Judul |
: |
Babinomics Ekonomi Sosial Berbasis Babi, Narasi Minor dari NTT untuk Indonesia |
Penulis |
: |
Ermalindus Albinus Sonbay |
Penerbit |
: |
Circa |
Tahun Cetak |
: |
2023 |
Halaman |
: |
166 |
ISBN |
: |
978-623-8437-00-9 |
Harga |
: |
Rp. 100.000 |
Status |
: |
Ada |
Buku ini memotret sisi lain NTT yang tidak banyak diangkat oleh kajian-kajian ilmiah maupun media-media mainstream. Uniknya penulis tanpa tanggung-tanggung mempersonifikasi diri sebagai 'babi, hewan yang dianggap mewakili masyarakat NTT, karena selalu hadir dalam setiap acara penting. Babi juga otomatis bisa menggerakkan ekonomi warga. Karena itu, bagi yang ingin lebih memahami masyarakat NTT, buku bagus ini wajib untuk dibaca. AAGN Ari Dwipayana (Koordinator Staf Khusus Presiden Joko Widodo, KSP)
Buku yang disusun Bung Ermalindus ini merupakan refleksi masyarakat Timor dan NTT secara umum. Tidak mudah membuat refleksi yang objektif dan utuh, karena membutuhkan cermin yang jernih. Analogi yang diulas dalam buku ini setidaknya menjadi cermin tersebut dan perlu disikapi secara bijak oleh semua pihak. Ini menjadi catatan menarik untuk memacu NTT agar lebih berdaya dan masyarakatnya bisa semakin sejahtera. Beberapa bagian dalam buku ini perlu dimaknai dengan bijaksana. Pelbagai ketidakberdayaan NTT yang dibahas juga merupakan bagian dari "kemarahan" untuk bangkit lebih baik. Heri Soba (Wartawan Senior, pegiat KatongNTT.com, pengurus DPP Himpunan Alumni IPB, Sekjen Forkoma PMKRI)
Selamat untuk diterbitkannya buku ini. Ulasan kritis khas penulis hendaknya dipikirkan juga sebagai rasa cintanya yang besar kepada NTT. Buku ini layak dibaca oleh semua yang sementara memikirkan dan bertindak membentuk NTT yang lebih baik. Daniel Yusmic (Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia)
Melalui buku ini, Ermalindus Sonbay menghentak kesadaran kita tentang bencana kemanusiaan, tepatnya bencana akal yang semakin tidak kita sadari. Sonbay menggunakan negerinya sendiri "Negeri Timor" untuk meyakinkan kita. Beliau menghentakkan kita dengan cara yang sangat menyentuh cita budaya: Memparodikan dirinya sebagai seekor babi kurus yang hidup dan menghidupi Timor, NTT. Ada semacam rute budaya yang bisa/perlu dirajut, rute yang tidak terjebak dalam birokratisme dan teknokratisme yang menjangkiti nalar kita. Rute itu adalah rute aktualisasi kemanusiaan. Purwo Santoso (Guru Besar Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Politik, UGM Yogyakarta)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar