Judul |
: |
Menalar Keadilan |
Penulis |
: |
Yosef Keladu Koten & Otto Gusti Madung |
Penerbit |
: |
Ledalero |
Tahun Cetak |
: |
2023 |
Halaman |
: |
252 |
ISBN |
: |
978-623-6724-16-3 |
Harga |
: |
Rp. 75.000 |
Status |
: |
Ada |
Sokrates, salah
seorang filsuf Yunani klasik pernah mengatakan, “the unexamined life is not
worth living” (hidup yang tidak direfleksikan tidak layak dihidupi).
Pernyataan Sokrates ini mengungkapkan pentingnya berpikir dan refleksi atas
hidup dan segala sesuatu yang dilakukan dalam hidup. Berpikir dan refleksi
membuat orang menemukan apa yang benar atau adil yang harus dilakukan dan
dengan demikian menghindarkan orang dari tindakan kejahatan. Orang yang
berpikir kritis mampu menghindarkan dirinya dari sistem yang tidak sehat dan
juga dari setiap peristiwa yang bertentangan dengan hati nuraninya. Lebih
lanjut, berpikir dan refleksi membuat hidup semakin bergairah dan bermakna
serta menghindarkan orang dari rutinitas yang membosankan. Menyadari pentingnya
berpikir dan refleksi tersebut, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero,
sebuah lembaga pendidikan tinggi di Kabupaten Sikka, Flores, yang telah lama
berkecimpung dalam proses pendidikan calon imam dan awam yang kritis dan
berkepribadian integral, menawarkan kuliah umum (studium generale)
kepada masyarakat (akademisi, politisi, birokrat, pegiat lembaga swadaya
masyarakat, dan lain-lain) di kota Maumere komunitas politik serta bagaimana
konsep tersebut diaplikasikan dalam pembuatan keputusan-keputusan etis, sosial
dan politik. Artikel-artikel yang dipresentasikan dalam kuliah umum dan
sekarang dipublikasikan dalam buku ini merepresentasikan berbagai perspektif
keadilan dan sekaligus berupaya mengaplikasikan teori atau perspektif keadilan
tersebut dalam berbagai bidang seperti filsafat, agama, relasi antara umat
beragama, sosial dan politik. Atau, dalam buku ini akan disajikan
prinsip-prinsip etis atau moral yang menuntun tindakan seseorang supaya dinilai
adil.
Menalar keadilan
terasa semakin urgen dewasa ini bukan karena topik keadilan adalah sesuatu yang
baru dalam kosa kata ilmu sosial, filsafat atau teologi. Bahkan dalam filsafat
persoalan keadilan sudah dibahas sejak awal lahirnya tradisi filsafat 2500 tahun
yang lalu. Persoalan keadilan tetap relevan dan aktual hingga kini terutama
karena ketidakadilan sedang mencederai kemanusiaan kita. Keadilan merupakan
kebajikan yang paling fundamental dalam mengatur relasi interpersonal dan
membangun serta mempertahankan komunitas politik yang stabil. Negara yang baik
adalah negara yang dibangun di atas fundasi keadilan. Tanpa keadilan sosial,
sulit membayangkan terwujudnya persatuan bangsa atau nasionalisme. Nasionalisme
menurut Ben Anderson adalah sebuah imagined community atau komunitas
terbayangkan. Dan karena bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang plural,
bayangan tersebut tidak didasarkan atas kesamaan darah, agama atau etnis (ethnic
nationalism), tapi dibangun atas dasar semangat kewargaan (civic nation).
Namun harus disadari bahwa civic nation adalah sebuah konsep yang abstrak dan
karena itu sulit dijadikan sebagai perekat emosional sebuah bangsa. Kekosongan
elemen emosional ini pada awal berdirinya republik ini diisi dengan narasi
bersama “perang melawan kolonialisme”. Akan tetapi, ketika narasi bersama
berupa kolonialisme atau kemudian komunisme pada masa Orde Baru hilang, maka
imaginasi sebagai sebuah bangsa menjadi kabur. Ketika segelintir orang hidup di
atas gelimang kemewahan dan mayoritas rakyat harus hidup miskin, maka tak
mungkin untuk “membayangkan” Indonesia sebagai satu komunitas.
Karena itu ikhtiar
untuk membangun keadilan sosial merupakan salah satu jalan untuk memperkokoh
nasionalisme atau persatuan bangsa. Hal ini terungkap jelas dalam salah satu
tujuan bangsa Indonesia seperti dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945 yakni:
“Negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dengan berdasar atas persatuan dengan mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.” Artinya, persatuan Indonesia atau nasionalisme
mengandaikan adanya keadilan sosial. Tapi apa persisnya keadilan sosial itu
Buku Menalar
Keadilan yang merupakan kumpulan tulisan dari sejumlah dosen di STFK Ledalero
berikhtiar untuk menjelaskan pertanyaan ini dari perspektif nalar filosofis,
teologis dan sosiologis. Dengan demikian buku ini ikut mengambil bagian dalam
pembahasan sebuah persoalan filosofis yang sudah ada sejak awal lahirnya
tradisi filsafat. Sebab, persoalan keadilan merupakan salah satu tema
terpenting dalam filsafat politik sejak awal sejarahnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar