Minggu, 12 Juli 2026

Sejarah Timor Timur 1975-1999

Judul

:

Sejarah Timor Timur 1975-1999

Penulis

:

Letkol Caj. Drs. Khafidzin Widodo, M.A. dkk

Penerbit

:

Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat Bandung

Tahun Cetak

:

2018

Halaman

:

438

ISBN

:

978-602-7846-37-1

Harga

:

NFS     

Status

:

Ada


Timor Portugis (Timor Timur) merupakan daerah yang berbatasan dengan Timor Barat Indonesia, dalam perjalanan sejarahnya tidak pernah sepi dari kekisruhan, diawali pada masa kolonial Portugal, penduduk di daerah ini telah melakukan pemberontakan ratusan kali untuk melepaskan diri dari kolonial Portugal namun tidak pernah berhasil.

Begitu juga halnya ketika proses dekolonisasi bergulir pada 1975, masing-masing partai politik seperti: UDT, Apodeti, Fretilin, Kota, dan Trabalista berebut hegemoni memperjuangkan garis partainya, sehingga terjadi perang saudara. Politik mencari kawan antar partai untuk melawan partai lain mengalami dinamika bongkar pasang kawan dan lawan, terakhir berujung dengan koalisi Apodeti, UDT, dan Trabalista melawan Fretilin yang berhaluan komunis.

Momentum sejarah berikutnya terjadi pada 7 Desember 1975, ketika partai koalisi (Apodeti, UDT, Kota, dan Trabalista) dibantu para sukarelawan Indonesia berhasil mengalahkan Fretilin yang saat itu menguasai kota Dili ibu kota Timor Timur, selanjutnya dilakukan pengejaran terhadap Fretilin di beberapa daerah lainnya. Akhirnya Fretilin masuk hutan untuk melakukan perjuangan melalui sayap militer (perang gerilya), dan sayap politik mencari dukungan internasional.

Di saat Fretilin tertekan, partai koalisi (Apodeti, UDT, Kota, dan Trabalista) kemudian membentuk Pemerintahan Sementara Timor Timur (PSTT), selanjutnya pada 31 Mei 1976 menyampaikan petisi untuk berintegrasi dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah melalui pertimbangan politik dalam negeri dan politik global, akhirnya Timor Timur pada 17 Juli 1976 ditetapkan menjadi bagian dari NKRI, yakni Daerah TK. I Propinsi Timor Timur.

Permasalahan kekisruhan tidak berakhir di situ, karena di pihak Fretilin terus melakukan perlawanan terhadap pemerintah RI di Timor Timur, di pihak lain Portugal dan negara-negara bekas koloninya seperti Mozambique mengajukan resolusi Timor Timur ke PBB. Agenda Timor Timur dalam sidang tahunan PBB tidak pernah terselesaikan sampai lengserkebrabonnya Presiden Suharto pada 21 Mei 1998, dan digantikan Presiden BJ. Habibie. Pada 1999 Presiden BJ. Habibie memberikan opsi kepada warga Timor Timur: Merdeka atau bergabung dengan NKRI, dan pada jajak pendapat dimenangkan pilihan merdeka.


Sabtu, 11 Juli 2026

Fabel 34 Provinsi : NTT - Asal Mula Komodo


Judul

:

Fabel 34 Provinsi : NTT - Asal Mula Komodo

Penulis

:

Dian K.

Penerbit

:

Bhuana Ilmu Populer

Tahun Cetak

:

2019

Halaman

:

32

ISBN

:

978-623-216-523-6

Harga

:

Rp. 25.000         

Status

:

Kosong

 

Sebentar lagi Putri akan melahirkan. Perutnya sudah besar dan rasanya amat berat. Majo, suaminya, mengira mereka akan mendapat anak kembar. Benar saja, bayi yang keluar pertama adalah laki-laki. Namun, bayi kedua tidak tampak seperti manusia. Apa yang terjadi, ya?

Dongeng Binatang 34 Provinsi terdiri dari 34 judul dengan tokoh binatang endemik dari seluruh provinsi di Indonesia. Terdapat fakta unik di masing-masing akhir cerita. Yuk, koleksi semua judulnya! 


Rabu, 08 Juli 2026

Tempat dan Peristiwa sejarah di Nusa Tenggara Timur

Judul

:

Tempat dan Peristiwa sejarah di Nusa Tenggara Timur

Penulis

:

Denok Oktawila & Siti Aminatus Sholichah

Penerbit

:

Media Ilmu

Tahun Cetak

:

2026

Halaman

:

62

ISBN

:

978-602-579-407-0

Harga

:

Rp. 37.200         

Status

:

Kosong


Nusa Tenggara Timur adalah suatu provinsi yang letaknya berada di sebelah timur indonesia. Provinsi ini terdiri dari kurang lebih 550 pulau. Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki aneka ragam tempat dengan berbagai peristiwa didalamnya dan mempunyai peristiwa-peristiwa penting di dalamnya. Rumah pengasingan soekarno di ende, Gereja Sikka, Peninggalan Portugis di Bola, Gereja Masehi Injili di Timor Jemaat kota Kupang, Museum Seribu Moko, Benteng Concordia, Majid Al- muqarabbin Labala, Masjid air mata kupang, Kampung Megalitik Bena, Gedung Maria Immaculata, Monumen Veteran Australia, Pulau Komodo, Gunung Inerie sebagai Penjelmaan Sosok Jaramasi dengan Kuda Tunggangannya, Gunung Mutis dengan Aneka Flora dan Faunanya, Gua Liang Bua sebagai Tempat Ditemukan Fosil Homo Florensis, Danau Kelimutu, Batu Misterius yang Diyakini Sebagai Kemunculan UFO di kupang, dan Pulau Bidadari. 


