Sabtu, 04 November 2017

Kekuasaan dan Moral Politik Ekonomi Masyarakat Indonesia Baru

Judul
:
Kekuasaan dan Moral Politik Ekonomi Masyarakat Indonesia Baru
Penulis
:
Frans Seda
Penyunting
:
J. Philip Gobang dkk
Penerbit
:
Grasindo
Tahun Cetak
:
1996
Halaman
:
581
ISBN
:
979-553-978-7
Harga
:
Rp. 125.000
Rp. 150.000 (HC, bertanda tangan asli)
Status
:
Ada

Tulisan-tulisan Frans Seda dalam buku ini membiaskan ketokohannya sebagai political economist tangguh. Ia tidak pernah benar-benar pensiun dari panggung politik dan pentas ekonomi nasional. Pikiran-pikiran aktual tentang berbagai persoalan politik dan ekonomi di negeri ini selalu diungkapkan secara tajam, kritis, lugas dan komprehensif.

Bagian pertama tulisannya membahas situasi dan kondisi politik tahun 90-an. Seperti diakui Seda, latar belakang pandangan politiknya banyak dipengaruhi oleh pandangan-pandangan politik dwitunggal Soekarno-Hatta. Dengan kata lain. Tolok ukurnya jelas, yaitu res publica, atau kekuasaan yang dikontrol dan dipertanggungjawabkan secara transparan di hadapan rakyat. Mekanisme yang dipilih terletak pada sebuah proses politk yang menolak negara absolutis kekuasaan dan memilih bentuk negara kedaulatan rakyat atau demokratis. Tentu yang berdaulat rakyat dan bukan elit, penguasa dan kelompok, agama tertentu atau kepentingan tertentu.

Tolok ukur ini akan mengalami tantangan ketika rakyat dipolitisasi dalam pembodohan yang  menggolongkannya sebagaimana massa mengambang. Apalagi jika proses-proses politik dilaksanakan bukan di dataran rakyat, melainkan ditentukan di kamar-kamar birokrasi yang tertutup di tingkat elit dan melalui pendekatan keamanan yang ketat.

Tantang ini akan semakin dahsyat bilamana proses politik tidak dilakukan dengan tatakrama, apalagi yang melupakan moralitas sehingga mengabdikan politik hanya untuk kepentingan sendiri dengan segala macam kekerasan, main paksa, ketidakadilan dan kemunafikan. Pada akhrinya, cara ini menimbulkan krisis kepercayaan tidak hanya pada sistem yang berlaku, tapi juga pada segi kepemimpinan.

Jumat, 03 November 2017

Frans Seda Merawat Indonesia di Saat Krisis

Judul
:
Frans Seda Merawat Indonesia di Saat Krisis
Penulis
:
Mikhael Dua
Penerbit
:
Obor
Bahasa
:
Indonesia & Belanda
Tahun Cetak
:
2012
Halaman
:
169
ISBN
:
978-979-565-639-5
Harga
:
Rp. 70.000
Status
:
Ada

Tanpa keadilan setiap orang yang memiliki kekuasaan sulit untuk membedakan antara recht (hukum), wet (peraturan, dan macht (kekuasaan). Frans Seda berargumentasi, “Dari pengalaman saya sebagai menteri, seorang yang sedang berkuasa mudah sekali terbawa oleh kekuasaan (unjuk kuasa), oleh prestise intrik-intrik sehingga dalam mengadakan pengaturan-pengaturan tidak secara murni lagi melihat mana yang merupakan kepentingan umum, mana yang pribadi, mana yang menjadi hak umum, hak orang dan haknya. Kabur pula rasa adil. Keadilan dan recht pun terkubur.”

“Pengenalan dengan Pak Frans Seda diperoleh dari ceramahnya yang selalu segar dan menggerakkan hati, prestasi dan perannya yang mengagumkan, keluwesan dan kecerdikannya yang menonjol. Kebijaksanaannya yang unggul, dan semangatnya yang tidak pernah kendor. Melihat perawakan badannya, warna kulitnya, dan sejumlah sifat-sifatnya di atas, saya menyebutnya sebagai Kresna dari Tanah Flores.” (R. Djokopranoto)

“Frans Seda pernah pegang beberapa kementerian yang gemuk, tetapi saya tidak pernah dengar tentang ketidakberesan dalam mengelola dana besar itu.” (Emil Salim, mantan Menteri Perhubungan dan Menteri Lingkungan Hidup)

“Frans Seda, seorang politisi yang dengan terus-terang mengidentifikasikan seluruh kegiatan politiknya sebagai seorang Katolik di Indonesia dengan seluruh kepercayaan dirinya, tanpa merasa sebagai seorang minoritas.” (Dhaniel Dhakidae)

“Orang ini adalah seorang Katolik yang setelah mendengar Khotbah di Bukit langsung tanpa ragu-ragu melaksanakannya di dalam politik, bisnis dan hubungan antara agama.” (Frans Magnis-Suseno)

Kamis, 02 November 2017

Tanah Air Kumpulan Karangan

Judul
:
Tanah Air Kumpulan Karangan
Penulis
:
Anton Bele
Penerbit
:
Gita Kasih
Tahun Cetak
:
2015
Halaman
:
29
ISBN
:
978-602-9114-58-4
Harga
:
Rp. -
Status
:
Kosong

Buku ini berisi empat artikel kecil yang sudah pernah dimuat di harian Pos Kupang. Sebagai bahan bacaan untuk dijadikan titik tolak dalam menata lingkungan hidup kita, penulis dengan sengaja menghimpun dan menjadikan satu rangkaian ceritera dalam buku kecil ini yang penulis beri judul: Tanah Air.

Ada tanah, ada air. Hujan turun, rumput tumbuh. Ubi pun tumbuh. Kita manusia siap terima hujan tanpa pesan hujan. Rumput tumbuh tanpa ditanam. Ubi tumbuh perlu ditanam. Mata rantai kehidupan, hujan-air-rumput-ubi yang memungkinkan manusia hidup menjadi bahan pemikiran kita untuk di tata agar ada kelanjutan hidup kita sesuai alam di mana kita berada.

Harapan rangkaian tulisan kecil ini bermanfaat untuk dijadikan bahan pemikiran dalam melanjutkan upaya menata alam sekitar kita menjadi Firdaus dan tidak sampai menjadi padang gurun.

Rabu, 01 November 2017

Jawa, Sumatra & Kepulauan Lain di Hindia Belanda

Judul
:
Jawa, Sumatra & Kepulauan Lain di Hindia Belanda
Penulis
:
Antoine Cabaton
Penerbit
:
Ombak
Tahun Cetak
:
2015
Halaman
:
436
ISBN
:
978-602-258-180-2
Harga
:
Rp. 130.000
Status
:
Kosong

Perjalanan Nusantara yang panjang selalu diwarnai oleh fenomena sosial, ekonomi, dan politik yang dilakukan oleh pribumi maupun bangsa asing, baik hubungan mereka dengan alam Nusantara hingga hubungan mereka antarsesamanya. Kekayaan Nusantara tersebar di Nusantara, dengan ciri khasnya masing-masing, dan kemudian menjadi komoditas bagi pribumi maupun bangsa asing yang menguasai Nusantara. Di bawah Administrasi Belanda, identifikasi bangsa pribumi berikut bentang alam Nusantara semakin menjadi dan tersistematis sehingga alam Nusantara dapat menghasilkan komoditas yang dapat diandalkan.

Buku Jawa, Sumatra, dan Kepulauan Lain di Hindia-Belanda ini memuat berbagai macam data sejarah berupa kondisi sosial, ekonomi dan politik Nusantara, berikut juga data geografis dan etnografis Nusantara. Selain itu buku ini juga memuat berbagai penjelasan tentang bentuk dan cara penguasaan alam Nusantara yang dilakukan oleh bangsa pribumi maupun asing pada saat berlakunya Administrasi Belanda di Nusantara.


Katalog Kain Tenun Tradisional Timor Tengah Selatan


Judul
:
Katalog Kain Tenun Tradisional Timor Tengah Selatan
Editor
:
I Made Marthana Yusa, M. Ds.
Penerbit
:
Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Timor Tengah Selatan
Tahun Cetak
:
2016
Halaman
:
2016
ISBN
:
978-602-6510-22-8
Harga
:
NFS
Status
:
Kosong

Budaya tenun di Indonesia juga sudah berkembang pesat dan juga sudah menjadi devisa bagi negara. Namun hasil tenun di Timor mungkin berbeda dengan hasil tenun di kota-kota besar Indonesia yang sebagian besar dihasilkan melalui alat yang canggih. Lalu, bagaimana dengan budaya tenun di Timor? Jika kita berkunjung ke Kabupaten Timor Tengah Selatan, kita dapat menjumpai kelompok-kelompok kecil yang menjual hasil tenun mereka.  Timor Tengah Selatan memiliki 3 suku besar dan asli yang masing-masing mempunyai coral dan motif yang khas. Suku-suku tersebut yaitu Amanuban, Amanatun dan Mollo. Selain itu motif Timor tersebut juga dapat diaplikasikan dalam pembuatan manik-manik, seperti tas, kotak sirih, tas hp dan dompet.

Umumnya hasil tenun orang Timor, berupa selendang, sarung dan selimut. Ketiga hasil tenun tersebut memiliki fungsi pemakaian yang berbeda. Selendang biasanya diberikan orang Timor kepada pendatang, misalnya dokter sebagai adat penerimaan orang baru di daerahnya. Selendang dapat digunakan sebagai syal, ataupun untuk menutupi kepala. Kemudian sarung memiliki ukuran yang cukup besar. Biasanya sarung digunakan ibu-ibu. Lalu, selimut memiliki ukuran yang lebih besar dari sarung. Selimut digunakan kaum pria khususnya yang sudah dewasa.

Semakin mahal harga yang ditawarkan, kualitas benang, dan motif kain tenun lebih bagus. Namun, harga-harga yang ditawarkan tersebut mungkin tidak sebanding dengan proses pembuatannnya. Proses pembuatan tenun asli Timor memakan waktu yang sangat lama, setidaknya dibutuhkan waktu lebih dari 1 bulan lamanya. Kain tenun yang dihasilkan memiliki kerapatan benang yang sangat tinggi. Benang-benang yang digunakan untuk tenun dibuat asli dari kapas.

Kelebihan kain tenun khas Timor Tengah Selatan ada pada penggunaan bahan yang masih sangat alami. Bahan kain yang digunakan diambil langsung dari pohon kapas, untuk kemudian diolah menjadi benang menggunakan alat-alat tradisional khas Timor Tengah Selatan.

Selain itu ada faktor penting yang menjadikan motif dan corak kain tenun TTS sangat indah, yaitu pewarnaannya, ada banyak variasi warna yang dapat digunakan dari bahan alami, beberapa bahan umum yang sering digunakan contohnya adalah untuk warna biru digunakan dau tarum, untuk warna kuning menggunakan kulit pohon mengkudu, warna putih didapatkan dari bubur jagung dll. Aseluruh komoditi bahan bisa didapatkan di daerah-daerah tertentu di Timor Tengah Selatan.

Seiring perkembangan peradaban yang mempengaruhi kebudayaan, munculah motif-motif baru. Hal ini terjadi karena perkawinan antara sesama Swapraja Amanuban, Amanatun dan Mollo, beberapa dari motif baru tersebut memodifikasi, mengurangi dan menambahkan dari motif asli kain tenun TTS. Hal ini juga dibarengi dengan penggunaan bahan yang mudah didapatkan seperti benang emas dan benang pabrikan yang bisa didapatkan di toko-toko tekstil dan bahan pewarna kimia. Selain itu kurangnya bahan baku kapas untuk memenuhi permintaan pasar juga menjadi faktor utama.  

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...