Rabu, 21 Oktober 2026

Naketi

Judul

:

Naketi

Penulis

:

Talita Tlonaen, S.Ag., M.Pd

Penerbit

:

Underline

Tahun Cetak

:

2025

Halaman

:

80

ISBN

:

978-634-7250-29-2

Sumber

:

Fb Talita Tlonaen

Download

:

Di Sini


Apa artinya sebuah hubungan tanpa pemulihan yang utuh? Tentunya akan menjadi sia-sia karena pada dasarnya hubungan yang baik sudah pasti dibaluti oleh sikap menerima, memaafkan dan memulihkan. Hubungan yang dimaksud dalam buku ini berkaitan dengan hubungan dengan diri sendiri, sesama maupun Tuhan sebagai penolong yang setia. Kahadiran ritus naketi uab menjadi penolong untuk menyadarkan masyarakat di Amanuban Timur tentang arti memaafkan dan memulihkan yang sesungguhnya. Naketi Uab adalah salah satu budaya dalam bentuk ritus yang sering dilakukan oleh masyarakat Dawan Timor. Naketi Uab merupakan ritus yang dilakukan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya suatu masalah dengan melibatkan pihak-pihak tertentu. Tujuan lain dari ritus naketi Uab atoin meto adalah untuk menata kembali tatanan hidup masyarakat atoin meto yang telah rusak. Ritus naketi Uab juga merupakan ritus yang dilangsungkan melalui tutur adat Dawan Timor (Uab meto) yang memiliki makna tertentu dengan tujuan adanya keterbukaan, pemberian nasihat, sebagai sarana komunikasi dan juga untuk pemulihan relasi dengan diri sendiri, dengan sesama maupun dengan Tuhan sebagai pemilik kehidupan. Oleh karena itu, dalam buku ini, penulis menggunakan teori antropologi teologi untuk mengkaji dan menganalisis secara kritis kehidupan spiritus manusia, eksistensi dan karyanya dalam budaya naketi Uab atoin meto bagi pemulihan relasi komunikasi. 


Sabtu, 17 Oktober 2026

Bangkit dalam Harapan Baru: Curahan Hati Sesama Kita yang Hidup dengan HIV

Judul

:

Bangkit dalam Harapan Baru: Curahan Hati Sesama Kita yang Hidup dengan HIV

Penulis

:

Rasdiana Rovigis & Servinus Haryanto Nahak

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2017

Halaman

:

156

ISBN

:

978-602-1161-44-9

Harga

:

Rp. 65.000

Status

:

Kosong

 

Di tengah bayang-bayang vonis medis yang kerap dianggap sebagai akhir dari segalanya, buku ini hadir sebagai sebuah kesaksian hidup yang menyentuh hati. Bangkit dalam Harapan Baru merupakan kumpulan kisah nyata dan curahan hati dari orang-orang yang hidup dengan HIV (ODHA). Mereka membagikan pergulatan batin terdalam saat pertama kali menerima diagnosis, menghadapi penolakan, hingga berjuang melawan stigma negatif yang masih kental di masyarakat.

Buku ini tidak sekadar meratapi nasib atau menggalang simpati. Sebaliknya, setiap lembarnya mengisahkan proses transformasi emosional dan spiritual yang luar biasa. Pembaca akan dibawa menyaksikan bagaimana para penyintas perlahan-lahan mengikis rasa takut, berdamai dengan kenyataan, dan menemukan kembali martabat serta arti hidup mereka. Dukungan dari sesama komunitas dan pendampingan yang tulus menjadi pilar penting yang membantu mereka berdiri tegak.

Disunting secara apik dan diterbitkan oleh Penerbit Ledalero, antologi ini menjadi refleksi kemanusiaan yang mendalam. Buku ini memberikan pesan kuat bahwa virus boleh menyerang fisik, tetapi tidak akan pernah bisa mematikan harapan. Sebuah bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin memahami HIV dari sudut pandang humanis, sekaligus pemantik empati agar masyarakat berhenti menghakimi dan mulai merangkul sesama. 


Exodus, Menolak Lupa: Catatan Kenangan Para Saksi Korban Banjir Bandang, Lamanele, 4 April 2021

Judul

:

Exodus, Menolak Lupa: Catatan Kenangan Para Saksi Korban Banjir Bandang, Lamanele, 4 April 2021

Penulis

:

Ansel B. Molan

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2024

Halaman

:

246

ISBN

:

978-623-6724-38-5

Harga

:

Rp. 55.000

Status

:

Ada

 

Mengapa "menulis" kenangan? Kunci kepada pembebasan dari kenangan yang melukai adalah dengan Mengingat. Artinya, rekonsiliasi dan penyembuhan hanya bisa terjadi bagi mereka yang Mengingat. Dalam hal ini, Mengingat adalah kesanggupan untuk menerima seluruh kenangan secara utuh sebagai bagian dari hidup. Sebuah upaya untuk berdamai dengan kenangan. Sementara Melupakan adalah kecenderungan untuk menolak atau menyingkirkan kenangan yang kemudian justru akan memenjarakan pemilik kenangan ke dalam kekelaman nan traumatis. Dia akan menjadi seperti bom waktu yang menunggu saat yang paling tepat untuk meledak.

Buku EXODUS, Menolak Lupa ini, dihadirkan dengan maksud untuk "menulis" kenangan itu. Titik fokus kenangan itu adalah peristiwa di seputar bencana banjir bandang akibat badai Siklon Tropis Seroja di desa Nelelamadike, kecamatan lle Boleng - Adonara, kabupaten Flores Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa yang terjadi pada tanggal 4 April 2021 silam itu meriwayatkan banyak cerita yang melukai. Mereka yang sama sekali luput dari terjangan banjir sampai mereka yang tidak bisa luput, yang kehilangan segalanya, terutama kehilangan orang-orang yang dikasihi.

Latar peristiwa ini, membuat saya memilih kata Exodus, yang merujuk pada kisa keluarnya umat Israel dari bayangan penindasan bangsa Mesir sebagai judul buku ini. Dengannya, Exodus dalam buku ini mengisahkan catatan pelarian (keluarnya) para korban agar selamat dari bahaya banjir bandang yang menerjang. Lebih dari itu, Exodus dalam buku ini sebenarnya juga mengungkapkan sebuah gerakan keluar dari kecenderungan untuk Melupakan kenangan akan peristiwa itu. Sebuah strategi untuk tetap Mengingat.

Untuk tujuan itu, kenangan demi kenangan dari para saksi korban yang dikisahkan ulang dalam buku ini diharapkan dapat menolong kita terutama para korban untuk terus-menerus Mengingat. Dengan itu, jalan kepada pembebasan dan penyembuhan bagi mereka dari penderitaan akibat kenangan-kenangan yang melukai kedalaman itu bisa terbuka di hadapan mereka. Kita dibebaskan, kita disembuhkan, tetapi tidak boleh Melupakan.


Challenge and Be Challenged: The Mission of John Mansford Prior, SVD

Judul

:

Challenge and Be Challenged: The Mission of John Mansford Prior, SVD

Penulis

:

HSU Monica

Penerbit

:

Ledalero

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

2021

Halaman

:

68

ISBN

:

978-623-6724-10-1

Harga

:

Rp. 30.000

Status

:

Ada


Each good step a person takes results in a thousand blessed future steps. John Mansford Prior is a simple, upright man, who is passionate about justice and is brave. He has left significant footprints along his life journey as he has experienced joys and sorrows, fears anxieties and hopes. From his childhood, he has been imbued with these three special qualities: intelligence, a sense of the holy, and bravery. (Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Bishop of Maumere) 


Merambah ke Segala Arah: Kisah Perjuangan John Mansford Prior, SVD di Nusa Bunga

Judul

:

Merambah ke Segala Arah: Kisah Perjuangan John Mansford Prior, SVD di Nusa Bunga

Penulis

:

HSU Monica

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2020

Halaman

:

252

ISBN

:

978-602-1161-96-8

Harga

:

Rp. 40.000

Status

:

Ada

 

"Ada banyak inspirasi yang juga saya peroleh dari pribadi Pastor John Prior, yang membentuk sikap sederhana, sikap rendah hati dan sikap untuk terus belajar, dan terutam sikap "tolak tunduk" pada pembiasaan dan pembiaran dari keburukan dan kejahatan yang ada dalam hidup yang nyaman dan mapan. Terima kasih Pastor John Mansford Prior SVD, telah menjadi orangtua, guru dan sahabat, dalam perjalanan bersama kami, anak, murid dan sahabatmu." (Mgr. Edwaldus Martinus Sedu, Uskup Maumere)

"Pastor John juga tidak berhenti memperhatikan budaya lokal. Semua pengalaman dan kenyataan yang muncul sebagai peristiwa insani dihadapkan pada nilai-nilai Injil yang kita wartakan. Maka kami merasa dihadapkan pada realitas kehidupan manusia, kekuatan nilai Injil semakin terasa kebenarannya. Dan ini mengobarkan semangat kami untuk tetap melangsungkan tugas perutusan kami yaitu mewartakan nilai-nilai hidup Injili dengan berakar pada budaya setempat. Demikian beberapa kesan kuat saya pada sosok Pastor John Prior SVD." (Mgr. Aloysius Murwito OFM, Uskup Agats)

