|
Judul |
: |
Eksotisme Manik-Manik Menembus Zaman |
|
Penulis |
: |
Nasruddin |
|
Penyunting |
: |
Agustijanto
lndradjaja & Bambang Sulistyanto |
|
Penerbit |
: |
Pusat
Penelitian Arkeologi Nasional |
|
Tahun
Cetak |
: |
2017 |
|
Halaman |
: |
108 |
|
ISBN |
: |
978-979-8041-60-0 |
|
Sumber |
: |
https://repositori.kemendikdasmen.go.id |
|
Download |
: |
Manik-manik terbuat dari
berbagai macam bahan seperti di kaca, logam, batu, karang, batu mulia, intan,
kerang, tulang, ada pula yang dari kayu. Benda manik-manik tidak hanya dikenal
sekarang, tetapi telah dibuat dan dipakai sejak masa plestosen pada ribuan
tahun yang lampau.
Penelitian arkeologi
menyebutkan bahwa temuan manik-manik tertua ditemukan di situs gua sepertf
Sulawesi, Mangkulirang, Kutai Timur, Kalimantan, Jawa Timur dan Sumatera. Temuan
artefak manikmanik terus bermunculan di situs penguburan sebagai benda bekal kubur.
Kuat dugaan berdasarkan hasil penelitian bahwa bendabenda tersebut khususnya manik-manik
kaca didistribusikan oleh kelompok penutur budaya Austronesia yang bermigrasi
ke Nusantara pada masa neolitik akhir, hingga makin meluas memasuki abad sejarah
sebagai komoditi dalam perdagangan di Nusantara.
Dari studi etnoarkeologi
pada beberapa suku bangsa di Indonesia terlihat masih menggunakan manik-manik
dalam kehidupan keseharian mereka. Penggunaah manik - manik tetap dilestarikan karena
dalam konteks kebudayaan mereka manik-manik masih dianggap memiliki nilai dan
fungsi tertentu. Pemaknaan tersebut lebih mengarah kepada sisi inner value yang
terdapat di dalam manik-manik itu sendiri Bentuknya memang kecil, tapi memiliki
.daya pikat, pesona dan misteri yang memerlukan perhatian, terutama aspek
sosial dan keagamaan dari manik-manik tersebut, sehingga diharapkan dapat memicu
penelitian dan telaah yang lebih serius dan mendalam mengenai peranan dan
fungsi manik-manik dalam masyarakat dan kebudayaan'di Indonesia.
Orang Sumba memakai
manik-manik bukan sekedar perhiasan yang dilingkarkan di leher maupun
pergelangan tangan dan kaki namun memiliki banyak fungsi dan makna dalam
kehidupan kesehariannya. Sebutan manik-manik bagi orang Sumba maupun secara
luas di beberapa suku di daratan Timar menyebutnya dengan nama mutisalah/ mutisalak,
digunakan sebagai mas kawin (belis) yang diberikan oleh pihak pengantin
laki-laki kepada pihak pengantin perempuan. Penggunaan belis mutisalah ini
berlaku umum di semua strata sosial Orang Sumba, pada kenyataannya terdapat
perbedaan manik-manik mutisalah yang digunakan sebagai mas kawin untuk setiap strata sosial.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar