Tampilkan postingan dengan label Buku Ngada-Nagekeo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Ngada-Nagekeo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2026

Olahraga Tradisional dan Permainan Rakyat Ngada

Judul

:

Olahraga Tradisional dan Permainan Rakyat Ngada

Penulis

:

Teobaldus Daga, S.Pd dkk.

Editor

:

Yakobus Mite, S.Pd., M. Pd

Penerbit

:

CV. Galang Media Buana

Tahun Cetak

:

2024

Halaman

:

152

ISBN

:

978-623-5549-14-9

Harga

:

Rp. 85.000

Status

:

Kosong

 

Buku ini juga sebagai pedoman yang disusun untuk memberikan gambaran dan panduan terkait bentuk-bentuk Olahraga Tradisional dan Permainan Rakyat Ngada di Kabupaten Ngada. Sebagai bentuk dukungan dalam pelestarian kekayaan bangsa yang mulai punah karena tergerus oleh perkembangan zaman, dimana masyarakat pada saat ini mulai berpindah pada kemajuan teknologi. Sebagai warga Indonesia pada umumnya dan masyarakat Ngada pada khususnya, kita tidak boleh melupakan permainan-permainan yang telah diciptakan oleh nenek moyang kita, karena di dalam permainan tradisional terdapat banyak unsur yang bermanfaat bagi kehidupan kita, diantaranya adalah kebugaran jasmani, kesehatan, kesenangan, kerjasama, tanggung jawab, sportivitas, dan lain sebagainya. Ada kalimat motivasi yang harus kita tanamkan yaitu "Jaman boleh berubah, generasi boleh berganti, namun kelestarian budaya tradisional adalah tanggung jawab kita bersama untuk melestarikannya". 


Minggu, 12 Juli 2026

Manajemen Konflik Berbasis Budaya, Dari Ngada untuk Indonesia

Judul

:

Manajemen Konflik Berbasis Budaya, Dari Ngada untuk Indonesia

Penulis

:

Rofinus Neto Wuli

Penerbit

:

Kompas

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

268

ISBN

:

978-623-346-672-1

Harga

:

Rp. 80.000         

Status

:

Ada


Konflik tak bisa lepas dalam hidup manusia. Hal ini membuat pena­nganan konflik sering kali menjadi momok bagi para pemangku kebijakan. Padahal, diperlukan strategi efektif dalam pengelolaan kon­flik guna mengembalikan harmoni di tengah masyarakat.

Manusia modern dibentuk berdasarkan sejarah panjang yang tak luput dari konflik. Daripada berfokus menghindari konflik, kita perlu menyadari bahwa manajemen konflik merupakan bagian dalam proses mencapai perdamaian yang hakiki. Pendekatan itulah yang ditawarkan dalam buku ini. Sudah seharusnya konflik ditangani sebagai aspek integral dalam kehidupan bersama.

Manajemen konflik seharusnya menjadi cara pengambilan keputusan guna mencapai mufakat, dan lebih jauh lagi, perdamaian. Penyelesaian konflik tak bisa dilepaskan dari pihak-pihak terkait. Perlu dicapai resolusi damai yang sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang diaplikasikan dalam masyarakat.

Di Indonesia, manajemen konflik sudah menjadi bagian integral da­lam masyarakat. Hal ini terejawantah dalam budaya keseharian. Buku ini mengangkat studi kasus masyarakat Ngada di Flores yang memiliki manajemen konflik dan terbukti mampu merekatkan kembali simpul kerukunan di masyarakat dengan mempertahankan asas-asas luhur persaudaraan. Tak hanya melibatkan seluruh anggota masyarakat terkait, manajemen konflik ala masyarakat Ngada juga menerapkan sistem peng­ampunan sebagai bagian linier dalam mengembalikan stabilitas masyarakat pascakonflik. 


Kamis, 23 Oktober 2025

Kajian Model Kebijakan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Berkelanjutan (Studi Kasus DAS Aesesa Flores)

Judul

:

Kajian Model Kebijakan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Berkelanjutan (Studi Kasus DAS Aesesa Flores)

Penulis

:

Dr. Nicolaus Noywuli, S.Pt.,M.Si

Penerbit

:

Amerta Media

Tahun Cetak

:

2020

Halaman

:

256

ISBN

:

978-623-6555-13-2

Harga

:

Rp. 86.000

Status

:

Kosong

 

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) perlu mendapatkan perhatian dan pemahaman yang lebih besar mengingat DAS merupakan suatu ekosistem alami yang terdiri dari sumber daya alam dan sumber daya manusia, serta tempat  berlangsungnya proses biofisik hidrologis maupun kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang kompleks. Daerah Aliran Sungai (DAS)  Aesesa Flores (AF) merupakan salah satu dari tiga DAS prioritas di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki peran penting bagi masyarakat Kabupaten Ngada dan Nagekeo, sebagai lumbung pangan NTT dan objek pariwisata Flores. 


Jumat, 12 September 2025

Jelajah Kampung-Kampung Vernakular di Flores

Judul

:

Jelajah Kampung-Kampung Vernakular di Flores

Penulis

:

Martinus Bambang Susetyarto

Penerbit

:

Deepublish

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

125

ISBN

:

978-623-02-7587-6

Harga

:

Rp. 150.000

Status

:

Kosong


Jelajah panjang arsitektur vernakular di masyarakat suku/klan ini merupakan upaya kebhinekaan dalam mempelajari fenomena budaya di lingkungan binaan kampung vernakular. Lokasi penjelajahan arsitektur vernakular pada umumnya di kampung-kampung adat di daerah dataran tinggi yang masih alami, atau di perkampungan rakyat nelayan, atau warga pendatang yang tinggal di dataran rendah di tepian pantai pulau Flores. Fenomena arsitektur tersebut terekspresi lebih khas, unik, spesifik sebagai suatu sistem arsitektur dan kampung vernakular di wilayah budaya Ngadha di Flores. Lingkup fenomena arsitektur vernakular yang dimaksud adalah rumah-rumah adat dan bangunan-bangunan adat, yang berfungsi untuk mendukung kegiatan ritual adat dan kegiatan sehari-hari masyarakat kampung adat Ngadha.

Kehidupan penduduk Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia sangat heterogen. Kekayaan karakteristik budaya, bahasa, dan sejarah di tengah bermacam sukumasyarakat lokal Flores. Daratan Pulau Flores dikenal luas sebagai ratusan kampung adat yang sarat akan nilai budaya yang tinggi. Buku ini mencoba mengeksplorasi kampung-kampung adat di Flores dengan menguraikan secara rinci mengenai pola masyarakat, ritual adat, aktivitas sehari-hari, hingga pola tata letak bangunan dan lingkungan setiap kampung yang sangat beragam dan berlandaskan ajaran leluhur.

Buku ini terdiri dari beberapa pembahasan Prolog: Mengenal Flores, Pola Kampung Vernakuler di Flores, Wilayah Budaya Flores Timur, Wilayah Budaya Sikka, Wilayah Budaya Ende, Wilayah Budaya Nagekeo, Wilayah Budaya Manggarai, Wilayah Budaya Ngada dan Epilog: Hasil Jelajah Kampung Adat di Flores. 


Rabu, 05 Maret 2025

Konflik Tapal Batas Era Otonomi Daerahꓽ Studi Kasus Konflik Tapal Batas di Nusa Tenggara Timur

Judul

:

Konflik Tapal Batas Era Otonomi Daerah Studi Kasus Konflik Tapal Batas di Nusa Tenggara Timur

Penulis

:

Dominikus Dhima, S.Sos., M.Sos

Penerbit

:

Rajawali Pers

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

145

ISBN

:

978-623-372-662-7

Harga

:

Rp. 95.000

Status

:

Kosong

 

Aroma ketidaktuntasan penyelesaian konflik tapal batas merupakan tema penting yang harus ada titik penyelesaiannya. Upaya memulai langkah kecil inipun diawali dengan kegiatan penelitian secara intens. Demi memenuhi kewajiban ini, penulis buku ini harus menjadi bagian dari key informant di Kupang, Kabupaten Ngada, dan Kabupaten Manggarai Timur, demi menghimpun data autentik dan rinci, dan sudah pasti dalam waktu yang tidak sebentar.

Tuntas melakukan penelitian dan menjadikan laporan penelitian sebagai bagian dari perpustakaan  kampus, ternyata masih menyisahkan kegalauan dalam diri penulis, karena jerih payah menekuni seluruh kegiatan di lapangan, di perpustakaan, dan di balik komputer jinjing, seakan tidak memberikan manfaat bagi pemerintah dan warga di perbatasan. Jawaban dari kegalauan ini, laporan penelitian ini jangan hanya menjadi tesis atau data digital, tetapi harus menjadi luaran yang lebih membahana. Pada akhirnya, buku yang tengah anda nikmati ini menjadi pamungkasnya


Kamis, 18 Juli 2024

Sastra Lisan Ngadha di Bajawa

Judul

:

Sastra Lisan Ngadha di Bajawa

Penyunting

:

Firmina Angelanai, Watu Yohanes Vianey, Fransiskus Sanda & Alex A. Kabelen

Penerbit

:

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta

Tahun Cetak

:

1999

Halaman

:

218

ISBN

:

979-459-988-3

Harga

:

Rp. 85.000

Status

:

Ada

 

Sastra lisan Ngadha adalah salah satu sastra daerah yang hidup di antara ribuan sastra daerah yang lain di kepulauan Indonesia. Sastra lisan Ngadha hidup dan tersebar di tengah-tengah etnik Ngadha, yang mendiami sebagian wilayah di Daerah Tingkat II Ngada, yang berbatasan dengan Kecamatan Nagekeo di sebelah timur, Kecamatan Riung di sebelah barat, dan Kecamatan Aesesa di sebelah utara. Etnik ini mendiami wilayah Kecamatan Golewa, Kecamatan Aimere, Kecamatan Bajawa, dan Kecamatan Ngada Bawa di Bajawa. Berdasarkan data statistik tahun 1993, jumlah penduduk etnis ini adalah 82.218 orang. Dari jumlah tersebut, tidak semuanya memiliki kemampuan bertutur sastra.

Sastra lisan Ngadha memiliki fungsi ganda. Ada yang berfungsi sebagai hiburan, adapula yang berfungsi hikmat nasihat dan keramat, karena mengandung nilai luhur yang diturunkan leluhur masyarakat pendukungnya. Masyarakat Ngadha, terutama yang berasal dari generasi tua, tidak sekedar mengagumi keindahan sastra lisannya, tetapi lebih jauh dari itu, mereka juga menghayati dengan perasaan penuh hormat dan patuh. 


Rabu, 03 Juli 2024

Kemelut Kasta

Judul

:

Kemelut Kasta

Penulis

:

Aris Woghe

Penerbit

:

CV. Jejak

Tahun Cetak

:

2020

Halaman

:

170

ISBN

:

979-623-247-677-6

Harga

:

Rp. 95.000

Status

:

Ada

 

Novel Kemelut Kasta menyajikan seluk beluk tradisi kasta di etnis Ngada, Flores, yang dibalut dalam kisah asmara dan prahara cinta dua sejoli beda kasta, Simon dan Maria. Kisah perjodohan, perlawanan dan pelarian mereka adalah cerita tak terpisahkan yang menjadikan novel ini menarik untuk dibaca. Akankah upaya mereka mendobrak tradisi kasta yang dirasa mengekang kebebasan, berakhir indah? ; Atau sebaliknya, mereka harus mengubur dalam-dalam perasaan cinta di tengah derasnya arus penolakan. Novel ini menarik karena mengangkat kehidupan sosial dan budaya masyarakat Ngada, Flores ke permukaan. 


Rabu, 24 April 2024

Budaya Tradisional Reba

Judul

:

Budaya Tradisional Reba

Penulis

:

Veronika Ulle Bhoga

Penerbit

:

Nusa Indah

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

211

ISBN

:

978-623-88784-1-3

Harga

:

Rp. 105.000

Status

:

Ada

 

Reba merupakan perayaan simbolis dari rancang bangun religiusitas Orang Ngada, rancang bangun dari relasi manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungannya. Reba tak hanya mengangkat unsur kebudayaan, tetapi juga dipadukan dengan unsur agama dan kepercayaan masyarakat. Simbol utama dari ritus Reba adalah “Uwi/Ubi” yang diyakini sebagai roti kehidupan manusia.

Bagi masyarakat Ngada (etnis Bajawa, Soa, Riung), perayaan Reba yang dirayakan setiap tahun ini bermakna sebagai ungkapan rasa syukur atas penyelenggaraan Dewa zeta Nitu zale pada tahun silam dan mohon pendampingannya pada tahun yang akan datang. Reba juga menjadi momentum untuk mengenang dan menghormati para leluhur, sekaligus menjadi kesempatan perenungan nilai-nilai luhur yang diwariskan pendahulu kepada generasi mendatang. 


Kamis, 14 Desember 2023

Di Atas Bumi Seperti di Dalam Langit: Mempertimbangkan Astronomi Budaya Reba Ngada

Judul

:

Di Atas Bumi Seperti di Dalam Langit: Mempertimbangkan Astronomi Budaya Reba Ngada

Penulis

:

Josef San Dou

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

240

ISBN

:

978-623-6724-30-9

Harga

:

Rp. 125.000

Status

:

Ada

 

Ritus perayaan Reba masyarakat Ngada tidak berlangsung dalam suatu kevakuman, tetapi dalam suatu kerangka waktu, ruang, kosmos dan arsitektur tertentu. Buku ini mencoba melihat konteks waktu, ruang, kosmos dan arsitektur tersebut – khususnya dari perspektif astronomi budaya Ngada – bukan saja menyangkut kaitan antara pelaksanaan ritus perayaan Reba dengan perubahan bentuk dan letak benda-benda langit, tetapi juga proses pembumian kosmos dan benda-benda langit tersebut ke dalam elemen-elemen budaya Ngada yang pada gilirannya menjadi ruang dan waktu perayaan Reba tersebut seperti arsitektur rumah adat, kampung adat, pakaian adat, ritus-ritus dan mitos-mitos mereka.

Berupaya menggali kearifan dan kebijaksanaan lokal untuk mengkontribusi terhadap gerakan global pelestarian alam, buku ini mencoba melihat bagaimana pengamatan yang cermat atas perubahan bentuk dan letak benda-benda langit menjadi referensi bagi penyelenggaraan dan perayaan kehidupan bersama, termasuk perayaan Reba. Secara khusus buku ini mengedepankan beberapa kajian berikut: Pertama, perayaan Reba sangat erat berkaitan dengan fase-fase bulan, khususnya fase-fase bulan dalam kurun waktu yang disebut Repa yakni dari bulan baru (wula mata/wula mese/wula seli) di mana bulan tidak kelihatan selama dua atau tiga malam, sampai ke bulan purnama (wula gili, wula gili moli, wula pepe li’e, wula dara gesa); kedua, seperti dikemukakan oleh Paul Arndt, SVD, perayaan Reba Ngada berkaitan dengan kurun waktu “ketika matahari berada dalam posisi paling selatan dalam bulan Desember sampai saat matahari berada pada posisi paling tinggi dalam bulan Maret”; dan ketiga, perayaan Reba Ngada berkaitan dengan kembalinya atau terbitnya bintang Dala Ko (Pleiades) pada sekitar solstice Desember yang bertepatan dengan tenggelamnya bintang Wawi Toro (Antares) di rasi bintang Scorpio juga bertepatan dengan kedatangan angin barat yang mengawali musim hujan (wula rute) di wilayah Ngada. Konjungsi benda-benda langit di atas pada awal bulan Desember menjadi konteks waktu perayaan Reba Ngada.

Pembumian benda-benda langit tersebut nampak dalam penataan elemen-elemen kosmos tersebut ke dalam elemen-elemen budaya Ngada seperti arsitektur rumah adat, kampung adat, pakaian adat, ritus-ritus dan mitos-mitos mereka yang pada gilirannya membentuk ruang di mana perayaan Reba tersebut dilaksanakan setiap tahun. Pembumian tersebut nampak pula dalam enam wilayah geografis adat atau geomitologis perayaan Reba Ngada. Menurut Mircea Eliade penataan elemen-elemen kosmos sekitar pusat atau tiang poros tertentu, seperti Ngadhu, adalah proses kosmotisasi dan konsekrasi sesuai dengan kehendak Wujud Tertinggi. Dalam perayaan Reba, manusia dan kosmos semesta menyatu dalam irama yang sama. Di Atas Bumi Seperti Di Dalam Langit. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...