Tampilkan postingan dengan label Buku Manggarai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Manggarai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Oktober 2026

Model Pembangunan Pertanian Hortikultura Kabupaten Manggarai: Paradigma Program Simantri dan Strategi Inovasi

Judul

:

Model Pembangunan Pertanian Hortikultura Kabupaten Manggarai: Paradigma Program Simantri dan Strategi Inovasi

Penulis

:

Heribertus Erik San, S.Fil., M.AP.

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2020

Halaman

:

94

ISBN

:

978-602-1161-92-0

Harga

:

Rp. 30.000

Status

:

Kosong

 

Program Sistem Pertanian Terintegrasi atau yang biasa dikenal SIMANTRI, merupakan salah satu program prioritas Pemerintah Kabupaten Manggarai Periode 2016-2021. Program ini menggunakan pendekatan usaha kelompok tani melalui budidaya pertanian tanaman pangan, peternakan dan hortikultura secara terpadu. Kegiatan utama kelompok tani Simantri adalah pengembangan hortikultura sayur-sayuran/buah-buahan, terintegrasi dengan kegiatan pendukung yaitu ternak babi dan sapi pada satu kawasan menggunakan sistem kandang bersama. Program Simantri dalam rangka meningkatkan pola integrasi dan kemitraan, baik internal sektor pertanian, antar sektor pertanian dan sektor non pertanian.

Ada dua isu yang melatar-belakangi program Simantri ini. Pertama, Taman Nasional Komodo sebagai destinasi wisata dunia yang berdampak pada meningkatnya arus wisatawan ke Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat sehingga kebutuhan hortikultura juga akan terus meningkat. Kedua, Orientasi Kabupaten Manggarai sebagai daerah sentra produsen hortikultura di Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Buku ini secara khusus akan membedah paradigma program Simantri dan model strategi inovasi program tersebut ke depannya. Selamat Membaca ...!!! 


Selasa, 13 Oktober 2026

Kokor Gola Kolang

Judul

:

Kokor Gola Kolang

Penulis

:

Bernard Raho, Alexander Jebadu dan Sefrianus Juhani

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2020

Halaman

:

124

ISBN

:

978-602-1161-67-8

Harga

:

Rp. 30.000

Status

:

Ada


Tradisi Pante - Kokor Gola merupakan sebuah mata pencaharian yang sudah lama dilakoni oleh orang-orang Manggarai Barat khususnya di wilayah Kolang, Ndoso, Pacar, dan Rego. Ketika usaha pertanian dan perkebunan belum semaju seperti sekarang ini akibat intervensi Gereja dan Pemerintah, tradisi pante- kokor gola merupakan mata pencaharian andalan. Tetapi tradisi pante bukanlah usaha ekonomis semata-mata. Di dalam tradisi pante - kokor gola tersebut ditemukan juga dimensi teologis. Konsep tentang Allah yang terus berkarya dan peduli dengan nasib manusia nampak dalam kenyataan bahwa di dalam setiap tahapan proses pante mereka selalu berdoa untuk terhindar dari bahaya dan supaya usahanya berhasil mendatangkan air nira yang melimpah. Mudah-mudahan tradisi pante - kokor gola ini terus dilestarikan karena dia tidak cuma mempunyai nilai ekonomis tetapi juga mempunyai nilai teologis. 


Perkawinan Adat Wankung Rahong: Dalam Perspektif Perkawinan Gereja Katolik (Perbandingan Pandangan, Tujuan dan Sifat Perkawinan)

Judul

:

Perkawinan Adat Wankung Rahong: Dalam Perspektif Perkawinan Gereja Katolik (Perbandingan Pandangan, Tujuan dan Sifat Perkawinan)

Penulis

:

Antonius Mbukut

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2020

Halaman

:

102

ISBN

:

978-602-1161-93-7

Harga

:

Rp. 55.000

Status

:

Ada


Dalam karya pastoral, para agen pastoral perlu menggali dan mempelajari secara mendalam persamaan-persamaan dan juga perbedaan-perbedaan nilai-nilai tradisi perkawinan Katolik dan tradisi perkawinan adat masyarakat setempat. Setelah menemukan dan memahami persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan nilai tradisi perkawinan Katolik dengan perkawinan adat masyarakat setempat itu, para agen pastoral mesti sanggup mengawinkan nilai perkawinan Katolik dengan nilai perkawinan masyarakat setempat tersebut agar masyarakat setempat mudah memahami nilai-nilai perkawinan Katolik dan tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang asing. Para agen pastoral dapat juga memanfaatkan nilai-nilai perkawinan adat untuk menguatkan pewartaan tentang nilai-nilai perkawinan Katolik. 


Sabtu, 03 Oktober 2026

Di Antara Ata Wa Wae dan Ata Eta Golo, Akulturasi dan Praktik Perkawinan Adat Manggarai di Flores Barat

Judul

:

Di Antara Ata Wa Wae dan Ata Eta Golo, Akulturasi dan Praktik Perkawinan Adat Manggarai di Flores Barat

Penulis

:

Dr. Hendrikus Maku, S.Fil., M. Th., Lic.

Penerbit

:

Perkumpulan Fata Institute – Fins

Tahun Cetak

:

2026

Halaman

:

455

ISBN

:

978-634-96324-4-7

Harga

:

Rp. 180.000

Status

:

Kosong

 

Buku Di Antara Ata Wa Wae dan Ata Eta Golo: Akulturasi dan Praktik Perkawinan Adat Manggarai di Flores Barat karya Hendrikus Maku menggambarkan perjumpaan antara agama Islam dan budaya lokal Manggarai yang tercermin dalam praktik perkawinan adat masyarakat setempat. Buku ini menyoroti relasi antara dua kelompok yang secara historis hidup berdampingan, yaitu Ata Wa Wae-sebutan bagi komunitas Muslim yang banyak berdiam di wilayah pesisir-dan Ata Eta Golo -masyarakat pegunungan yang umumnya bertradisi Nasrani. Melalui gambaran kehidupan sosial dan budaya masyarakat Manggarai, penulis memperlihatkan bagaimana interaksi antara kedua kelompok tersebut berlangsung dalam suasana kebersamaan dan saling menghormati, terutama ketika berlangsungnya proses perkawinan adat yang mempertemukan dua keluarga dan dua tradisi yang berbeda.

Selain menggambarkan hubungan sosial antar komunitas, buku ini juga memaparkan tahapan-tahapan dalam perkawinan adat Manggarai, mulai dari proses lamaran, perundingan mahar atau paca/belis, pengukuhan adat, hingga pengantaran mempelai. Setiap tahapan dijelaskan sebagai bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun dan masih dijalankan dalam kehidupan masyarakat hingga sekarang. Pembahasan ini juga disertai gambaran umum mengenai wilayah Manggarai di Flores Barat, termasuk sejarah masuknya Islam ke daerah tersebut melalui jalur perdagangan dari Kesultanan Bima dan Makassar sejak abad ke-17. Secara keseluruhan, buku ini menghadirkan potret kehidupan masyarakat Manggarai yang menunjukkan bagaimana tradisi adat dan kehidupan beragama dapat berjalan berdampingan dalam suasana damai serta memperkuat hubungan sosial di tengah keberagaman.

“Saya menyambut baik kehadiran buku ini sebagai sebuah karya yang tidak hanya penting bagi kajian akademik, tetapi juga relevan bagi kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang majemuk. Buku ini menunjukkan bahwa filsafat tidak selalu harus hadir dalam bentuk teori abstrak, tetapi dapat hidup dalam praktik sosial sehari-hari masyarakat”. -Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A.- 


Muslim dan Katolik Manggarai, Flores Barat: Dari Intersubjektif Menuju Indiferen dan Dari Interdominasi Menuju Interakomodasi

Judul

:

Muslim dan Katolik Manggarai, Flores Barat: Dari Intersubjektif Menuju Indiferen dan Dari Interdominasi Menuju Interakomodasi

