Senin, 25 Juni 2018

Kembali ke Akar

Judul
:
Kembali ke Akar
Penulis
:
Rm. Benediktus Bere Mali, SVD
Editor
:
John Wolor
Penerbit
:
Cerdas Pustaka Publisher
Tahun Cetak
:
2008
Halaman
:
178
ISBN
:
978-979-18577-0-3
Harga
:
Rp. -
Status
:
Kosong


Kembali ke Akar adalah buku perdana Rm. Beny Mali, SVD. Buku ini tampil beda dalam bentuk syering pengalaman hidup penulis dalam budaya suku Bunak tempat perdana pendaratan penulis, sebagai titik star dalam seluruh perziarahan hidup panggilan penulis sebagai seorang gembala. Ceritranya dikemas dengan bahasa harian bagi pembaca untuk mudah dicerna.

Pembaca akan menemukan makna hidup lewat membaca buku ini. Pembaca langsung dibawa kepada imaginasi akan hakekat budaya yang melekat pada dirinya sebagai asal hidupnya. Pembaca dibuka wawasannya oleh buku ini bahwa manusia bukan jatuh dari langit, bukan juga diambil dari dalam tanah, tetapi manusia lahir dari sebuah keluarga yang berbudaya, beradat, berperadaban. Lewat baca buku ini pembaca langsung diantar ke altar akar budaya yang unik dalam pembentukan identitas diri atau jati diri pembaca.

Drs. Frans Seda 80 Tahun Catatan Perjalanan Seorang Pejuang

Judul
:
Drs. Frans Seda 80 Tahun Catatan Perjalanan Seorang Pejuang
Penulis
:
E. P. da Gomez
Editor
:
Drs. Kanis Lawar & E. Vicky da Gomez
Penerbit
:
Yayasan Kasimo Cabang Sikka Maumere & Yayasan Dobo Nualolo – Maumere
Tahun Cetak
:
2006
Halaman
:
135
ISBN
:
979-25-9301-2
Harga
:
Rp. -
Status
:
Kosong


Frans Seda di mata mereka

Mgr. Francesco Canalini, mantan Duta Besar Vatikan untuk RI
Bidang-bidang keterlibatan Frans Seda (Gereja, universitas, politik dan bisnis) mengungkapkan kepribadiannya yang multidimensional menyatu secara harmonis dengan tanggung jawab pribadi terhadap keluarganya.

Emil Salim, mantan Menteri Perhubungan dan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup
Devoted Chatolic itu sikap yang sangat menonjol pada diri Frans Seda; baginya agama bukan sekedar dianut tetapi dihayati dalam hidup sehari-hari.

Sumitro Djojohadikusumo, pakar ekonomi
Sebagai Menteri Keuangan pada masa yang paling sulit, Frans Seda member andil yang sangat besar kepada perekonomian negara.

Abdul Haris Nasution, Mantan Ketua MPRS, Jenderal TNI-AD
Ketika menjabat Menteri Keuangan dengan sangat baik Frans Seda melaksanakan tugas memperbaiki hubungan dengan dan mencari bantuan dari Eropa Barat sehingga lahirlah IGGI.

G. W. Baron de Vos van Steenwijk, mantan Duta Besar Kerajaan Belanda untuk RI
Orang yang sungguh luar biasa dan terutama karena ia bukan orang Jawa, ia mempunyai sikap yang sangat langsung ke sasaran. Pokoknya “he doesn’t beat around the bush”
Marshall Green, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk RI
Saya mempunyai penghargaan besar terhadapnya sebagai seorang ekonom, negarawan dan sekaligus juga seorang pemuka agama.

Prof. Dr. Anton M. Moeliono, MA, mantan Direktur Pusat Penelitian Atma Jaya
Peranannya sebagai salah seorang arsitek ekonomi modern Indonesia dan selaku pengukir rautan wajah Gereja Katolik di Indonesia hanya dapat dinilai jika berdimensi sejarah.

Rm. Prof. Dr. A. M. Kadarman, SJ, Direktur Yayasan Bhumiksara
Tidak banyak orang sekaliber Frans Seda

Sabana Sumba: Kelembagaan dan Pembangunan Ekonomi Desa

Judul
:
Sabana Sumba: Kelembagaan dan Pembangunan Ekonomi Desa
Penulis
:
Rambu Luba Kata Respati Nugrohowardhani
Penerbit
:
Program Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana
Tahun Cetak
:
2016
Halaman
:
228
ISBN
:
-
Harga
:
Rp. -
Status
:
Kosong


Buku ini berisi kompilasi artikel yang bertujuan mengambarkan dinamika pembangunan ekonomi desa di daerah sabana melalui perspektif ekonomi kelembagaan. Sebagai salah satu daerah sabana di Indonesia, Sumba memiliki ekologi unik yang dinamis. Namun, keunikan itu seringkali diabaikan dalam kajian-kajian pembangunan ekonomi desa karena umumnya hanya memperhitungkan keterkaitan antara letak geografis dan pertumbuhan ekonomi, atau keberadaan kelembagaan formal dan pertumbuhan ekonomi tanpa menyadari adanya hubungan timbal balik antara ekologi dan kelembagaan lokal. Menggunakan kasus komoditisasi kapas di Sumba Timur, buku ini mengungkapkan kebiasaan sehari-hari penduduk yang menjadi akar dari kelembagaan lokal dan mempengaruhi perilaku mereka dalam menanggapi pembangunan ekonomi desa. Sementara itu, pembangunan ekonomi desa di daerah sabana digambarkan sebagai sebuah perjumpaan antara kelembagaan lokal dan kelembagaan baru yang memiliki karakteristik masing-masing.

Minggu, 24 Juni 2018

50 Tahun Ziarah Pangan Nusa Tenggara Timur

Judul
:
50 Tahun Ziarah Pangan Nusa Tenggara Timur
Editor
:
Jonatan Lassa, Dion DB Putra & Tony Kleden
Penerbit
:
PT. Timor Media Grafika
Tahun Cetak
:
2009
Halaman
:
320
ISBN
:
978-979-17097-1-2
Harga
:
-
Status
:
Kosong


Berbicara tentang ‘ketahanan pangan’ tidaklah terlepas dari berbicara pula tentang upaya ‘pertanian’ demi tercapainya, dan berbicara tentang upaya pertanian, mau tak mau harus disinggung pula hal ihwal ‘penyuluhan pertanian’, dalam pengertian yang luas. Karena itu ‘ziarah ketahanan pangan NTT’, hemat saya, tak terpisahkan dari ‘ziarah penyuluhan pertanian’ yang perlu dilakukan sesuai ‘situasi dan kondisi setempat’. (Viator Parera)

Dilema bagi Indonesia adalah bahwa petani tidak banyak menikmati harga dasar pangan yang adil. Sayangnya harga yang adil bagi petani identik dengan naiknya harga pangan. Sedangkan kaum miskin kota, yang semakin meningkat dari tahun ke tahun justru membutuhkan pangan yang murah, demi akses yang lebih baik bagi kaum miskin. (Jonatan Lassa)

Jika pemerintah memiliki impian dan keyakinan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat ‘grass root’, maka mewujudkan ‘good governance’ dengan mengembangkan potensi lokal adalah salah satu jawaban yang elegan. (Leta Rafael Levis)

Mata di Tanah Melus

Judul
:
Mata di Tanah Melus
Penulis
:
Okky Mandasari
Penerbit
:
PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Cetak
:
2018
Halaman
:
187
ISBN
:
978-602-0381-132-9
Harga
:
Rp. 69.000
Status
:
Ada


Pesawat kecil kami mendarat di negeri antah-berantah. Saat pesawat itu mulai merendah, aku bisa melihat hamparan hijau yang tak terlalu lebat, juga tak benar-benar hijau. Hijau yang kering dan lesu, namun justru terlihat ramah dan tak menakutkan.

Perjalanan ke salah satu wilayah terluar Indonesia mengantarkan Matara, gadis berusia dua belas tahun, pada petualangan menakjubkan yang belum pernah ia bayangkan. Dunia yang serba ganjil pun menjadi sebuah kenyataan baru untuknya.

Demikianlah sekilas gambaran perjalanan Matara bersama ibunya dari Kota Jakarta menuju sebuah wilayah di Belu, Nusa Tenggara Timur. Mereka akan menemukan petualangan yang mencengangkan, penuh misteri dan diluar nalar. Perjalanan yang tentunya tak akan terlupakan oleh Matara. Tunggu keseruannya baca buku ini!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...