
Judul
|
:
|
Sejarah Timor Timur 1975-1999
|
Penulis
|
:
|
Letkol Caj. Drs. Khafidzin Widodo, M.A.
dkk
|
Penerbit
|
:
|
Dinas
Sejarah TNI Angkatan Darat Bandung
|
Tahun
Cetak
|
:
|
2018
|
Halaman
|
:
|
438
|
ISBN
|
:
|
978-602-7846-37-1
|
Harga
|
:
|
NFS
|
Status
|
:
|
Ada
|
Timor Portugis (Timor Timur) merupakan
daerah yang berbatasan dengan Timor Barat Indonesia, dalam perjalanan
sejarahnya tidak pernah sepi dari kekisruhan, diawali pada masa kolonial
Portugal, penduduk di daerah ini telah melakukan pemberontakan ratusan kali
untuk melepaskan diri dari kolonial Portugal namun tidak pernah berhasil.
Begitu juga halnya ketika proses
dekolonisasi bergulir pada 1975, masing-masing partai politik seperti: UDT,
Apodeti, Fretilin, Kota, dan Trabalista berebut hegemoni memperjuangkan garis
partainya, sehingga terjadi perang saudara. Politik mencari kawan antar partai
untuk melawan partai lain mengalami dinamika bongkar pasang kawan dan lawan,
terakhir berujung dengan koalisi Apodeti, UDT, dan Trabalista melawan Fretilin yang
berhaluan komunis.
Momentum sejarah berikutnya terjadi pada 7
Desember 1975, ketika partai koalisi (Apodeti, UDT, Kota, dan Trabalista)
dibantu para sukarelawan Indonesia berhasil mengalahkan Fretilin yang saat itu
menguasai kota Dili ibu kota Timor Timur, selanjutnya dilakukan pengejaran terhadap Fretilin di
beberapa daerah lainnya. Akhirnya Fretilin masuk hutan untuk melakukan
perjuangan melalui sayap militer (perang gerilya), dan sayap politik mencari
dukungan internasional.
Di saat Fretilin tertekan, partai koalisi
(Apodeti, UDT, Kota, dan Trabalista) kemudian membentuk Pemerintahan Sementara
Timor Timur (PSTT), selanjutnya pada 31 Mei 1976 menyampaikan petisi untuk
berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah melalui
pertimbangan politik dalam negeri dan politik global, akhirnya Timor Timur pada
17 Juli 1976 ditetapkan menjadi bagian dari NKRI, yakni Daerah TK. I Propinsi Timor
Timur.
Permasalahan kekisruhan tidak berakhir di
situ, karena di pihak Fretilin terus melakukan perlawanan terhadap pemerintah
RI di Timor Timur, di pihak lain Portugal dan negara-negara bekas koloninya
seperti Mozambique mengajukan resolusi Timor Timur ke PBB. Agenda Timor Timur
dalam sidang tahunan PBB tidak pernah terselesaikan sampai lengserkebrabonnya
Presiden Suharto pada 21 Mei 1998, dan digantikan Presiden BJ. Habibie. Pada
1999 Presiden BJ. Habibie memberikan opsi kepada warga Timor Timur: Merdeka
atau bergabung dengan NKRI, dan pada jajak pendapat dimenangkan pilihan merdeka.