Selasa, 23 Juni 2026

Politik Porno, Menakar Libido Politik & Kekuasaan, Di mana Peran Agama?

Judul

:

Politik Porno, Menakar Libido Politik & Kekuasaan, Di mana Peran Agama?

Penulis

:

Dony Kleden

Penerbit

:

Lintang Pustaka Utama, Yogyakarta

Tahun Cetak

:

2017

Halaman

:

190

ISBN

:

978-602-1546-79-6

Harga

:

Rp. 75.000   

Status

:

Ada

 

"Menakar libido politik dan kekuasaan" yang menjadi subjudul dari buku "Politik Porno" yang ditulis Dony Kleden kelihatannya sinisme yang jujur tentang hakikat politik dalam praktek-bahwa politik adalah urusan memuaskan hawa nafsu atau libido berkuasa! Persis ini yang dipikirkan oleh para penganut pragmatisme dalam kajian tentang perubahan sosial-politik. Paradigm pragmatis tentu tak sepenuhnya keliru. Mereka tidak bermaksud menolak adanya moralitas dalam hidup. Sebaliknya, mereka ingin meletakkan politik pada bilik yang terpisah dari moralitas. Tentu saja itu tindakan yang lebih naif di mata kaum moralis, setidaknya di mata penulis buku ini dan barangkali semua kita. Bagaimana mungkin membicarakan kebaikan dalam politik tanpa menerima moralitas atau etika sebagai prinsip elementer yang mendasari politik per se?

Menghentikan kejahatan politik dan politik kejahatan membutuhkan masyarakat sipil yang cerdas, kritis, dan berani. Dalam ranah inilah agama sebagai basis moral mesti memainkan peran yang krusial. Kalaupun agama secara organisatoris harus dipisahkan dari politik, agama sebagai ajaran kebaikan mesti menjadi sumber penggalian moral. Maka, keberagamaan mesti membawa dampak pada perubahan sosial politik sebagai implementasi dari misi moral agama dalam kehidupan bernegara. * Boni Hargens 


Selamat Tinggal Timor Timur

Judul

:

Selamat Tinggal Timor Timur

Editor

:

Yohanes Sukandar, Sigit Wijayanto & Martinus Manggo

Penerbit

:

Insist Press

Tahun Cetak

:

2000

Halaman

:

226

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 90.000   

Status

:

Ada

 

Harus diakui, kemerdekaan bukanlah sesuatu yang gratis. Timor-Timur telah memberikan bukti bahwa negara tegak diatas pengorbanan yang amat besar. Antara lain, konflik yang berkepanjangan dan hingga kini memakan ribuan korban. Begitulah, buku ini, memberikan serangkaian kisah para pejuang kemanusiaan yang mengabdikan diri untuk kegiatan pelayanan dan pertolongan pada rakyat. Akan tampak disana bahwa pilihan otonomi dan kemerdekaan, bukan semata-mata pilihan sikap, tapi buat Timor Timur itu adalah pilihan yang membawa banyak konsekuensi. Dengan buku ini kita kemudian jadi tahu bahwa para pelayan kemanusiaan, terkadang lebih utama perananya, ketimbang kaum politisi.

Melalui buku ini, kita sebagai bangsa, dapat berkaca tentang nilai-nilai kemanusiaan yang dipertahankan da diperjuangkan oleh segelintir orang. Perjuangan yang sudah pasti tak mendapat aplaus apalagi sorotan media. Layak buku ini dibaca oleh siapa saja, yang ingin belajar dan tahu lebih banyak, mengenai para pekerja kemanusiaan. 


Kamis, 18 Juni 2026

Krisis Ekonomi dan Perekonomian Rakyat Gugus Nusa Tenggara

Judul

:

Krisis Ekonomi dan Perekonomian Rakyat Gugus Nusa Tenggara

Penyunting

:

Sajogyo dan Mubyarto

Penerbit

:

Aditya Media

Tahun Cetak

:

1998

Halaman

:

151

ISBN

:

979-539-104-6

Harga

:

Rp. 65.000      

Status

:

Kosong

 

Buku ini adalah buku kedua sebagai pelengkap buku pertama yang terbit tahun 1997 berjudul PROGRAM IDT DAN PEREKONOMIAN RAKYAT GUGUS NUSA TENGGARA suntingan Mubyarto & Retno Budiyanto. Seperti halnya buku terdahulu, buku ini memuat hasil semiloka nasional Penyesuaian Kebijakan Sosial Ekonomi dalam Rangka Pengembangan Perekonomian Rakyat Gugus Nusa Tenggara yang merupakan kegiatan tahap kedua dari 4 rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan secara bergantian setahun sekali di propinsi-propinsi Bali, NTB, NTT dan Timor Timur.

Semiloka kali ini mencoba memperkirakan dampak krisis pengelolaan makro-ekonomi atas perekonomian rakyat, khususnya peluang berusaha dan bekerja di beragam sektor, dan prospek upaya mengatasinya dalam dua tiga tahun mendatang. Keberlanjutan upaya pendampingan bagi kelompok IDT (dan KSM lain), berdasarkan proses belajar dari masa Repelita VI yang akan berakhir dan prospek pencarian pola alternatif dan keberlanjutan juga dibahas tuntas dalam semiloka kali ini. Selain itu, dicoba diungkap mengenai beragam contoh belajar satu sama lain (antardaerah, antarsektor) dari pengalaman masing-masing (daerah, sektor) dan contoh-contoh upaya mengembangkan keterkaitan atau kemitraan antarsektor, antarskala usaha dan antardaerah (ruang, wilayah).

Buku ini layak dibaca kalangan lebih luas sebagai wacana untuk memahami masalah-masalah pengembangan perekonomian rakyat dalam kaitan penyesuaian kebijakan mengatasi krisis pengelolaan makro-ekonomi, dan menjaga keamanan pangan di daerah serta keberlanjutan peluang berusaha dan bekerja. Bagi yang ingin memperoleh alternatif perencanaan kebijakan pembangunan daerah di Gugus Nusa Tenggara menjelang awal masa Repelita VII khususnya pembangunan perekonomian rakyat di propinsi-propinsi Bali, NTT, NTB, dan Timtim buku ini dapat dijadikan pembanding. Semoga bermanfaat. 


Harumnya Apel Soe “Kembali Lagi” Jhys Baok

Judul

:

Harumnya Apel Soe “Kembali Lagi” Jhys Baok

Penulis

:

Margarita D.I. Ottu S.Pd., M.Pd.K

Penerbit

:

Adab

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

72

ISBN

:

978-623-6233-41-2

Harga

:

Rp. -     

Status

:

Kosong


Buku Buku ini menggambarkan kisah hidup Jhys Baok, seorang tokoh yang lahir dan berkembang di SoE (Timor Tengah Selatan), yang dikenal sebagai kawasan penghasil apel terkenal di Indonesia. Buku ini tidak hanya mengisahkan perjalanan hidup Jhys dari masa kecil hingga pendidikan menengah, tetapi juga menyajikan sejarah dan keindahan tanaman apel di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dalam buku ini, pembaca akan diajak untuk mengenang masa kecil yang penuh kenangan, keakraban dengan keluarga, dan semangat belajar yang menjadi fondasi kehidupan Jhys. Selain itu, buku ini juga memberikan informasi ilmiah tentang sistematika dan morfologi tanaman apel, yang menjadikannya buku yang menggabungkan nilai edukasi dan inspirasi. Dengan narasi yang penuh makna, buku ini menjadi sumber motivasi bagi pembaca untuk menghargai keindahan alam, kehidupan masa kecil, dan perjuangan dalam mengejar pendidikan. 


Rabu, 17 Juni 2026

Perempuan Bajawa

Judul

:

Perempuan Bajawa

Penulis

:

Mertin Lusi

Penerbit

:

Selfietera

Tahun Cetak

:

2026

Halaman

:

133

ISBN

:

978-623-496-450-9

Harga

:

Rp. 80.000         

Status

:

Ada

 

Di tanah Bajawa yang sarat adat dan tradisi, seorang perempuan tumbuh dengan beban yang tidak ringan. Perempuan diajarkan untuk kuat, setia dan patuh pada setiap warisan leluhur namun hatinya menyimpan pertanyaan tentang cinta, kebebasan dan pilihan hidupnya sendiri.

Diantara tuntutan keluarga, adat dan suara hatinya, ia berjuang menemukan jati dirinya sebagai perempuan Bajawa. Setiap langkahnya adalah perlawanan yang sunyi dan setiap keputusannya membawa konsekuensi.

Novel ini menghadirkan kisah tentang keberanian perempuan, luka yang diwariskan, dan harapan yang tumbuh ditengah tradisi. Sebuah cerita yang mengajak pembaca menyelami kekuatan perempuan Bajawa dan menghadapi hidup, adat dan dirinya sendiri.


Jalan Transisi Timor Timur, Sejarah Integrasi Hingga Merdeka

Judul

:

Jalan Transisi Timor Timur, Sejarah Integrasi Hingga Merdeka

Penulis

:

Agil Kurniadi

Penerbit

:

Terekam Jejak Publisher

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

178

ISBN

:

978-623-496-255-0

Harga

:

Rp. 100.000         

Status

:

Ada


Berdirinya Timor Leste menyimpan sejarah yang tak terlupakan. Wilayah yang pernah dikenal sebagai Timor Timur ini kaya akan beragam memori yang tetap terekam hingga kini. Buku ini mengulas perjalanan Timor Timur, mulai dari gagasan penyatuan, integrasi dengan Indonesia, referendum kemerdekaan, hingga masa transisi menuju kedaulatan sebagai negara Timor Leste. 


