Tampilkan postingan dengan label Buku Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Sosial. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2026

Mozaik Inspirasi dari Timur

Judul

:

Mozaik Inspirasi dari Timur

Penulis

:

Kornelis Rahalaka

Penerbit

:

Jejak Pustaka

Tahun Cetak

:

2026

Halaman

:

124

ISBN

:

978-623-524-303-0

Harga

:

Rp. 80.000

Status

:

Ada

 

Timur Indonesia bukan sekadar gugusan pulau yang eksotis, melainkan tanah tempat perjuangan, ketangguhan dan harapan lahir dan dirawat. Di balik bukit-bukit batu dan deburan ombaknya, tersimpan kisah-kisah manusia yang memilih untuk tidak menyerah pada keterbatasan. Buku ini merajut 50 potret kehidupan dari Flores hingga Lembata-mulai dari pendidik yang menyalakan pelita di pelosok desa, penggerak sosial yang merangkul kaum marginal, hingga tokoh politik yang berjuang demi martabat daerahnya. Mereka adalah kepingan mozaik yang membuktikan bahwa dedikasi tidak butuh panggung megah untuk bisa bercahaya.

"Matahari memang terbit dari Timur, namun semangat dari buku ini akan menyinari siapa pun, di mana pun."


Jumat, 07 Agustus 2026

Demokrasi Elektoral Lokal

Judul

:

Demokrasi Elektoral Lokal

Penulis

:

Jemris Fointuna, dkk

Penerbit

:

Komisi Pemilihan Umum Provinsi NTT

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

242

ISBN

:

978-623-6183-93-9

Sumber

:

https://ntt.kpu.go.id/

Download

:

Di Sini


Pemilihan Serentak Tahun 2024 di Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia di tingkat lokal. Dalam konteks wilayah, pemilihan bukan sekadar agenda prosedural, melainkan ruang tempat nilai-nilai demokrasi dipraktikkan dan diuji. Buku ini merekam perjalanan panjang penyelenggaraan pemilihan, mulai dari perencanaan, pemutakhiran data pemilih, pembentukan badan adhoc, hingga proses pemungutan dan penghitungan suara.

Buku ini menghadirkan pembacaan mendalam atas dinamika sosial-politik yang menyertai proses elektoral di Nusa Tenggara Timur. Tantangan geografis di wilayah kepulauan, kompleksitas koordinasi lintas kelembagaan, dinamika partisipasi pemilih, serta strategi pengawasan dan sosialisasi yang adaptif menjadi bagian penting dari analisis ini. Di antara tantangan tersebut, ketersediaan dan kapasitas sumber daya manusia di berbagai wilayah juga memiliki peran krusial, sebab tidak meratanya kompetensi penyelenggara di lapangan kerap memengaruhi kelancaran proses pemilihan. Dengan demikian, setiap bab dalam buku ini tidak hanya menyajikan fakta-fakta empirik, tetapi juga mengurai konteks struktural, institusional, dan kultural yang membentuk praktik penyelenggaraan pemilihan di daerah.

Pendekatan naratif dan reflektif memberi ruang bagi pembaca dapat melihat pemilihan bukan hanya sebagai peristiwa politik, tetapi sebagai proses yang hidup dan terus bergerak. Pemanfaatan teknologi, inovasi sosialisasi, serta penguatan jejaring kelembagaan menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola pemilu yang lebih terbuka, inklusif, dan akuntabel. Buku ini bukan hanya bentuk pertanggungjawaban birokratis, tetapi juga cermin dari bagaimana penyelenggara pemilu bekerja menghadapi kenyataan di lapangan, di mana prinsip-prinsip demokrasi bersinggungan dengan realitas yang ditandai kompleksitas struktural, keragaman geografis, dan dinamika sosial yang diurai.

Senin, 03 Agustus 2026

Orang Topas: Identitas dan Kemelut Politik di kawasan Laut Sawu Abad 17-19

Judul

:

Orang Topas: Identitas dan Kemelut Politik di kawasan Laut Sawu Abad 17-19

Penulis

:

Muhammad ‘Afwan Mufti, Daya Negri Wijaya, & Hariyono

Penerbit

:

Indis

Tahun Cetak

:

2026

Halaman

:

146

ISBN

:

978-634-7365-25-5

Harga

:

Rp. 85.000

Status

:

Ada

 

Kajian sejarah Indonesia sejauh ini hanya memberikan perhatian terbatas pada hibriditas etnis. Padahal, perkawinan campur dan perpaduan budaya telah memainkan peran penting dalam sejarah kolonialisme. Oleh karena itu, para penulis dalam buku ini mengangkat isu penting yang menunjukkan bagaimana kelompok hibrida tidak hanya memposisikan diri sebagai agen ekonomi, tetapi juga menentang klaim hegemoni Eropa. - Prof. Hans Hägerdal (Linnaeus University)

Sulit dibayangkan tanpa kehadiran dan peran orang Topas dalam proses terbentuknya jaringan maritim di Indonesia Timur, khususnya di kawasan Laut Sawu, abad ke-17 sampai ke-19. Di sinilah penting dan menariknya buku ini sebagai literasi untuk memahami sejarah Indonesia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. - Prof. Dr. Susanto Zuhdi (Guru Besar Purnabakti FIB-UI) 

Narasi sejarah harus terus dicerita dan dibingkaikan secara ilmiah. Sejarah Orang Topas bukan saja membawa kita kepada lembaran masa penjajahan dan perdagangan maritim yang makmur, tetapi juga pertembungan budaya, bahasa dan agama, sehingga menjadikan wilayah Nusantara kita beragam dan rencam. Buku ini adalah sumbangan berguna untuk kita mendalami sejarah komunitas yang mana kesaksian sejarah mereka mewarna dan memaknakan cakrawala sejarah bangsa kita. - Dr. Azhar Ibrahim Alwee (National University of Singapore)

Buku ini adalah satu analisis penting yang secara komprehensif telah menstrukturkan semula perananan Orang Topas sebagai pemain penting dalam dinamik geopolitik Laut Sawu abad ke-17 hingga ke-19. Secara jelas, ianya melawan naratif berbaur Eurosentrik, yang mana penulis telah menyelusuri pembentukan identiti hibrid dan agensi politik masyarakat peranakan ini dalam menavigasi persaingan antara VOC dan Portugis. Karya ini memberikan sumbangan penting terhadap historiografi Nusantara Timur, khususnya mengenai keterlibatan strategik mereka dalam kawalan ekonomi perdagangan serantau dan birokrasi tempatan yang rumit. - Dr. Ahmad Jelani Halimi (Pengerusi Persatuan Sejarah Malaysia Cawangan Perak (PSMCPk), Ipoh, Perak) 

Karya ini merupakan kontribusi penting dalam historiografi Indonesia Timur dengan menempatkan Orang Topas sebagai pelaku sejarah yang dinamis. Melalui analisis yang tajam dan berbasis sumber yang kuat, buku ini berhasil mengungkap kompleksitas jaringan perdagangan, identitas hibrida, serta strategi adaptif dalam menghadapi perubahan geopolitik kawasan Laut Sawu abad ke-17 hingga 19. - Prof. Cahyo Pamungkas, Ph.D (Profesor Riset BRIN) 


Minggu, 12 Juli 2026

Manajemen Konflik Berbasis Budaya, Dari Ngada untuk Indonesia

Judul

:

Manajemen Konflik Berbasis Budaya, Dari Ngada untuk Indonesia

Penulis

:

Rofinus Neto Wuli

Penerbit

:

Kompas

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

268

ISBN

:

978-623-346-672-1

Harga

:

Rp. 80.000         

Status

:

Ada


Konflik tak bisa lepas dalam hidup manusia. Hal ini membuat pena­nganan konflik sering kali menjadi momok bagi para pemangku kebijakan. Padahal, diperlukan strategi efektif dalam pengelolaan kon­flik guna mengembalikan harmoni di tengah masyarakat.

Manusia modern dibentuk berdasarkan sejarah panjang yang tak luput dari konflik. Daripada berfokus menghindari konflik, kita perlu menyadari bahwa manajemen konflik merupakan bagian dalam proses mencapai perdamaian yang hakiki. Pendekatan itulah yang ditawarkan dalam buku ini. Sudah seharusnya konflik ditangani sebagai aspek integral dalam kehidupan bersama.

Manajemen konflik seharusnya menjadi cara pengambilan keputusan guna mencapai mufakat, dan lebih jauh lagi, perdamaian. Penyelesaian konflik tak bisa dilepaskan dari pihak-pihak terkait. Perlu dicapai resolusi damai yang sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang diaplikasikan dalam masyarakat.

Di Indonesia, manajemen konflik sudah menjadi bagian integral da­lam masyarakat. Hal ini terejawantah dalam budaya keseharian. Buku ini mengangkat studi kasus masyarakat Ngada di Flores yang memiliki manajemen konflik dan terbukti mampu merekatkan kembali simpul kerukunan di masyarakat dengan mempertahankan asas-asas luhur persaudaraan. Tak hanya melibatkan seluruh anggota masyarakat terkait, manajemen konflik ala masyarakat Ngada juga menerapkan sistem peng­ampunan sebagai bagian linier dalam mengembalikan stabilitas masyarakat pascakonflik. 


Jumat, 26 Juni 2026

Babinomics Ekonomi Sosial Berbasis Babi, Narasi Minor dari NTT untuk Indonesia

Judul

:

Babinomics Ekonomi Sosial Berbasis Babi, Narasi Minor dari NTT untuk Indonesia

Penulis

:

Ermalindus Albinus Sonbay

Penerbit

:

Circa

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

166

ISBN

:

978-623-8437-00-9

Harga

:

Rp. 100.000         

Status

:

Ada

 

Buku ini memotret sisi lain NTT yang tidak banyak diangkat oleh kajian-kajian ilmiah maupun media-media mainstream. Uniknya penulis tanpa tanggung-tanggung mempersonifikasi diri sebagai 'babi, hewan yang dianggap mewakili masyarakat NTT, karena selalu hadir dalam setiap acara penting. Babi juga otomatis bisa menggerakkan ekonomi warga. Karena itu, bagi yang ingin lebih memahami masyarakat NTT, buku bagus ini wajib untuk dibaca. AAGN Ari Dwipayana (Koordinator Staf Khusus Presiden Joko Widodo, KSP)

Buku yang disusun Bung Ermalindus ini merupakan refleksi masyarakat Timor dan NTT secara umum. Tidak mudah membuat refleksi yang objektif dan utuh, karena membutuhkan cermin yang jernih. Analogi yang diulas dalam buku ini setidaknya menjadi cermin tersebut dan perlu disikapi secara bijak oleh semua pihak. Ini menjadi catatan menarik untuk memacu NTT agar lebih berdaya dan masyarakatnya bisa semakin sejahtera. Beberapa bagian dalam buku ini perlu dimaknai dengan bijaksana. Pelbagai ketidakberdayaan NTT yang dibahas juga merupakan bagian dari "kemarahan" untuk bangkit lebih baik. Heri Soba (Wartawan Senior, pegiat KatongNTT.com, pengurus DPP Himpunan Alumni IPB, Sekjen Forkoma PMKRI)

Selamat untuk diterbitkannya buku ini. Ulasan kritis khas penulis hendaknya dipikirkan juga sebagai rasa cintanya yang besar kepada NTT. Buku ini layak dibaca oleh semua yang sementara memikirkan dan bertindak membentuk NTT yang lebih baik. Daniel Yusmic (Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia)

Melalui buku ini, Ermalindus Sonbay menghentak kesadaran kita tentang bencana kemanusiaan, tepatnya bencana akal yang semakin tidak kita sadari. Sonbay menggunakan negerinya sendiri "Negeri Timor" untuk meyakinkan kita. Beliau menghentakkan kita dengan cara yang sangat menyentuh cita budaya: Memparodikan dirinya sebagai seekor babi kurus yang hidup dan menghidupi Timor, NTT. Ada semacam rute budaya yang bisa/perlu dirajut, rute yang tidak terjebak dalam birokratisme dan teknokratisme yang menjangkiti nalar kita. Rute itu adalah rute aktualisasi kemanusiaan. Purwo Santoso (Guru Besar Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Politik, UGM Yogyakarta) 


Selasa, 23 Juni 2026

Politik Porno, Menakar Libido Politik & Kekuasaan, Di mana Peran Agama?

Judul

:

Politik Porno, Menakar Libido Politik & Kekuasaan, Di mana Peran Agama?

Penulis

:

Dony Kleden

Penerbit

:

Lintang Pustaka Utama, Yogyakarta

Tahun Cetak

:

2017

Halaman

:

190

ISBN

:

978-602-1546-79-6

Harga

:

Rp. 75.000   

Status

:

Ada

 

"Menakar libido politik dan kekuasaan" yang menjadi subjudul dari buku "Politik Porno" yang ditulis Dony Kleden kelihatannya sinisme yang jujur tentang hakikat politik dalam praktek-bahwa politik adalah urusan memuaskan hawa nafsu atau libido berkuasa! Persis ini yang dipikirkan oleh para penganut pragmatisme dalam kajian tentang perubahan sosial-politik. Paradigm pragmatis tentu tak sepenuhnya keliru. Mereka tidak bermaksud menolak adanya moralitas dalam hidup. Sebaliknya, mereka ingin meletakkan politik pada bilik yang terpisah dari moralitas. Tentu saja itu tindakan yang lebih naif di mata kaum moralis, setidaknya di mata penulis buku ini dan barangkali semua kita. Bagaimana mungkin membicarakan kebaikan dalam politik tanpa menerima moralitas atau etika sebagai prinsip elementer yang mendasari politik per se?

Menghentikan kejahatan politik dan politik kejahatan membutuhkan masyarakat sipil yang cerdas, kritis, dan berani. Dalam ranah inilah agama sebagai basis moral mesti memainkan peran yang krusial. Kalaupun agama secara organisatoris harus dipisahkan dari politik, agama sebagai ajaran kebaikan mesti menjadi sumber penggalian moral. Maka, keberagamaan mesti membawa dampak pada perubahan sosial politik sebagai implementasi dari misi moral agama dalam kehidupan bernegara. * Boni Hargens 


Selamat Tinggal Timor Timur

Judul

:

Selamat Tinggal Timor Timur

Editor

:

Yohanes Sukandar, Sigit Wijayanto & Martinus Manggo

Penerbit

:

Insist Press

Tahun Cetak

:

2000

Halaman

:

226

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 90.000   

Status

:

Ada

 

Harus diakui, kemerdekaan bukanlah sesuatu yang gratis. Timor-Timur telah memberikan bukti bahwa negara tegak diatas pengorbanan yang amat besar. Antara lain, konflik yang berkepanjangan dan hingga kini memakan ribuan korban. Begitulah, buku ini, memberikan serangkaian kisah para pejuang kemanusiaan yang mengabdikan diri untuk kegiatan pelayanan dan pertolongan pada rakyat. Akan tampak disana bahwa pilihan otonomi dan kemerdekaan, bukan semata-mata pilihan sikap, tapi buat Timor Timur itu adalah pilihan yang membawa banyak konsekuensi. Dengan buku ini kita kemudian jadi tahu bahwa para pelayan kemanusiaan, terkadang lebih utama perananya, ketimbang kaum politisi.

Melalui buku ini, kita sebagai bangsa, dapat berkaca tentang nilai-nilai kemanusiaan yang dipertahankan da diperjuangkan oleh segelintir orang. Perjuangan yang sudah pasti tak mendapat aplaus apalagi sorotan media. Layak buku ini dibaca oleh siapa saja, yang ingin belajar dan tahu lebih banyak, mengenai para pekerja kemanusiaan. 