"Ledalero bagiku memberikan dasar pijakan yang sangat luar biasa bagaimana menjadi seorang misionaris. Pater John salah satu dosen yang kerap mengajak kami berpikir kreatif, (think out of box), berugahari dan berbela rasa dalam pelayanan yang penuh rendah hati. Dia itu misionaris sejati, seorang doktor Interdisiplin, dia mau para mahasiswa berminat ilmiah bisa berkembang dalam pengetahuan dan kehidupan. Pater John bisa sangat terkenal seandainya mau tinggal di kota besar, tapi dia justru memilih membesarkan orang kampung, orang pinggiran. Padahal dia salah satu orang penting yang pernah lama menjadi konsultator Kepausan di Vatikan." (Tarsisius Puling, SVD misionaris Texas, USA)

Pemakalah dalam lebih dari 165 Simposium, Konferensi dan Lokakarya. Penulis tujuh buku; 145 artikel dalam jurnal (44 diterbitkan dalam dua hingga enam bahasa); 79 bab dalam buku bunga rampai (plus 28 bab yang pernah terbit sebagai artikel dalam jurnal - total 104 bab dalam bunga rampai); penyunting 47 buku, dari mana 38 dalam bahasa Indonesia, delapan dalam bahasa Inggris dan dua dalam bahasa Indonesia dan Inggris, Masing-masing dari enam buku tersebut terdiri dari dua jilid atau lebih. Selama 15 tahun (1993-2008) sebagai penasihat Dewan Kepausan untuk Kebudayaan (Pontifical Council for Culture); Mendampingi Musyawarah Umum (Kapitel) beberapa Tarekat Biarawan/wati di bagi Imam, Religius dan Awam. 


Membuat Langit Tersenyum: Khotbah Sepanjang Tahun Gereja

Judul

:

Membuat Langit Tersenyum: Khotbah Sepanjang Tahun Gereja

Penulis

:

Dr. Ebenhaizer I Nuban Timo

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2015

Halaman

:

540

ISBN

:

978-979-9447-75-6

Harga

:

Rp. 75.000

Status

:

Ada

 

“Membuat Langit Tersenyum”, menggambarkan tentang adanya sukacita di sorga. Di belakang ungkapan Yesus ini tergambar dengan jelas bahwa penghuni langit (syamayim) yang juga diartikan sebagai surga selalu mengamati hal-hal yang berlangsung di bumi. Apa yang terjadi di bumi mempengaruhi suasana di surga di hadapan takhta Allah. Kalau di bumi terjadi kejahatan dan berbagai bentuk pemberontakan, kemurungan dan dukacita terlihat dalam ekspresi wajah penghuni surga. Sebaliknya, kalau kehidupan di bumi diwarnai damai, kerukunan, dan persaudaraan isi surga penuh dengan sukacita dan tawa-ria. Itu berarti kita patut menjalani hidup di bumi ini begitu rupa untuk membuat surga tersenyum. Alkitab menegaskan bahwa itu merupakan satu persyaratan untuk Allah mengirim berkat kehidupan selama-lamanya ke bumi itu (Mzm 133:3). Kalau nilai ini sudah terwujud, kerinduan lama untuk pergi ke surga sebagaimana yang mentradisi dalam devosi Kristen perlu dirumuskan kembali. Kalau surga pun sudah ikut tersenyum memandang lakon orang-orang percaya di bumi, mimpi untuk pergi ke surga sepertinya tidak lagi dibutuhkan.

Kumpulan khotbah dalam buku ini menjiwai kerinduan tadi dengan menjadikan perayaan hari-hari gerejawi yang dikelompokkan dalam lima musim perayaan: kelahiran, kematian, kebangkitan, kenaikan Tuhan Yesus dan keturunan Roh Kudus sebagai bingkai pemberitaan. Eksplorasi yang dalam dan elaborasi yang segar mengenai makna dari hari-hari raya itu diartikulasikan dengan mencengangkan. 


Jumat, 16 Oktober 2026

Menalar Keadilan

Judul

:

Menalar Keadilan

Penulis

:

Yosef Keladu Koten & Otto Gusti Madung

Penerbit

:

Ledalero

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

252

ISBN

:

978-623-6724-16-3

Harga

:

Rp. 75.000   

Status

:

Ada

 

Sokrates, salah seorang filsuf Yunani klasik pernah mengatakan, “the unexamined life is not worth living” (hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dihidupi). Pernyataan Sokrates ini mengungkapkan pentingnya berpikir dan refleksi atas hidup dan segala sesuatu yang dilakukan dalam hidup. Berpikir dan refleksi membuat orang menemukan apa yang benar atau adil yang harus dilakukan dan dengan demikian menghindarkan orang dari tindakan kejahatan. Orang yang berpikir kritis mampu menghindarkan dirinya dari sistem yang tidak sehat dan juga dari setiap peristiwa yang bertentangan dengan hati nuraninya. Lebih lanjut, berpikir dan refleksi membuat hidup semakin bergairah dan bermakna serta menghindarkan orang dari rutinitas yang membosankan. Menyadari pentingnya berpikir dan refleksi tersebut, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, sebuah lembaga pendidikan tinggi di Kabupaten Sikka, Flores, yang telah lama berkecimpung dalam proses pendidikan calon imam dan awam yang kritis dan berkepribadian integral, menawarkan kuliah umum (studium generale) kepada masyarakat (akademisi, politisi, birokrat, pegiat lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain) di kota Maumere komunitas politik serta bagaimana konsep tersebut diaplikasikan dalam pembuatan keputusan-keputusan etis, sosial dan politik. Artikel-artikel yang dipresentasikan dalam kuliah umum dan sekarang dipublikasikan dalam buku ini merepresentasikan berbagai perspektif keadilan dan sekaligus berupaya mengaplikasikan teori atau perspektif keadilan tersebut dalam berbagai bidang seperti filsafat, agama, relasi antara umat beragama, sosial dan politik. Atau, dalam buku ini akan disajikan prinsip-prinsip etis atau moral yang menuntun tindakan seseorang supaya dinilai adil.

Menalar keadilan terasa semakin urgen dewasa ini bukan karena topik keadilan adalah sesuatu yang baru dalam kosa kata ilmu sosial, filsafat atau teologi. Bahkan dalam filsafat persoalan keadilan sudah dibahas sejak awal lahirnya tradisi filsafat 2500 tahun yang lalu. Persoalan keadilan tetap relevan dan aktual hingga kini terutama karena ketidakadilan sedang mencederai kemanusiaan kita. Keadilan merupakan kebajikan yang paling fundamental dalam mengatur relasi interpersonal dan membangun serta mempertahankan komunitas politik yang stabil. Negara yang baik adalah negara yang dibangun di atas fundasi keadilan. Tanpa keadilan sosial, sulit membayangkan terwujudnya persatuan bangsa atau nasionalisme. Nasionalisme menurut Ben Anderson adalah sebuah imagined community atau komunitas terbayangkan. Dan karena bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang plural, bayangan tersebut tidak didasarkan atas kesamaan darah, agama atau etnis (ethnic nationalism), tapi dibangun atas dasar semangat kewargaan (civic nation). Namun harus disadari bahwa civic nation adalah sebuah konsep yang abstrak dan karena itu sulit dijadikan sebagai perekat emosional sebuah bangsa. Kekosongan elemen emosional ini pada awal berdirinya republik ini diisi dengan narasi bersama “perang melawan kolonialisme”. Akan tetapi, ketika narasi bersama berupa kolonialisme atau kemudian komunisme pada masa Orde Baru hilang, maka imaginasi sebagai sebuah bangsa menjadi kabur. Ketika segelintir orang hidup di atas gelimang kemewahan dan mayoritas rakyat harus hidup miskin, maka tak mungkin untuk “membayangkan” Indonesia sebagai satu komunitas.

Karena itu ikhtiar untuk membangun keadilan sosial merupakan salah satu jalan untuk memperkokoh nasionalisme atau persatuan bangsa. Hal ini terungkap jelas dalam salah satu tujuan bangsa Indonesia seperti dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 yakni: “Negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Artinya, persatuan Indonesia atau nasionalisme mengandaikan adanya keadilan sosial. Tapi apa persisnya keadilan sosial itu

Buku Menalar Keadilan yang merupakan kumpulan tulisan dari sejumlah dosen di STFK Ledalero berikhtiar untuk menjelaskan pertanyaan ini dari perspektif nalar filosofis, teologis dan sosiologis. Dengan demikian buku ini ikut mengambil bagian dalam pembahasan sebuah persoalan filosofis yang sudah ada sejak awal lahirnya tradisi filsafat. Sebab, persoalan keadilan merupakan salah satu tema terpenting dalam filsafat politik sejak awal sejarahnya

 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...