Judul |
: |
Abraham Paul Liyanto: Diberkati Untuk Memberkati |
Editor |
: |
Pitan Daslani |
Penerbit |
: |
Uwais Inspirasi Indonesia |
Tahun Cetak |
: |
2006 |
Halaman |
: |
284 |
ISBN |
: |
62-622-7362-042 |
Harga |
: |
NFS |
Status |
: |
Kosong |
Teriknya sinar
matahari di Kota Kupang tak sebanding sengatan beban keluarga di tahun 1970-an
ketika ia bergulat dengan kesulitan ekonomi sejak di Sekolah Dasar. Anak ke-5
dari sembilan bersaudara ini berjuang membantu ayah dan ibunya dengan berjualan
kue dari pintu ke pintu, meskipun tak semuanya bisa laku terjual. Selain kue
semprong andalannya, ia juga bersama abangnya menjual minyak tanah per botol
dan rokok ketengan, berharap mendapatkan penghasilan tambahan. Sedih, harapan
itu tak selalu menjadi kenyataan.
Lima kali dalam
sehari ia harus memikul air untuk mengisi drum di rumahnya. Sering pula ia
mengguling drum air sepanjang jalan yang tak rata di Kota Kupang. Tenaga ekstra
dibutuhkannya ketika harus mengguling drum itu di jalan mendaki. Pertama kali
disuruh ibunya untuk membeli sayur dan daging, ia salah membeli, karena sayur
itu terlampau sedikit untuk uang yang dibelanjakan. Ia pun dimarahi ibunya
karena daging yang dibelinya itu lebih banyak tulangnya daripada dagingnya.
Lulus SMA, ia
merantau, pergi kuliah di Yogyakarta, kemudian pindah ke Bali dan bersusah
payah tamat sebagai insinyur. Nyaris putus kuliah karena kekurangan biaya, ia
membantu dosen menggambar denah proyek di Nusa Dua. Itulah awal dari karirnya sebagai
arsitek yang kemudian laris dipesan keahliannya oleh berbagai pihak. Dialah Abraham
Paul Liyanto yang sekarang menjadi politisi senior, arsitek profesional, pebisnis
sukses, pendidik visioner, dan pelayan masyarakat yang rendah hati.
Sebagai Senator yang
mewakili NTT, ia sudah mengabdi di DPD RI selama empat periode (2009-2029).
Kini ia dipercaya sebagai Ketua Badan Sosialisasi Empat Pilar MPR untuk
membudayakan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ia juga
mendirikan TK, SD, SMP, SMA, sampai perguruan tinggi-Universitas Citra Bangsa-dan
kini sedang mendirikan Rumah Sakit Citra Husada di Kupang.
Jejak langkahnya di sekolah kehidupan sarat dengan pesan-pesan inspiratif. Ia membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah hambatan untuk hidup sukses, apabila setiap orang memiliki tekad dan fokus untuk memperbaiki nasib dengan bekerja keras, pantang menyerah, mengembangkan bakat, membangun jaringan, serta menimba pelajaran dari pengalaman orang-orang sukses.
Benar kata pepatah: Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Karena hidupnya sudah diberkati, kini ia menjadi saluran berkat bagi banyak orang. [ *** ]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar