Rabu, 05 April 2017

Avontur

Judul
:
Avontur, Sekumpulan Puisi
Penulis
:
Ragil Supriyatno Samid
Penerbit
:
Mozaik Books
Tahun Cetak
:
2015
Halaman
:
99
ISBN
:
978-602-9149-73-9
Harga
:
Rp. 45.000
Status
:
Ada

to’o, lengkap sudah jeda waktumu, seperti waktu yang dimiliki Musa di bukit sinai, seperti Isa di belantara judea untuk menapak jalan kesejatian ruhmu menuju marcapada, sang maha sejati kering sudah ludah ludah sirihpinangmu di blek cat dan di halaman samping rumah.

tinggal bercak warnanya yang membekas di dinding dinding rumah, yang tak kunjung pudar, seperti nyala kebajikanmu yang ta’ kan padam di hati buah buah sirih mengisut bagai batang arang korekapi di doz-nya. pinang pinang kering terlumat halus oleh tumbukan duka, lalu serbuknya menghablur ke udara. Mengiringmu

“to’o kas be doi do..,” 22 tahun sudah aku tak lagi sempat mengucap kalimat pinta itu padamu, kalimat yang mengabadikan bayang kanakku di legam lantai rumah kampungbaru. Mengingatnya, terbayang senyummu yang menelusup di antara rimbun tembakau sek yang menguncup di bibirmu.

dan kilau kearifan dari landai jidatmu. Maka sekarang aku tak lagi segan meminta padamu, To’o jatuhkanlah koin koin kesejatian itu padaku, dari tapal tapal batas keabadian langit yang engkau lalui nanti. Agar bila sampai waktuku, kutahu kemana harus menemuimu. lagi (To’o Kas Be Doi Do_requiem for late To’o Da’I, 2010)

Selasa, 04 April 2017

Kuasa, Pembangunan dan Pemiskinan Sistemik

Judul
:
Kuasa, Pembangunan dan Pemiskinan Sistemik, Analisa Kontra-Hegemoni dengan Fokus Studi Kasus di Manggarai Raya NTT Indonesia
Penulis
:
Cypri Jehan Paju Dale
Penerbit
:
Sunspirit Books
Tahun Cetak
:
2013
Halaman
:
329
ISBN
:
978-979-18706-5-8
Harga
:
Rp. 115.000
Status
:
Kosong

Buku ini mendiskusikan keterkaitan Kuasa, Pembangunan dan Kemiskinan dari sudut pandang kritis kontra-hegemonik. Dengan basis studi kasus di Manggarai Raya, NTT – Indonesia dan dengan bantuan berbagai trajektori ilmu sosial kritis, seperti yang dikembangkan Marx, Foucault, Teori Pos-Kolonial dan Pemikiran De-Kolonial, buku ini merangsek masuk ke dalam sisi-sisi tersembunyi pembangunan, demokrasi dan proyek-proyek atas nama kemiskinan, untuk kemudian keluar dengan menyingkap bukan saja konstribusi positif, tetapi juga ambivalensi-ambivalensi dan kontradiksi-kontradiksi mereka. Dengan itu buku ini mendiskusikan bagaimana Pembangunan, Demokrasi, dan Proyek-Proyek Kemiskinan sebenarnya merupakan medan sekaligus wujud praktek kuasa hegemonik yang menghasilkan dominasi penguasa ekonomi dan politik global dan lokal, dan menghempaskan mayoritas masyarakat kecil dalam kemiskinan sistemik. Studi-studi kasus buku ini menelusuri proses pembentukan dari relasi asimetris yang hirarkis itu (1) lewat pencaplokan dan eksploitasi sumber daya alam, sumber daya budaya, sumber daya finansial (anggaran publik), (2) lewat praktik wacana, yaitu kepengaturan oleh kuasa disipliner dan kontrol atas seluruh sistem sosial, (3) lewat matriks relasi dominasi yang dilanggengkan oleh rasionalitas modernitas Barat dengan seluruh tata politik, ekonomi dan kultural yang dihasilkannya.

Sebagai alternatif, buku ini mengedepankan ‘Kuasa Kontra-Hegemoni’ dan artikulasi baru “Self-determinasi’, yang dikonkretkan dalam tujuh agenda transformasi sosial yang menjamin kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan ketangguhan budaya setiap komunitas pada semua level, termasuk pada level bangsa.

Buku ini dapat menjadi salah satu bahan penting bagi diskursus kritis tentang Kuasa, Pembangunan dan Kemiskinan dengan basis teoritis yang utus dan studi lapangan yang mendalam di Indonesia.

Senin, 03 April 2017

Bangunan Adat Timor di Desa Maslete dan Desa Boti


Judul
:
Bangunan Adat Timor di Desa Maslete dan Desa Boti
Penulis
:
Titien Saraswati
Penerbit
:
K-Media Yogyakarta
Tahun Cetak
:
2016
Halaman
:
58
ISBN
:
978-602-6892-30-0
Harga
:
Rp. 190.000
Status
:
Ada

Buku kecil ini tentang bangunan adat di Pulau Timor. Tepatnya bangunan vernakular di Desa Maslete, Kabupaten Timor Tengah Utara; dan di Desa Boti, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Bangunan adat di kedua desa tersebut yaitu Sonaf, Lopo, dan Ume Kbubu. Buku ini juga merupakan modifikasi dari beberapa publikasi penulis tentang bangunan adat Timor, antara lain dari publikasi penulis di jurnal ilmiah nasional, prosiding seminar nasional, prosiding seminar internasional.

Penulis tunjukan buku ini kepada yang berminat pada bidang arsitektur, terutama tentang bangunan vernakular. Juga, penulis tunjukkan buku ini kepada mahasiswa maupun dosen di bidang arsitektur dan praktisi arsitektur, pun kepada khalayak umum yang tertarik pada bangunan vernakular.

Minggu, 02 April 2017

Orang Sabu dan Budayanya

Judul
:
Orang Sabu dan Budayanya
Penulis
:
Robert Riwu Kaho
Penerbit
:
Jogja Global Media
Tahun Cetak
:
2005
Halaman
:
198
ISBN
:
979-99724-0-X
Harga
:
Rp. -
Status
:
Kosong

Sampai hari ini ada dua kata yang setiap hari diucapkan berkaitan dengan orang Sabu yaitu Hawu dan Sabu. Dalam percakapan sehari-hari kata Sabu diucapkan oleh semua orang, baik oleh orang Sabu maupun bukan orang Sabu. Sebaliknya orang Sabu sendiri, pada waktu mereka sedang bercakap-cakap dalam bahasa Sabu pasti kata Hawu yang diucapkan. Sudah barang tentu ada yang bertanya mengapa gerangan sehingga terjadi perbedaan sebutan seperti itu?

Orang Sabu pada umumnya menamakan dirinya Do Hawu. Pulau Sabu mereka sebut Rai Hawu. Do adalah singkatan dari kata dou, artinya orang atau manusia. Jadi arti kata do Hawu adalah orang atau manusia Hawu artinya tanah atau negeri Hawu. Bahasa orang Sabu disebut Li Hawu. Segala apa saja yang dipandang sebagai yang asli atau yang berasal dari Sabu selalu dikenakan kata sandang Hawu, sedang yang berasal dari luar atau bukan asli Sabu dikenakan kata sandang ‘jawa. Misalnya sorghum, kambing, sarung/selimut Sabu, sebab itu mereka menyebut tarae hawu, ki’i hawu, ei/hi’ji huri hawu dan emmu hawu. Sebaliknya jagung (corn), domba, kain batik dan rumah berbentuk bukan asli Sabu mereka sebut terae ‘jawa, ki’i ‘jawa, hi’ji/hi’gi ‘jawa dan emmu ‘jawa. Kata sandang hawu sudah dipergunakan sejak zaman dahulu kala yaitu sejak generasi ke-8 orang Sabu yang bernama Hawu Miha. Hawu Miha sama artinya Hawu bin Miha atau Hawu anak dari Miha. Nama beliaulah yang dipakai menjadi nama dari Do Hawu dan Rai Hawu. 

Sabtu, 01 April 2017

Alor Punya Cerita

Judul
:
Alor Punya Cerita, Kisah-Kisah Mengharukan Masuknya Injil ke Alor
Editor
:
Dr. Ebenhaizer I Nuban Timo
Penerbit
:
Satya Wacana University Press
Tahun Cetak
:
2014
Halaman
:
347
ISBN
:
978-979-8154-95-9
Harga
:
Rp. 100.000
Status
:
Kosong

Lahtala memiliki dua orang anak, yakni: Adang dan Tuandiri. Satu hari si sulung, Adang memukul sang adik. Tuandiri. Si adik mengeluh kepada Lahtala. Sang Ayah memarahi Adang yang berlaku bodoh karena tidak menjaga adiknya melainkan memukuli dia. Tersinggung karena dimarahi sang ayah, Adang pergi dari rumah sang Bapa. Lahtala. Dia menetap di pulau Alor. Tapi akibatnya dia makin hari makin jauh dan tidak tahu jalan kembali ke Lahtala.

Dalam pelariannya Adang mengingat kata-kata Lahtala bahwa nanti, satu kalu kelak akan datang anak-cucu adiknya, Tuandiri untuk menunjukkan kepadanya jalan yang benar untuk kembali ke Lahtala. Karena ingat janji itu anak cucu Adang yang tinggal di gunung-gunung di Alor tetapi bertahan dalam penyembahan berhala, betapapun orang-orang pantai mempengaruhi mereka untuk meninggalkan kekafiran. Ketika datang para zendeling Belanda ke Alor terjadilah penyebrangan masal ke agama Kristen dari orang-orang gunung, karena menurut mereka itulah anak cucu Tuandiri.

Inilah isi ringkas dari buku Alor Punya Cerita yang sekarang ada di tangan pembaca. Buku ini mengajak anda melihat tindakan-tindakan heroik orang Alor, anak cucu Adang satu abad yang lalu ketika mengambil keputusan menjadi orang serani, setelah mendengar pemberitaan Injil dari para zendeling Belanda, anak cucu Tuandiri. Betapa buku ini tidak boleh dilewati oleg setiap anak Alor.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...