Tampilkan postingan dengan label Buku Hukum & HAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Hukum & HAM. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juli 2026

Senjata Kami adalah Upacara Adat: Ungkapan Pelambang dan Mantra Nausus, Perempuan Pembela HAM-Lingkungan

Judul

:

Senjata Kami adalah Upacara Adat: Ungkapan Pelambang dan Mantra Nausus, Perempuan Pembela HAM-Lingkungan

Penulis

:

Aleta Baun, dkk

Penerbit

:

Insist Press

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

126

ISBN

:

978-623-6179-31-4

Harga

:

Rp. 73.000

Status

:

Kosong

 

Senjata Kami adalah Upacara Adat merupakan suara lima Nausus—perempuan pejuang tanah airnya yang berdiri di garda depan melawan perusakan alam dan perampasan ruang hidup rakyat. Dari gunung batu Mollo yang dilindungi Mama Aleta, kebun sorgum yang dirintis Maria Loretha di Adonara, pulau Sangihe yang dibela Jull Takaliuang, hutan Gunung Kerasik yang dijaga Mardiana, sampai alam pegunungan Kendeng yang dipanggil ikut berjuang bersama Gunarti dengan doa dan pelambang tubuh-alam.


Buku ini lahir dari proses panen pengetahuan, menggali kebijaksanaan yang tertanam dalam ingatan, tubuh, dan laku, oleh mereka sendiri, dan tampil dalam bentuk ungkapan kata-kata. Di sini, ungkapan pelambang dan mantra menjadi senjata budaya perempuan dalam merawat kehidupan, menyemai harapan, dan meneruskan perlawanan.


Kisah dari NTT yaitu dari Pulau Adonara, Maria Loretha memilih memulihkan martabat sorgum, pangan lokal yang hampir terlupakan sejak politik beras dominan pada masa Orde Baru. Ia membuktikan bahwa menanam yang lokal adalah jalan untuk bertahan dari ancaman kelaparan. “Mintakan kepada alam, maka akan diberikan tempat surga,” seruan yang sangat kuat. Dan Aleta Baun dari Timor, menjadi ikon gerakan perempuan adat. Dari sebutan Perempuan Nausun ‒ perempuan menyusui, kita melihat metafora yang sama antara tubuh perempuan dan alam. Keduanya melahirkan, merawat, dan menjaga keberlangsungan. Di titik itulah ekofeminisme hadir secara alami, ketika tubuh perempuan dan tubuh alam sama-sama disakiti, maka kehancuran akan dirasakan bersama. 


Sabtu, 18 Juli 2026

Kejahatan Sempurna Konspirasi Internasional (Buku 1. Aspek Politik dan Hukum Proses Jajak Pendapat Timor-Timur; Buku 2. Aspek Hak Azasi Manusia dalam Masalah Timor-Timur; Buku 3. Penyelesaian Sejati The Timoris Solution)

Judul

:

Kejahatan Sempurna Konspirasi Internasional (Buku 1. Aspek Politik dan Hukum Proses Jajak Pendapat Timor-Timur; Buku 2. Aspek Hak Azasi Manusia dalam Masalah Timor-Timur; Buku 3. Penyelesaian Sejati The Timoris Solution)

Penulis

:

Dominggus M. Dores Soares

Penerbit

:

Yayasan Futuro

Tahun Cetak

:

2000

Halaman

:

119

ISBN

:

978-96078-0-9

Harga

:

Rp. 100.000     

Status

:

Ada

 

Kami tersiksa nurani menyaksikan kedatangan "malaikat penyelamat" yang keliru diyakini oleh para pemimpin separatis, pecurang nurani timoris, sebagai kekuatan dasyat yang akan menyelesaikan segala permasalahan dan permusuhan di Timor Timur, yakni Pasukan Multinasional PBB. Setelah kedatangan tersebut, justeru rakyat Timor Timur mulai memulung sampah sisa makanan pasukan tersebut untuk dapat tetap bertahan hidup, suatu hal yang tak pernah terjadi.

Para pemimpin pecurang nurani Timoris tersebut, yang sejak semula menjanjikan seribu satu macam kehebatan dan keuntungan bila berpisah, tidak berdaya untuk paling tidak menyelamatkan kelaparan yang diderita oleh rakyatnya dengan sedikit bantuan bahan makanan.

Sadar akan keterlanjuran janji-janji kosong terdahulu, mereka selanjutnya berulah dengan mencari alasan-alasan pembenar yang biasanya ditumpahkan kepada Indonesia dan "milisi". Akhirnya mereka berusaha menyelamatkan diri dengan janji-janji baru lagi yang kini secara langsung bersandar pada PBB dan LSM.

Kasihan rakyatnya. Itu semua adalah akibat kekejaman kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan yang disuburkan berabad-abad oleh penjajah yang sampai sekarang tak henti mencari akal untuk kembali berjaya di Timor Timur.

Malu akan keterlanjuran ini, para pemimpin pecurang itu kini berupaya agar kenyataan sebenarnya di Timor Timur tidak sampai diketahui secara terbuka. Kenyataannya, segala keperluan dipenuhi dengan belanja besar-besaran di Propinsi NTT, namun bila ditanya bagaimana keadaannya di Timor Timur pasti jawabannya adalah "baik". Memang kalau baik mengapa harus belanja jauh-jauh ke sini ... Mereka memang ketat menerapkan 'janji setia untuk merdeka', yakni tetap harus merdeka sekalipun harus makan batu. Ya, yang salah bukan "milisi" tapi penjajah ...

Jadilah Timor Timur itu sekarang suatu kamp konsentrasi di mana rakyat Timor Timur hanya dipaksa kembali dan tidak boleh keluar. Targetnya ialah merekayasa jumlah rakyat yang cukup untuk membenarkan hasil jajak pendapat yang curang itu.

Masih banyak hal lagi yang akan terjadi di TimorTimur ini ... Sekarang saja menyolok sekali bahwa yang lebih bernafsu untuk merdeka justeru kaum  konspirator dan antek-anteknya ... Rakyatnya jadi penonton yang semakin asing di daerahnya sendiri. Kasihan untuk jadi tukang batu saja harus lulus test ... Tapi proyek testingnya diurus oleh administrator atas nama rakyat Timor Timur ... Akhirnya tukang batu juga didatangkan dari luar ... sudahlah ... terlalu sedih. Semoga Tuhan sudi memperhatikan nasib rakyat yang kian menderita ini.

Buku kecil ini datang demi kebenaran. Semoga dapat diketahui oleh semua orang. Semoga Timor Timur tidak dijadikan titik perebutan strategi global ... Dan tidak menjadi pangkalan yang hanya menghasilkan anak haram dan AIDS, di mana insan Timoris menjadi titik perbudakan yang semakin asing di daerahnya sendiri.

Terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu sehingga buku kecil ini dapat terwujud. Terima kasih.


Minggu, 12 Juli 2026

Sejarah Timor Timur 1975-1999

Judul

:

Sejarah Timor Timur 1975-1999

Penulis

:

Letkol Caj. Drs. Khafidzin Widodo, M.A. dkk

Penerbit

:

Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat Bandung

Tahun Cetak

:

2018

Halaman

:

438

ISBN

:

978-602-7846-37-1

Harga

:

NFS     

Status

:

Ada


Timor Portugis (Timor Timur) merupakan daerah yang berbatasan dengan Timor Barat Indonesia, dalam perjalanan sejarahnya tidak pernah sepi dari kekisruhan, diawali pada masa kolonial Portugal, penduduk di daerah ini telah melakukan pemberontakan ratusan kali untuk melepaskan diri dari kolonial Portugal namun tidak pernah berhasil.

Begitu juga halnya ketika proses dekolonisasi bergulir pada 1975, masing-masing partai politik seperti: UDT, Apodeti, Fretilin, Kota, dan Trabalista berebut hegemoni memperjuangkan garis partainya, sehingga terjadi perang saudara. Politik mencari kawan antar partai untuk melawan partai lain mengalami dinamika bongkar pasang kawan dan lawan, terakhir berujung dengan koalisi Apodeti, UDT, dan Trabalista melawan Fretilin yang berhaluan komunis.

Momentum sejarah berikutnya terjadi pada 7 Desember 1975, ketika partai koalisi (Apodeti, UDT, Kota, dan Trabalista) dibantu para sukarelawan Indonesia berhasil mengalahkan Fretilin yang saat itu menguasai kota Dili ibu kota Timor Timur, selanjutnya dilakukan pengejaran terhadap Fretilin di beberapa daerah lainnya. Akhirnya Fretilin masuk hutan untuk melakukan perjuangan melalui sayap militer (perang gerilya), dan sayap politik mencari dukungan internasional.

Di saat Fretilin tertekan, partai koalisi (Apodeti, UDT, Kota, dan Trabalista) kemudian membentuk Pemerintahan Sementara Timor Timur (PSTT), selanjutnya pada 31 Mei 1976 menyampaikan petisi untuk berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah melalui pertimbangan politik dalam negeri dan politik global, akhirnya Timor Timur pada 17 Juli 1976 ditetapkan menjadi bagian dari NKRI, yakni Daerah TK. I Propinsi Timor Timur.

Permasalahan kekisruhan tidak berakhir di situ, karena di pihak Fretilin terus melakukan perlawanan terhadap pemerintah RI di Timor Timur, di pihak lain Portugal dan negara-negara bekas koloninya seperti Mozambique mengajukan resolusi Timor Timur ke PBB. Agenda Timor Timur dalam sidang tahunan PBB tidak pernah terselesaikan sampai lengserkebrabonnya Presiden Suharto pada 21 Mei 1998, dan digantikan Presiden BJ. Habibie. Pada 1999 Presiden BJ. Habibie memberikan opsi kepada warga Timor Timur: Merdeka atau bergabung dengan NKRI, dan pada jajak pendapat dimenangkan pilihan merdeka.


Selasa, 23 Juni 2026

Selamat Tinggal Timor Timur

Judul

:

Selamat Tinggal Timor Timur

Editor

:

Yohanes Sukandar, Sigit Wijayanto & Martinus Manggo

Penerbit

:

Insist Press

Tahun Cetak

:

2000

Halaman

:

226

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 90.000   

Status

:

Ada

 

Harus diakui, kemerdekaan bukanlah sesuatu yang gratis. Timor-Timur telah memberikan bukti bahwa negara tegak diatas pengorbanan yang amat besar. Antara lain, konflik yang berkepanjangan dan hingga kini memakan ribuan korban. Begitulah, buku ini, memberikan serangkaian kisah para pejuang kemanusiaan yang mengabdikan diri untuk kegiatan pelayanan dan pertolongan pada rakyat. Akan tampak disana bahwa pilihan otonomi dan kemerdekaan, bukan semata-mata pilihan sikap, tapi buat Timor Timur itu adalah pilihan yang membawa banyak konsekuensi. Dengan buku ini kita kemudian jadi tahu bahwa para pelayan kemanusiaan, terkadang lebih utama perananya, ketimbang kaum politisi.

Melalui buku ini, kita sebagai bangsa, dapat berkaca tentang nilai-nilai kemanusiaan yang dipertahankan da diperjuangkan oleh segelintir orang. Perjuangan yang sudah pasti tak mendapat aplaus apalagi sorotan media. Layak buku ini dibaca oleh siapa saja, yang ingin belajar dan tahu lebih banyak, mengenai para pekerja kemanusiaan. 


Selasa, 02 Juni 2026

Human Rights? Wiranto and The Independence of East Timor

Judul

:

Human Rights? Wiranto and The Independence of East Timor

Penulis

:

Bilveer Singh

Penerbit

:

Book House, Book and Writers Network Sydney

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

2004

Halaman

:

349

ISBN

:

978-174-0183-147

Harga

:

Rp. 100.000         

Status

:

Ada

 

Even though the United Nations' interest in East Timor can be traced from the debate on its status as a non self-governing territory, Portugal, the colonial power, was largely unmoved as it was not a United Nations' member until 1955. The status quo only altered following a change in regime in Portugal as a result of the 'Flower Revolution' in 1974. Rather, irresponsibly, Portuguese leftist officers in-charge of East Timor abandoned the colonial territory when a furious civil war was taking place amidst great loss of lives. Indonesia's intervention, with the support of the United States, can be directly traced to this Portuguese failure, culminating in territory's integration into Indonesia.

Indonesia's actions were however not fully endorsed by the international community and the territory continued to be regarded as a non self-governing territory. Due to the Cold War, the situation was somewhat tolerated with Australia even recognizing Indonesia's sovereignty over East Timor. At the same time, the territory was plagued by warfare with the pro-independence insurgents fighting the Indonesian military and the pro-integration forces. This situation continued until May 1998. After Suharto's resignation, President Habibie decided to give the East Timorese the right to decide their future with Indonesia. Following the United Nations' sponsored ballot, unfortunately marred by fraud and injustice, the East Timorese opted for independence.

Due largely to the manner the ballot was conducted, the behavior of UNAMET officials prior and after the ballot, and the animosity of the pro and anti-integration forces toward each other, violence broke in East Timor even though many in the West blamed Indonesia, and in particular, the Indonesian military (TNI) and its then commander, General Wiranto.

The study traces the evolution of East Timor's independence and examines the factors behind the many human rights abuses in the territory. Can the TNI and Wiranto be blamed for the violence that transpired in East Timor? Why is the West, especially Australia, so keen on blaming the TNI and Wiranto on what transpired in East Timor? Was the West in any way responsible for the actual violence that broke out in East Timor? Does Australia's East Timor policy since independence explain why it was keen on exaggerating what happened in the territory and allaying blame on the TNI? What was Australia's role in the violence that broke out in East Timor? In hindsight, with so much evidence coming out of East Timor pertaining to the UNAMET and Australia's role, what verdict can be made on Wiranto's culpability as far as human rights violations are concerned? It is hoped that this study will contribute in shedding new light on this matter, especially as far as Wiranto and the independence of East Timor is concerned. 


Jumat, 29 Mei 2026

Tun Afnekan: Lingkar Belajar dan Aksi Anak Muda Bokong dalam Perjuangan Melawan Perdagangan Orang

Judul

:

Tun Afnekan: Lingkar Belajar dan Aksi Anak Muda Bokong dalam Perjuangan Melawan Perdagangan Orang

Editor

:

Dodi Yuniar & Emmanuelle Kania Mamonto

Penerbit

:

Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) & Asia Justice and Rights (AJAR)

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

36

ISBN

:

-

Harga

:

NFS         

Status

:

Kosong

 

Meskipun menjadi salah satu kantong pekerja migran ilegal (PMI), Bokong belum menjadi perhatian pemerintah, bahkan belum diketahui banyak orang. Para pemuda mengambil sikap untuk menyelesaikan permasalahaan di desa dan PMI. Pemuda yang menjadi pembela kemanusiaan memikirkan bagaimana keinginan mengubah hidup dan bekerja di negara orang dapat dilakukan dengan benar. Cara yang bisa dipakai agar keadaan bisa lebih baik, atau bahkan ketika nanti mereka atau masyarakat lain bekerja di luar, tidak terjadi eksploitasi atau dibodohi oleh orang lain.

Para pemuda mencari cara agar warga Bokong bisa berdiri sendiri tanpa bergantung pada alam. Juga agar warga yang pergi keluar sudah mengetahui hak-hak mereka. Sehingga mereka akan menggunakan jalur aman dan mendapat perlindungan hukum. Pemuda adalah tunas baru atau dalam bahasa daerahnya Tun Afnekan, harapan baru desa Bokong. 


Perjuangan, Luka dan Harapan: Tuturan Korban dan Penyintas Perdagangan Manusia Asal NTT

Judul

:

Perjuangan, Luka dan Harapan: Tuturan Korban dan Penyintas Perdagangan Manusia Asal NTT

Editor

:

Martha Bire

Penerbit

:

Asia Justice and Rights (AJAR) & Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT)

Tahun Cetak

:

-

Halaman

:

57

ISBN

:

-

Harga

:

NFS         

Status

:

Kosong

 

Perdagangan orang Nusa Tenggara Timur (NTT) bermodus migrasi tenaga kerja merupakan permasalahaan yang sangat serius. Pada tahun 2015, Menteri Tenaga Kerja menetapkan NTT sebagai Provinsi Darurat Perdagangan Orang berdasarkan data dari Bareskrim Polri. Sementara NTT berada pada urutan ke-9 pengirim Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke luar negeri, namun menempati urutan pertama dalam kasus perdagangan orang. Data Bareskrim ini didukung juga dengan data Komisi V DPRD NTT 2015 bahwa dari total angkatan kerja NTT (2.175.171) diperkirakan 200.115 (9,2%) diantaranya bekerja di luar daerah dan luar negeri. Diperkirakan sebanyak 50.000 pekerja terjebak dalam kasus perdagangan orang dan 80% korban adalah perempuan dan anak.

Korban perdagangan orang dan perbudakan modern mengalami berbagai bentuk kekerasan  bahkan sampai pada kematian. Berdasarkan data kompilasi Aliansi Perdagangan Orang pada tahun 2016-2017 serta data kompilasi JPIT pada tahun 2018-Maret 2020 bahwa selama 4,5 tahun ini, 373 PMI meninggal dunia di negara penempatan dan di Indonesia. Penyebab kematian PMI pada umumnya adalah karena menderita berbagai jenis penyakit kronis, bunuh diri, tenggelam di sungai, di terkam buaya, kecelakaan kerja, dan tidak sedikit juga yang tidak diketahui sebab kematiannya. 


Senin, 11 Mei 2026

Perempuan, Konflik, & Perdamaian: Tuturan Perempuan Korban dan Penyintas Konflik dan Perdamaian di Poso, Ambon, dan Atambua

Judul

:

Perempuan, Konflik, & Perdamaian: Tuturan Perempuan Korban dan Penyintas Konflik dan Perdamaian di Poso, Ambon, dan Atambua

Editor

:

Mery Kolimon, dkk

Penerbit

:

Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) & Kerk in Acte

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

506

ISBN

:

978-602-6260-63-5

Harga

:

Rp. 100.000         

Status

:

Kosong


Pikiran dasar buku ini menggembirakan. Perempuan memainkan peran dalam tiga konflik di Indonesia bagian timur mulai 1999 sampai awal 2000-an, baik sebagai pencipta damai maupun sebagai korban, bahkan pelaku. Peran perempuan ini menyimpang dari stereotip pasif yang umumnya masih hidup di tengah masyarakat patriakal. Menarik bahwa penelitian ini lahir di tengah lingkaran perempuan aktivis yang religius, bukan di lingkaran universitas. Jadi penelitian ini berpotensi untuk menantang penelitian antropologis maupun historis di universitas yang sering masih mencari topik “aman” seperti cerita rakyat, adat, atau kerajaan lokal. Saya kira banyak pembaca di Indonesia akan tertarik dengan cerita-cerita pribadi yang direkam di dalam buku ini: cerita penderitaan, trauma, upaya untuk menyelamatkan sanak-saudara di tengah konflik penuh kekerasan, dan upaya untuk membangun kembali semacam komunitas setelah konflik selesai. Sketsa manusia yang hidup, yang berdarah daging, membuat buku ini mengalir enak. Cerita-cerita pribadi ini membuat kita sadar bahwa konflik berdarah sungguh-sungguh merusak sendi-sendi masyarakat selama bertahun-tahun kemudian. (Gerry van Klinken) 


Bintang Berekor di Langit Timur

Judul

:

Bintang Berekor di Langit Timur

Penyunting

:

Okky Tirto

Penerbit

:

Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan

Tahun Cetak

:

2018

Halaman

:

224

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 85.000         

Status

:

Ada

 

Minimnya bahan bacaan, dalam hal ini narasi alternatif tentang apa yang terjadi terkait tragedi 65, adalah salah satu sumber masalah yang membuat orang, bahkan yang berpendidikan, merasa khawatir untuk membicarakan hal tersebut. Dari pengalaman tersebut, nyata bahwa narasi tunggal versi orde baru masih mendominasi literasi seputar 65. Mendapati kenyataan demikian, kami semakin terpanggil untuk berbagi informasi dan memeriksa ingatan terkait peristiwa 65. Gayung bersambut, rohaniawan turun tangan membantu, dosen ikut serta ambil peran, mahasiswa tak mau ketinggalan ambil bagian, begitu pula dengan kerabat mereka yang memainkan peran yang sangat membantu yang hingga akhirnya sekumpulan prosa dan puisi ini sampai ke hadapan pembaca. Ini adalah hasil kerja kita bersama.

Dalam sebuah perbincangan dengan oma opa di Alor, kami mendengar kisah bahwa menjelang terjadi peristiwa yang merenggut banyak korban itu, orang di Alor melihat bintang berekor. Menurut opa-opa dalam sebuah perbincangan bersama kami, dalam kebiasaan di Alor orang meyakini bahwa bintang berekor adalah tanda bahwa suatu peristiwa besar akan terjadi. Ia menjadi semacam petanda buruk. Terinsipirasi dari perbincangan tersebut, maka kami membungkus narasi 65 yang terdiri dari dua bagian ini dalam sebuah judul Bintang Berekor di Langit Timur. 


Minggu, 19 April 2026

Etnografi Konflik: Fragmen Generasi Eks Pengungsi Timor Timur di Desa Keun

Judul

:

Etnografi Konflik: Fragmen Generasi Eks Pengungsi Timor Timur di Desa Keun

Penulis

:

Dwi Wulan Pujiriyani

Penerbit

:

 

Tahun Cetak

:

-

Halaman

:

280

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. -

Status

:

Kosong


Buku ini adalah revisi dari buku berjudul ‘Merdeka Dalam Pasungan Pendidikan Anak-Anak di Pengungsian yang pernah diterbitkan secara terbatas oleh Penerbit Intan Media pada tahun 2012. Edisi kali ini ditambahkan dengan pendalaman mengenai etnografi konflik. Buku ini selain menghadirkan etnografi Suku Timor (Suku Tetun dan Suku Dawan), juga dimaksudkan sebagai rujukan ketika akan melakukan kerja etnografi di daerah konflik atau rentan terjadi konflik. Konflik dalam buku ini secara spesifik diletakan dalam konteks pengungsian. Pengungsian akibat konflik merupakan jejak historis yang muncul pada masyarakat di Desa Keun, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. 


Kamis, 27 November 2025

Insiden Besipae: Framing Media dan Politik Pemaknaan

Judul

:

Insiden Besipae: Framing Media dan Politik Pemaknaan (Kritik terhadap Keberpihakan, dan Black Campaign Media)

Penulis

:

Mikhael R. Bataona

Penerbit

:

-

Tahun Cetak

:

-

Halaman

:

162

ISBN

:

-

Harga

:

NFS

Status

:

Kosong

 

Nilai berita pada konflik Besipae mendapat perhatian berbagai media nasional dan lokal. Selain unsur konflik sebagai salah satu nilai berita, potret kemiskinan yang tergambar dari kehidupan warga Besipae, menjadi salah satu alasan kuat media memberi atensi yang tinggi terhadap insiden ini. Insiden Besipae bermula dari adanya gagasan pembangunan di atas lahan Besipae oleh Pemerintah Provinsi NTT. Pilihan lokasi Besipae sebagai lokasi pembangunan memunculkan reaksi penolakan dari warga Besipae yang menempati sebagain lahan tersebut. Status hukum lahan Besipae dipersoalkan dan status sosial budaya  di balik lahan tersebut dipertahankan. Konflik terjadi dan berdampak langsung terhadap kedua belah pihak.

Penelusuran terhadap pblikasi media online nasional dan lokal menampilkan ragam fakta yang terjadi dalam insiden Besipae. Ragam fakta tersebut menunjukkan kompleksitas persoalan ini dari perspektif media. Insiden Besipae merupakan suatu entitas sosial, politik, budaya, hukum dan ekonomi yang inheren dengan setiap penggalan peristiwa. Oleh karena itu, suatu opini yang disampaikan ke publik dengan pilihan perspektif tertentu didasarkan pada pemahaman yang komprehensif. Hasil analisis framing terhadap pemberitaan media online dapat membantu terbentuknya penalaran pembaca yang sistematis. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...