Selasa, 02 Juni 2026

Alor Mutiara Dari Timur

Judul

:

Alor Mutiara Dari Timur

Penulis

:

Hasan Asy’ari Oramahi

Penerbit

:

Yayasan Adharta

Tahun Cetak

:

2020

Halaman

:

132

ISBN

:

978-623-93279-0-3

Harga

:

Rp. 150.000         

Status

:

Kosong

 

"Alor Mutiara Dari Timur" ini dimulai dengan mengangkat sejarah yang hanya bersumber dari kisah tuturan dari generasi ke generasi, yang dihimpun penulisnya. Pentas imajinasi pembacanya seolah-olah dibuka penulis untuk kembali ke kondisi Alor di masa silam puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, laksana gulungan seluloid film yang berhasil mencitrakan kembali suasana Alor tempo dulu. Bagi para pelancong yang membaca buku ini, penulis ingin buktikan bahwa memang "Alor Mutiara Dari Timur"

Pria kelahiran 14 April 1941 di desa Alor Kecil, pulau Alor ini punya rentang karier puluhan tahun di RRI, TVRI dan BB London serta sebagai praktisi PR yang menangani klien nasional dan multi nasional semisal maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia, dan The Singapore Airlines, konsorsium Eropa peluncur satelit komersial Arianespace yang meluncurkan satelit komunikasi milik PT Telkom, Palapa C-2 dan satelit digital Cakrawarta ke posisi geostasioner di angkasa luar. Buku "Alor Mutiara Dari Timur" ini adalah cenderamatanya buat masyarakarat Alor tanah kelahirannya yang selalu indah berseri laksana kilauan Mutiara Dari Timur.

"Jauh berjalan banyak berbagi, lama hidup banyak berbuah", adalah ungkapan yang tepat buat penulis. Dalam kembara hidup di rantau, yang sejak masa muda hingga usia lanjut tetap berpikir, berbuat dan berbagi untuk  kampung halaman. Buah karya ini, menegaskan respon penulis terhadap pesan leluhur dari Alor : kuli mati mati haki tifang levo , yang bermakna "bekerja keras mencapai hidup sukses di rantau, tetapi tidak melupakan halaman". (Ir. Ansgerius Takalapeta)


Human Rights? Wiranto and The Independence of East Timor

Judul

:

Human Rights? Wiranto and The Independence of East Timor

Penulis

:

Bilveer Singh

Penerbit

:

Book House, Book and Writers Network Sydney

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

2004

Halaman

:

349

ISBN

:

978-174-0183-147

Harga

:

Rp. 100.000         

Status

:

Ada

 

Even though the United Nations' interest in East Timor can be traced from the debate on its status as a non self-governing territory, Portugal, the colonial power, was largely unmoved as it was not a United Nations' member until 1955. The status quo only altered following a change in regime in Portugal as a result of the 'Flower Revolution' in 1974. Rather, irresponsibly, Portuguese leftist officers in-charge of East Timor abandoned the colonial territory when a furious civil war was taking place amidst great loss of lives. Indonesia's intervention, with the support of the United States, can be directly traced to this Portuguese failure, culminating in territory's integration into Indonesia.

Indonesia's actions were however not fully endorsed by the international community and the territory continued to be regarded as a non self-governing territory. Due to the Cold War, the situation was somewhat tolerated with Australia even recognizing Indonesia's sovereignty over East Timor. At the same time, the territory was plagued by warfare with the pro-independence insurgents fighting the Indonesian military and the pro-integration forces. This situation continued until May 1998. After Suharto's resignation, President Habibie decided to give the East Timorese the right to decide their future with Indonesia. Following the United Nations' sponsored ballot, unfortunately marred by fraud and injustice, the East Timorese opted for independence.

Due largely to the manner the ballot was conducted, the behavior of UNAMET officials prior and after the ballot, and the animosity of the pro and anti-integration forces toward each other, violence broke in East Timor even though many in the West blamed Indonesia, and in particular, the Indonesian military (TNI) and its then commander, General Wiranto.

The study traces the evolution of East Timor's independence and examines the factors behind the many human rights abuses in the territory. Can the TNI and Wiranto be blamed for the violence that transpired in East Timor? Why is the West, especially Australia, so keen on blaming the TNI and Wiranto on what transpired in East Timor? Was the West in any way responsible for the actual violence that broke out in East Timor? Does Australia's East Timor policy since independence explain why it was keen on exaggerating what happened in the territory and allaying blame on the TNI? What was Australia's role in the violence that broke out in East Timor? In hindsight, with so much evidence coming out of East Timor pertaining to the UNAMET and Australia's role, what verdict can be made on Wiranto's culpability as far as human rights violations are concerned? It is hoped that this study will contribute in shedding new light on this matter, especially as far as Wiranto and the independence of East Timor is concerned. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...