Judul |
: |
Mengenal Budaya dan Bahasa Masyarakat Suku Krowe Sika di Kabupaten Sikka Propinsi NTT |
Penulis |
: |
Paulina Nona |
Penerbit |
: |
Lintang Pustaka Utama, Yogyakarta |
Tahun Cetak |
: |
2025 |
Halaman |
: |
152 |
ISBN |
: |
978-623-6724-43-9 |
Harga |
: |
Rp. - |
Status |
: |
Kosong |
Buku ini merupakan warisan budaya yang sangat berharga dari generasi pendahulu kepada generasi penerus. Sejak dahulu, budaya, bahasa, dan nilai-nilai kearifan lokal diwariskan secara lisan melalui kehidupan keluarga—dari orang tua dan kakek nenek kepada anak cucu dalam percakapan sehari-hari. Melalui cara inilah identitas budaya suatu masyarakat tetap hidup dan bertahan dari waktu ke waktu.
Namun, perkembangan teknologi modern telah membawa perubahan besar dalam pola kehidupan masyarakat. Kehadiran ponsel dan dunia digital membuat komunikasi antaranggota keluarga semakin berkurang. Banyak orang lebih sibuk dengan perangkat masing-masing dibanding membangun percakapan dalam keluarga. Bahkan dalam aktivitas sederhana seperti memasak, bermain, atau makan bersama, perhatian sering teralihkan kepada ponsel. Akibatnya, ruang pewarisan budaya dan bahasa daerah semakin menyempit.
Dampak yang paling nyata terlihat pada generasi muda di Kabupaten Sikka. Banyak anak muda mulai tidak mengenal sistem nilai kearifan lokal leluhurnya dan kurang mampu menggunakan bahasa ibu, khususnya bahasa Krowe Sika, dengan baik. Bahasa daerah dan nilai budaya yang dahulu menjadi identitas masyarakat kini semakin jarang digunakan dan perlahan terancam punah.
Selain minimnya komunikasi antar generasi, berkurangnya penutur bahasa lokal juga dipengaruhi oleh belum tersedianya dokumentasi tertulis yang memadai mengenai budaya dan bahasa masyarakat asli Kabupaten Sikka, seperti suku Krowe Sika, Lio, Krowe Muhan, dan Palue. Ketiadaan kamus, ensiklopedi budaya, maupun naskah resmi lainnya menyebabkan banyak pengetahuan tradisional tidak terdokumentasikan dengan baik dan berisiko hilang bersama para penuturnya.
Karena itu, kehadiran buku ini menjadi kontribusi yang sangat penting dalam upaya pelestarian budaya dan bahasa warisan leluhur. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, tetapi juga bentuk kepedulian para orang tua dan para lanjut usia terhadap keberlanjutan identitas budaya masyarakat Sikka. Sebuah masyarakat yang melupakan budayanya sendiri akan kehilangan akar identitasnya, bagaikan pohon yang tumbuh tanpa akar yang kuat dan mudah terombang-ambing oleh arus budaya luar serta pola hidup instan.
Karya ini patut diapresiasi karena lahir dari dedikasi dan kerja keras para lanjut usia di Nian Sikka, khususnya Ibu Paulina Nona beserta rekan-rekannya, yang telah menghimpun, menyusun, mengetik, dan mengedit isi buku ini secara mandiri. Upaya tersebut merupakan teladan nyata tentang pentingnya menjaga ingatan kolektif dan menghormati warisan leluhur.
Lebih jauh, buku ini diharapkan menjadi awal dari gerakan pelestarian budaya yang lebih luas. Mengingat Kabupaten Sikka memiliki empat suku asli dengan kekayaan budaya yang beragam, masih diperlukan perhatian dan keterlibatan bersama untuk mendokumentasikan budaya dan bahasa suku Lio, Krowe Muhan, dan Palue. Tanpa keterlibatan generasi pendahulu dalam mewariskan nilai-nilai budaya, maka budaya tersebut lambat laun akan memudar dan akhirnya hilang dari kehidupan masyarakatnya sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar