Sabtu, 11 Oktober 2025

Seri: Menjelajah Indonesia Vol. 3: Flores

Judul

:

Seri: Menjelajah Indonesia Vol. 3: Flores

Penyusun

:

Karl-Edmund Prier, SJ

Penerbit

:

Pusat Musik Liturgi

Tahun Cetak

:

2024

Halaman

:

84

ISBN

:

978-979-8133-96-2

Harga

:

Rp. 120.000

Status

:

Ada



Apakah Anda pernah mendengar kata “Tenda”?, “Tari Gawi”?. “Orkes Beghu”? “Boba”? Kiranya tidak. Saya pun tidak pernah mendengarnya sebelum mengalami sendiri budaya yang luar biasa yang namanya Tari Gawi sebagaimana yang nampak dalam cover buku ini. Tarian yang penuh arti yang kami saksikan tahun 2000 di desa Tenda di lereng Gunung Kelimutu. Begitu pun kami menemukan mutiara di Kotakeo berupa orkes Beghu yang permainannya profesional dan yang musiknya penuh makna tinggi. Lain lagi apa yang kami alami di Boba bahwa ada misa syukur di mana seluruh umat terlibat dalam nyanyian dan menari karena misa itu diadakan di halaman di depan Gereja. 

Artinya nilai-nilai itu hanya dapat ditemukan kalau dicari, kalau tidak enggan jalan kaki dan mempunyai mata dan terlinga untuk melihat nilai budaya dan inkulturasi. Masyarakat Flores umumnya Katolik dengan bakat musik tinggi dengan variasi gaya yang amat banyak yang belum digali. Pengalaman membimbing dan berproses bersama peserta lokakarya dari: 5 Lokakarya Komposisi di Mataloko, 2 Lokakarya Komposisi di Ruteng, dan 2 Lokakarya Komposisi di Detusoko masih ditambah 2 Lokakarya Liturgi yang ditarikan, merupakan isi dari buku ini.

Buku ini merupakan volume ketiga dari buku Seri: Menjelajah Indonesia, semoga menjadi dorongan untuk menemukan sendiri nilai-nilai yang masih tersembunyi dan untuk menghargainya. 


Nusantara Bernyanyi 7ꓽ Lagu-Lagu Daerah NTT Selain Flores

Judul

:

Nusantara Bernyanyi 7ꓽ Lagu-Lagu Daerah NTT Selain Flores

Penyusun

:

Karl-Edmund Prier

Penerbit

:

Pusat Musik Liturgi

Tahun Cetak

:

2006

Halaman

:

122

ISBN

:

979-8133-32-3

Harga

:

Rp. 90.000

Status

:

Ada


Jilid 7 dari Seri Nusantara Bernyanyi memuat 88 lagu dari NTT selain Flores (lihat jilid 6), yakni dari Sumba (10 lagu), Sawu (7 lagu), Rote (8 lagu), Timor (49 lagu), Alor (14 lagu).

Seperti halnya dalam jilid-jilid sebelumnya, begitu pula kali ini kebanyakan lagu ini dikumpulkan oleh team Pusat Musik Liturgi waktu berlokakarya komposisi: 1986 di Betun – TTU, 1989 dan 1997 di Atambua – TTU, 1989 di Katikuloku – Sumba, 2001 di Weetabula – Sumba, 2002 di Kalabahi – Alor, 2003 di Rote dan bersambung di Mataloko, 2006 di Camplong – TTS. Sedangkan lagu ‘O Nawanni Tana’, ‘Mana Lolo Banda’ dan ‘O Bete’ kami peroleh dari buku “Flobamor” susunan Bp Apoli Bala; lagu ‘Moen Naijufe’, ‘Kaisa ‘Mbeke’, ‘Asa Moruk’ dan “Ensiklopedi Budaya NTT” terbitan Dinas P&K NTT. Terima kasih atas izin untuk memuat lagu tsb. Dalam buku Nusantara Bernyanyi jilid 7 ini.

Buku ini menyajikan lagu daerah dengan satu suara saja. Untuk sejumlah lagu tersedia pula aransemen paduan suara. Tujuan buku ini tak lain kecuali untuk melestarikan lagu-lagu daerah asli, khususnya lagu yang sudah hampir dilupakan/dipojokkan oleh lagu pop daerah. Kami yakin lagu-lagu ini penting untuk mencari identitas/ciri khas dari suku masing-masing yang ada dalam bahaya menjadi samar-samar. Padahal justru ciri khas dari masing-masing daerah akan membentuk musik Indonesia menjadi “bhinneka tunggal ika”, menjadi bunga rampai yang berwarna-warni. Semoga. 


Nusantara Bernyanyi 6ꓽ Lagu-Lagu Daerah Flores

Judul

:

Nusantara Bernyanyi 6ꓽ Lagu-Lagu Daerah Flores

Penyusun

:

Karl-Edmund Prier

Penerbit

:

Pusat Musik Liturgi

Tahun Cetak

:

2006

Halaman

:

142

ISBN

:

979-813-331-5

Harga

:

Rp. 90.000

Status

:

Ada


Bukanlah rahasia bahwa orang Flores senang dan punya bakat untuk bernyanyi. Maka wajarlah bahwa jilid 6 dari seri Nusantara Bernyanyi secara khusus memuat nyanyian-nyanyian tradisional dari Flores.

Dari Flores Barat / Manggarai sampai Flores Timur terkumpul 105 nyanyian yang dipilih terutama menurut kriteria pendidikan di sekolah, sesuai dengan tujuan utama dari Seri Nusantara Bernyanyi. Kebanyakan nyanyian ini dikumpulkan waktu team Pusat Musik Liturgi mengadakan Lokakarya Komposisi di Flores: 1979 dan 1998 di Detusoko, 1990, 1994, 1997, 2000 dan 2003 di Mataloko, 1996 dan 1997 di Ruteng. Beberapa lagu Manggarai kami peroleh juga secara lisan dari beberapa mahasiswa/siswa Kursus Musik Gereja yang sedang belajar di Yogyakarta.

Tentu saja tidak mungkin semua lagu tradsional dimuat dalam buku ini, pertama-tama karena tidak/belum didokumetasikan, dan kedua karena kurang cocok dengan tujuan buku ini. Meski demikian kami ingin mengajak pihak-pihak ybs, terutama di Flores, untuk mengenal / mengungkapkan lagu-lagu tradisional yang lainnya sebagai kekayaan budaya Flores serta sebagai ungkapan identitas. 


Bersahabat dengan Enceng Gondok

Judul

:

Bersahabat dengan Enceng Gondok

Penulis

:

C.Z. Doepe

Penerbit

:

Penebar Swadaya

Tahun Cetak

:

1995

Halaman

:

80

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 35.000

Status

:

Ada


Sebentar saja Tamzil dan Joner sudah mengendap-endap dan berdiri di belakang pagar tembok tetangga. Kedua anak itu tersenyum lebar.

Mesak segera melesat ke samping dapur lalu menenteng dua pasang sepatu hujan. Tak lama kemudian sepatu panjang ayah dan ibunya itu sudah melayang lewat jendela, dan jatuh persis di depan kedua temannya itu.

Setelah memungut dan mengenakan sepatu-sepatu tersebut, Tamzil dan Joner tertatih-tatih memasuki empang penuh enceng gondok setinggi dada mereka. 


Kamis, 09 Oktober 2025

Bertanam Kapulaga

Judul

:

Bertanam Kapulaga

Penulis

:

C.Z. Doepe

Penerbit

:

Penebar Swadaya

Tahun Cetak

:

1988

Halaman

:

58

ISBN

:

979-8031-80-6

Harga

:

Rp. 35.000

Status

:

Ada


Seraya melipat pakaian yang diangkat ibunya dari tali jemuran itu, Rini berkata, “Sebenarnya Rini teringat pada tanah kita di Timor itu, By…”.

“Maksudnya, tanah ayahmu di Owenopo?”

“Betul, Bu. Desa pegunungan yang sejuk itu, di mana awan dan kabut menggantung rendah sepanjang hari…”

Memang desa Owenopo, terkenal sejuk, dan terus berkabut, seakan-akan tidak kenal kemarau sepanjang tahun. Daerah yang sebagiannya tersembunyi di lekukan gunung-gemunung itu, menambah kesejukan yang menggemeletukkan gigi, lebih-lebih bagi pendatang baru dari daerah panas seperti Jakarta. Udaranya lembap mengakibatkan tanahnya yang kaya humus itu bagaikan surga bagi berjenis-jenis pepohonan yang tetap menghijau segar sepanjang tahun. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...