Sabtu, 31 Oktober 2026

Abraham Paul Liyanto: Diberkati Untuk Memberkati

Judul

:

Abraham Paul Liyanto: Diberkati Untuk Memberkati

Editor

:

Pitan Daslani

Penerbit

:

Uwais Inspirasi Indonesia

Tahun Cetak

:

2006

Halaman

:

284

ISBN

:

62-622-7362-042

Harga

:

NFS

Status

:

Kosong


Teriknya sinar matahari di Kota Kupang tak sebanding sengatan beban keluarga di tahun 1970-an ketika ia bergulat dengan kesulitan ekonomi sejak di Sekolah Dasar. Anak ke-5 dari sembilan bersaudara ini berjuang membantu ayah dan ibunya dengan berjualan kue dari pintu ke pintu, meskipun tak semuanya bisa laku terjual. Selain kue semprong andalannya, ia juga bersama abangnya menjual minyak tanah per botol dan rokok ketengan, berharap mendapatkan penghasilan tambahan. Sedih, harapan itu tak selalu menjadi kenyataan.

Lima kali dalam sehari ia harus memikul air untuk mengisi drum di rumahnya. Sering pula ia mengguling drum air sepanjang jalan yang tak rata di Kota Kupang. Tenaga ekstra dibutuhkannya ketika harus mengguling drum itu di jalan mendaki. Pertama kali disuruh ibunya untuk membeli sayur dan daging, ia salah membeli, karena sayur itu terlampau sedikit untuk uang yang dibelanjakan. Ia pun dimarahi ibunya karena daging yang dibelinya itu lebih banyak tulangnya daripada dagingnya.

Lulus SMA, ia merantau, pergi kuliah di Yogyakarta, kemudian pindah ke Bali dan bersusah payah tamat sebagai insinyur. Nyaris putus kuliah karena kekurangan biaya, ia membantu dosen menggambar denah proyek di Nusa Dua. Itulah awal dari karirnya sebagai arsitek yang kemudian laris dipesan keahliannya oleh berbagai pihak. Dialah Abraham Paul Liyanto yang sekarang menjadi politisi senior, arsitek profesional, pebisnis sukses, pendidik visioner, dan pelayan masyarakat yang rendah hati.

Sebagai Senator yang mewakili NTT, ia sudah mengabdi di DPD RI selama empat periode (2009-2029). Kini ia dipercaya sebagai Ketua Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR untuk membudayakan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ia juga mendirikan TK, SD, SMP, SMA, sampai perguruan tinggi-Universitas Citra Bangsa-dan kini sedang mendirikan Rumah Sakit Citra Husada di Kupang.

Jejak langkahnya di sekolah kehidupan sarat dengan pesan-pesan inspiratif. Ia membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah hambatan untuk hidup sukses, apabila setiap orang memiliki tekad dan fokus untuk memperbaiki nasib dengan bekerja keras, pantang menyerah, mengembangkan bakat, membangun jaringan, serta menimba pelajaran dari pengalaman orang-orang sukses.

Benar kata pepatah: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Karena hidupnya sudah diberkati, kini ia menjadi saluran berkat bagi banyak orang. [ *** ] 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...