Kamis, 10 Maret 2022

Antologi Puisi Ina Tani Tenane (Perempuan Pemintal Benang)

Judul

:

Antologi Puisi Ina Tani Tenane (Perempuan Pemintal Benang)

Penulis

:

Komunitas Sastra Ina Bao Puken

Penerbit

:

Deepublish

Tahun Cetak

:

2020

Halaman

:

120

ISBN

:

978-623-02-0749-5

Harga

:

Rp. 65.500

Status

:

Kosong


Puisi lahir dari imaji-imaji yang berkeliaran, juga lahir dari realitas-realitas sekitar yang diwarnai dengan khayal. Kata-katanya, kadang kaku walau tidak beku, kadang cair meskipun tidak mencair. Ia selalu hadir dalam lintasan sejarah, menjadi juang walau tidak pernah berjuang, menjadi senjata walau tidak mampu mematikan, atau hanya menjadi teman dalam sepi bagi yang selalu merasa kesepian. Ia selalu unik dalam kehadirannya.

Antologi puisi karya Komunitas Sastra Ina Bao Puken SMP Negeri 1 Nubatukan (Spensa) ini hadir di kala kata-kata lagi gersang, kalimat-kalimat lagi germercik, bait-bait puisi menyepi, menepi, entah karena tak ada seonggok emas untuk dijual, atau memang rasa sudah tak puitis, atau memang tak lagi butuh puisi untuk mengalunkan rindu, cinta, benci, dan kekaguman. Betapa indah karya-karya insan Spensa yang tertuang lewat puluhan judul puisi, yang lagi menguapkan hasrat untuk bertingkah

Kumpulan puisi ini menceritakan tentang beragam fenomena hidup yang dialami para penulis. Kepekaan terhadap situasi sosial, kekaguman terhadap guru, rasa cinta dan bakti kepada orang tua, semangat kepahlawanan, persahabatan sejati, problematika pendidikan, motivasi diri, kritik sosial serta pesona alam, merupakan sekelumit ungkapan hati yang tertuang lewat buku antologi puisi ini. Buku ini adalah guratan hati dan ekspresi diri para penulis terhadap berbagai fenomen hidup yang sedang mereka geluti.

Hadirnya buku kumpulan puisi ini dapat menjadi motivasi untuk lebih berimajinasi dan arahan untuk membentuk kepribadian yang lebih baik. Buku kumpulan puisi ini juga dapat menambah perbendaharaan sastra budaya Lamaholot, suatu warisan berharga nenek moyang kita yang patut kita jaga dan teladani. Bagi para pembaca puisi, ini adalah hasil karya yang menjadi motivasi  untuk mengapresiasi karya seni, renungan untuk instropeksi diri, menjadi lebih eksis dalam berkarya, dan membangkitkan semangat untuk lebih peka terhadap fenomena sosial melalui lariknya yang indah.


Leko Leles Perspektif Pada Pilkada Manggarai Timur 2018

Judul

:

Leko Leles Perspektif Pada Pilkada Manggarai Timur 2018

Penulis

:

Alfred Tuname

Penerbit

:

Deepublish

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

239

ISBN

:

978-623-02-3729-4

Harga

:

Rp. 136.000

Status

:

Kosong

 
“History has been writen by the victors”-Winston Churcill.


Sejarah selalu dicatat rapi dan dikisahkan kembali oleh para pemenang. Tujuan pertamanya adalah mengenang perjuangan (memorial). Kedua, mempertahankan kemenangan (politik). Itulah historia docet!


Dalam usaha mempertahankan kemenangan, orang mengais “napak-tilas” atas perjuangan yang pernah dilakukan. Di sana, tangis dan tawa diingat kembali; kecerdikan dan kecerobohan diunduh ulang. “History is the memory of thing said and done”, meminjam ungkapan Carl Becker.


Semua memori itu diseduh kembali demi menyatukan emosi dan spirit bertahan: menjaga serta mempertahankan apa yang sudah diraih. Cukup berat memang! Tetapi atas dasar itulah sejarah (kemenangan) menjadi penting.


Sejarah kemenangan tentu memuat kenangan. Bukan itu saja, sejarah itu berisi harapan. Dari sejarah, orang ingin melihat masa depan. Kadang, sejarah itu bisa terulang kembali. Semua tragedi yang pernah terjadi lantas menjadi lelucon dalam kenangan. “L’histoire se répète, tout d’abord comme une tragédie, après comme une farce”, kata filsuf Karl Marx.


Tetapi kisah yang sama tak mungkin terjadi lagi. Kisah dalam selalu bersifat einmalig, meskipun maknanya dapat diingat dan diungkap lagi. Karena itu, selalu ada historical value dan historical fact. Sebagai fakta, sejarah bersifat original. Sebagai nilai, sejarah itu berisi pikiran-pikiran. C. P. Scott menyebutkan, “fakta itu sakral, opini itu bebas”. 

Tanaman Obat Tradisional Dokumentasi Pemanfaatan Tanaman Obat Masyarakat Suku Dawan (Amanuban) Kabupaten Timor Tengah Selatan

Judul

:

Tanaman Obat Tradisional Dokumentasi Pemanfaatan Tanaman Obat Masyarakat Suku Dawan (Amanuban) Kabupaten Timor Tengah Selatan

Penulis

:

Meti O. F. I Tefu, S.Pd., M.Si. &Dian R Sabat, S.Si., M.Pd.

Penerbit

:

Deepublish

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

193

ISBN

:

978-623-02-3664-8

Harga

:

Rp. 186.500

Status

:

Kosong

 

Tumbuhan obat adalah seluruh jenis tumbuhan yang diketahui atau dipercaya mempunyai khasiat obat, dimana  dalam pemanfaatannya menggunakan sebagian, seluruh dan atau eksudat (isi sel) tanaman tersebut sebagai bahan obat tradisional/jamu. Tanaman obat yang diulas dalam buku ini merupakan rangkuman data yang  diperoleh dari hasil riset etnobotani yang dilakukan pada suku dawan (Amanuban). Suku dawan (Amanuban) adalah salah satu suku yang berada di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hasil yang diperoleh dari riset ini adalah ditemukannya 103 jenis tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarkat suku dawan (Amanuban) antara lain : Alang-Alang, Andong, Anggrek Pohon, Anggrek Tanah, Asam, Avokad, Bambu, Bandotan, Bawang Sabrang, Bawang Merah, Bawang Putih, Bayam Merah, Beluntas, Beringin, Biduri, Binahong, Blustru/ Batol, Bunga Pukul Empat, Bunga Tongkeng, Cendana, Ceremai, Cincau Rambat Cincau Rambat, Daun Dewa, Daun Kentut, Daun Salam, Delima, Dlingo, Faloak, Gewang, Gletang, Gulma Kaustik Merah, Hahapaan, Inggu, Jagung, Jahe, Jambu, Jarak Kaliki, Jarak Pagar, Jeruk Nipis, Johar, Kacang Gude (Turis), Kacang Tunggak Merah, Kanna, Kapas, Kapok Randu, Kecubung, Kelapa, Kelor, Kemangi, Kembang Sepatu, Kemiri, Kencur, Kersen, Kirinyuh, Kitolod, Krokot, Kulit Pahit, Kumis Kucing, Kunyit, Kesambi, Labu Kuning, Labu Siam, Liana, Lidah Buaya, Lontar, Lumut Kerak, Mahoni, Mangga, Mara, Markisa, Mengkudu, Meniran, Mentimun, Murbei Liar, Paku, Pare/ Paria, Pata Tulang, Patikan Kebo, Pecut Kuda, Pegagan, Pepaya, Pilang /Kabesak, Pinang, Pisang Susu, Pisang Tembaga Merah, Pokok Lipan, Pulai, Sambiloto, Serai Wangi, Sesawi Langit, Siri Hutan, Siri Wangi, Sirsak, Srikaya, Tali Putri, Tapak Liman, Tebu Merah, Tembakau, Tembelekan, Tempuyung, Temulawak, Tomat, dan Turi Merah. Pada setiap jenis tanaman disertai gambar, nama Indonesia, nama Latin, nama daerah, morfologi tanaman, taksonomi tanaman, bagian yang digunakan, kandungan senyawa kimia dan farmakologi, khasiat tanaman, dan cara penggunaannya.

Hasil ini merupakan sebagian kecil pengetahuan masyarakat suku dawan (Amanuban) yang diperoleh penulis dengan cara wawancara kepada dukun/ tabib dan masyarakat yang pernah menggunakan tanaman sebagai obat di empat lokasi penelitian yaitu Desa Napi (Kecamatan Kie), Desa Lakat (Kecamatan Kuatnana), Desa Pusu (Kecamatan Amanuban Barat) dan Desa Kiufatu (Kecamatan Kualin). Secara keseluruhan buku ini sangat bermanfaat dan informatif sebagai referensi penelitian, ataupun hanya sekedar memperkaya informasi mengenai tanaman-tanaman yang dapat digunakan sebagai obat herbal sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat.


Jumat, 04 Maret 2022

Insiden Balibo 1975, Terbunuhnya Lima Wartawan Itu

Judul

:

Insiden Balibo 1975, Terbunuhnya Lima Wartawan Itu

Penulis

:

James Dunn

Penerbit

:

Institut Studi Arus Informasi (ISAI) & Forum Solidaritas untuk Timor Lorosae (Fortilos)

Tahun Cetak

:

1999

Halaman

:

76

ISBN

:

979-8933-17-6

Harga

:

Rp. 100.000

Status

:

Ada

 
Kota Balibo ini, dengan benteng Portugis di atas bukit, telah dicatat oleh sejarah sebagai pusat dua kebohongan yang sengaja disebarluaskan oleh rezim Orde Baru, untuk membenarkan pembantaian demi pembantaian anak-anak manusia dari berbagai bangsa di “negeri matahari terbit”, Timor Lorosae, semenjak rezim kediktatoran Soeharto itu memutuskan untuk mencaplok negeri itu.

Apa saja kedua kebohongan itu? Kebohongan pertama menyangkut nasib lima orang wartawan televisi Australia, yang tiba-tiba kedapatan meninggal dunia di Balibo, tanggal 16 Oktober 1975. Sedangkan kebohongan kedua menyangkut sebuah petisi yang meminta penggabungan Timor Lorosae ke dalam wilayah Republik Indonesia, yang konon ditandatangani di benteng Balibo itu pada tanggal 30 November 1975. 


Rabu, 16 Februari 2022

Benih yang Tumbuh Gereja Masehi Injili Timor

Judul

:

Benih yang Tumbuh Gereja Masehi Injili Timor

Penyunting

:

Dr. Frank L. Cooley

Penerbit

:

Lembaga Penelitian dan Studi Dewan Gereja-Gereja di Indonesia

Tahun Cetak

:

1976

Halaman

:

414

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 110.000

Status

:

Kosong


GMIT sebagai salah satu gereja di Indonesia yang wilayah pelayanannya terdiri atas pulau-pulau ini memang memiliki tempat dan ciri yang agak khas. Sebab pulau bukan sekedar daratan yang dipisahkan dengan batas laut, akan tetapi juga menyangkut keperbedaan manusiawi. Tercermin dalam hasil penelitian ini misalnya pergumulan GMIT dengan soal-soal mengenai kehidupan suku-suku dengan keperbedaan bahasa serta kebiasaannya, tata susunan masyarakat dengan segala adat istiadatnya, alam pikiran serta kepercayaan tradsionalnya, yang kesemua itu merupakan ciri yang menonjol dari kesibukan dan pergumulan gereja itu sekarang.

Buku ini tentu bisa memberikan pengenalan pertama yang cukup terperinci mengenai GMIT. Dan khususnya bisa dicatat sebagai suatu sumbangan ‘ekumenis’ yang tidak kecil bagi gereja-gereja di Indonesia, yaitu pengalaman pergumulan yang berat, lama dan rumit dari gereja ini dalam kehidupan theologianya, dalam memutuskan masalah-masalah kepemimpinan dan susunan organisasinya (tata gereja). Hal-hal yang terakhir itulah yang dengan sungguh-sungguh dihadapi oleh GMIT. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...