Selasa, 02 Juni 2026

Alor Mutiara Dari Timur

Judul

:

Alor Mutiara Dari Timur

Penulis

:

Hasan Asy’ari Oramahi

Penerbit

:

Yayasan Adharta

Tahun Cetak

:

2020

Halaman

:

132

ISBN

:

978-623-93279-0-3

Harga

:

Rp. 150.000         

Status

:

Kosong

 

"Alor Mutiara Dari Timur" ini dimulai dengan mengangkat sejarah yang hanya bersumber dari kisah tuturan dari generasi ke generasi, yang dihimpun penulisnya. Pentas imajinasi pembacanya seolah-olah dibuka penulis untuk kembali ke kondisi Alor di masa silam puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, laksana gulungan seluloid film yang berhasil mencitrakan kembali suasana Alor tempo dulu. Bagi para pelancong yang membaca buku ini, penulis ingin buktikan bahwa memang "Alor Mutiara Dari Timur"

Pria kelahiran 14 April 1941 di desa Alor Kecil, pulau Alor ini punya rentang karier puluhan tahun di RRI, TVRI dan BB London serta sebagai praktisi PR yang menangani klien nasional dan multi nasional semisal maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia, dan The Singapore Airlines, konsorsium Eropa peluncur satelit komersial Arianespace yang meluncurkan satelit komunikasi milik PT Telkom, Palapa C-2 dan satelit digital Cakrawarta ke posisi geostasioner di angkasa luar. Buku "Alor Mutiara Dari Timur" ini adalah cenderamatanya buat masyarakarat Alor tanah kelahirannya yang selalu indah berseri laksana kilauan Mutiara Dari Timur.

"Jauh berjalan banyak berbagi, lama hidup banyak berbuah", adalah ungkapan yang tepat buat penulis. Dalam kembara hidup di rantau, yang sejak masa muda hingga usia lanjut tetap berpikir, berbuat dan berbagi untuk  kampung halaman. Buah karya ini, menegaskan respon penulis terhadap pesan leluhur dari Alor : kuli mati mati haki tifang levo , yang bermakna "bekerja keras mencapai hidup sukses di rantau, tetapi tidak melupakan halaman". (Ir. Ansgerius Takalapeta)


Jumat, 29 Mei 2026

Tun Afnekan: Lingkar Belajar dan Aksi Anak Muda Bokong dalam Perjuangan Melawan Perdagangan Orang

Judul

:

Tun Afnekan: Lingkar Belajar dan Aksi Anak Muda Bokong dalam Perjuangan Melawan Perdagangan Orang

Editor

:

Dodi Yuniar & Emmanuelle Kania Mamonto

Penerbit

:

Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) & Asia Justice and Rights (AJAR)

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

36

ISBN

:

-

Harga

:

NFS         

Status

:

Kosong

 

Meskipun menjadi salah satu kantong pekerja migran ilegal (PMI), Bokong belum menjadi perhatian pemerintah, bahkan belum diketahui banyak orang. Para pemuda mengambil sikap untuk menyelesaikan permasalahaan di desa dan PMI. Pemuda yang menjadi pembela kemanusiaan memikirkan bagaimana keinginan mengubah hidup dan bekerja di negara orang dapat dilakukan dengan benar. Cara yang bisa dipakai agar keadaan bisa lebih baik, atau bahkan ketika nanti mereka atau masyarakat lain bekerja di luar, tidak terjadi eksploitasi atau dibodohi oleh orang lain.

Para pemuda mencari cara agar warga Bokong bisa berdiri sendiri tanpa bergantung pada alam. Juga agar warga yang pergi keluar sudah mengetahui hak-hak mereka. Sehingga mereka akan menggunakan jalur aman dan mendapat perlindungan hukum. Pemuda adalah tunas baru atau dalam bahasa daerahnya Tun Afnekan, harapan baru desa Bokong. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...