Penulis

:

Dr. Hironimus Bandur

Penerbit

:

Pohon Cahaya

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

314

ISBN

:

978-602-4914-23-3

Harga

:

Rp. 110.000

Status

:

Kosong

 

Kondisi pluralitas bangsa menuntut semua pihak untuk saling belajar dan terus berjuang untuk saling memahami perbedaan. Sulit dan sakit rasanya, tetapi di ujung rasa sakit karena perbedaan terdapat seni, sebagaimana alunan musik terkesan indah, bukan karena nada dan not yang sama tetapi karena nada dan not yang berbeda-beda. Perbedaan itu membentuk harmoni dan keindahan. Mari kita terus saling belajar, dan menjadi lebih dekat dengan sesama yang berbeda agama karena saling belajar dan perjumpaan terus menerus. Wassalam.

 

Kamis, 01 Oktober 2026

Ekoteologi Orang Manggarai

Judul

:

Ekoteologi Orang Manggarai

Penulis

:

Sefrianus Juhani

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

169

ISBN

:

978-623-6724-53-8

Harga

:

Rp. 90.000

Status

:

Ada

 

Ekoteologi Orang Manggarai lahir dari pergulatan iman dan budaya di tengah krisis ekologis global. Berakar pada tradisi berladang, tanah dihayati bukan sekadar lahan produksi, melainkan ruang suci tempat manusia, alam, dan Sang Pencipta saling terhubung. Dalam kosmologi Manggarai, lingko, kebun ulayat berbentuk jaring laba-laba, menjadi simbol keterikatan itu: pusatnya adalah lodok sebagai tanda asal-usul bersama, sementara garis-garisnya mengingatkan manusia akan relasi yang adil dengan sesama, tanah, dan Tuhan. Buku ini menantang paradigma pertanian modern yang sering menuhankan teknologi dan menjadikan bumi sekadar alat. Manusia diingatkan pada hakikatnya sebagai adamah: lahir dari tanah, bergantung pada tanah, dan kembali menjadi tanah. Di sini, kesombongan antropologis dipatahkan, dan kesadaran baru ditawarkan, bahwa manusia bukan penguasa, melainkan bagian rapuh dari ciptaan yang kudus. Dengan gaya reflektif dan kritis, buku ini mengajak pembaca menempuh jalan baru: dari dominasi menuju keselarasan, dari eksploitasi menuju penghormatan, dari keserakahan menuju cinta yang sederhana dan penuh iman terhadap bumi sebagai rumah bersama.

 

Selasa, 22 September 2026

Daun Gugur di Manggarai

Judul

:

Daun Gugur di Manggarai

Penulis

:

Gusblero

Penerbit

:

Focus Grahamedia

Tahun Cetak

:

2006

Halaman

:

142

ISBN

:

979-24-0856-8

Harga

:

Rp. 20.000

Status

:

Ada

 

Pagi yang dingin dan berkabut, di beberapa tempat masih tampak genangan air sisa hujan semalam. Swan berjalan perlahan melintasi jembatan. Mantel coklat muda yang ia kenakan melambai-lambai ditiup angin pagi. Sebuah syal warna merah melilit lehernya. Langkahnya ringan, pandangannya lurus ke depan.

Ia melangkah di antara bunga-bunga di taman kota. Semuanya masih tampak lengang, tak banyak orang berlalu lalang. Seorang penjual koran menawarinya bacaan, namun ia hanya membalasnya sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Tepat di tengah-tengah taman, Swan berhenti sejenak, ia membungkukkan badannya lalu meraup air di kolam air mancur untuk sekadar mencuci muka. Swan menyeberangi taman.

Ia berjalan menuju halte bus yang terletak di seberang jalan. Beberapa kali ia melompat-lompat kecil menghindari comberan di jalan raya. Sebuah sepeda motor yang tiba-tiba saja muncul dari tikungan membuat Swan terkejut dan nyaris terpelanting. Mata pengendara sepeda motor itu mendelik, namun Swan membalasnya dengan melotot sambil mengumpat; Bedebah†!! Bus kota datang. Swan ikut berebutan dengan sesama calon penumpang. Bus berjalan, dari kejauhan tampak ia ikut bergelantungan di pintu bus. Sebuah perjalanan seorang makhluk manusia dalam menapaki helaan napas yang masih berhembus di sela-sela detak jantungnya, mengukir kisi-kisi hidupnya sambil berlari-lari menyongsong masa depan melalui jalan-jalan sunyi menuju taman kota , mengeja satu demi satu lintasan-lintasan peristiwa dan panorama yang dilaluinya.



Senin, 20 Juli 2026

My Underwater Journey.. across the Indonesian Archipelago..


Judul

:

My Underwater Journey.. across the Indonesian Archipelago.. (Alor, Bidadari, Bunaken, Flores, Komodo, Kupang, Labuan Bajo, Manado, Maumere, Menjangan, Nusa Penida, Pulau Weh & Tulamben)

Penulis

:

Manarep Pasaribu

Fotografi

:

Muljadi Pinneng Sulungbudi

Penerbit

:

CV. Phototrend

Tahun Cetak

:

2009

Halaman

:

117

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 125.000     

Status

:

Ada

 

Masih segar di ingatan kami ketika sore itu Pak Manerep mengajak kami bertemu di ruang kantornya yang sederhana namun nyaman. Seperti biasanya, selepas jam kantor pun Beliau masih saja menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kantornya. Heran bercampur kagum dan gembira ketika kami mendengar Beliau menyatakan ingin belajar menyelam. Dalam umur Beliau yang sudah tidak muda lagi, mau memulai suatu kegiatan adventure seperti ini tidak biasanya dilakukan orang.

Ada satu "rahasia" yang selama ini kami berdua simpan ketika memulai "perjalanan" kita bersama-sama dalam kegiatan menyelam (diving) ini. Kami mengira Pak Manerep hanya ingin mencoba dan tidak akan terlalu serius melakukan kegiatan diving ini. Ternyata kami salah besar. Sejak pertama kali Beliau melakukan pelajaran menyelam PADI Open Water, antusiasme Beliau selalu tampak. Hingga kini sudah lebih dari 100 penyelaman kami lakukan bersama-sama Pak Manerep, tidak pernah sekalipun kami melihat semangat Beliau absen dari dirinya.

Sebagai bagian dari perintis penyelam di Kupang, bahkan propinsi Nusa Tenggara Timur, Pak Manerep memulai "perjalanannya" bersama Madjid Nampira dan kami. Ketika Pak Manerep melihat bahwa olah raga ini dapat menjadi sarana belajar dan filosofinya dapat diterapkan di ruang lingkup manajemen kerja, banyak rekanan kerja Beliau yang diajak ikut belajar menyelam. Hingga kini sudah lebih dari 40 "anak binaan" Beliau yang belajar dan melakukan penyelaman.

Mulai dari Kupang hingga ketika Beliau melanjutkan tugas di Medan, Pak Manerep selalu konsisten mengajak semua orang yang Beliau temui untuk menyelam dan menceritakan betapa indahnya laut di Komodo, Kupang, Maumere, Bali,Pulau Weh dan lokasi favorit Beliau: Alor. Sejarah sudah selayaknya mencatat bahwa Beliau menanamkan satu tonggak penting dalam perkembangan dunia wisata bahari di NTT. Di hari-hari akhir Beliau menjalankan tugas di PLN, Pak Menerep membuat buku ini. Sebuah buku yang sederhana tapi mengandung makna yang mendalam yang menggambarkan sebagian kecil dari perjalanan seorang Manerep Pasaribu. Perjalanan yang penuh warna, kekuatan, keindahan, semangat dan tantangan.

Kami yakin, memang Pak Manerep akan mengakhiri masa tugas kerja Beliau namun ini adalah merupakan baru dalam perjalanan Beliau sebagai seorang Advanced Diver.

 Your dive buddies,

Muljadi & Donovan 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...