Minggu, 17 Juli 2016

Sastra Indonesia Warna Daerah NTT

Judul
:
Sastra Indonesia Warna Daerah NTT
Penulis
:
Drs. Yohanes Sehandi, M.Si
Editor
:
Yoseph Yapi Taum
Penerbit
:
USD
Tahun Cetak
:
2015
Halaman
:
122
ISBN
:
978-602-0830-00-1
Harga
:
Rp.70.000
Status
:
Ada
Sastra Indonesia Warna Daerah NTT, menampilkan sejumlah pemikiran tentang eksistensi sastra Indonesia warna daerah atau warna local yang berkembang pesat sejak desentralisasi (otonomi) pemerintahan daerah di Indonesia yang dimulai tahun 2000 lalu. Di bidang kebudayaan, termasuk kesusastraan, setiap daerah menemukan jatidirinya yang khas dan menjadi kebanggaan daerah dan masyarakat yang bersangkutan. Demikian halnya dengan sastra Indonesia warna daerah NTT telah menemukan jatidirinya yang khas NTT dan menjadi kebanggaan daerah dan masyarakat NTT pada saat ini.
Perjalanan sastra NTT dari masa ke masa, membentangkan sejarah awal pertumbuhan dan perkembangan sastra NTT yang dimulai tahun 1961. Ditelusuri masa jatuh bangunnya perjalanan sastra NTT dari tahun 1961 sampai Desember 2014. Buku ini membentangkan berbagai karya sastra NTT berupa buku novel, kumpulan cerita pendek, dan kumpulan puisi yang dihasilkan para sastrawan NTT selama kurun waktu 53 tahun ini.
Penulis memperkenalkan para sastrawan NTT yang telah ditemukan identitasnya dan telah pula mencermati kualitas literer karya sastra yang dihasilkannya. Mereka semua telah berjasa mengangkat citra dan kekayaan kultur lokal kedaerahan NTT (local genius dan local wisdom NTT) lewat karya sastranya ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih luas.
Menyelisik sastra dan sastrawan NTT, berisi 13 esai mengulas geliat sastra dan sastrawan NTT. Ini menunjukan bahwa kehidupan sastra Indonesia di NTT tidak pernah sepi bahkan cukup semarak dan bergairah. Yang sepi adalah publikasinya di tingkat nasional, antara lain karena lemahnya akses NTT ke media massa tingkat nasional.

Sabtu, 16 Juli 2016

Pelabuhan Kupang

Judul
:
Pelabuhan Kupang dalam Perdagangan Abad ke-19
Penulis
:
I Putu Kamasan Sanjaya
Penerbit
:
Ombak
Tahun Cetak
:
2014
Halaman
:
108
ISBN
:
602-258-152-4
Harga
:
Rp. 50.000
Status
:
Kosong

Pelabuhan Kupang yang terletak di bagian Barat Pulau Timor merupakan salah satu pelabuhan paling strategis di pulau Timor. Telah sangat lama Kupang menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Timor sejak abad ke-13. Berdasarkan sumber berita Cina Chau yu kua dalam bukunya Chu fan sih pada tahun 1225 menyebutkan pulau Timor yang disebut dengan nama Kihri Tinwu yang terletak di sebelah timur Tiongkalo, para raja dan keluarganya memperoleh kemakmuran dari perdagangan cendana.

Karena pentingnya letak strategis pelabuhan Kupang, maka sangat logis apabila pelabuhan Kupang menjadi incaran persaingan terutama setelah datangnya bangsa Barat. Persaingan antara Portugis dan VOC berlanjut tidak saja memperebutkan pelabuhan dan benteng tetapi juga wilayah pendukungnya sebagai sumber perdagangan cendana. Persaingaan secara berantai melalui serangkaian pertempuran berlangsung hampir satu abad. Pertempuran berakhir setelah pecah Perang Penfui tahun 1749. VOC berhasil mengalahkan kekuasaan Portugis dan sekutunya para raja di pedalaman. Sejak saat itu peran Portugis surut dan tergusur ke pedalaman.

Sebagai sebuah pelabuhan dan dilengkapi dengan Benteng, kemudian tumbuh menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan. Terdapat beberapa kebijakan yang menyangkut Kupang dan Pelabuhan Kupang pada masa residen pertama J.A.Hazaart. Beberapa kebijakan tersebut adalah: pembentukan daerah penyangga bagi Kupang pada tahuh 1819 dalam rangka pengamanaan Kupang. Pembentukan daerah penyangga dimaksudkan karena Kupang selalu mendapat ancaman dari para raja pedalaman yang masih bersekutu dengan Portugis.

Dalam perkembangan kemudian pelabuhan Kupang yang menghadap ke laut terbuka di Teluk Kupang pada musim angin Barat, membuat kapal-kapal yang bersandar menghadapi terpaan angin yang kencang sehingga kapal-kapal harus berlindung di Mud Volcano di dekat Teluk Kupang. Namun pada tahun 1866 Mud Vocano tersebut rusak akibat erosi sehingga pada musim angin Barat kapal-kapal berlindung ke Pantai Hansisi di Pulau Semau. Atas pertimbangan evisiensi akhirnya pemerintah kolonial di Kupang merasa perlu membangun pelabuhan untuk tempat berlindung yang lebih aman dan dapat langsung dihubungkan dengan Kupang. Maka dibangun Pelabuhaan Tenau pada tahun 1875, serta untuk kelancaran hubungan dengan Kupang juga dibangun jalan raya. Dengan dibangunnnya pelabuhan Tenau Kupang maka secara berangsunr-angsur peran pelabuhan Kupang yang telah berlangsung beberapa abad menjadi surut dan digantikan oleh pelabuhan Tenau Kupang. Namun Kupang tetap berperan sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan. (Munandjar Widiyatmika, sejarawan NTT)

Jumat, 15 Juli 2016

Kearifan Lokal Suku Helong

Judul
:
Kearifan Lokal Suku Helong, di Pulau Semau Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur
Penulis
:
I Made Satyananda dkk.
Penerbit
:
Ombak
Tahun Cetak
:
2013
Halaman
:
109
ISBN
:
602-258-122-2
Harga
:
Rp. 40.000
Status
:
Kosong
Setiap adat istiadat dan budaya masyarakat suatu suku bangsa yang hidup di tengah-tengah masyarakat selalu memiliki bentuk, nilai-nilai maupun norma-norma yang memberikan suatu kearifan lokal bagi keberlangsungan hidup suatu suku bangsa dalam wilayahnya, baik dalam pengelolaan alam maupun sosial masyarakatnya. Kearifan lokal dalam adat istiadat dan budaya suku Helong memiliki ciri khas yang spesifik dengan bentuk- bentuknya yang berbeda dengan adat istiadat dan budaya suku lainnya yang ada di Pulau Timor. Kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan alam dalam suku Helong tercermin pada pengelolaan laut, pertanian, sosial dan adat istiadat. Hal itu membuat suku Helong bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat dan adat hingga sekarang.
Buku ini hadir dalam rangka membantu upaya perlindungan dan pelestarian salah satu kearifan lokal di Nusantara. Kajian tentang bentuk, fungsi, nilai dan makna kearifan lokal salah satu suku di Pulau Timor tersebut terperikan secara lengkap dengan didukung data-data penelitian lapangan yang akurat. Melalui karya apik ini, anak cucu kita bisa mengetahui dan belajar mengenal kearifan lokal yang terkandung di dalam adat istiadat suku Helong sehingga dapat mensukseskan pelestarian tradisi dan pewarisan budaya luhur ke generasi penerus bangsa.

Kamis, 14 Juli 2016

Ine Pare

Judul
:
Ine Pare, Novel Ibu Padi
Penulis
:
F. Rahardi
Penerbit
:
Nusa Indah
Tahun Cetak
:
2015
Halaman
:

ISBN
:
979-429-342-3
Harga
:
Rp. 65.000
Status
:
Ada
“…. Dan kau, Ine Puu, lihatlah warna magenta dileherku! Inilah warna darah. Penanda lehermu akan terpenggal parang di Keli Ndota. Darah akan mengucur Ibu Pertiwi, alam akan kembali pada hukumnya; kau akan kembali ke pangkuan Nggae Wena Tana.”
Karena misteri hubungan antara Ine Puu dan Ine Pare, ramalan Burung Garugiwa ini akhirnya terpenuhi dalam diri Ine Pare. Hasrat bulan madu yang menyeruak dalam diri Bapa Angkasa (Dua Lulu Wula) dan Ibu Pertiwi (Nggae Wena Tana), yang terjelma dalam diri Ine Pare dan Ndale akhirnya berakibat darah harus mengalir dari leher Ina Pare di Keli Ndota, Lio-Ende. Dari sini tersebarlah padi ke seantero Lio dan Nusantara. Dan dengan ini pula, berakhirlah trik demi trik yang dilakukan Bedha untuk mempersunting Ine Pare.
Sebagai sebuah novel yang berlatarbelakangan sejarah dan tradisi, novel ini tidak hanya sekedar memberikan hiburan, tetapi mampu menghantar pembaca kepada kehidupan tradisional masyarakat Lio bahkan Flores dan NTT pada umumnya.

Rabu, 13 Juli 2016

Kumpulan Cerita Rakyat Flores Timur (Lamaholot)

Judul
:
Kumpulan Cerita Rakyat Flores Timur (Lamaholot)
Penulis
:
Tim Editor Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Flores Timur
Penerbit
:
Nusa Indah
Tahun Cetak
:
2015
Halaman
:
285
ISBN
:
979-429-340-7
Harga
:
Rp. 85.000
Status
:
Ada
Cerita-cerita yang terhimpun dalam buku ini memperlihatkan kekayaan dan kompleksitas pemikiran masyarakat Flores Timur (Lamaholot), Flores, NTT. Sebagai sebuah cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi, cerita-cerita ini menghadirkan kesadaran kolektif (yang sering kali tidak disadari) yang terpatri pada pengalaman sejarah, pandangan dunia, imaginasi, kecemasan, keyakinan, mimpi dan fantasi. Selain itu, cerita-cerita ini pun lahir dan tumbuh dalam rekaman kesadaran dan jejak masa lalu, komunikasi dan relasi dengan kehidupan dunia bawah dan dunia atas, yakni dunia arwah, roh gunung, penguasa laut, hutan, batu, kayu, langit dan lain-lain.
Dengan ini, kehadiran kumpulan cerita rakyat ini bukan hanya sekedar menghadirkan pengalaman dan sejarah masa lalu masyarakat Flores Timur (Lamaholot), tetapi juga membuka tabir kearifan lokal dan pandangan hidup mereka di hari ini yang sekaligus penting untuk memprediksi dan merencanakan masa depan mereka.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...