623-02-3772-0

Sumber

:

https://ecampus.unusia.ac.id/

Download

:

Di Sini

 

 

Pulau Solor, Flores Timur menjadi saksi penting masuknya tiga agama besar (Islam, Katholik, Kristen) di Nusa Tenggara Timur (NTT). Keberadaan Benteng Lohayong yang dibangun Portugis (1566) menjadi awal diskusi masuknya agama di NTT. Begitu juga keberadaan Masjid alHuda dan tiga makam penting yaitu makam Imam Patiduri, makam Sultan Menanga I Sahbuddin bin Ali bin Salman alFarisi dan makam Nyai Sili Pertawi (Istri Kedua Sulatan Menanga I) menjadi bukti sejarah Kesultanan Menanga Solor itu sendiri. Penelitian ini dirumuskan untuk menjawab pertanyaan (1) Bagaimana Masa Perkembangan dan Kejayaan Kesultanan Menanga Solor; (2) Bagaimana Keruntuhan Kesultanan Menanga Solor; dan (3) Bagaimana dampak dari keruntuhan Kesultanan Menanga Solor terhadap keberlangsungan Islam?

Pendekatan kajian menggunakan pendekatan sejarah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hampir setiap wilayah yang merupakan basis masyarakat muslim merupakan hasil dari usaha Kesultanan Menanga dalam proses ekspansi wilayah kekuasaan. Karena melemahnya kekuatan federasi Solor Watan Lema mengakibatkan Belanda berhasil membumihanguskan Kesultanan ini. Oleh karena itu, keberlangsungan perkembangan Islam pun mulai mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena setelah masa keruntuhan Kesultanan Menanga, Islam tidak diperankan dengan baik oleh rakyat kecil maupun tokoh masyarakat. Berbeda dengan rekan bergulatnya, Katolik dan Kristen yang kian bergerak ke depan karena didukung penguasa saat itu.

 

 

Rabu, 17 Juni 2020

Perbandingan Kondisi Kota Kupang Sebelum dan Setelah Pembentukan Kotamadya Kupang Tahun 1990-2001

Judul
:
Perbandingan Kondisi Kota Kupang Sebelum dan Setelah Pembentukan Kotamadya Kupang Tahun 1990-2001
Penulis
:
Jefry Heumasse
Penerbit
:
Program Studi Magister Perencanaan Kota dan Daerah Jurusan Ilmu-Ilmu Teknik – Program Pascasarjana UGM Yogyakarta
Tahun Cetak
:
2003
Halaman
:
245
ISBN
:
-
Sumber
:
Download
:


Peningkatan status Kota Kupang dari administratif menjadi kotamadya pada tahun 1996 memberi perubahan yang luas baik dalam bidang kewenangan pemerintahan maupun peningkatan luas wilayah, hal ini memberi dampak pada perubahan fisik dan non fisik kota.

Penelitian ini bertujuan melihat manfaat yang diperoleh dengan membandingkan kondisi kota sebelum dan setelah diubah statusnya. Secara spesifik dideskripsikan perbandingan kondisi kola, perhandingan bidang kewenangan, kemanfaatan peruhahan bidang kewenangan dan pengaruh faktor-faktor lain yang diduga berpengaruh terhadap perubahan kondisi fisik kota sebelum dan setelah pembentukan Kotamadya Kupang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis data secara tum pang susun (overlay) terhadap peta-peta tematik yang didukung oleh data dalarn bentuk tabel dan grafik.

Dari hasil analisis terlihat hahwa perbandingan kondisi kota lebih diindikasikan dari perubahan kondisi fisik kola yaitu perubahan intensitas area terbangun, kondisi fasilitas dan utilitas kota, serta perubahan kondisi transportasi. Kecenderungan perubahan ini terlihat bahwa sebelum kotamadya lebih terkonsentrasi di pusat kota atau dekat pusat kola, sebaliknya setelah kotamadya semakin menyebar dan relatif memadai ke arah pinggiran kota. Hal tersebut salah satunya sebagai akibat konsekuensi dari bidang kewenangan di dalarn kebijakan arahan pemanfaatan ruang kota ke arah timur dan selatan kota. Selain itu faktor-faktor lain yang diduga berpengaruh terhadap perubahan kondisi fisik kota tersebut yaitu faktor internal dan ekstemal, serta adanya faktor khusus lain (faktor lokal). Beberapa faktor yang cukup dominan diantaranya faktor transportasi, perekonomian dan posisi strategis Kota Kupang terhadap wilayah sekitamya. Kemanfaatan bidang kewenangan terhadap perubahan kondisi fisik kota dapat berdampak positif sebagai akibat adanya kebijaksanaan keruangan yang mengarahkan perkembangan kota, serta pengembangan fasilitas dan utilitas kota. Sebaliknya terdapat penyimpangan pemanfaatan ruang kola sehingga dapat berdampak negatif terhadap peruntukan pemanfaatan ruang. Apabila ditinjau dari efektifitas pembangunan berkaitan dengan perubahan bidang kewenangan terhadap perubahan kondisi fisik kota maka setelah menjadi kotamadya menunjukkan kecenderungan yang relatif lebih baik.

Minggu, 21 Juli 2019

The Timor Problem, A Geographical Interpretation of An Underdeveloped Island

Judul
:

The Timor Problem, A Geographical Interpretation of An Underdeveloped Island

Penulis
:
F. J. Ormeling
Penerbit
:
J. B. Wolters – Djakarta, Groningen
Bahasa
:
Inggris
Tahun Cetak
:
1955
Halaman
:
284
ISBN
:
-
Harga
:
Rp. -
Status
:
Kosong


The Timor problem consists of an avalanche of closely related subject. The majority, common in all underdeveloped countries, are not new. They emanate from a combination of factors – unfavorable physical conditions, simple technologies, and a social setting which impedes progress and modernization – and result in a alarming agrarian situation, marked by malnutrition and soil erosion.

On Timor, as elsewhere in the world, the solution of these matters is exceeding both physical environment and social factors. Several facets of the Timor problem have been studied by specialists in various fields, and valuable suggestions have been put forward. The objection of the latter is that, made by single-minded specialists, they are rarely co-ordinated and do not sufficiently consider the multiple correlation in the interplay between man and nature. Co-ordination between the result of specialized enquiries, in order to show the area’s nature and critical features, is desirable.

As a geographer the author does not intend to invade the fields of other sciences, and he is not under the illusions that he can provide the answer to the Timor problem. He realizes, however, that the geographical approach has been found of value in areal planning projects in many parts of the world during the last decades. Geographer’ advice has been sought to in increasing degree and their practical aid welcomed. Few of them, however, have yet been employed in the gigantic project of which the present generation should from the foundation, i. e. development of new-born areas. That is just where geographers could give considerable assistance. With their training, they are often able to apply the required co-ordination and correlations. By providing the present situation’s historical background, by analyzing the methods man has used to develop his environment and giving a synthetic interpretation of all phenomena found in the area, he can supply the basic overall information necessary in the formulation of plans for future development. An attempt will be made to demonstrate this ini the following study regarding the Timor problem.

Selasa, 24 April 2018

Clifford Geertz Tentang Involusi Budaya

Judul
:
Clifford Geertz Tentang Involusi Budaya
Penulis
:
Aleksius A. Jeramat
Penerbit
:
STFK Ledalero
Tahun Cetak
:
2009
Halaman
:
97
ISBN
:
-
Harga
:
Rp. 35.000
Status
:
Kosong


Clifford Geertz adalah seorang antropolog Amerika Serikat yang memberi warna pada perkembangan ilmu antropologi di abad XX ini. Pemikirannya dalam bidang kebudayaan mengundang diskusi yang hangat. Memang ia adalah murid Parsons yang juga memiliki raputasi yang mengagumkan dalam bidang antropologi. Parsons terobsesi untuk membangun teori umum tentang kebudayaan. Sebaliknya Geertz dalam ziarah intelektualnya membangun teori yang bertentangan dengan gurunya ini. Karakteristik penyelidikan Geertz ialah bahwa ia enggan untuk menggunakan teori umum atau berusaha untuk membangun model-model umum tentang kebudayaan. Ia menekankan partikularitas.

Geertz mengembangkan pendekatan interpretatif dalam meneliti fenomen kebudayaan. Pendekatan interpretatifnya mengutamakan makna. Makna yang otentik diturunkan dari simbol. Pendekatan interpretatif ini membuat Geertz digolongkan dalam kelompok antropologi simbolik. Metode pendekatan Geertz yang mencirikan kekhasan pendekatannya adalah metode thick description. Lukisan mendalam membawa warna tersendiri bila dibandingkan metode-metode antropologi sebelumnya. Thick description menyerupai penyampaian yang naratif dalam sebuah novel. Penggambarannya menjadi tidak berat sebelah dan jauh dari laporan antropologi yang kering. Geertz seolah-olah mengajak pembaca untuk menyaksikan dunia lewat kacamata pelaku kebudayaannya. Bila ditilik lebih jauh, Geertz sebenarnya mau mengajak para teoritikus kebudayaan untuk melengkapi laporan-laporan mereka dengan detail yang kaya dan meyakinkan.

Kamis, 22 Juni 2017

The People of Alor and their alliances in Eastern Indonesia: a study in political sociology

Judul
:
The People of Alor and their alliances in Eastern Indonesia: a study in political sociology
Penulis
:
Syarifuddin R. Gomang
Penerbit
:
Department of Sociology, University of Wolllongong
Tahun Cetak
:
1993
Halaman
:
159
ISBN
:
-
Sumber
:
Download
:

Alor is a unique community in Indonesia. While most ethnic groups in the nation are hierarchical in social structure and modes of social interaction, the Alorese see their community as more egalitarian. This ethic of egalitarianism is a product of how clans are organized, and how the division of status and power roles between them are conceptualized.

The ideology of egalitarianism is connected to the way in which the Alorese have established alliances with many other ethnic groups in Easter Indonesia. Together their principles of social organization and alliances provide an alternative model of political organization relevant to national integration in Indonesia.

Senin, 19 Juni 2017

Kajian Semiotik Bahasa Pernikahan Adat Budaya Flores Kabupaten Manggarai Barat

Judul
:
Kajian Semiotik Bahasa Pernikahan Adat Budaya Flores Kabupaten Manggarai Barat
Penulis
:
Yustina Maria Ndia
Penerbit
:
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta
Tahun Cetak
:
2012
Halaman
:
160
ISBN
:
-
Sumber
:
Download
:

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud, makna serta fungsi semiotika bahasa dalam wacana pernikahan budaya Flores Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur, yang tampak pada struktur lapisan socioculture. Secara horizontal saluran makna yang terdapat di balik setiap wujud adat pernikahan tersebut, membentuk sebuah makna yang bermaksud atau berfungsi mengungkapkan fakta budaya secara turun temurun.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek dan objek penelitian difokuskan pada permasalahan yang berkaitan dengan semiotika prosesi pernikahan dalam budaya Flores Kabupaten Manggarai Barat. Data diperoleh dengan teknik wawancara dan pengamatan dan dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif, serta dibantu dengan metode padan referensial. Keabsahan data diperoleh melalui reabilitas data dan interater data serta melalui reliabilitas pendukung lainnya seperti teori dan fakta di lapangan juga melalui expert judgement sebagai orang yang mengakui keabsahan data penelitian ini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) prosesi pernikahan dalam budaya Flores di Kabupaten Manggarai Barat ini, memiliki unsur keunikan tersendiri yang hadir dalam keseluruhan proses dengan pencapaian tertinggi dalam suatu jalur terbentuknya kehidupan rumah tangga yang disebut berkeluarga; (2) lapisan unsur semiotika yang terkandung di balik keseluruhan proses menciptakan makna baru yang bermanfaat bagi ilmu bahasa; (3) dari segi landasan teorinya, penelitian ini menganalisis tentang latar belakang sejarah terbentuknya pemahaman hakikat tataran konkret bahasa sebagai semiotika sosial serta korelasi bahasa dengan kebudayaan yang sangat penting untuk merelevansikan realitas prosesi pernikahan adat Manggarai Barat, melalui penafsiran para tokoh linguistik dan (4) keseluruhan peristiwa yang terdapat pada prosesi pernikahan tersebut, memiliki unsur semiotik yang menunjukkan bahwa adanya struktur korelasi bahasa melalui lapisan sosiokultur pada masyarakat Manggarai Barat.

Semua hal di atas, nampak dalam setiap unsur persoalan yang dipilih sebagai fokus utama dari penelitian ini. Unsur-unsur tersebut hadir dalam setiap satuan lingual dan non lingual sesuai dengan konteks situasi yang terjadi dalam keseluruhan proses.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...