Jumat, 26 Juni 2026

Dara(h) Savana tentang Stigma dan Cinta Ndaina

Judul

:

Dara(h) Savana tentang Stigma dan Cinta Ndaina

Penulis

:

Dony Kleden

Penerbit

:

Lintang Pustaka Utama

Tahun Cetak

:

2026

Halaman

:

252

ISBN

:

978-623-7514-89-3

Harga

:

Rp. 80.000         

Status

:

Ada


Ndaina, dalam bahasa Sumba Barat Daya, berarti suwanggi. la bukan sekadar kata. la adalah bayang-bayang. la adalah tuduhan tanpa pengadilan, vonis tanpa pembelaan. Dalam imajinasi masyarakat, suwanggi dipercaya sebagai penyebab sakit, kematian, kegagalan panen, dan musibah yang tak terjelaskan. Ketika ilmu dan empati berhenti bekerja, maka mitos sering kali dipanggil untuk menjawab ketakutan. Dan dari situlah, stigma dilahirkan.

Judul Dara(h) Savana sengaja ditulis dengan tanda kurung yang memisahkan sekaligus menyatukan makna. Dara merujuk pada gadis savana, gadis Sumba, perempuan yang lahir, tumbuh, dan ditempa oleh alam savana yang keras namun indah. la adalah simbol kehidupan, keteguhan, dan keberanian untuk bertahan di tanah yang menuntut kekuatan sekaligus kesabaran. Dalam sosok gadis savana, terhimpun harapan akan generasi yang berani melampaui warisan ketakutan.

Sementara itu, (h) menghadirkan makna lain: darah. Darah adalah sumber kehidupan, pengikat keluarga, dan tanda keberlanjutan manusia. Namun dalam kisah ini, darah juga mengalami pergeseran makna, dari sesuatu yang menghidupi menjadi sesuatu yang dicurigai. Darah keluarga Nono dianggap kotor, panas, dan berbahaya karena cap suwanggi yang dilekatkan kepada mereka. Darah yang seharusnya menyatukan justru dijadikan  alasan untuk memisahkan, mengucilkan, bahkan memusnahkan.

Dengan demikian, Dara(h) Savana berbicara tentang tubuh dan stigma, tentang perempuan dan darah, tentang kehidupan yang tumbuh di tanah savana namun terus dibayangi ketakutan kolektif. la adalah kisah tentang bagaimana identitas manusia direduksi menjadi mitos, dan bagaimana cinta, yang lahir dari seorang gadis savana, berusaha memulihkan kembali makna darah sebagai kehidupan, bukan kutukan. 


Babinomics Ekonomi Sosial Berbasis Babi, Narasi Minor dari NTT untuk Indonesia

Judul

:

Babinomics Ekonomi Sosial Berbasis Babi, Narasi Minor dari NTT untuk Indonesia

Penulis

:

Ermalindus Albinus Sonbay

Penerbit

:

Circa

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

166

ISBN

:

978-623-8437-00-9

Harga

:

Rp. 100.000         

Status

:

Ada

 

Buku ini memotret sisi lain NTT yang tidak banyak diangkat oleh kajian-kajian ilmiah maupun media-media mainstream. Uniknya penulis tanpa tanggung-tanggung mempersonifikasi diri sebagai 'babi, hewan yang dianggap mewakili masyarakat NTT, karena selalu hadir dalam setiap acara penting. Babi juga otomatis bisa menggerakkan ekonomi warga. Karena itu, bagi yang ingin lebih memahami masyarakat NTT, buku bagus ini wajib untuk dibaca. AAGN Ari Dwipayana (Koordinator Staf Khusus Presiden Joko Widodo, KSP)

Buku yang disusun Bung Ermalindus ini merupakan refleksi masyarakat Timor dan NTT secara umum. Tidak mudah membuat refleksi yang objektif dan utuh, karena membutuhkan cermin yang jernih. Analogi yang diulas dalam buku ini setidaknya menjadi cermin tersebut dan perlu disikapi secara bijak oleh semua pihak. Ini menjadi catatan menarik untuk memacu NTT agar lebih berdaya dan masyarakatnya bisa semakin sejahtera. Beberapa bagian dalam buku ini perlu dimaknai dengan bijaksana. Pelbagai ketidakberdayaan NTT yang dibahas juga merupakan bagian dari "kemarahan" untuk bangkit lebih baik. Heri Soba (Wartawan Senior, pegiat KatongNTT.com, pengurus DPP Himpunan Alumni IPB, Sekjen Forkoma PMKRI)

Selamat untuk diterbitkannya buku ini. Ulasan kritis khas penulis hendaknya dipikirkan juga sebagai rasa cintanya yang besar kepada NTT. Buku ini layak dibaca oleh semua yang sementara memikirkan dan bertindak membentuk NTT yang lebih baik. Daniel Yusmic (Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia)

Melalui buku ini, Ermalindus Sonbay menghentak kesadaran kita tentang bencana kemanusiaan, tepatnya bencana akal yang semakin tidak kita sadari. Sonbay menggunakan negerinya sendiri "Negeri Timor" untuk meyakinkan kita. Beliau menghentakkan kita dengan cara yang sangat menyentuh cita budaya: Memparodikan dirinya sebagai seekor babi kurus yang hidup dan menghidupi Timor, NTT. Ada semacam rute budaya yang bisa/perlu dirajut, rute yang tidak terjebak dalam birokratisme dan teknokratisme yang menjangkiti nalar kita. Rute itu adalah rute aktualisasi kemanusiaan. Purwo Santoso (Guru Besar Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Politik, UGM Yogyakarta) 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...