Selasa, 29 Mei 2018

Kepulauan Nusantara Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam

Judul
:
Kepulauan Nusantara Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam
Penulis
:
Alfred Russel Wallace
Penerbit
:
Komunitas Bambu
Tahun Cetak
:
2009
Halaman
:
482
ISBN
:
979-3731-56-7
Harga
:
Rp. 225.000
Status
:
Kosong



Teori evolusi yang dikemukakan Charles Darwin kini diakui banyak orang tak semata hasil pemikiran Darwin seorang. Sebelum Darwin berani mempublikasikan teori yang memutar-balikkan ide asal-usul kehidupan tersebut, di Ternate, Maluku Utara, pada 1858, seseorang bernama Alfred Russel Wallace mengirimkan naskahnya kepada Darwin. Nampaknya mereka tiba pada kesimpulan yang kurang lebih sama, mengenai persebaran dan evolusi spesies. Setahun kemudian, Darwin menerbitkan karyanya, The Origin of Species, setelah diyakinkan oleh kesimpulan-kesimpulan Wallace dalam naskah dari Ternate tersebut. Kini keduanya disandingkan sejajar sebagai penemu teori evolusi. Bagi Indonesia, Wallace mempunyai peran penting mengingat Indonesia memiliki persebaran fauna yang tidak lazim, mengikuti perubahan permukaan bumi di masa lampau.

Tuhan Pung Kata-Kata: Janji Lama (Pilihan) deng Janji Baru Bahasa Kupang

Judul
:
Tuhan Pung Kata-Kata: Janji Lama (Pilihan) deng Janji Baru Bahasa Kupang
Penerbit
:
Unit Bahasa dan Budaya GMIT & Wycliffe Bible Translators Australia
Tahun Cetak
:
2016
Halaman
:
1261
ISBN
:
978-0-7272-0364-9
Harga
:
Rp. 100.000
Statu
:
Ada


“Bahasa Kupang sehari-hari dipergunakan oleh masyarakat Kupang dalam pergaulan satu sama lain. Ada semacam keintiman di dalam-nya. Kalau sekarang Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa ini, itu menandakan bahwa Firman Allah memang hendak didengarkan dalam keintiman, bertemu dan menyapa kita dalam keberadaan kita yang otentik. Mudah-mudahan dengan membaca terjemahan Alkitab ini, Firman Allah yang berinkarnasi di dalam kenyataan kita sehari-hari sungguh-sungguh didengarkan.” Pdt. Dr. Anderias A. Yewangoe, Mantan Ketua Umum, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI).

“Dengan hadirnya terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Kupang, maka Firman Allah lebih dipahami oleh orang-orang Kristen di dalam wilayah pelayanan GMIT dan diberlakukan dalam hidup sehari-hari. Sebab mereka membaca Alkitab dalam bahasa yang sangat sederhana dan mudah dimengerti.” (Pdt. Dr. Semuel B. Hakh, Ketua Umum Gereja Protestan Indonesia, GPI).

“Terjemahan Alkitab dalam bahasa sehari-hari, seperti Perjanjian Baru dalam bahasa Kupang, kiranya mendorong umat-Nya semakin sadar akan perlunya jawaban yang sesuai dalam hidup para pembaca. Mungkin kit manusia lebih cenderung kepada yang kurang jelas, agar tanggungjawab kita akan Sabda-Nya kurang membebani perilaku sehari-hari. Biar bagaimana pun juga, kita bersyukur atas terjemahan dalam bahasa Kupang, karena Sabda-Nya akan menjadi penuntun perilaku kita sepanjang hidup sebagai murid-murid Kristus.” (Mgr. Petrus Turang, Uskup Agung Kupang).

“Perjanjian Baru bahasa Kupang su ada. Orang Kupang nanti lebe mangarti Tuhan Allah pung Kata-kata lai, tagal Dia omong deng kotong pake kotong pung bahasa hari-hari.” (alm. Pdt. Dr. Ayub Ranoh, Mantan Ketua Sinode, Gereja Masehi Injil di Timor, GMIT).


Jumat, 25 Mei 2018

Sejarah Perkembangan Misi Flores Dioses Agung Ende

Judul
:
Sejarah Perkembangan Misi Flores Dioses Agung Ende
Penulis
:
L. Lame Uran
Penerbit
:
-
Tahun Cetak
:
-
Halaman
:
342
ISBN
:
-
Harga
:
Rp. 125.000
Status
:
Kosong


Pada bagian pertama buku ini mengisahkan awal mula perkembangan dan keruntuhan karya Misi pater-pater Dominikan di Kepulauan Solor, seperti dikenal waktu itu yakni terdiri dari Pulau Flores, Timor, Pulau Solor, Adonara, dan Lomblen. Selanjutnya kami memperkenalkan karya Misi pater-pater Yesuit, karya Misi pater-pater Serikat Sabda Allah, sampai terbentuknya Dioses Agung Ende.

Dioses Agung Ende mencakup tiga Kabupaten Sikka, Kabupaten Ende dan Kabupaten Ngada. Di Kabupaten Ngada sudah terdapat stasi-stasi Misi sejak abad XVI seperti Stasi Kewa, Lena, Laka, Mari, Tonggo dan Lambo, 15 km dari Tonggo. Oleh serangan Islam dan peperangan melawan Kompeni Belanda, desa-desa ini semua sudah menjadi Islam dan kembali menjadi kafir. Disebutkan dalam dokumen sejarah, bahwa desa-desa ini telah menjadi Katolik sejak tahun 1566. Pada tahun 1772 misionaris terakhir berangkat dari Numba di pantai selatan Flores meninggalkan umat.

Pada waktu itu di wilayah sekarang termasuk Kabupaten Ende terdapat tiga stasi Misi di Pulau Ende, yakni: Numba, Saraboro dan Curollales. Di pantai utara wilayah LIO terdapat Stasi Dondo, sebuah pelabuhan tempat kapal-kapal Portugis mengambil air minum dan membeli bahan makanan. Keempat stasi ini juga telah dikuasai Islam atau Belanda, sehingga smeuanya telah menjadi Islam atau kafir kembali. Hanya di Kabupaten Sikka stasi-stasi Katolik tetap mempertahankan imannya. Ketika pada tahun 1868 dikunjungi oleh Pater Omzigt SY terdapat pada waktu itu umat sekitar 6.000 orang. Mereka memang menamakan diri Katolik. Tetapi mereka hidup sama dengan orang kafir.

Ragam Kain Tradisional Indonesia Tenun Ikat

Judul
:
Ragam Kain Tradisional Indonesia Tenun Ikat
Penulis
:
Suwati Kartiwa
Penerbit
:
PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Cetak
:
2007
Halaman
:
156
ISBN
:
978-979-22-2656-0
Harga
:
Rp. 130.000
Status
:
Kosong


Dari selembar kain tenun ikat yang indah, Anda dapat menelusuri kekayaan budaya Nusantara. Dari berbagai ragam corak, jenis, dan cara pembuatannya, Anda dapat menyelami adat dan budaya masyarakat yang membuatnya. Bahkan para peneliti dari mancanegara seperti Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Inggris dan Prancis berdatangan untuk melihat secara langsung sekaligus melakukan penelitian terhadapnya.

Buku ini akan membawa Anda “berpetualang” menelusuri daerah persebaran kain tenun ikat di Indonesia. Mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Sunda, Flores, pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara Timur, Timor, hingga negeri seribu pulau, Maluku. Anda akan menemukan kekayaan tersembunyi dari setiap kain tenun ikat yang Anda jumpai dalam buku ini. Bukan hanya fungsi harfiahnya, sejarah yang mencerminkan adat istiadat, kepercayaan, dan kebiasaan masyarakat setempat pun akan Anda dapatkan.

Foto-foto yang menarik dan beberapa kreasi cara mengenakannya akan mendorong Anda untuk semakin menelusurinya. Buku ini wajib dibacar untuk memberikan inspirasi bagi siapapun yang berminat untuk menggali dan memanfaatkan kekayaan budaya negeri ini.

Kemiskinan Energi Listrik Memberi Terang Wilayah Terpencil Indonesia

Judul
:
Kemiskinan Energi Listrik Memberi Terang Wilayah Terpencil Indonesia
Editor
:
Maxensius Tri Sambodo
Penerbit
:
LIPI Press
Tahun Cetak
:
2015
Halaman
:
104
ISBN
:
978-979-799-819-6
Harga
:
Rp. 75.000
Status
:
Ada


Dunia ini digerakkan oleh energi listrik. Hampir seluruh kegiatan yang dilakukan oleh manusia bergantung dari ketersediaan listrik, mulai dari aktivitas industri, pendidikan, hingga rumah tangga. Di Indonesia, energi listrik juga memainkan peran sentral dalam menggerakkan kehidupan bangsa ini. Namun, ketersediaan listrik belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Masih banyak masyarakat di daerah yang mengalami kesulitan mengakses energi listrik.

Bunga rampai Kemiskinan Energi Listrik: Memberi Terang Wilayah Terpencil Indonesia berusaha menjawab persoalan kemiskinan yang sangat erat kaitannya dengan kesulitan akses energi listrik. Kendala yang terjadi di lapangan dalam usaha penyediaan akses listrik di daerah terpencil juga dibahas secara mendetail, terutama yang menyebabkan kurangnya keikutsertaan pemerintah daerah. Tak lupa, bunga rampai ini juga memberikan skema peningkatan akses listrik yang berpotensi untuk dikembangkan. 

Bunga rampai ini diharapkan dapat dijadikan acuan pengambilan kebijakan dan program-program bagi pemerintah daerah dan para pihak yang peduli pada permasalahan akses listrik di daerah terpencil. Selain itu, bunga rampai ini juga dapat memberikan informasi bagi perkembangan keilmuan, terutama studi mengenai akses listrik dan kemiskinan.

Kamis, 24 Mei 2018

Adat Istiadat Daerah Nusa Tenggara Timur

Judul
:
Adat Istiadat Daerah Nusa Tenggara Timur
Penulis
:
Drs. Munandjar Widiyatmika dkk
Penerbit
:
Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun Cetak
:
1978
Halaman
:
157
ISBN
:
-
Harga
:
NFS
Status
:
Kosong


Buku ini diantaranya mencakup sistem mata pencaharian hidup yaitu: berburu, meramu, perikanan, pertanian, peternakan dan kerajinan. Sistem teknologi dan perlengakapan hidup yaitu: alat-alat produksi, alat-alat transportasi, wadah atau alat untuk menyimpan, makanan dan minuman, pakaian dan perhiasan serta tempat perlindungan dan perumahan. Sistim religi dan sistem pengetahuan yaitu: sistem kepercayaan, kesusastraan suci, sistem upacara dan sistem pengetahuan. Sistem kemasyarakatan yaitu: sistem kekerabatan, daur hidup (life cyrcle), sistem kesatuan hidup setempat dan stratifikasi sosial. Sedangkan ungkapan-ungkapan yaitu: pepatah-pepatah, simbol-simbol, kata-kata tabu, ukiran-ukiran dan motif-motif.

Upacara Tradisional Daerah Timor Timur

Judul
:
Upacara Tradisional Daerah Timor Timur
Editor
:
Zulyani Hidayah
Penerbit
:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun Cetak
:
1990
Halaman
:
67
ISBN
:
-
Harga
:
RP. 50.000
Status
:
Ada


Masyarakat Timor Timur sejak tanggal 17 Juli 1976 telah menyatukan diri kembali ke dalam wilayah negara kesatuan Republik Indonesia, sehingga sekarang merupakan bagian dari keseluruhan masyarakat Indonesia. Propinsi termuda yang ke 27 di Indonesia ini sedang memacu pembangunan di segala bidang untuk mengejar ketertinggalannya dengan propinsi-propinsi lain. Pembangunan sarana dan prasarana lembaga-lembaga pendidikan, jalur komunikasi, jalan dan jembatan, irigasi dan pertanian dari tahun ke tahun terus ditingkatkan. Untuk tahun mendatang pemerintah daerah mengupayakan agar propinsi Timor Timur terbuka bagi penanaman modal asing maupun dalam negeri serta akan digalakkan industri pariwisata daerah dalam rangka mensukseskan pemasukan devisa negara dari sektor nonmigas. Salah satu dampak semuanya itu akan terjadi proses pergeseran nilai-nilai budaya masyarakat termasuk nilai-nilai yang terkandung dalam upacara tradisional.

Di samping itu, secara nyata hingga sejauh ini kita belum memiliki data-data yang lengkap mengenai upacara-upacara tradisional pada sukubangsa-sukubangsa di Timor Timur. karena itu kegiatan Inventarisasi dan Dokumentasi Upacara Tradisional ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan pengolahan untuk tujuan menanamkan nilai-nilai sosial budaya kepada generasi muda yang sekarang kurang memahami gagasan vital dan makna simbolik yang terkandung didalamnya.

Kegiatan proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Timor Timur tahun anggaran 1988/1989 ini dibatasi pada upacara tradisional yang berkaitan dengan tahap lintasan hidup perseorangan (individual live cycle = daur hidup) yang meliputi: 1) upacara masa kehamilan, 2) upacara kelahiran dan masa bayi, 3) upacara masa kanak-kanak dan 4) upacara masa dewasa.

Rabu, 23 Mei 2018

Profil Propinsi Republik Indonesia Nusa Tenggara Timur

Judul
:
Profil Propinsi Republik Indonesia Nusa Tenggara Timur
Penulis
:
Yeni Eoh &N. Suseno
Penerbit
:
Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara & Majalah TELSTRA
Tahun Cetak
:
1992
Halaman
:
424
ISBN
:
979-8399-00-5
Harga
:
NFS
Status
:
Kosong


Penerbitan buku dengan judul: “Profil Propinsi Republik Indonesia” oleh majalah TELSTRA Jakarta. Saya sangat menghargai upaya dan prakarsa pimpinan beserta staf majalah TELSTRA untuk menerbitkan Buku Profil Propinsi Republik Indonesia, karena buku adalah sumber ilmu pengetahuan yang sangat dibutuhkan oleh manusia yang mendambakan kemajuan.

Isi buku tersebut, tentu menggambarkan profil dari ke 27 propinsi di Indonesia, yang merupakan sumber informasi tentang perkembangan pembangunan dan hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai tiap-tiap propinsi, yang perlu diketahui oleh setiap warga negara Indonesia. Khusus menyangkut perkembangan pembangunan di Nusa Tenggara Timur, dapat digambarkan bahwa letak, geografis, serta keadaan alam yang tandus dan gersang, turut mempengaruhi lajunya pembangunan di daerah.

Oleh karena situasi dan kondisi alamiah daerah Nusa Tenggara Timur yang demikian, maka propinsi Nusa Tenggara Timur masih tertinggal jauh di belakang dibanding dengan lajunya pembangunan dari propinsi lain, karena realita menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan hidup sebagian rakyat Nusa Tenggara Timur, masih berada di bawah garis kemiskinan. Menyadari bahwa tingkat kesejahteraan rakyat Nusa Tenggara Timur masih sangat rendah, maka pemerintah daerah Nusa Tenggara Timur selalu berupaya mengejar ketinggalan ini, dengan mencanangkan berbagai program pembangunan. Dan yang merupakan program prioritas pemerintah Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur dalam Pelita V ini, adalah program “GEMPAR” (Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat) dan program “GERBADES” (Gerakan Membangun Desa). (Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur, H. Fernandez)


Selasa, 22 Mei 2018

Nusa Tenggara Timur yang Kaya Cendana

Judul
:
Nusa Tenggara Timur yang Kaya Cendana
Penulis
:
Ris Therik
Penerbit
:
Ikhwan Jakarta
Tahun Cetak
:
1991
Halaman
:
68
ISBN
:
-
Harga
:
Rp. 60.000
Status
:
Ada


Penduduk Nusa Tenggara Timur berasal dari beberapa daerah di kepulauan Indonesia ini. Ada pula dari daerah-daerah di luar kepulauan Indonesia. Syair-syair orang di pulau Roti di waktu Hus (upacara meminta hujan) dan Bappa (menurut silsilah) menunjukkan bahwa nenek moyang mereka berasal dari daerah Solok (Sumatra Barat), Tanah Melayu, Pulau Seram, Srilangka, India Belakang dan Malaka.

Begitupun cerita orang-orang tua di Manggarai (Flores Barat) menyatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Minangkabau. Syair-syair orang pulau Sawu (Sabu) di waktu Padoa menyatakan bahwa  nenek moyang mereka berasal dari Majapahit. Orang-orang tua mereka mengatakan bahwa di zaman Majapahit masih jaya datanglah dua buah perahu Majapahit yang besar membawa kira-kira dua ratus penumpang ke pulau Raijua, sebuah pulau kecil dekat pulau Sawu. Beberapa puluh tahun kemudian anak cucu orang-orang itu pindah dari sana ke pulau Sawu. Kabarnya puri (tempat sembahyang) orang-orang Majapahit sampai kini masih terdapat di pulau Raijua.

Orang-orang di pulau Timor mengatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari jazirah Malaka dan Minangkabau. Mereka mendarat di teluk Wetoh dan Maubesi kemudian masuk ke pedalaman pulau tersebut. Sebagai kenang-kenangan di daerah yang mula-mula mereka datangi itu dinamainya Malaka dan Solok. Kini tempat-tempat itu masih terdapat di Belu Tasimane. Kemudian anak cucu mereka tersebar di seluruh pulau Timor.

Orang-orang Nusak (Kerajaan) Ti, Lelenuk, Bilba, Diu dan Korbafo di pulau Rotti menyatakan bahwa nenek moyang mereka juga berasal dari tanah Melayu dan Solok. Mereka lari ke pulau itu karena dikejar oleh orang-orang Aceh. Separuh dari orang-orang Bilba di pulau Rotti mengatakan bahwa datuk-datuk mereka berasal dari Aceh. Mulanya mereka harus melawan penduduk asli (orang Timor menyebut suku Melus dan orang Rotti menyebut Bingae). Karena kebudayaan mereka lebih tinggi dengan mudah penduduk asli di sana dapat dikalahkan.

Penduduk kepulauan Alor dan kepualauan Solor yang mirip suku Irian berasal dari kepulauan Maluku. Kepulauan itu sudah lama dikenal oleh bangsa-bangsa di Asia dan Eropa karena kayu cendananya. Orang Eropa memakai minyak kayu cendana sebagai obat luka. Orang India yang kaya raya pada zaman dulu membakar mayat dengan kayu cendana dan orang Cina memakai serbuk cendana untuk dibakar pada pedupaan di klenteng-klenteng mereka.


Prof. Dr. Wilhelmus Zakharias Yohannes

Judul
:
Prof. Dr. Wilhelmus Zakharias Yohannes
Penulis
:
Drs. M. Sunjata Kartadarmadji
Penerbit
:
Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya - Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun Cetak
:
1980
Halaman
:
106
ISBN
:
-
Harga
:
NFS
Status
:
Kosong


Dalam jenjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan, data dan fakta historis  telah memberikan bukti, betapa besarnya pengorbanan yang telah diberikan oleh para patriot bangsa. Pengorbanan itu baik berupa harta benda, jiwa dan keyakinan akan cita-citanya. Kemerdekaan Indonesia yang di proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, harus ditebus dengan harga yang mahal sekali. Kita telah kehilangan putra-putri terbaik, baik dalam rintisan perjuangan untuk mencapai kemerdekaan maupun dalam rangka menegakkan kemerdekaan. Oleh karena itu sangatlah tepat, jika pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan putra-putri pilihanya sebagai pahlawan nasional. Walaupun masih ribuan jasa pahlawan tak dikenal yang pusaranya tersebar di persada Indonesia. Hal ini bukan berarti kita telah melupakan jasa mereka, sama sekali tidak. Pengorbanan mereka tetap terpatri dalam setiap dada bangsa Indonesia. Penghormatan dan penghargaan untuk mereka yang telah dilakukan setiap malam 17 Agustus dalam ujud renungan suci. Sedangkan bagi mereka yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional secara resmi oleh pemerintah, merupakan langkah positip dalam kriteria yang kongkrit berdasarkan pengabdian dan jasa mereka di arena perjuangan bangsa.

Di samping itu penetapan seseorang menjadi pahlawan nasional, juga telaj digariskan dalam peraturan pemerintah, antara lain: Warga nagara Indonesia yang sesama hidupnya terdorong oleh rasa cinta tanah air dan bangsanya, memimpin suatu kegiatan secara teratur dalam menentang penjajahan di bumi Indonesia. Dengan demikian dianggap perlu untuk menjadi tauladan bagi setiap warga Indonesia.

Salah seorang dari mereka yang termasuk ketegori pahlawan nasional ialah almarhum Prof. Dr. W. Z Johannes. Dia termasuk salah satu tokoh pejuang perintis dalam bidang kesehatan dan terkenal sebagai bapak radiologi Indonesia pertama. W. Z. Johannes terkenal juga sebagai salah seorang pejuang kemanusiaan dalam bidang kedokteran, yang sangat konsekwen dalam tugasnya. Di kalangan masyarakat, dia dikenal sebagai dokter filantrop, seorang dokter yang penuh kasih sayang terhadap sesama manusia. Sebagai bukti dapat disaksikan pada batu nisan kubur almarhum di Jati Petamburan terukir kalimat: “Sayangilah seorang akan seorang dengan kasih.”

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...