Senin, 22 Maret 2021

Capung Sumba

Judul

:

Capung Sumba

Penulis

:

Andi Irawan & Wahyu Sigit Rahadi

Penerbit

:

Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti

Tahun Cetak

:

2018

Halaman

:

145

ISBN

:

978-602-60691-0-8

Harga

:

NFS

Status

:

Kosong


Buku Capung Sumba merupakan dokumentasi pustaka tentang keanekaragaman capung di Pulau Sumba. Buku ini melengkapi kajian pustaka sebelumnya berupa daftar awal distribusi Odonata di Pulau Sumba. Daftar ini disusun pada tahun 1953 oleh Mauritz Anne Lieftinck, seorang ahli biologi dan zoology berkebangsaan Belanda. Hasil kerja Lieftinck dalam menyediakan data dasar distribusi capung di Sumba patut diapresiasi. Setelah 63 tahun akhirnya baru diperbaharui dan buku ini menjadi penerus tradisi saintifik Nusantara. 


Geografi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Judul

:

Geografi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Penulis

:

I Gusti Bagus Arjana

Penerbit

:

Rajawali Press

Tahun Cetak

:

2015

Halaman

:

256

ISBN

:

978-979-769-855-3

Harga

:

Rp. 90.000

Status

:

Kosong



"Melakukan perjalanan wisata (travelling) telah menjadi kebutuhan manusia, di sisi lain pariwisata (tourism) juga telah berkembang pesat baik sebagai ranah bisnis, industri maupun bidang kajian ilmu pengetahuan. Ekonomi kreatif juga berkembang pesat seiring dengan berkembangnya berbagai teknologi, ide kreatif dan imajinasi manusia, sehingga pariwisata meluas didukung ekonomi kreatif menjadi peluang bisnis dan industri. Pariwisata sebagai industri bersifat hidden/invisible export dan multiplier effects yang dapat menghimpun devisa dan menyerap banyak tenaga kerja, sehingga industri pariwisata berkembang di banyak negara di dunia. Globalisasi diakselerasi oleh antara lain mobilitas manusia antarnegara, antarbenua karena aktivitas pariwisata.

Dalam dunia pendidikan, pariwisata menjadi pendidikan vokasional pada jenjang sekolah menengah dan jenjang pendidikan tinggi di politeknik, tingkat Diploma Satu (D-1) sampai Diploma Empat (D-4). Buku Geografi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencoba mengkaji pariwisata dalam perspektif geografi dan kaitannya dengan ekonomi kreatif. Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah referensi akademik dan memperkaya wawasan tentang pariwisata, yang bermanfaat bagi mahasiswa, akademisi, praktisi dan komunitas bisnis pariwisata atau siapa saja yang ingin menambah wawasan tentang pariwisata."

Senin, 01 Maret 2021

Kisah Petualangan TinTin: Penerbangan 714

Judul

:

Kisah Petualangan TinTin: Penerbangan 714

Penyusun

:

Hergé

Penerbit

:

Indira

Tahun Cetak

:

 

Halaman

:

62

ISBN

:

 

Harga

:

Rp.

Status

:

Kosong


Penerbangan 714 ke Sydney, adalah sebuah album serial Kisah Petualangan Tintin yang ke 22, dari Hergé dari Belgia. Album ini aslinya dalam bahasa Perancis disebut Vol 714 pour Sydney, yang dalam bahasa Indonesia berarti: "Penerbangan 714 menuju Sydney".

Ketika pemberhentian pesawat di Jakarta, Tintin, Kapten Haddock dan Profesor Lakmus sedang menuju ke Sydney saat mereka bertemu dengan industrialis pesawat dan jutawan eksentrik Laszlo Carreidas. Karena tidak dapat menolak tawaran Carreidas dengan sopan tentang tumpangan pesawat, Tintin dan teman-temannya bergabung dengan jutawan pada pesawat pribadinya, Carreidas 160. Tanpa sepengetahuan Carreidas dan yang lainnya, sekretarisnya Spalding dan dua pilot berkomplot untuk membajak pesawat dan membawanya ke sebuah pulau vulkanik di Kepulauan Sunda. Setelah mendarat, ketika keluar dari pesawat, Snowy yang ketakutan lepas dari tangan Tintin dan lari. Penjaga menembaknya, dan Tintin yang ngeri percaya bahwa dia telah dibunuh.

Dalang dari peristiwa tersebut ternyata Rastapopoulos, yang berniat mengambil uang Carreidas. Mantan teman sekapal Kapten Haddock, Allan, hadir sebagai antek Rastapopoulos itu. Warga Sondonesia telah dipekerjakan sebagai tentara bayaran.

Menariknya dalam komik terbitan pertama tahun 1968, selain karena kisahnya ada di Indonesia juga menampilkan sekilas kehadiran binatang komodo yang merupakan hewan khas dari Nusa Tenggara Timur. 


Minggu, 28 Februari 2021

Migran Miskin Tak Ber-Aset di Kota Kupang

Judul

:

Migran Miskin Tak Ber-Aset di Kota Kupang

Penulis

:

Wahyu Adiningtyas, dkk

Penerbit

:

Perkumpulan Pikul

Tahun Cetak

:

2010

Halaman

:

24

ISBN

:

 

Sumber

:

https://media.neliti.com/

Download

:

Di Sini


Survei ini merupakan bagian dari Proyek Baselining di PIKUL. Tujuannya untuk memperoleh informasi awal pemenuhan hak dasar migran yang tidak memiliki aset dan mengetahui persepsi mereka mengenai pemenuhan hak dasar. “Migran yang tidak memiliki aset” dipilih sebab kelompok inilah yang paling rentan terhadap perlindungan hak dasar yang seharusnya dipenuhi oleh negara, dalam hal ini pemerintah Kota Kupang. Hak dasar tersebut meliputi hak atas kesehatan, pangan, pemukiman, pekerjaan, dan sebagainya. Belum ditemukan penelitian serupa yang dilakukan di Kota Kupang padahal urbanisasi di berbagai wilayah memicu pertambahan penduduk yang tinggi, sementara daya dukung ekologi terhadap pertambahan penduduk tidak bertambah bahkan cenderung berkurang. Kurangnya daya dukung ekologi ditambah kurangnya kebijakan pemerintah, terutama yang berkaitan dengan hak dasar, menyebabkan tingkat kesejahteraan migran tak beraset menjadi sangat rendah.


Rabu, 27 Januari 2021

Tetum Ghosts and Kin

Judul

:

Tetum Ghosts and Kin

Penulis

:

David Hicks

Penerbit

:

Waveland Press, Inc.

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

1988

Halaman

:

143

ISBN

:

0-88133-320-4

Sumber

:

https://watugaricoelho.files.wordpress.com/

Download

:

Di Sini


My chief purpose in this book is to show how ritual in a nonliterate community brings together many different facets of that community’s culture— religious beliefs, kinship practices, literature, ecology, even the architecture of the house—and unites them in a comprehensive system. The community in this case is the population of the two villages of Mamulak and Mane Hat, which together make up the aristocratic half of a princedom known as Caraubalo. This princedom is found in one of the three main regions inhabited by the Tetum people of eastern Indonesia, among whom I lived and worked for fifteen months. Certain details of culture in Mamulak differ from those in Mane Hat, and I shall point these out when necessary. Otherwise, when making observations common to both villages I shall use the names Mamulak and Mane Hat interchangeably.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...