Selasa, 19 November 2024

Karbon Hijau Savana Nusa Tenggara Timur

Judul

:

Karbon Hijau Savana Nusa Tenggara Timur

Penulis

:

Sutomo, dkk

Penerbit

:

Media Sains Indonesia

Tahun Cetak

:

2023

Halaman

:

134

ISBN

:

978-623-195-147-2

Harga

:

Rp. 100. 000

Status

:

Kosong

 

Selama ini, savana menyandang stigma buruk sebagai salah satu penyumbang karbondioksida dunia yang mengakibatkan pemanasan global. Opini tersebut timbul karena kondisi lanskap savana yang mudah terbakar. Namun, siapa yang menyangka jika savana, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), justru mampu menyerap karbondioksida secara masif melalui bentuk tutupan lahannya. Jenis-jenis asli setempat menunjukkan performa pertumbuhan yang stabil dan mampu meningkatkan estimasi simpanan karbon melalui asosiasinya dengan vegetasi savana yang khas.

Keberadaan penutupan pohon di bentang lahan savana merupakan potensi karbon hijau yang secara nyata meningkatkan simpanan karbon di dalam kawasan. Oleh karena itu, pengelolaan ekosistem savana asli yang sudah ada sejak jutaan tahun lalu ini perlu dipertahankan melalui berbagai upaya konservasi. Rentetan ulasan tentang potensi savana akan selalu dibayangi dengan daftar panjang ancaman yang dapat menghilangkan ekosistem savana. Namun, bab terakhir pada buku ini mampu mengurai mekanisme pengelolaan ekosistem yang berkelanjutan, sehingga aspek konservasi dan ekonomi dapat berjalan beriringan.

Melalui buku ini, pembaca akan diajak untuk memahami paradigma karbon hijau di padang savana NTT. Penyajian informasi terbaru yang disertai contoh kasus akan dapat menguak peran savana sebagai penyedia karbon hijau dunia. Selain memberikan pandangan baru, buku ini juga berguna sebagai acuan pengelolaan ekosistem savana yang lebih baik ke depannya. 


Senin, 18 November 2024

Bilang Saja Saya Sudah Mati

Judul

:

Bilang Saja Saya Sudah Mati

Penulis

:

Aster Bili Bora

Penerbit

:

Stiletto Book

Tahun Cetak

:

2022

Halaman

:

119

ISBN

:

978-623-98344-5-6

Harga

:

Rp. 52.000

Status

:

Kosong

 

Cerpen dalam buku ini banyak mengambil latar sosial Sumba NTT, pulau di mana penulis lahir dan dibesarkan Keunikan sekaligus kompleksitas budaya adat istiadat dan perilaku keseharian orang Sumba tergambar dalam buku ini.

Kisah Jeani sang TKW merupakan kisah tentang perempuan Sumba yang bertaruh hidup menjadi TKW di Hong Kong. Kisah seperti Jeani jamak terjadi di Sumba. Perempuan Sumba harus pergi ke luar negeri menjadi TKW untuk menggapai impian hidup yang lebih baik memutus regenerasi kemiskinan. Namun seperti yang dialami Jeani, kompleksitas adat dan budaya seperti telah mengisap segala impiannya Kerja keras dan ketekunannya untuk mengumpulkan uang yang banyak seperti sia sia TKW Jeani marah malang dan putus asa. 

Kisah Jeani adalah salah satu dari beberapa cerpen di dalam buku ini. Beberapa cerpen lainnya disajikan dengan jenaka sederhana tetapi juga ada yang kontroversial. Selamat membaca. 


Senin, 11 November 2024

Mutiny on the Bounty

Judul

:

Mutiny on the Bounty

Penulis

:

Charles Nordhoff and James Norman Hall

Penerbit

:

Little, Brown & Company

Bahasa

:

Inggris

Tahun Cetak

:

1956

Halaman

:

373

ISBN

:

-

Harga

:

Rp. 100.000

Status

:

Ada

 

On the fourteenth of June, forty-seven days after the mutiny, they reached the Dutch settlement at Coupang Bay, on the island of Timor, a distance of more than twelve hundred leagues from Tofoa. After recuperating for two months among the kindly inhabitants of Coupang, a small schooner was purchased and fitted out for the voyage to Batavia, where they arrived on October I, 1789. Here three more of the party died: Elphinstone, Lenkletter, the remaining quartermaster, and Thomas Hall, a seaman. Ledward, the acting surgeon, was left behind at Batavia, and the rest of the party embarked in ships of the Dutch East India Company for the voyage home. Robert Lamb, the butcher, died on the passage, leaving but twelve of the nineteen men who had set out from the Bounty's side. (hal. 216)

About twelve o'clock on the night of September 15, the pinnace came to a grapnel off the float by the fort in Coupang Bay. It was a calm night with the sky ablaze with stars. The settlement was asleep. A ship was anchored not far from where we lay, and two or three smaller craft, but in the darkness we were unable to see whether any of the other boats of the Pandora had arrived. The night was profoundly still. On the high rampart of the fort a dog stood, barking mournfully. That was our welcome to Coupang. Worn out with our long journey, we remained where we were until daylight, sleeping huddled in our places, and never, I imagine, have men slept more soundly. (hal. 264)

"Do you remember Coupang, Tinkler?"

"Coupang! That heaven on earth! Let me tell you how we came in. It was about three in the morning...but wait a minute! How about filling my glass? As a host, Byam, you leave something to be desired."

And so it went the night through. (hal. 355) 


Rabu, 06 November 2024

Kamus Bahasa Blagar – Indonesia

Judul

:

Kamus Bahasa Blagar – Indonesia

Penulis

:

Harsono Ahmadi Koda

Penerbit

:

-

Tahun Cetak

:

2012

Halaman

:

379

ISBN

:

978-979-762-141-4

Harga

:

Rp. 120.000

Status

:

Ada

 

Kamus Bahasa Blagar – Indonesia, suatu etnis di Pantar Timur, Kabupaten Alor. Kamus ini merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari Kamus Blagar – Indonesia edisi Mei 1999. Edisi ini setiap kata diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dilengkapi dengan membuat contoh kalimat dalam Bahasa daerah Blagar sekaligus terjemhannya yang sangat sederhana sehingga para pembaca yang ingin mempelajari bahasa ini akan lebih mudah dan lebih cepat menguasainya.

Bahasa Daerah Blagar memiliki beberapa dialek yaitu dialek bagi penutur yang mendiami Pantar Bagian Timur, Tereweng dan Pulau Pura. Kamus ini disusun berdasarkan dialek penutur yang mendiami Pantar Timur dan Pulau Tereweng.

Untuk melengkapi kamus ini, kami juga menyajikan nama/istilah tumbuh-tumbuhan dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Blagar dan Bahasa Latin agar menjadi referensi bagi para peneliti bidang pertanian yang ingin mendalami aneka flora yang tersebar di wilayah Alor pada umumnya dan Pantar khususnya.

--------------------------------------------------------------------------------------

Penulis dilahirkan pada tanggal 1 Juni 1957 di Kolijahi, sebuah kampung kecil di wilayah Desa Ombai, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar pada MI di Kolijahi tahun 1970, SMP Cokrominoto tahun 1973 di Kalabagi-Alor, Sekolah Pengamat Peternakan tahun 1977 di Kupang, SMA PGRI Kupang tahun 1980, Pendidikan Diploma III Penyuluhan Pertanian, Fakultas Non Gelar Teknologi (FNGT) 1983 di Undana Kupang, sedangkan pendidikan S1 Sarjana Pertanian baru diselesaikan pada tahun 1997 juga di Undana Kupang.

Penulis pada tahun 1980-an pernah menulis di beberapa surat kabar dan majalah terbitan jakarta menyangkut kebudayaan dan pariwisata serta pertanian seperti Majalah Humoris dan Surat Kabar Sinar Tani. Namun kegiatan tuis menulis tidak berlangsung lama karena tugas-tugas rutin selaku PNS yang meningkat. Beberapa tulisan beliau antara lainꓽ

  1. Kajian Ekonomi Pola Eksploitasi Kanari (Canarium, sp) oleh Rumah Tangga Petani di kabupaten Dati II Alor (skripsi) Faperta Undana, Kupang Agustus 1997.
  2. Kamus Bahasa Blagar – Indonesia dan Indonesia – Blagar – Latin (khusus tumbuh-tumbuhan), Ende Mei 1999.
  3. Budidaya Tanaman kenari (Canarium, sp) dan Penanaganan Pasca Panen, Kupang Februari 2004.
  4. Kumpulan Kata-Kata Mutiara, Kupang 2005.

Penulis bekerja pada Dinas Pertanian dan perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur.


Jumat, 01 November 2024

Dominee Markus Michael Ngefak, Garis Waktu Kekristenan di Timor

Judul

:

Dominee Markus Michael Ngefak, Garis Waktu Kekristenan di Timor

Penulis

:

Samuel Henk van Ngefak, S.Kom.

Penerbit

:

Diandra Creative

Tahun Cetak

:

2024

Halaman

:

380

ISBN

:

978-623-240-820-3

Harga

:

Rp. 145.000

Status

:

Kosong

 

Ds. Markus Michael Ngefak seorang pribumi Rote yang lahir dalam tradisi Dinitiu di Oeboka pada tanggal 12 Maret 1884 dari ayah seorang Panglima Perang (Palani) Nusa Bilba. Kehidupannya berubah setelah Palani menerima kekeristenan dan seluruh keluarga ikut dibaptis. Ds. M. M. Ngefak dapat mengenyam pendidikan formal dan menjadi lulusan pertama dari STOVIL Ba'a 1902, kemudian bertugas pada beberapa tempat di wilayah Residen Timor sebagai Inlandsch Leraar mulai dari Babau, Kupang, Alor, Rote dan kembali ke Kupang. Kisah di Alor adalah salah satu kisah yang paling menginspirasi dalam sejarah Gereja Timor dalam hal penginjilan serta berkali-kali selamat dari maut.

Ds. M. M. Ngefak memiliki rekam jejak panjang dalam perjuangan politik dan pergerakan nasional di Timor, Ia mendirikan organisasi Kristen pertama di Timor dengan nama Thalita Koemi, kemudian ia mendirikan lagi sebuah organisasi perjuangan yakni Timor Damba salah satu yang terbesar di Timor pada medio 1930-an. Selain memimpin organisasi politik dengan pangkatnya sebagai de Eerste Inlandsch Lelaar ia juga mengajar di STOVIL Kupang.

Atas karya pelayanannya ia mendapatkan anugerah Satya Lencana de Kleine Zilveren Ster dari pemerintah kolonial Hindia Belanda pada 1932, menjadikannya satu-satunya guru agama di Residen Timor yang pernah mendapat penghargaan ini.

Setelah melayani 10 tahun ia mendapatkan kewenangan memimpin sakramen dan ditempatkan sebagai Guru Jemaat pada Jemaat Otonom Kota Kupang; pada 1936 ia diangkat untuk memimpin jemaat Gemeente Kupang bersamaan dengan dimulainya upaya kemandirian Gereja Timor. Selama memimpin Jemaat Otonom Kota Kupang inilah namanya tercatat dalam berita koran-koran Nasional terkait acara-acara penting yang terjadi di Kota Kupang.

Banyak tantangan di jemaat, keluarga, masyarakat maupun dinamika politik yang terjadi; khususnya saat pendudukan Jepang yang memaksanya untuk evakuasi ke Rote, tak ada lagi catatan tertulis tentang Ds. M. M. Ngefak di Rote kecuali cerita dan dokumen keluarga. Di masa sulit inilah anak-anak dari Ds. M. M. Ngefak mulai mengambil bagian dalam kisah yang lebih besar pada perkembangan Gereja Timor.

Tahun 1947 Ds. M. M. Ngefak kembali memimpin Jemaat Otonom Kota Kupang untuk yang terakhir kalinya dan turut serta dalam pendirian GMIT untuk disahkan oleh Kerkbestuur pada tahun 1948, selepas tugas ini ia pun Emiritus pada Agustus 1948. Tahun 1948 adalah satu-satunya tahun yang tercatat dalam Gereja Kota Kupang perihal pelayanan Ds. M. M. Ngefak di jemaat tersebut, tidak ada sejarah yang tersisa dari pelayanan Ds. M. M. Ngefak dari masa sebelumnya. Selepas emiritus Ds. M. M. Ngefak kembali ke kampung halaman di Oeboka dan menghabiskan masa tua bersama isteri tercinta Paulina Elisabeth Manafe hingga ia menutup usia di tahun 1955.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...